Baik dan Buruk

Oleh: Shofhi Amhar

Pendahuluan

Salah satu perintah Allah di dalam al-Qur`ân adalah berlomba-lomba di
dalam kebaikan, fa-stabiqû al-khayrât. Masalahnya, apa yang dimaksud
dengan kebaikan dalam pandangan Islam? Pembahasan ini sangat penting,
agar waktu hidup yang sebentar di dunia ini bisa dimanfaatkan untuk
melakukan kebaikan sesuai yang dikehendaki oleh ajaran Islam.

Kata Khayr di dalam al-Qur`ân

Al-Qur`ân memuat kata khayr sebanyak seratus sembilan kali. Jumlah itu
belum menghitung kata tersebut dalam bentuk jamak dan atau
nakirah-nya. Ayat yang menyebut kata khayr salah satunya adalah
al-Baqarah [2]:216.
Allah Ta’âla berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ
تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا
وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu
yang kalian benci. Boleh Jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagi kalian, dan boleh Jadi (pula) kalian menyukai sesuatu,
padahal ia buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak
mengetahui.

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas, berkenaan
dengan baik dan buruk.

Pertama, suatu kewajiban bukanlah sesuatu yang selalu disukai oleh
manusia. Dengan demikian, suka-tidak suka tidak dapat dijadikan ukuran
untuk melakukan sesuatu atau tidak. Suka atau tidak suka juga bukan
ukuran baik dan buruk.

Kedua, sesuatu yang disukai oleh manusia, belum tentu merupakan
sesuatu yang baik. Bisa jadi justru merupakan sesuatu yang buruk.

Ketiga, sesuatu yang dibenci oleh manusia, belum tentu merupakan
sesuatu yang buruk. Bisa jadi hal itu justru merupakan hal yang baik.

Keempat, Allah lah yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk
bagi manusia.

Kesalahpahaman

Sadar atau tidak, sebagian manusia menganggap bahwa kebaikan adalah
sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Sebaliknya, keburukan adalah
sesuatu yang tidak bermanfaat bagi manusia. Hal ini berarti,
menggantungkan kebaikan kepada ada tidaknya manfaat pada kebaikan
tersebut. Paradigma seperti ini berdampak pada pemahaman bahwa sesuatu
itu dapat dikatakan baik apabila ada manfaatnya. Sedangkan bila
sesuatu itu tidak ada manfaatnya, maka sesuatu itu buruk. Padahal,
sebagaimana tersirat dalam ayat di atas, pengetahuan manusia tentang
manfaat suatu perbuatan bersifat terbatas. Terkadang manusia
mengetahui sebagian manfaat suatu perbuatan, tetapi luput dari
mafsadat perbuatan itu sendiri. Kesimpulan ini bisa diambil karena
seringkali manfaat-tidaknya suatu perbuatan itu diukur dari suka atau
bencinya seseorang terhadap hal tersebut.

Sebagai contoh, seseorang yang putus dengan pacarnya mungkin akan
sedih dan menangis, serta menganggap bahwa keburukan telah menimpa
dirinya. Anggapan tersebut disebabkan karena ia tidak menyukai
keputusan tersebut. Contoh lain, seorang koruptor mungkin menganggap
bahwa korupsi yang dilakukannya adalah suatu kebaikan karena
mendatangkan manfaat bagi keluarganya. Demikian pula para garong
kapitalis yang menjarah kekayaan alam negeri-negeri kaum muslimin
(termasuk Indonesia), mereka menganggap apa yang mereka lakukan
bermanfaat bagi mereka. Pemerintah barangkali juga berpikiran sama.
Mereka mengizinkan perusahaan-perusahaan asing mengeksploitasi habis
tambang-tambang potensial di negeri ini karena menganggap bekerjasama
dengan perusahaan kafir asing itu adalah hal yang bermanfaat, karena
mereka bisa mendapat keuntungan; meskipun tidak seberapa.

Meluruskan Pemahaman

Contoh-contoh di atas adalah sebagian penerapan konsep baik dan buruk
berdasarkan asas manfaat dengan standar suka-tidak suka, benci dan
cinta. Pemahaman seperti ini perlu dikoreksi, karena cenderung
mengabaikan peran wahyu dalam menentukan baik dan buruk. Padahal Allah
menyatakan bahwa Dia-lah yang mengetahui baik dan buruk, sedangkan
manusia pada dasarnya tidak mengetahui baik dan buruk kecuali setelah
mendapat pengetahuan dari wahyu. Bisa juga—sebagaimana pada ayat di
atas—manusia mengetahui sesuatu itu baik karena Allah
memerintahkannya. Sebab, tidak mungkin Allah Ta’âlâ memerintahkan
sesuatu yang buruk kepada orang-orang yang beriman. Berdasarkan uraian
di atas, pemahaman yang salah mengenai baik dan buruk yang ada di
tengah-tengah masyarakat harus diluruskan, dengan menyatakan bahwa:
الخير ما أرض الله والشر ما أسخطه
Kebaikan adalah sesuatu yang diridhai Allah, sedangkan keburukan
adalah sesuatu yang dimurkai Allah.

Panatagama, 17 Shafar 1430 H/31 Januari 2010 M

-- 
+++
[5:50] apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin? (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 50)
---
Wala' untuk Islam
Shofhi Amhar
http://sites.google.com/site/ibnushobirin


------------------------------------


===
http://media-islam.or.id

Anda bisa mendapatkan Busana Muslim secara online di:
http://rumahmadina.com
http://www.butikaqilla.com
http://wearmuslim.com
Toko buku Islam online:
http://rumahpensil.webuang.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke