©Dina Y. Sulaeman Rageh Omar (BBC) pernah menulis bahwa Teheran adalah the least understood city in the world.
Sebelum saya menulis buku tentang situasi dalam negeri Iran (Pelangi di Persia-PdP), saya awalnya berniat mau menulis buku `ilmiah', berupaya menganalisis situasinya mungkin secara sosiologis atau politis. Tapi ternyata, saya sepakat dengan Rageh Omar. Saya tidak bisa memetakan situasinya. Terlalu rumit. Unpredictable. Jadi saya memutuskan untuk menulis laporan pandangan mata saja (dan seorang teman menilai karya saya itu lebih bersifat etnografik). Saya tulis apa yang saya dengar, saya lihat, saya rasakan, tanpa berusaha memetakan, tanpa berusaha menganalisis secara ilmiah. Yang menjengkelkan dan yang menyenangkan, saya laporkan apa adanya. Hasilnya, banyak yang memuji (ehm, setidaknya itulah yang mereka tulis di blog-blog mereka). Nah, begitu juga sekarang. Melihat kekisruhan di Iran akhir-akhir ini (yang seringkali diberitakan dengan sebaris kalimat-kalimat tendensius di running text televisi Indonesia), plus tertangkapnya secara beruntun penyelundup sabu-sabu asal Iran, saya sempat bingung. Ada apa ini? Saya tak bisa memetakan situasinya secara ilmiah (mungkin kalau saya mendalami ilmu sosiologi, saya bisa punya kemampuan untuk itu; seperti Prof James Petras yg dengan sangat bagus bisa menganalisis politik domestik Iran). Tapi saya bisa memberi catatan pada beberapa hal. 1. Iran memang bukan negara orang-orang suci. "Hanya" karena Iran menganut sistem pemerintahan Islam tidak berarti semua penduduknya Islami. Sangat mudah ditemui orang Iran yang gak sholat, memaki-maki pemerintah dan ulama. Orang Iran kecanduan narkoba? Hohoho.. banyak! Apalagi jadi pengedar.. (di buku PdP saya cerita banyak kelakukan aneh2 mereka). Selama judulnya masih `dunia' kebejatan pasti masih ada, ya toh? Komunitas orang suci hanya ada di surga. Waktu saya jadi mahasiswa tamu di Sophia University Tokyo, saya pertama kali `kenal' orang Iran: mereka adalah penjual gelap kartu telepon palsu. Maksudnya, kalau kita mau nekad beli kartu telpon palsu, carilah imigran Iran di jalanan Tokyo. Tentu saja saya tak berani beli. Box telepon umum di Tokyo bisa terkunci otomatis kalau kita pake kartu telepon palsu. Mau saya taruh dimana muka saya kalau saya seandainya tertangkap?? Sekarang, kalau orang Iran mendadak jadi rajin membawa sabu2 ke Indonesia, bisa jadi mengherankan, bisa juga tidak. Tidak mengherankan karena, di mana-mana banyak orang bejat, termasuk org Iran. Orang bejat bisa datang dari negara mana saja. Mengherankan, karena betapa bodohnya orang-orang Iran yang bejat itu! Kalau sudah ketangkap satu kelompok, ngapain juga mereka tetap berdatangan ke Indonesia? Udah jelas pihak imigrasi pasti akan memperketat penjagaan terhadap orang2 Iran yg datang. Masih juga nekad datang, dalam waktu yang berdekatan pula. Ada apa ini? Konspirasi kah untuk mencoreng nama Iran di tengah masyarakat Indonesia? Pengen mengidentikkan orang Iran dengan sabu-sabu (seperti penjual kartu telpon palsu di Tokyo identik dg orang Iran)? 2. Kerusuhan-kerusuhan akhir di Iran: betapa munafiknya Obama, Sarkozy, dan Miliband! Detikcom menulis judul berita "Ahmadinejad Salahkan AS dan Israel". Running text di tivi2 juga menulis kalimat yang kurang lebih sama. Tendensius sekali. Seolah-olah, kesannya, Ahmadinejad cuma bisa menyalahkan. Seharusnya kan "Ahmadinejad Kecam AS dan Israel" , bahkan kalimat aslinya, Ahmadinejad sebenarnya `memperingatkan' AS dan Israel supaya berhenti mengacau di Iran. OK, mungkin banyak yang tak percaya bahwa dalang kerusuhan di Iran adalah AS dkk (saya perlu satu buku untuk menjelaskannya, sdg dalam proses penerbitan). Fakta paling mudah diamati adalah: mengapa bila ratusan perusuh anarkhis mengobrak-abrik fasilitas umum di Teheran, saling bentrok dan beberapa tewas (oleh peluru misterius), lalu sebagian diringkus polisi, Obama, Sarkozy, Miliband, ikut berkomentar keras? Obama berjanji untuk berdiri di belakang warga Iran yang melakukan kerusuhan itu. Dia memuji mereka sebagai `orang-orang yang mencari keadilan'. Kata Obama, "Ini mengenai rakyat Iran dan aspirasi mereka akan keadilan dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka sendiri…. Setiap saat mereka bertemu dengan kepalan tangan besi kekejaman, bahkan pada kesempatan yang khidmat dan hari suci…Setiap waktu, dunia menyaksikan dengan ketakjuban yang mendalam pada keberanian dan keyakinan rakyat Iran yang merupakan bagian dari peradaban besar dan kekal Iran." Lalu bagaimana dengan hari kemarin? Jutaan warga Teheran dan kota-kota lain tumplek ke jalan untuk melakukan demonstrasi balasan, menyatakan kesetiaan kepada pemimpin mereka dan mengecam para perusuh. Demonstrasi bayarankah? Berapa banyak uang yang harus digelontorkan untuk membayar jutaan orang? Saya juga sudah cerita detil di buku PdP soal kebiasaan demo warga Iran. Mengapa Obama, Sarkozy, dan Miliband tidak berkomentar? Betapa munafiknya mereka! Katanya, mau mendukung aspirasi rakyat Iran yang menginginkan keadilan bagi diri mereka sendiri? Loh, kok, aspirasi yang lebih luas tidak didukung? Mengapa yang didukung adalah aspirasi segelintir orang dan mengabaikan aspirasi mayoritas? Menurut saya, aspirasi mayoritas bisa diukur melalui keikutsertaan dalam pemilu. Ketika mayoritas masih mau datang ke kotak suara, artinya mereka masih mengakui sistem. Ketika sangat banyak yang golput, artinya sudah banyak yang tak percaya pada sistem. Khusus untuk Iran, sebagaimana juga sudah saya tulis di sini, demonstrasi adalah ajang pengungkapan aspirasi, demo adalah budaya mereka. Dan bila ada demo ratusan orang dibalas oleh demo jutaan orang, jawabannya sudah jelas: pendukung sistem masih jauh lebih banyak. Lalu mengapa Obama, Sarkozy, dan Miliband berkeras mendukung penentang sistem dan mengabaikan aspirasi mayoritas warga Iran? 3. Mengapa Iran terus-menerus digoyang? Mengapa AS dkk sedemikian penasaran dengan Iran? Konon mereka ingin membela warga Iran yang konon tertindas. Lalu mengapa mereka tak getol membela Palestina? Warga Uighur dan Han di China? Kaum Rohingya di Myanmar? Pejuang Irlandia utara? Mengapa Iran yang terus menjadi bulan-bulanan? Jawabnya: karena Iran berbahaya bagi Israel (tentu saja, ini jawaban yang sangat short-cut, jawaban lengkapnya sudah saya tulis di sebuah buku, mudah2an bisa segera terbit) Catatan: situasi yg rumit dan unpredictable yg saya tulis di alinea pertama adalah berkaitan dgn situasi domestik Iran, sementara bila Iran dipandang sebagai satu negara dalam konstelasi politik internasional, situasinya sangat mudah dinilai dan dianalisis. Laporan langsung warga Indonesia yg ikut turun ke jalan di Teheran, bisa dibaca di facebook, ID: alireza.alatas http://dinasulaeman .wordpress. com Satrio Arismunandar Executive Producer News Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com Verba volant scripta manent... (yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...) [Non-text portions of this message have been removed]

