HIJRAH, GERBANG KEMENANGAN

“ Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah
dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di
sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Qs.
At-Taubah [9]:20

Makna dan Hakekat Hijrah
Hijrah berasal dari kata hajara , artinya “meninggalkan sesuatu yang
tidak di senangi”. Bentuk perintah dari hajara adalah uhjur yang
berarti “keluarlah tinggalkanlah, atau jauhilah segala sesuatu hal yang
bathil. Dengan pengertian ini, makna hijrah berarti berpindah untuk
meninggalkan tempat yang tidak disenangi
(kebathilan) dan menuju tempat yang di senangi (kebenaran).Hijrah juga
merupakan salah satu bentuk dari ishlah (reformasi) menuju kearah yang
lebih baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk. Makna ini sejalan
dengan pengertian al-Qur’an dalam
surah al-Mudatsir [74]:5. Allah berfirman:
“... dan perbuatan dosa tinggalkanlah “, Ayat ini memberikan isyarat
kepada kita untuk secara total meninggalkan segala apapun yang
menyebabkan kita menjadi
orang-orang yang berdosa. Nabi Muhammad SAW memberi penjelasan yang
lebih rinci terkait dengan makna hijrah secara terus-menerus. Beliau
bersabda:
“ Orang yang berhijrah adalah orang-orang yang meninggalkan apa yang di
larang Allah atasnya”. Dan yang terpenting dalam seluruh rangkaian
hijrah itu adalah harus dilakukan berdasarkan niat yang tulus karena
Allah tanpa di pegaruhi oleh kepentingan duniawi semata.

Seperti dalam sebuah hadist RAsulullah bersabda:"Sesungguhnya perbuatan
itu ergantung niat. Seseorang akan meperoleh hasil amal tergantung pada
kualitas niatnya. Barang siapa hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, ia
akan memperoleh
ridha Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah, Gerbang Kemenangan

Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib) bukan hanya
sebatas pindah tempat, tetapi memiliki makna strategis untuk kemenangan
Islam selanjutnya. Di mulai dari babak sejarah hijrah inilah kemudian
terbuka pintu kemenangan yang sangat mengagumkan, juga merupakan
episode penting perjalanan sejarah umat Islam bahkan peradaban dunia.

Sesungguhnya hijrah bukan hanya diperintahkan kepada Rasul dan para
sahabat, tetapi juga kepada setiap muslim. bahkan jika kita melihat
jejak sejarah, para Nabi terdahulu juga melakukan hijrah. Misalnya,
Nabi Ibrahim hijrah dari kan’an menuju
Mekah, Nabi Ya’qub dari Madyan ke Mesir, Nabi Musa dari Mesir menuju
Syam (syiria sekarang). Dan para para sahabat Nabi sebelumnya di
perintahkan hijrah ke Ethiopia. Tanpa hijrah tidak mungkin ada kejayaan
Madinatul Munawaroh. Tanpa Madinah, belum tentu muncul kegemilangan
Baghdad dan Cordova. Tidak kurang dari lima abad Baghdad memimpin
peradaban dunia, sementara Cordova bahkan mengalami kejayaan yang jauh
lebih lama lagi, yakni delapan abad.

Kemudian dari kedua kota itulah, ilmu dan peradaban Islam mengalir
keseluruh penjuru dunia dan menjadi milik masyarakat International. Dan
dengan kehebatan dua kota ini pula Barat yang saat itu belum maju mulai
bersentuhan dengan berbagai disiplin ilmu, seperti fisika, biologi,
matematika, optika, filsafat dan beberapa disiplin keilmuan lainnya.
Bahkan sampai pada Amerika Utara dan Eropa Barat menjadi tak
terbayangkan bisa maju seperti sekarang. Itu semua atas jasa-jasa Islam.

Meneladani Hijrah Nabi

Peristiwa hijrahnya Nabi Saw (tahun 622 M) kemudian di tetapkan dan
dijadikan sebagai tonggak awal perhitungan tahun baru Islam, yang di
sebut tahun Hijriah. Inilah momentum yang sangat kaya akan keteladanan.
Sebuah peristiwa heroisme
(kepahlawan), puncak pengorbanan, kesabaran dan puncak kesungguhan
serta keikhlasan yang di praktekkan oleh Nabi dan para sahabat.
Karenanya pilihan Khalifah Umar Ibn Khoththob dan para sahabat
menjadikan peristiwan hijrahnya Nabi menjadi
tahun pertama Islam sangatlah tepat. Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah
bukanlah suatu tindakan yang spontan, tetapi merupakan pilihan yang
telah di rencakan
sejak awal. Beberapa tahun sebelum peristiwa hijrah, Nabi telah
menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh-tokoh pemuda yastrib (madinah)
yang sering melakukan kunjungan ke Mekah.

Bahkan, tiga tahun setelah hubungan dilakukan, terjadi suatu peristiwa
penting yang di kenal dengan “ Bai’atul Aqobah” yang menghasilkan ikrar
penting, yakni kesediaan para pemuda Madinah untuk menjaga, melindungi
dan membela Nabi. “ Musuh anda adalah musih kami, derita anda adalah
derita kami, dan siapa saja yang menyakiti anda berarti pula menyakiti
kami, silahkan anda datang ke Yastrib”. Itulah isi perjanjian
yang dinyatakan secara mantap oleh utusan pemuda Yastrib (Madinah) di
hadapan Nabi.
Dari proses ini terlihat, sebelum melakukan hijrah, Nabi melakukan
perhitungan yang sangat cermat dan baik serta persiapan yang sangat
matang. Bahkan sahabat-sahabat Nabi telah mepersiapkan segala
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Seperti Ali Bin Abi Thalib
misalnya, dia berani menggantikan posisi Nabi dengan tidur di tempat
tidur Nabi di malam ketika orang-orang kafir hendak membunuh Nabi.
Ketika mereka memusatkan perhatian kepada orang yang tidur (yang
disangkanya Rasulullah), Nabi bersama sahabat Abu Bakar atas izin Allah
berhasil meloloskan diri keluar rumah.

Hijrah Dan Kalender Islam

Perhitungan kalender Islam di mulai dari kekhalifahan Umar Ibn
Khoththob. Penyebutan “tahun hijriah sebagai kalender Islam terkait
erat dengan peristiwa hijrahnya Nabi saw. Sebelum kalender Islam ini
berlaku, setiap kejadian-kejadian besar saat itu selalu mengkaitkan
tempat dan kondisi. Seperti peristiwa
gajah, disebut “amul fiil” atau tahun gajah. Tentu saja penamaan sebuah
peristiwa hanya bersifat local dan tidak bisa dijadikan ketetapan
hitungan kalender. Maka Umar mengusulkan agar ada perhitungan tahun
yang dapat dijadikan pegangan oleh
umat Islam. Ide ini kemudian di sampaikan kepada sahabat yang lain dan
masing-masing mereka memberikan usulan yang berbeda-beda, hingga
akhirnya peristiwa hijrah Nabi ditetapkan sebagai titik tolak dari
perhitungan tahun Islam. Alasannya
adalah karena hijrah adalah titik balik dari sejarah Islam, terjadi
timing point dari sejarah Islam semenjak hijrah. Rasululah mendapat
kemenangan demi kemenangan, sehingga dalam tempo 10 tahun kemudian Nabi
wafat dan beliau berhasil
meninggalkan prestasi yang luar biasa, yaitu; seluruh jazirah Arabia
telah menerima Islam. Kemudian pada kurun waktu 100 tahun setelah itu
Islam telah menyebar meliputi daerah daratan, lautan Atlantik di
sebelah barat, sampai tembok china di timur yaitu daerah-daerah Yunani.
Disinilah terlihat betapa hjrah merupakan pintu gerbang memasuki babak
baru sejarah yang gemilang. Tidak salah jika Umar menetapkan peristiwa
ini sebagai titik tolak perubahan. Umar ingin meneguhkan sebuah
prinshif dalam Islam yaitu bahwa penghargaan seseorang di tunjukan
kepada hasil kerjanya bukan kepada misalnya keturunan, asal daerah,
bahasa, warna kulit dan pertimbangan kenisbatan. Karena hal tersebut
tidak bisa dijadikan dasar penghargaan manusia. Sebaliknya, hasil kerja
atau prestasi (achievement) adalah pilihan yang bisa djadikan sebagai
ukuran keberhasilan dan manusia hanya bisa di hargai ketika ia
mempuanyai hasil dari apa yang di kerjakanya. Seperti ada sebuah
pepatah arab berbunyi: “ Penghargaan di zaman Jahiliyah berdasarkan
keturunan dan penghargaan di zaman Islam diberikan berdasarkan kerja
(amal) “

Hijrah adalah hasil dari sebuah kematangan tindakan, perjuangan
kesabaran dan praktek dari sebuah nilai keikhlasan. Semua adalah hasil
kerja yang tidak akan terwujud tanpa kesungguhan. Maka jika kita selami
maknanya ini adalah
pengharagaan kepada hasil kerja Rasulullah Muhammad saw. Sebab Islam
memberikan penghargaan kepada hasil sebuah kerja dengan balasan yang
sempurna. Sebagaimana firman Allah: " ataukah belum diberitakan
kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa?. dan
lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (yaitu)
bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan
bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya,.
dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian
akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,. dan
bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu). Qs. An-Najm:
36-42

Hijrah Menuju Kemenangan Hakiki

Secara maknawi hijrah bukan semata berpindah dari satu tempat ke tempat
lain. Tetapi hijrah adalah sebuah perpindahan untuk menuju kearah yang
lebih baik, sebagai mana sabda Nabi di atas bahwa orang yang hijrah
adalah orang yang mennggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya. Dan
ini bermakna harus adanya perubahan sikap mental dari yang tidak baik
menjadi baik. Maka untuk mengawali proses hijrah menuju perbaikan diri
langkah pertama yang harus kita tempuh adalah bertaubat
kepada Allah. Inilah pintu yang akan mengantarkan kita kepada
kemenangan yang hakiki.

Taubat artinya kembali ke jalan yang benar, setelah sekian lama kita
lalui jalan yang salah. Kebenaran taubat seseorang akan di buktikan
dari wujud pengamalan sehari-hari dengan persyaratan taubat itu
sendiri, yaitu meninggalkan prilaku
buruk dan menggantinya dengan amalan sholeh. Hijrah dari keburukan
menuju kebaikan.

Maka Barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu)sesudah
melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah
menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Qs. Al-Maidah:39.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang
ingat. Qs. Hud:114
Ayat-ayat diatas adalah penggambaran orang-orang yang melakukan hijrah
qalbiyah. Di mulai dari kesadaran hati untuk bertaubat kemudian di
lanjutkan dengan penyemburnaan
amalan-amalan sholeh. Inilah hijrah kekinian yang bukan hanya
mengantarkan kemenangan tetapi juga ketenangan.

Beberapa hal yang menjadi catatan untuk kita renungkan adalah: Jika
diri kita sudah berpindah dari syirik menuju tauhid, dari ragu kepada
yakin, dari bodoh kepada ilmu, dari riya kepada ikhlas, dari khianat
kepada taubat, dari maksiat kepada taat, dari sombong kepada tawadhu’,
dari munafiq kepada shiddiq dan dari perbuatan bid’ah kepada sunnah.

Maka saat itulah kita akan menemukan ketenangan bathin. Kemenangan yang
hakiki bagi manusia adalah ketika ia dapat memerdekaan dirinya dari
penghambaaan kepada makhluk
dan perbudakan hawa nafsu.

Untuk Kita Renungkan

Sahabat, dengan semangat hijrah, marilah kita bangun sesuatu yang telah
kita rubuhkan, bersihkan aqidah kita yang telah tercemar dengan
kemusyrikan. Jernihkan niat dan tekad yang telah kita keruhkan dengan
ketidakikhlasan. Manfaatkan
kesempatan hidup ini selagi masih terbuka pintu harapan. Bukalah
gerbang kesadaran agar tersibak pintu rahmat dan ampunan.Berbuat
baiklah selagi masih punya kesempatan
dan bertobatlah kepada Allah sebelum ajal datang menjelang. Tegurlah
hati kita yang sedang terlena, agar tidak jatuh terjerat oleh rayuan
dunia yang fana. Tegurlah jiwa kita yang gelisah dan goyah agar tetap
menjadi hamba yang mulia.
Sadarilah, terkadang jiwa kita selalu cenderung pada kelezatan yang
sesaat, maka didiklah ia dengan baik agar selalu taat. Temukan jalan
kita di antara sekian banyak jalan yang telah membelokkan tujuan hidup
kita. Mohonlah selalu hanya kepada
Allah agar ditetapkan iman dan Islam kita, sebab itulah jalan yang akan
membawa keselamatan dunia dan akhirat. Temukan jalan kita dengan
berusaha memahami siapa, dari mana dan mau ke mana kita hidup? Ajukan
pertanyaan ini kepada batin
kita dengan khusuk, insya Allah kita akan menemukan jawaban itu dengan
kejernihan pikiran. “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi
pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.
Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa
yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitnya
tidak dianiaya (dirugikan)”. (Al Baqarah (2): 281). Marilah kita
khusu’kan qalbu, hadirkan tekad yang kuat untuk membasmi pengaruh yang
dapat mengotori hati. Sibukkan
diri untuk mengetahui segala aib dan cela. Sebab bila Allah akan
menunjukkan kebaikan atas diri hamba-Nya, niscaya Dia akan menunjukkan
aibnya. Introspeksilah kedalam diri sebelum kita berbuat, apa untung
rugi yang akan kita dapati.
Jaga kesehatan qalbu kita dengan memperbanyak dzikir,basahi lidah kita
dengan mentadabburi ayat Allah, ketuklah selalu pintu ampunan dengan
beristighfar kepada-Nya. Terangi qalbu dengan ilmu, bersihkan diri
dengan amal dan basuh keduanya dengan
iman. Hadirkan kesabaran dalam mengikuti perintah-Nya. Dan setelah
semuanya itu telah kita lakukan, bertawakkallah kepada Allah, hadirkan
kesungguhan hati untuk bersandar hanya kepada-Nya.Insya Allah
kejernihan qalbu akan dapat kita raih. Insya Allah.

--
Posting oleh akhrudianto ke NURISFM pada 12/30/2009 08:12:00 PM

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke