----- Forwarded Message ----
From: - HGPI/ Eurogate Indonesia - Yusuf Hamdani <[email protected]>
To: - HGPI/ Eurogate Indonesia - Yusuf Hamdani <[email protected]>
Sent: Wed, November 25, 2009 9:56:20 AM
Subject: 9 Dzulhijjah – 26 Nopember 2009

 
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puasa
Hari ‘Arafah
(9 Dzulhijjah – 26 Nopember 2009)
Keutamaan Hari Arofah
Di
antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut,
 مَا
مِنْ يَوْمٍ
أَكْثَرَ
مِنْ أَنْ
يُعْتِقَ
اللَّهُ
فِيهِ
عَبْدًا مِنَ
النَّارِ مِنْ
يَوْمِ
عَرَفَةَ
وَإِنَّهُ
لَيَدْنُو ثُمَّ
يُبَاهِى
بِهِمُ
الْمَلاَئِكَةَ
فَيَقُولُ
مَا أَرَادَ
هَؤُلاَءِ
“ Di antara hari yang Allah
banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk
orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan
keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang
diinginkan oleh mereka?”[20]
Itulah
keutamaan orang yang berhaji. Saudara-saudara kita yang sedang wukuf di Arofah
saat ini telah rela meninggalkan sanak keluarga, negeri, telah pula
menghabiskan hartanya, dan badan-badan mereka pun dalam keadaan letih. Yang
mereka inginkan hanyalah ampunan, ridho, kedekatan dan perjumpaan dengan
Rabbnya. Cita-cita mereka yang berada di Arofah inilah yang akan mereka
peroleh. Derajat mereka pun akan tergantung dari niat mereka masing-masing.
[21]
Keutamaan
yang lainnya, hari Arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin
Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
خَيْرُ
الدُّعَاءِ
دُعَاءُ
يَوْمِ
عَرَفَةَ
“ Sebaik-baik do’a
adalah do’a pada hari Arofah.” [22]
Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. [23] Jadi
hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah.
Do’a pada hari Arofah adalah do’a yang mustajab karena dilakukan
pada waktu yang utama.
 
Jangan Tinggalkan Puasa Arofah
Bagi
orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada
tanggal 9 Dzulhijah(26 Nopember). Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi 
shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
 صِيَامُ
يَوْمِ
عَرَفَةَ
أَحْتَسِبُ
عَلَى
اللَّهِ أَنْ
يُكَفِّرَ
السَّنَةَ
الَّتِى
قَبْلَهُ
وَالسَّنَةَ
الَّتِى
بَعْدَهُ
وَصِيَامُ
يَوْمِ
عَاشُورَاءَ
أَحْتَسِبُ
عَلَى
اللَّهِ أَنْ
يُكَفِّرَ
السَّنَةَ
الَّتِى
قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat
menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10
Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[24] 
 
Hadits
ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di
antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah
berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.[25] 
Keutamaan
puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang
dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di
sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.[26]
 Sedangkan
untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah.
Dari
Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
 أَنَّ
النَّبِىَّ
-صلى الله
عليه وسلم-
أَفْطَرَ
بِعَرَفَةَ
وَأَرْسَلَتْ
إِلَيْهِ
أُمُّ الْفَضْلِ
بِلَبَنٍ
فَشَرِبَ
“Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau
disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [27]
 Diriwayatkan
dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di
Arofah. Beliau mengatakan,
 حَجَجْتُ
مَعَ
النَّبِىِّ
-صلى الله
عليه وسلم-
فَلَمْ
يَصُمْهُ
وَمَعَ أَبِى
بَكْرٍ فَلَمْ
يَصُمْهُ
وَمَعَ
عُمَرَ
فَلَمْ يَصُمْهُ
وَمَعَ
عُثْمَانَ
فَلَمْ
يَصُمْهُ. وَأَنَا
لاَ
أَصُومُهُ
وَلاَ آمُرُ
بِهِ وَلاَ
أَنْهَى
عَنْهُ
“Aku pernah berhaji bersama
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada
hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa
ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu.
Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan
orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang
melakukannya.”[28]
Dari
sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa
ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr,
‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam
berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas
ulama.[29]
Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)
Ada
riwayat yang menyebutkan,
 صَوْمُ
يَوْمَ
التَّرْوِيَّةِ
كَفَارَةُ سَنَة
“Puasa pada hari tarwiyah (8
Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.”
Ibnul
Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.[30] Asy Syaukani mengatakan
bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang
pendusta.[31] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if
(lemah).[32]
Oleh
karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah
karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan
keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari
awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. 
Diringkas
dari Artikel: Amalan Sholih di Awal Dzulhijah
Penulis:
Muhammad Abduh Tuasikal
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
 
 
  
Thank’s Brgds
      
   Abie _Yuz
 Yusuf Hamdani 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke