Maurice Bucaille Membuktikan Kebenaran AL-Qur'an
Sep 13, '09 11:32 AM
by L for group islamunderattack




Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran.

Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis 
datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk 
meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut 
baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun 
tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta 
penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang 
selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh 
para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. 
Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini 
adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah 
di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L'Eveque, Prancis, pada 19 Juli 
1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli 
gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja 
Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota 
keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam 
daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu 
pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le 
Coran et la Science di tahun 1976.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia 
mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. 
Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, 
mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya 
untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang 
melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena 
tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk 
segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang 
profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, 
padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya 
sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan 
pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; 
Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons 
et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix 
Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix 
General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya 
membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ''Jangan tergesa-gesa karena 
sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini''. 
Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya 
mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali 
dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan 
akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat 
Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya 
mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan 
bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut 
baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun 
sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. 
Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran--kitab suci 
umat Islam--telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari 
kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya 
Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang 
mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ''Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah 
Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal 
itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?''

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat 
(Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ''Airpun kembali 
(seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun 
yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di 
antara mereka''.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak 
membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena 
itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan 
mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, 
tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan 
kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling 
menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk 
menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan 
peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang 
dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan 
bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka 
mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: 
''Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi 
pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan 
dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.'' (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran 
tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan 
getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru 
dengan lantang: ''Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini''.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia 
pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti 
tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, 
serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, 
Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, 
le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller 
internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua 
bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan 
dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya 
mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan. 
dia/sya/berbagai sumber

sumber artikel: klik disini



Tags: maurice bucaille, al-qur'an, by el





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke