Assalamualaikum
Wr Wb
Bissmillahirrohmaanirrohiim
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim,
Ishaq dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu
yang tinggi, Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan
kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada
negeri akhirat, Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk
orang-orang pilihan yang paling baik, Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan
Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik, Ini adalah kehormatan
(bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar
(disediakan) tempat kembali yang baik, QS. Shaad (38) : 45.- 49 (pen)
679.
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan
melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati
saudaranya tentang hal sifat malu - yakni malu mengerjakan kejahatan. Kemudian
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu
itu termasuk dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)
Malu
itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan
kemaksiatan atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah
terpuji dan sangat baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah,
misalnya malu melaksanakan shalat karena baru saja menyadari kebenaran
beragama, malu
pergi ke masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau
menolak berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu
adalah tercela dan tidak ada kebaikannya samasekali.
Dalam
hal ini ada sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan' Abu
Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda,
"Sesungguhnya
di antara hal-hal yang ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang
pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu
kehendaki."
Adapun
Hadis di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk
menakut-nakuti pada seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya
ialah: "Kalau kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran
dan kemaksiatan itu, terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu
inginkan dan sesuka hatimulah. Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada
balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat."
Ada
pula sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah
untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak
melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia,
sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun
agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal
itu termasuk sesuatu yawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik
dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."
680.
Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan
kebaikan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam
riwayat Muslim disebutkan: "Sifat malu itu baik seluruh
akibatnya." Atau beliau s.a.w. bersabda: "Malu itu semuanya baik
akibatnya."
Yang
dimaksud itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan
menurut pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan
tidak dibenarkan oleh agama.
681.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keimanan
itu ada tujuhpuluh lebih - tiga sampai sembilan -atau keimanan itu cabangnya
ada enampuluh lebih - tiga sampai sembilan. Seutama-utamanya ialah ucapan La
ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang
berbahaya -semacam batu, duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya
-dari jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan itu."
(Muttafaq 'alaih)
682.
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu lebih
sangat sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat persembunyiannya -
yakni perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya dengan suami yang belum
pernah dikenalnya. la amat sangat malu kepada suaminya itu. Jikalau beliau
s.a.w. melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak
di wajahnya." (Muttafaq 'alaih)
Para
alim-ulama berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budipekerti yang
menyebabkan seseorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia
tidak mau lengah untuk menunaikan haknya seseorang yang mempunyai hak."
Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu
ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan
melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di
atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu."
Wallahu
a'lam.
Wassalamualaikum Wr Wb
Nasehat : Imam Nawawi dalam Riyadhus
Shalihin BAB 84
[Non-text portions of this message have been removed]