--- On Wed, 11/25/09, Siti Latifah <[email protected]> wrote:

From: Siti Latifah <[email protected]>
Subject: [bahasa-Al Quran] Fw: Bangunlah Jembatan ....Jangan Tembok
To: 
Date: Wednesday, November 25, 2009, 10:21 AM







 



  


    
      
      
      







From: On Behalf Of Erik Tapan

Sent: Monday, November 23, 2009
8:26 AM





   










 
  
  BANGUNLAH JEMBATAN ....JANGAN
  TEMBOK 

    

  Alkisah ada dua orang kakak
  beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak ke dalam
  suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar
  demikian hebatnya. 

    

  Padahal selama 40 tahun mereka
  hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu 
membahu dalam usaha
  perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini
  retak. 

    

  Dimulai dari kesalahpahaman yang
  sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan
  akhirnya meledak dalam 

  bentuk caci-maki. 

    

  Beberapa minggu sudah berlalu,
  mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa. 

    

  Suatu pagi, datanglah seseorang
  mengetuk pintu rumah sang kakak. 

    

  Di depan pintu berdiri seorang
  pria membawa kotak perkakas tukang kayu. 

    

  "Maaf tuan, sebenarnya saya
  sedang mencari pekerjaan?" kata pria itu dengan ramah. "Barangkali
  tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan?"
  

  "Oh ya ?!" jawab sang kakak.
  

    

  "Saya punya sebuah pekerjaan
  untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana . Itu adalah 
rumah tetanggaku, ah
  sebetulnya ia adalah adikku. 

    

  Minggu lalu ia mengeruk bendungan
  dengan bulldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga 
menjadi sungai
  yang memisahkan tanah kami. 

    

  Hmm, barangkali ia melakukan itu
  untuk mengejekku, Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada
  gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku,
  sehingga aku tidak perlu lagi
  melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya! !". 

  

  Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan.
  

    Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa
  membuat tuan merasa senang." 

  

  Kemudian sang kakak pergi ke kota 
  untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.
  

    

  Setelah itu ia meninggalkan
  tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras,
  mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu
  kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa
  terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali
  tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. 

    

  Namun, yang ada adalah jembatan
  melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang
  pertanian adiknya. 

    

  Jembatan itu begitu indah dengan
  undak-undakan yang tertata rapi. 

    

  Dari seberang sana , terlihat sang adik bergegas berjalan
  menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. 

    

  "Kakakku, kau sungguh baik
  hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal  sikap dan ucapanku telah menyakiti 
hatimu. Maafkan
  aku." kata sang adik pada kakaknya.

   

  Dua bersaudara itu pun bertemu di
  tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu,
  tukang kayu pun 

  membenahi perkakasnya dan
  bersiap-siap untuk pergi. 

    

  "Hai, jangan pergi dulu.
  Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,"
  pinta sang kakak. 

    

  "Sesungguhnya saya ingin
  sekali tinggal di sini", kata tukang kayu, "Tapi masih banyak
  jembatan lain yang harus saya selesaikan." 

    

  Sadarkah
  kita bahwa: 

    

  Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat
  yang ada di depan.

    

  Kita lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu di kanan sehingga
  kita dapat mendengar dari dua sisi dan dua arah. Menangkap pujian maupun 
kritikan, dan mendengar
  mana yang salah dan mana yang benar. 

    

  Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga bagaimanapun
  miskinnya kita, kita tetap kaya. Karena tak seorang pun 

  dapat
  mencuri isi otak kita. Yang lebih berharga dari segala permata yang ada.
  

    

  Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup dengan satu
  mulut, karena mulut tadi adalah senjata yang tajam. Yang dapat melukai,
  memfitnah, bahkan membunuh (jumlah mulut hanya 1 lebih sedikit dibandingkan
  jumlah mata dan telinga yg masing2 ada 2buah/kanan & kiri) karena itu 
selayaknya
  kita Lebih baik sedikit bicara, tapi banyak
  mendengar dan melihat. 

    

  Kita dilahirkan
  dengan satu hati, yang mengingatkan kita untuk menghargai dan memberikan
  cinta kasih dari dalam lubuk hati. 

    

  Belajar untuk mencintai dan
  menikmati untuk dicintai, tetapi jangan pernah mengharapkan orang lain
  mencintai Anda dengan cara dan sebanyak yang sudah Anda berikan.
  

    

  Berikanlah cinta tanpa
  mengharapkan balasan, maka Anda akan menemukan bahwa hidup ini terasa menjadi
  lebih indah.  
  
 


   
















    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke