Wa'alaikum salam wr wb,
Harusnya sih diajarkan saja cara ibadah yang benar seperti cara shalat yang 
benar sesuai dengan Al Qur'an dan Hadits.

Dan insya Allah para Imam Madzhab seperti Imam Malik itu meski dalilnya tidak 
memakai hadits Riwayat Bukhari, Muslim, dsb, namun bisa jadi lebih kuat. Karena 
beliau lahir 82 tahun setelah wafatnya Nabi. Beliau juga lahir dan besar di 
kota Madinah yang merupakan tempat tinggal Nabi beserta para sahabatnya. Oleh 
sebab itu, cara shalatnya pun mengikuti cara shalat para sahabat dan anak2 
sahabat Nabi.

Sebaliknya para Imam Hadits seperti Imam Bukhari, itu lahir pada tahun 194 
Hijriyah atau 184 tahun setelah Nabi meninggal. Lahirnya pun jauh dari kota 
Madinah yaitu di kota Bukhara (wilayah Uni Soviet).

Jadi buat yang ahli hadits, jangan menyepelekan pendapat para Imam Madzhab 
seperti Imam Malik, dsb. Insya Allah mereka juga ahli hadits dan hidup lebih 
dulu dari para penulis Hadits (lebih Salaf).

Jadi sebaiknya ketimbang berdebat kusir bid'ah, bid'ah, dan bid'ah, lebih baik 
kita belajar Islam secara benar dari Tauhid, Fiqih, Akhlaq, dsb.

Wassalamu'alaikum wr wb

http://id.wikipedia.org/wiki/Malik_bin_Anas
lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan meninggal pada tahun 800 (179 H)).

http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari
Ia lahir pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M)

http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad
ia lahir diperkirakan sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkah ("Makkah") dan wafat 
pada 8 Juni 632 di Madinah.

--- In [email protected], doni herlambang <zzz_d...@...> wrote:
>
> assalamu'alaikum...
> mohon maaf sebelumnya...
> 
> kalau tidak layak, jangan diposting pak moderator
> tapi mohon ditanggapi.
> 
> saya selalu bingung dengan perdebatan orang tentang bid'ah
> inilah, itulah, acara inilah, ibadah itulah,
> 
> apalagi kalau sudah membahas solat.
> ininya harus begini, itunya harus begitu, jangan begini, jangan begitu, kalau 
> tidak begini dan begitu jadinya salah, bid'ah, dll
> 
> apakah menggunakan sejadah dan solat diatas lantai itu bid'ah?
> banyak yang menjawab tidak.
> apakah rasulullah saw pernah melakukan hal ini?
> apakah ini bukan sesuatu yang baru/penambahan?
> 
> terus siapa yang memutuskan perkara ini?
> manusia atau siapa?
> terus siapa yang menilai? manusia atau Allah?
> 
> terus apa kuasa kita pada yang menilai?
> 
> kenapa kita selalu bekutat pada apa yang teknis?
> kenapa kita tidak lebih berfokus bagaimana agar solat kita khusyu?
> kenapa kita tidak memfokusklan diri untuk lebih mendalami substansi dari 
> ibadah kita?
> setelah kita dapat substansinya, kita pasti ingin melakukan ibadah kita 
> dengan benar (teknis). 
> 
> sekali lagi mohon maaf
> wassalam...
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke