Heri Afrizal, Mahasiswa Al-Azhar Kairo
Yang Unik Dari Mesir (Imam Gerhana)
Selasa, 19/01/2010 07:44 WIB Cetak <javascript:print();>  |  Kirim 
<http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/send/heri-afrizal-mahasiswa-al-azhar-kairo-yang-unik-dari-mesir-imam-gerhana>
  |  RSS <http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/rss>  
Malam hari itu, selesai shalat Isya berjamaah, imam masjid Ust. Bayyûmi 
mengumumkan bahwa besok jam 7 pagi kita akan mengadakan shalat gerhana 
matahari. Di sini, di masjid As-Salam, yang terletak di daerah Bawwabah Ula, 
Hayul Asyir, Nasr City-Kairo, aku bertekad ikut melaksanakan shalat gerhana 
matahari ini. Sebab ini adalah shal gerhana matahari yang pertama kali dalam 
hidupku.
Sekembali ke flat tempat tinggalku, aku menguatkan azam untuk bangun shalat 
Shubuh di masjid. Alhamdulillah....! Allah memberiku rezeki indah pagi itu. 
Dapat shalat Shubuh berjamaah di masjid. Aku menguatkan diri untuk bangun 
melawan kantuk yang begitu berat, kemudian berwudhu dengan air yang sangat 
dingin. Maklum di Mesir lagi musim dingin. Ku ayunkan kaki ke masjid, menghalau 
hawa dingin yang menusuk tulang di subuh hari yang cerah itu.
Setelah selesai shalat shubuh aku bertekad duduk di masjid sampai terbit 
matahari. Duduk menunggu ditunaikannya shalat gerhana matahari sambil membaca 
Al-Quran, mengulang kembali hafalan-hafalan lama yang sudah lama tak diulang. 
Dan sambil mengharap pahala-Nya, karena Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa 
yang shalat Shubuh berjamaah kemudian duduk berzikir sampai terbit mathari, 
kemudian shalat dua rakaat (shalat Dhuha), maka baginya pahala haji dan umrah, 
sempurna, sempurna, sempurna." [Hadits Shahih, lihat kitab Shahihul Jami`, no. 
4035]
Sejenak, pikiranku melayang ke zaman kenabian. Zaman terbaik bagi umat ini. 
Zaman hidupnya rasul pilihan, Rasulullah Saw. Zaman hidupnya manusia-manusia 
pilihan Allah untuk mendampingi, menyertai dan mengikuti beliau sepenuh jiwa 
dan raga. Aku merasa sangat bersyukur dan berbangga sekali terlahir sebagai 
orang muslim. Bisa mengikuti ajaran Rasulullah walau masih tertatih-tatih.
Sambil duduk, aku berpikir, betapa sempurnanya Agama ini yang mengajarkan 
umatnya bagaimana harus menyikapi segala yang akan dihadapi. Bayangkan sampai 
cara masuk WC, cara buang air, cara bersuci dari buang air, cara menjawab orang 
bersin dan hal-hal yang sepintas spele, namun memiliki makna yang besar dan 
luar biasa, semua itu diajarkan dalam Agama ini. Apatah lagi masalah-masalah 
yang besar, masalah cara menjalani hidup, memandang hidup, tujuan hidup, 
mempersiapkan bekal hidup setelah mati, hubungan dengan diri sendiri, keluarga, 
tetangga, masyarakat, negara, bahkan hubungan dengan hewan, tumbuhan bangsa jin 
dan semua makhluk Allah lainnya. Aku hanya bisa berteriak dalam diamku, "Lâ 
ilâha illallâh.... betapa bangganya aku hidup sebagai muslim."
Cara menyikapi gerhana juga diajari Rasulullah Saw. Di zaman beliau pernah juga 
terjadi gerhana matahari saat putra beliau Ibrahim meninggal dunia. Sebagian 
shahabat menyangka bahwa gerhana itu terjadi sebagai respon alam atas kematian 
putra beliau. Rasulullah Saw kemudian menepis anggapan ini dan bersabda di 
hadapan para shahabatnya, “Sesungguhnya matahari dan bulan hanya salah satu 
tanda kebesaran Allah. Tidak terjadi gerhana pada keduanya karena kematian atau 
kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka 
bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah!” 
[HR. Muslim]
Dalam riwayat lain di Shahih Al-Bukhari juga disebutkan bahwa, setelah shalat 
Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya aku melihat Surga, kemudian aku mencoba 
memegang setangkai anggur, kalau seandainya aku dapat mengambilnya maka kalian 
akan memakannya selama dunia masih ada. Aku juga diperlihatkan Neraka, dan aku 
tidak pernah melihat pemandangan yang lebih sadis dari yang kulihat pada hari 
ini. Aku juga melihat bahwa isi neraka yang paling banyak adalah kaum 
perempuan." Para shahabat bertanya, "Mengapa demikian wahai Rasulullah?" Beliau 
menjawab, "Karena mereka ingkar!" Para shahabat bertanya lagi, "Apakah mereka 
ingkar kepada Allah?" Beliau menjawab, "Mereka sering mengingkari kebaikan 
suaminya, tidak mengakui perbuatan baik, walaupun kalian berbuat baik seumur 
hidup, kemudian mereka melihat sesuatu yang tidak mereka sukai dari kalian, 
mereka akan berkata: 'Aku tidak melihat kebaikan padamu sedikitpun'."
Hadits di atas tidak bermaksud menghina kaum wanita, karena Rasulullah Saw 
sekedar memberitakan realita yang akan terjadi di Neraka kelak, sebagai nasihat 
agar kaum wanita muslimah berhati-hati dalam bersikap dan bertindak-tanduk. 
Beliau memberikan solusi keselamatan tersebut, yaitu mafhum mukhalafah dari 
hadits di atas. Hendaklah wanita pandai berterimakasih kepada suaminya dan 
mengenang perbuatan baik orang lain. Dalam hadits yang lain disebutkan solusi 
yang lain yaitu, hendaknya mereka banyak bersedekah. Para ulama mengatakan 
bahwa dengan rajin bersedekah, mereka akan terhindar dari penyakit "Tidak tau 
berterimaksaih" yang membuat mereka menjadi penduduk Neraka paling banyak.
Kembali ke shalat gerhana. Shalat gerhana memiliki tatacara yang agak berbeda 
dari shalat-shalat lainnya. Ia dilaksanakan dengan dua rakaat, empat ruku’, dan 
dalam rakaat yang panjang. Dalam sebuah Shahih Al-Bukhari disebutkan disebutkan 
bahwa Rasulullah membaca ayat sepanjang Surah Al-Baqarah dalam rakaat pertama. 
Rakaat kedua juga beliau membaca surat yang panjang, walaupun lebih pendek dari 
rakaat yang pertama. Tidak hanya itu, rukuk dan sujudnya pun panjang-panjang. 
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyar r.a. berkata, "Aku tidak pernah sujud 
lebih panjang dari sujud itu" [HR. Al-Bukhari]
Pelajaran unik yang aku dapatkan pagi itu adalah dari imam shalat gerhana ini. 
Ia adalah seorang anak muda, umurnya sekita 30-40 tahunan. Penampilannya biasa 
saja. Berpakaian kaos dan bercelana traning. Tak ada yang istimewa dari 
penampilannya yang sederhana itu. Tidak banyak orang yang mengenalnya. Bahkan 
sebagian orang mungkin merasa aneh. Sebab ia adalah orang baru di masjid 
As-Salam ini. Mengapa kok dia yang didahulukan menjadi imam shalat gerhana, 
apalagi dengan penampilannya yang seperti itu.
Aku sendiri menggerutu di dalam hati, “Ini siapa ya..., kok yang ini 
imamnya..., kok pake traning dan pakaian olahraga seperti ini....” Namun ketika 
beliau mulai membaca ayat-ayat Al-Quran, tilawahnya sangat indah. Suaranya 
merdu mendayu-dayu, sangat mirip dengan suara tilawah Syekh Musyari Rasyid. Tak 
terasa satu Surah Al-Anbiya’ yang panjangnya setengah juz 17 itu selesai. 
Nikmat sekali mendegnarnya. Ingin rasanya beliau menambah satu surat lagi.
Setelah shalat, aku hanya bisa diam memandang beliau. Beliau pun berjalan di 
hadapanku dan terdegar ada orang yang memanggil dr. Khalid..! Hatiku tersentak. 
Rasanya aku tahu nama ini dari karya-karya besarnya dan aku kenal suaranya. Aku 
pernah shalat tarawih di Masjid Tabbah Hayyuts Tsamin, karena beliau adalah 
imamnya. dr. Khalid Abu Syâdi. Temanku Umar menanyakan nama beliau, dan beliau 
memang dr. Khalid Abu Syadi. Ah... betapa beruntungnya diriku pagi ini, gumamku 
dalam hati. Akhirnya aku dapat melihat wajah salah seorang yang ku kagumi. 
Orang biasa namun dengan penampilan yang biasa saja.
dr. Khalid Abu Syâdi adalah seorang dokter yang terkenal. Terkenal sebagai 
dokter dan penulis buku-buku terkenal. Buku-buku penyejuk kalbu, penawar rindu 
bertemu dengan Rabbul Izzati, seperti buku Sibâq Nahwal Jinân (Berlomba Menuju 
Surga), Bi Ayyi Qalbin Nalqâhu (Dengan Hati model Apa Kita Akan Bertemu 
Dengan-Nya), Shafaqât Râbihah (Transaksi Paling Menguntungkan), Habbî Yâ Rîhal 
Îmân (Berhembuslah Wahai Angin Keimanan) dan buku-buku sarat makna dan 
menggetarkan jiwa lainnya.
Aku berpikir, itulah sebagian keunikan orang-orang Mesir. Banyak mereka yang 
ahli dalam bidang ilmu sains. Tetapi mereka sangat dekat dengan Al-Quran, 
memahami kandungannya, bahkan tidak sedikit yang ahli ilmu agama. Seperti Prof. 
Zaglul An-Najjar, dr. Rogib Sarjani dan lain-lain. Di Universirtas Al-Azhar 
sendiri, mahasiswa yang jurusan sains diwajibkan menghafal Al-Quran. Pikiranku 
pun melayang, membayangkan kapan kira-kira bangsaku Indonesia memiliki 
ilmuan-ilmuan yang ahli agama atau minimal tidak buta agama dan hidup sederhana.
Selesai menyalami jamaah imam muda tersebut langsung pergi. Memang tak banyak 
orang yang mengenalnya. Bahkan orang mesir pun yang sempat ditanya siapa nama 
imam itu, ia hanya berkata, “Huwa syabâb masya allah yîgi wa yamsyi” (Dia itu 
pemuda yang--masyaallah--dia hanya datang dan pergi begitu saja). Dia memang 
masih sangat muda, belum kakek-kakek seperti yang aku kira untuk ukuran 
kedalaman karya-karya yang ia persembahkan.
 
  _____  

Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman 
<http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/trueswitch/mailtagline/*http:/id.messenger.yahoo.com/invite/>
 
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

This e-mail is confidential and may contain legally privileged information. If 
you are not the intended recipient, you should not copy, distribute, disclose 
or use the information it contains. Please e-mail the sender immediately and 
delete this message from your system. E-mails are susceptible to corruption, 
interception and unauthorized amendment; we do not accept liability for any 
such changes, or for their consequences. You should be aware, that PT TITAN 
Petrokimia Nusantara might monitor your e-mails and their content.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke