Yang patut diingat adalah hingga kini tentara AS tetap ada di Iraq. AS baru mau 
mundur jika pemerintahan boneka bentukan mereka aman di sana. Kemudian Obama 
justru menambah 30 ribu pasukan untuk memerangi ummat Islam ke Afghanistan di 
mana akhirnya banyak anak2 dan wanita Muslim yang merupakan saudara kita tewas 
mengenaskan. Silahkan lihat korban tentara AS di Afghanistan di mana anak2 dan 
bayi tak berdosa tewas tak berbentuk:

http://media-islam.or.id/2009/11/15/afghanistan-muslim-tidak-boleh-memerangi-sesama-muslim/

Bayangkan jika yang dibantai itu adalah anak anda.

Nabi Muhammad saja jika ada satu orang Muslim yang terbunuh, tidak segan2 untuk 
memerangi kaum kafir yang zhalim. Contohnya kaum Yahudi di Madinah ada yang 
diusir dan ada juga yang dibunuh, sementara kaum kafir Mekkah ditundukkan.

“…Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun
memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa.” [9 AT Taubah 36]

Obama datang tentu bukan untuk berdamai. Tapi mengajak ummat Islam di Indonesia 
melawan "Teroris" yang tidak lain adalah saudara mereka sendiri.

Wassalam
http://www.detiknews.com/read/2009/12/03/030317/1253016/10/rusia-dukung-obama-tambah-pasukan-ke-afghanistan
Rusia Dukung Obama Tambah Pasukan Ke Afghanistan
Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jakarta - Pemerintah Rusia memuji inisiatif Presiden AS Barrack Obama menambah
pasukan ke Afghanistan. Rusia menilai sikap Obama secara umum sangat
positif.

http://www.vhrmedia.com/Obama-Tambah-30-Ribu-Pasukan-ke-Afghanistan-berita2776.html
Obama Tambah 30 Ribu Pasukan ke Afghanistan
 2 Desember 2009 - 12:34 WIB 
Yolanda Desvira Dewi
VHRmedia, New York - Presiden Amerika Serikat Barack Obama memerintahkan 
menambah 30.000
pasukan ke Afghanistan. Amerika mengonsentrasikan pasukan untuk
mengalahkan Taliban dan menstabilkan kondisi keamanan perbatasan
Afghanistan.

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/strategi-baru-obama-kirim-30-000-tambahan-pasukan-ke-afghanistan.htm
Obama Perintahkan Kirim 30.000 Pasukan Tambahan ke Afghanistan
Selasa, 01/12/2009 15:23 WIB | email | print | share

Presiden AS Barack Obama memerintahkan pengiriman sekitar 30.000 pasukan 
tambahan ke Afghanistan. Perintah itu merupakan bagian dari strategi baru AS di 
Afghanistan yang akan disampaikan Obama dalam pidato resmi kenegaraannya pada 
hari Selasa waktu setempat dari akademi militer AS West Point.

Obama sudah memanggil para petinggi militernya pada hari Minggu malam ke Ruang 
Oval Gedung Putih terkait pengiriman pasukan tambahan itu. Dan hari ini atau 
hari Senin waktu AS, Obama menghubungi para pimpinan negara-negara yang menjadi 
sekutu AS dalam perang di Afghanistan, antara lain Inggris, Prancis dan Rusia 
serta Perdana Menteri Australia, untuk meminta jaminan dukungan pengiriman 
pasukan tambahan tersebut.

Surat kabar Prancis Le Monde dalam laporannya menyebutkan, Obama meminta 
Prancis untuk mengirimkan sekitar 1.500 pasukan tambahan. Sementara PM Inggris 
Gordon Brown sudah menyatakan siap mengirimkan 500 pasukan tambahan pada awal 
Desember dan berkomitmen untuk menambah pasukannya di Afghanistan sampai 
mencapai jumlah 10.000 pasukan. Sementara PM Australia, Kevin Rudd bersedia 
mengirimkan pasukan yang akan melatih polisi-polisi Afghanistan dan sejumlah 
pakar bantuan kemanusiaan ke Negeri Para Mullah.

Dengan penambahan pasukan sebanyak 30.000 orang, maka total jumlah pasukan AS 
di Afghanistan lebih dari 100.000 tentara. Jumlah sebanyak itu menjadi 
persoalan tersendiri bagi AS yang sedang dilanda krisis ekonomi dan tingkat 
pengangguran yang tinggi, karena AS harus menyediakan dana sebesar 75 juta 
dollar per tahun untuk membiayai pasukannya di Afghanistan.

Secara keseluruhan, AS akan menghabiskan dana hampir 1 triliun dollar sampai 
akhir tahun fiskal 2010 untuk mendanai perangnya di Irak dan Afghanistan. 
Selain itu, selama hampir delapan tahun perang, sedikitnya 900 tentara AS tewas 
di Afghanistan.

Rencana AS menambah pasukannya di Afghanistan dikritik oleh Presiden Pakistan 
Yousuf Raza Gilani yang khawatir penambahan pasukan akan berdampak pada 
stabilitas di dalam negerinya. Dalam wawancara hari Minggu kemarin, Gilani 
mengatakan, penambahan pasukan AS akan mendorong makin banyaknya militan dari 
Afghanistan yang masuk ke wilayah Pakistan dan mereka akan membuat kekacauan di 
Pakistan. (ln/aljz)

 ===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id
Milis Ekonomi Nasional: [email protected]


>
>Dari: Syamsi Ali <[email protected]>
>Kepada: Masjid Al-Hikmah <[email protected]>; imsa US 
><[email protected]>; ICMI NA <[email protected]>; Imam DC 
><[email protected]>; Profetik warta <[email protected]>
>Terkirim: Sel, 9 Maret, 2010 03:41:30
>Judul: [JMP] Kunjungan Barack Obama ke Indonesia
>
> >
>
>
>
>
>  >
>>      
> 
>Assalamu'alaikum,
> 
>Urgensi Umat Menerima Kunjungan Presiden Barack Obama  
>M. Syamsi Ali 
>  
>Tiada disangkal lagi, Barack Obama, Presiden Amerika Serikat yang ke 44 
>merupakan salah satu figur utama dunia saat ini. Tentu bukan saja sebagai 
>presiden negara superpower, tapi lebih dari itu adalah figur yang telah 
>menjadi catatan sejarah dunia  tersendiri. Sosok yang relatif baru dalam 
>kancah politik, dari community organizer, state senantor, terpilih menjadi 
>senator AS, dan tiba-tiba mampu mengalahkan calon-calon presiden lainnya yang 
>sangat senior, termasuk John Maccain dan sebelumnya sesama calon Partai 
>Demokrat, Hillary Clinton.  
>  
>Tapi barangkali yang paling istimewa dari semua itu adalah sosok kepribadian 
>Barack Obama itu sendiri, yang bagi saya, sangat unik. Anak seorang ayah non 
>Amerika, warga Kenya dan ibu keturunan Irish, menjadikan Obama sebagai 
>individu yang unik. Individu yang bisa bangga mewakili manusia tanpa batas 
>ras. Kalau pun kenyatannya bahwa dia selalu dibanggakan oleh warga kulit hitam 
>sebagai African American, dan dia sendiri tidak menolak, semua itu hanya 
>karena motivasi pribadinya yang ingin berdiri pada pihak yang ‘dhu’afa’. Warga 
>kulit hitam di AS masih dikategorikan warga yang ‘marginalized’.  
>  
>Maka terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden AS merupakan simbol 
>‘empowerment’ untuk mereka yang selama ini dipersepsikan sebagai elemen 
>masyarakat yang lemah, khususnya warga kulit hitam AS. Bahkan terpilihnya 
>beliau ditafsirkan oleh sebagian kalangan sebagai ‘realisasi mimpi’ Dr. Martin 
>Luther, pejuang hak-hak kesamaan sipil AS.  
>  
>Bagi saya sendiri, keunikan yang dimiliki oleh Barack Obama tidak sama sekali 
>terletak di bentuk warna kulit dan posisinya sebagai presiden negara terkuat 
>dunia, Amerika Serikat. Melainkan pada berbagai pemikian dan sikap politiknya 
>dalam kampanye, dan bahkan minimal dapat dikatakan, dalam berbagai upaya 
>kebijakan yang ingin diambil setelah menduduki ‘Gedung Putih’. Sayangnya 
>memang berbagai kebijakan itu tidak semudah yang dibayangkan oleh khalayak 
>ramai. Sebuah kebijakan perlu melalui ‘pintu-pintu ketat politis’, termasuk 
>Kongress dan Senate, sebelum disahkan oleh presiden untuk menjadi ‘policy’.  
>  
>Di antara berbagai pemikian dan sikap Barack Obama yang unik, antara lain 
>sebagai berikut:  
>  
>Pertama, salah seorang yang menentang sejak awal penggelindingan perang Irak 
>oleh presiden G.W. Bush ketika itu adalah State Senator dari Illinois , Barack 
>Obama. Sebagai ahli hukum internasional dari Harvard University, Barack Obama 
>sadar betul bahwa apa yang dilakukan oleh Presiden Amerika saat itu adalah 
>illegal dan bertentangan dengan norma-norma kesepakatan masyarakat 
>internasional. Oleh karenanya, dia menentang dan bahkan menjadi salah satu 
>tema utama kampanyenya.  
>  
>Yang paling penting adalah kenyataan bahwa Barack Obama telah menetapkan 
>penarikan tentara AS dari Irak dalam beberapa bulan ke depan, dengan melihat 
>kepada situasi di lapangan. Bagi saya, ini juga merupakan bagian dari sikap 
>tangggung jawab yang tidak ingin meninggalkan Irak begitu saja. Jika ini yang 
>dilakukan maka sudah pasti Amerika akan dicatat oleh sejarah sebagai 
>‘penjajah’ yang tidak bertanggung jawab.  
>  
>Hasil sikap politik Barack Obama terhadap Irak ini jauh lebih baik ketimbang 
>hasil sikap politik pendahulunya dari Republikan. Kekerasan, pembunuhan, dll., 
>masih saja terjadi namun jauh menurun. Beberapa hari yang lalu penduduk Irak 
>baru saja melangsungkan pemilu yang walau diwarnai beberapa insiden, namun 
>secara umum sangat sukses.  
>  
>Kedua, sehari setelah pelantikannya sebagai presiden, Barack Obama langsung 
>menanda tangani sebuah ‘executive order’ untuk menutup fasilitas penjara di 
>Guantanamo. Guantanamo telah menjadi saksi sejarah hitam dalam rangkaian 
>sejarah negara AS dengan berbagai pelanggaran HAM, termasuk torture, yang 
>kenyataannya AS seringkali dilihat sebagai penjuang. Oleh karenanya, dengan 
>tanpa pertimbangan apapun, Barakc Obama segera memerintahkan untuk menutup dan 
>dengan waktu yang jelas.  
>  
>Walaupun hingga kini perintah penutupan tersebut belum sepenuhnya terealisir 
>karena berbagai kendala teknis, seperti penempatan ratusan penduduk Guantanamo 
>yang masih menunggu pengadilan dan juga tentunya adanya upaya-upaya dari lawan 
>politiknya untuk menghalaginya. Tapi yang keberanian dan ketegasan Barack 
>Obama untuk menutup fasilitas itu menrupakan langkah yang patut dipuji.  
>  
>Ketiga, dan mungkin ini yang paling penting untuk disadari, bahwa juga pada 
>hari kedua di Gedung Putih, Barack Obama langsung melakukan komunikasi dengan 
>kedua pemimpin Israel dan Palestina dalam upaya mencari solusi konflik Timur 
>Tengah. Bahkan upaya itu langsung ditindak lanjuti dengan mengangkat seorang 
>senator sebagai utusan khusus Presiden untuk Timur Tengah.  
>  
>Bagi saya pribadi, di tengah gelombang perang Irak dan Afganistan, Barack 
>Obama memberikan perhatian khusus terhadap konflik Timur Tengah, khususnya 
>Israel-Palestina. Tentu sebuah gambaran bahwa Barack sadar sepenuhnya betapa 
>konflik Palestina-Israel adalah kanker yang menggerogoti dunia internasional 
>kita sekarang ini. Jika saja konflik ini bisa diselesaikan, sudah pasti akan 
>banyak kekisruhan-kekisruh an dunia yang dapat diselesaikan.  
>  
>Yang paling unik bagi saya adalah kenyataan bahwa Barack Obama terlihat 
>‘berani’ dalam memposisikan diri sebagai ‘mediator’ yang tidak memihak. 
>Minimal ini terlihat dalam berbagai pernyataannya yang cenderung tidak saja 
>selalu ‘menyalahkan’ Palestina, sebagaimana para pendahulunya, tapi telah 
>mempu di sisi lain melemparkan pernyataan keras kepada Israel. Padahal, kita 
>ketahui, mengeritik Israel bisa dinilai sebagai ‘political suicide’ bagi 
>seorang presiden AS.  
>  
>Keempat, sadar akan kritikan selama beberapa tahun terakhir terhadap Amerika 
>dalam HAM, terutama dalam menyikapi penyiksaan terhadap tahanan atau 
>‘torture’, Barack Obama dengan tegas melarang semua bentuk penyiksaan yang 
>masuk dalam kategori ‘torture’, termasuk ‘water boarding’ yang pernah 
>dilakukan kepada tahanan teroris Sheikh Khalid Mohammed, perancang 
>(mastermind) serangan terhadap WTC.  
>  
>Bagi saya pribadi, ini sebuah visi sekaligus komitmen besar. Di saat Amerika 
>merasa dalam keadaan terancam oleh what so called ‘American haters’, Barack 
>justeru tetap sadar akan batasan-batasan hukum. Tidak seperti pendahulunya, 
>yang terkadang atas nama keamanan (security), hukum justeru tidak dihiraukan 
>dan bahkan cenderung dilanggar.  
>  
>Kelima, di bidang ekonomi Barack Obama telah banyak mencoba untuk memodifikasi 
>berbagai aturan yang memihak kepada kaum lemah. Program ‘bail out’ sebenarnya 
>ditujukan untuk menyelamatkan para pekerja dari kemungkinan pemutusan kerja 
>(lay off) besar-besaran oleh corporate (perusahaan) . Ini tentunya harus 
>dilihat sebagai bagian dari ‘peduli kaum dhu’afa’, yang menjadi bagian dari 
>‘personal nature’ (tabiat pribadi) Barack Obama yang pernah mengalami 
>kehidupan kaum dhu’afa.  
>  
>Contoh yang paling jelas adalah beberapa peraturan terakhir yang nampak sangat 
>berpihak kepada pelanggang ‘credit cards’ (kartu kredit) yang biasanya 
>terlilit oleh utang perusahaan kredit yang mematikan. Beberapa peraturan 
>terkahir memaksa perusahaan-perusaha an kartu kredit untuk melakukan 
>modifikasi dalam membebani para pelanggangnya.  
>  
>Barangkali upaya terbesar yang menjadi prioritas utamanya saat ini adalah 
>‘health care reform’ yang mati-matian ditentang oleh Republikan. Saya sendiri 
>menilai, penentangan itu sesungguhnya bukan dilandasi oleh kepentingan 
>khalayak ramai, tapi kepada upaya penggajalan kepada program prioritas Barack 
>Obama. Dan sudah tentu tujuan akhir dari upaya penggagalan tersebut adalah 
>menjatuhkan kredibilitas Barack di khalayak ramai. Ujung-ujungnya adalah agar 
>masyarakat Amerika tidak lagi memilih Barack Obama untuk priode kedua tiga 
>tahun ke depan. 
>  
>Keenam, bahwa Barack Obama memiliki komitmen demokrasi dengan menjunjung 
>tinggi diversity manusia. Ini yang disadarinya sehingga Barack Obama tidak 
>canggung-canggung melakukan ‘direct talk’ dengan berbagai kalangan dunia lain, 
>termsuk dengan dunia Islam. Pesan-pesan yang disampaikan di Kairo, Mesir 
>merupakan representasi kesadaran akan ‘inter-dependensi’ dunia saat ini. 
>Barack Obama sadar bahwa tak satu bangsa atau negara di dunia ini, termasuk 
>negara super power Amerika, bisa hidup tanpa kerjasama dengan bangsa-bangsa 
>lain.  
>  
>Sikap dan kebijakan Barack Obama ini, bagi saya pribadi, sangat bertentangan 
>dengan pendangan dan sikap pendahulunya yang melemparkan slogan ‘with us or 
>against us’.  
>  
>Selain itu, Barack Obama sangat santun dalam mengeritik lawan-lawan 
>politiknya, bahkan terhadap presiden Iran sekalipun. Barack selama ini tetap 
>memakai bahasa santun dalam mengkritisi sikap presiden Ahmadinejad yang 
>bersikukuh untuk mengembangkan ‘nuclear power’ di negaranya. Berbeda dengan 
>G.W Bush yang selalu memberikan kritikan dengan ‘uncivilized manner’, termasuk 
>pengistilahan ‘Evil Axes’ (poros syetan), dll.  
>  
>Kunjungan Barack Obama ke Indonesia  
>  
>Menurut rencana, Presiden Barack Obama akan mengunjungi Indonesia, sebelum ke 
>Australia, pada pertengahan Maret tahun ini. Rencana kunjungan ini, 
>sebagaimana biasanya, akan disikapi dengan sikap yang berbeda-beda oleh 
>masyarakat Indonesia. Tentu, berbeda pandangan adalah sesuatu yang baik. Saya 
>yakin Barack Obama sendiri akan senang dnegan adanya perbedaan pandangan di 
>kalangan masyarakat karena itu adalah gambaran kebebasan berfikir dan 
>demokrasi.  
>  
>Akan tetapi, kalau saja saya yang ditanya, apakah kunjungan Barack Obama ke 
>Indonesia harus mendapat sambutan penghormatan atau penolakan? Maka, dengan 
>tegas dan terbuka akan saya katakana harus diterima dengan penerimaan yang 
>terhormat. Alasannya sangat sederhana. Bahwa kalau saja Barack Obama yang 
>memimpin negara terkuat dunia, hamper dalam segala skala kehidupan, dari 
>pendidikan, ekonomi, dan hingga ke kekuatan militer, ingin membangun hubungan 
>yang baik dan sejajar dengan dunia lain, kenapa bangsa ini tidak mempergunakan 
>‘kesempatan’ (momentum) tersebut untuk membangun relasi yang sama dengan 
>Amerika?  
>  
>Kalaupun ada yang melihat bahwa pemerintahan Amerika saat ini belum 
>melaksanakan secara maksimal seperti yang diharapkan oleh banyak orang di 
>berbagai belahan dunia, seharusnya semua itu harus dilihat dengan pandangan 
>bijak. Bijak dalam arti bahwa sebuah kebijakan politik di negara demokrasi 
>tidak ditentukan oleh pribadi. Barack Obama bukan seorang raja, bukan pula 
>seorang dictator, tapi seorang presiden yang dikelilingi oleh berbagai 
>kepentingan. Dalam menentukan sikap, dia tentu punya pertimbangan politis yang 
>didasarkan kepada kemaslahatan mayoritas dan jangka panjang.  
>  
>Kalaulah Barack Obama bisa memaksakan kehendak, maka sudah pasti dia akan 
>memaksa Israel untuk menghentikan konstruksi pemukiman di berbagai daerah 
>Palestina. Namun ‘realita’ politisnya mengatakan bahwa apa yang bisa dilakukan 
>saat ini adalah mengingatkan aktifitas illegal Israel di daerah Palestina.  
>  
>Akhirnya, saya hanya ingin mengatakan, masanya umat ini melakukan introspeksi 
>akan masa-masa lalu, sekaligus membuka mata lebar dan memandang jauh ke depan, 
>apa yang telah dihasilkan dengan pandangan dan sikap sesaat yang emosional 
>selama ini? Kalau saja kepemimpinan Barack Obama yang nota benenya sangat 
>menghormati keragaman, berpihak ke kaum dhu’afa, serta berusaha imbang dalam 
>menyikapi berbagai konflik di dunia, minimal pada tataran sikap pribadinya, 
>ditangkap dan dijadikan momen yang baik untuk ‘merangkul’ dan berusaha 
>memberikan masukan-masukan konstruktif ke depan.  
>  
>Ataukah mengambil jalan oposisi terhadap seseorang yang punya I’tikad baik, 
>walau dengan susah payah melakukan implementasi dari I’tikad baik tersebut? 
>Tidakkah masanya bagi mereka yang menolak kedatangan Barack Obama ke Indonesia 
>sadar bahwa Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia sudah masanya 
>menempatkan diri sebagai ‘pemain yang efektif’ dalam upaya-upaya menyelesaikan 
>berbagai konflik dunia? Jangan sampai penentangan itu merupakan representasi 
>dari sikap yang rentang prustasi, pessimis, apatis dan ‘blaming in nature’. 
>Umat yang sehat adalah umat yang selalu positif, visioner, optimis dan 
>‘solving in nature’. 
>  
>Saya yakin, umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang selalu mengedepankan 
>pandangan positif, dan yang paling penting akan meneropong jauh ke depan 
>perjuangan umat dalam rangka membangun dunia yang lebih bermartabat. Semoga!  
>  
>New York, 8 Maret 2010  
>  
>____________ _________ _________ _________ _________ __
>Do You Yahoo!?
>Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
>http://mail. yahoo.com 
> 


      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke