Assalamu’alaikum
Wr Wb 




Bissmillahirrohmaanirrohiim




“Tiap - tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada
Kami kamu dikembalikan”. QS.Al-Ankabut
(29) : 57.



“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. QS. 
Az-Zumar (39) : 30.



“Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan
kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah
Maha Mengetahui akan orang-orang yang dhalim”. QS. Al-Jum’ah (62) : 7.



“Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia
beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". QS. Al-Jum’ah (62) : 8.



Bila
kita berbicara tentang kematian sering kali kita dicela oleh orang orang yang
merasa tidak nyaman mendengarkan cerita tentang kematian itu, mereka pada
umumnya menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah
lanjut usia saja, dan pada umumnya seseorang tidak ingin memikirkan peristiwa
tentang kematian dirinya, padahal tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjamin
bahwa seseorang akan tetap hidup dalam satu, dua jam kedepan, dan atau hari
hari berikutnya.



Betapa
hebatnya bila kita setiap hari, manakala kita menyaksikan kematian orang lain
yang ada disekitar kita, kita juga memikirkan tentang hari ketika orang lain
menyaksikan kematian dirinya, dan betapa hebat dan baiknya bila kita sadar dan
menyadari bahwa kematian itu juga sedang mengintai dan menunggu kita, dan
betapa habat yang amat luarbiasa bila kita menyadari bahwa dari detik ke detik,
dari menit kemenit dari waktu kewaktu dan dari hari kehari yang kita lalui
selama ini justru semakin mendekatkan diri kita dari kematian, sebagaimana juga
yang berlaku bagi orang orang yang ada disekeliling kita baik yang kita
saksikan kita dengar dari mulut kemulut ihwal berita duka tersebut, atau dari
berbagai mass media, keistimewaan yang telah menggiringnya untuk menyiapkan
berbagai bekal, seperti amal shaleh, patuh dan taat pada perintah Allah yang
telah ditetapkan bagi dirinya sebagai seorang hamba yang lemah, juga dengan
ikhlas tabah dan sabar manakala mendapat musibah dengan berpasarah diri kepada
Nya, juga sekuat tenaga berusaha untuk menjauhi segala larangan larangan dari
sang Maha Pencipta dan sang Maha memelihara dirinya, dan sekuat tenaga
mempertahankan serta tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun, sebagai bekal
yang dapat dibawa manakala maut telah menjemputnya.



Akan
tetapi justru sebaliknya pada umumnya masyarakat kita sangat sulit dan sangat
takut bila mendengar tentang kematian bahkan cenderung mereka mengalihkan
perhatian serta berusaha untuk menghindar dari kematian, sebagaimana yang telah
Allah SWT informasikan pada kita dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 7 yang artinya
tercantum diatas, dengan berbagai cara mereka mengalihkan dan berusaha untuk
menghindari kematian, seseorang biasanya menghindari kematian dengan
menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan
kematian, mereka berpikir tentang di mana mereka akan mengadakan pertemuan,
dimana mereka akan melanjutkan pendidikan atau kuliah, di perusahaan mana
mereka akan bekerja, pakaian apa yang akan mereka gunakan untuk menghadiri
undangan acara yang telah disiapkan, apa yang akan dimasak untuk makan nanti,
serta masih banyak contoh lain, yang mereka anggap dapat mengalihkan dan
menghidari dari kematian,  hal-hal ini
merupakan persoalan - persoalan penting yang sering kita pikirkan selama ini,
karena kehidupan yang kita jalani selama ini kita artikan sebagai sebuah proses
kebiasaan yang dilakukan sehari - hari. 



Kita
sadari atau tidak, kita persiapkan atau tidak, kematian merupakan hal yang
pasti, dan kita semua pasti tidak akan dapat menghindari, serta melarikan diri
dari kematian, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 8 yang artinya
tercantum tersebut diatas, tanpa terkecuali, kita semua pasti mati, kita semua
baik yang saat ini masih hidup, maupun yang akan hidup, pasti akan menghadapi
kematian yang selama ini kita hindari kehadirannya, pada hari yang telah Allah
tentukan, namun justru masyarakat kita pada umumnya cenderung melihat kematian
sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan dan kebetulan saja, maka
manakala kita menghadapi kematian, hampir dipastikan kita tidak siap serta
tidak memiliki kesiapan apapun. 



Wahai
saudaraku betapa indahnya, bila kematian yang telah menanti saatnya tiba untuk
kita semua telah hadir menjemput kita sesuai ketetapan yang telah Allah tetapkan
pada semua hambanya, sebagai hamba Allah yang beriman, Dan Allah SWT
mengabulkan do’a yang telah kita panjatkan setiap saat, dengan ungkapn 
“ALLAHUMMA
HAWWIN ALAINAA FII SAKARAATIL MAUUT” serta diakhir kata tidak terucap
kata kata lain selain ucapan yang sangat indah yakni dengan ucapan 
“LAAILLAHAILLALLOHU
MUHAMMADARASULULLOH”, dari saat kita menghembuskan napas untuk yang
terakhir kalinya, kita semua sudah tidak ada apa-apanya lagi selain hanya 
“seonggok
daging dan tulang”, tubuh kita yang diam dan terbujur kaku akan segera
dimandikan untuk yang terakhir kalinya, dan tubuh kita yang sudah menjadi mayat
dibungkus kain kafan, jenazah kita yang sudah dishalati akan segera dibawa ke
kuburan dalam keranda, dan sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang
lahat, maka tanah akan menutupi seluruh badan kita, inilah kesudahan cerita
hidup kita, dan mulai saat itu kita hanyalah seorang yang namanya terukir pada
batu nisan diatas kuburan.



Wahai
saudaraku mumpung saat ini kita masih dapat membaca, masih dapat mengedipkan
mata, masih dapat menggerakkan semua anggota badan, kita masih dapat berbicara,
kita masih dapat tertawa, kita juga masih dapat beraktifitas sebagaimana
biasa,  semua ini merupakan fungsi tubuh
karena kita masih hidup, hari ini kita yang melihat dan menonton tayangan TV
tentang kematian saudara saudara kita, bisa jadi suatu saat nanti saudara
saudara kita dibelahan bumi lain yang menonton jenazah jenazah kita yang
ditayangkan oleh berbagai mass media, dan mari kita renungkan bagaimana keadaan
dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti, apakah kita dapat mengucapkan
duakalimah syahadat diakhir hayat kita, apakah ketika kita menemui ajal dalam
keadaan taqwa atau justru sebaliknya, marilah kita segera bertaubat, agar
setiap saat bila ajal menjemput kita, kita telah siap dengan sebenar benarnya
berdasarkan dan sesuai tuntunan Nabi kita Nabi Muhammad SAW, serta kita semua
mendapat ampunan serta keringanan juga mati dalam keadaan husnul khotimah dan
bukan suul khotimah 



Allaahumma
innaa nas aluka Salaamatan Fiddiin Wa ‘Aafiyatan Fil Jasadi Wa Ziyaadatan Fil
‘Ilmi Wa Barakatan Fir Rizqi Wa Taubatan Qablal Maut Wa Rahmatan Indal Maut Wa
Maghfiratam Ba’dal Maut Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut Wan
Najaata Minnannar Wal ‘Afwa Indal Hisab Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da
Idzhadaitanaa Wa Hab Lanaa Milladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaab.




Semoga
bermanfaat, dan terimakasih




Wassalamualaikum
Wr Wb




 

 

Mujiarto
Karuk






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke