Janji Kemenangan Islam 



Sunday, 21 February 2010 
Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia
Bagaimana syariah bisa tegak bila masyarakat perutnya lapar!” Begitu, kata 
sebagian orang.  Memang, harus diakui bahwa langkah perjuangan bukanlah 
hal mudah.  Penuh kesulitan.  Bukan sekadar masalah ekonomi, setumpuk 
masalah lain pun terus menimpa.  Sebut saja secara internal, kondisi 
ekonomi umat Islam masih terpuruk.  Kemiskinan masih di atas 35 juta jiwa. 
 Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Hermawan, angka kemiskinan 
ini hingga 2010 diprediksi tidak akan jauh berbeda dengan angka kemiskinan 
tahun ini.  Hanya saja, kondisi ini sejatinya justru menjadi dorongan 
besar untuk berjuang lebih sungguh-sungguh.  Sebab, tanpa perubahan sistem 
dan orang niscaya kondisi tak akan pernah beranjak.  Tengoklah para 
pendukung dakwah para Nabi banyak dari kalangan miskin, misalnya Bilal bin 
Rabah, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. 
Selain itu, ada sikap kaum Muslim yang menerima keadaan, puas dengan 
kondisi yang ada.  Bahkan, mengatakan sistem yang ada sudah final. 
Perjuangan pun jalan sendiri-sendiri.  Upaya penyatuan langkah sering kali 
kandas di tengah pragmatisme.  Akhirnya, tidak jarang pihak yang disebut 
ulama dan tokoh Islam mendiamkan kemungkaran.  Sebagai contoh kecil, tak 
banyak kalangan Islam yang bersuara terkait skandal century gate. 
Pada sisi lain, penguasa kini semakin liberal dan pro Barat (west 
friendly).  Sampai-sampai merasa perlu membuat patung Obama.  Padahal, 
dialah yang menumpahkan darah kaum Muslim di Afghanistan dan Pakistan 
sekarang.  Suara kritis dari parlemen hilang karena partai-partai 
berkoalisi menjadi pendukung partai penguasa.  Kini, tengah ada upaya 
untuk merubah UU Antiterorisme sedemikian rupa sehingga “Penindakan harus 
dimulai  sejak tahap provokasi & eksploitasi radikalisme”.  Dengan kata 
lain, Internal Security Act (ISA) seperti di Malaysia sedang dijajaki 
untuk dihidupkan.  Hal ini dapat bersifat liar menjadi kriminalisasi 
pendakwah.  Dari eksternal pun tantangan luar negeri masih besar. 
Melihat kondisi demikian, haruskah pesimis?  Jawabannya tegas: tidak! 
Sebaliknya, kaum Mukmin harus selalu optimis.  Mengapa?  Pertama, 
kesulitan merupakan sunnatullah dalam perjuangan.  Allah SWT menegaskan: 
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang 
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? 
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan 
(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang 
yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, 
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (TQS. al-Baqarah[2]:214). 
Imam al-Qurthubi memaknai bahwa mereka ditimpa kebutuhan dan 
keserbakurangan/kefakiran yang sangat, celaan dan malapetaka, serta 
keguncangan berupa tidak takut dan gentarnya musuh-musuh terhadap mereka. 
Hal ini menjadikan mereka menyangka lambatnya pertolongan Allah.  Namun, 
justru dalam kondisi demikian Allah SWT menyatakan bahwa pertolongan-Nya 
dekat, Dia akan meninggikan kaum Mukmin di atas musuh-musuh mereka, 
memenangkannya, meninggikan kalimat-Nya,  memberikan janji yang telah 
diberikan-Nya kepada mereka, dan memadamkan api peperangan para musuhnya 
(Jami al-Bayan fi at-Ta`wil al-Quran, Juz IV, hal. 288).  Ini menunjukkan 
bahwa rasa pesimis yang hampir hinggap di dada para sahabat ditepis oleh 
Allah SWT.  Akhirnya, mereka pun kembali menyadari bahwa kesulitan 
merupakan pangkal keberhasilan.  Kesulitan merupakan sunnatullah dalam 
perjuangan.  Optimisme mereka pun kembali. 
Kedua, Allah SWT menjanjikan kemenangan.  Di antara janji-Nya adalah: “Dan 
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan 
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan 
mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang 
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama 
yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar 
(keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. 
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun 
dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka 
mereka itulah orang-orang yang fasik (TQS. an-Nur[24]:55).  Imam Ibnu 
Katsir dalam tafsirnya menyatakan: “Ini adalah janji dari Allah kepada 
Rasul-Nya SAW.  Dia akan menjadikan umatnya sebagai para khalifah di bumi 
ini, yakni para pemimpin dan para wali bagi manusia.  Melalui merekalah 
berbagai negeri akan baik, pada merekalah para hamba akan tunduk.  Dia pun 
akan mengubah rasa takut mereka menjadi rasa aman dan keadilan pada 
mereka.  Allah telah membuktikan hal ini” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VI, 
hal. 77).  Janji ini akan kembali terbukti bagi umat Muhammad masa 
sekarang.
Ketiga, kini ada kelompok umat Islam yang teguh pada kebenaran, menyerukan 
Islam dengan sejujurnya.  Tidak sedikit para aktivisnya ditangkap karena 
dakwah yang dilakukannya.  Kata Nabi SAW, mereka yang tetap bersikap 
demikian akan mendapatkan kemenangan.  Realitas ini persis sebagaimana 
disabdakan Rasulullah SAW: “Akan selalu ada kelompok dari umatku yang 
berdiri di atas kebenaran, dan mereka dalam kemenangan.  Orang-orang yang 
menentang dan melawan mereka tidak akan membahayakan mereka hingga Allah 
Tabaroka wa Ta'ala mendatangkan kemenangan pada saat mereka dalam kondisi 
seperti itu (di atas kebenaran dan menang) (HR. Abu Dawud, Turmudzi, 
Baihaqi).    Hadits ini mengajarkan hal penting untuk dilakukan adalah 
konsisten berada dalam kebenaran dan istiqamah menyerukannya.  Kesulitan 
apapun tak akan pernah membahayakan.  Dan, kemenangan hanya tinggal waktu 
saja. 
Keempat, upaya menegakkan Islam secara kaffah makin mendapatkan sambutan, 
terlebih dari kalangan muda.  Bukan hanya berumur muda, mereka banyak dari 
kalangan mustadh'afin, juga berasal dari kalangan menengah.  Padahal, 
mustadh'afin, kalangan pemuda, dan kelas menengah merupakan ujung tombak 
perjuangan.  Hal ini mengingatkan kita pada perjuangan Nabi SAW yang juga 
didukung oleh kalangan ini.  Beliau didukung oleh mustadh'afin seperti 
Bilal, Abu Dzar, dan banyak mantan budak. Beliau sendiri diangkat menjadi 
Nabi dan Rasul pada usia masih belia, 40 tahun.  Pendukung awal beliau 
tercatat banyak dari kaum muda seperti Ali bin Abi Thalib (8), Thalhah bin 
Abdullah (11), Arqam bin Abi Arqam (12), Said bin Zaid (20), Saad bin Abi 
Waqash (17), Utsman bin Affan dan Khabab bin Art (20-an), Mush'ab bin 
Umair yang kelak menjadi utusan Nabi di Madinah (24), Umar bin Khathab 
(26), Bilal bin Robah (30), Abu Bakar (37), Hamzah bin Abdul Muthalib 
(42), dll.  Sejarah kemanusiaan pun mencatat perubahan senantiasa 
dipelopori oleh kalangan muda.  Realitas ini meniscayakan optimisme dalam 
perjuangan. 
Kelima, kebobrokan, ketidakadilan, korupsi, dan kezhaliman yang terus 
terjadi semakin menyadarkan masyarakat bahwa sistem sekulerisme, 
kapitalisme, dan demokrasi yang kini diterapkan tetap melanggengkan semua 
itu.  Muncul tuntutan sistem alternatif. Dan, sistem alternatif itu hanya 
satu: Islam.  Tidaklah mengherankan pertengahan 2009 tidak kurang hadir 
7000 orang dalam acara Muktamar Ulama Nasional (MUN) di Istora Senayan, 
Jakarta.  Mereka adalah ulama yang datang dari berbagai daerah Indonesia. 
Seruannya sama, jalan keselamatan manusia adalah penerapan syariah dan 
penyatuan dalam Khilafah.  Sambutan dari para ulama ini menggambarkan 
adanya harapan dan optimisme baru. 
Jelaslah, secara imani, kemenangan tinggal menunggu waktu.  Secara 
faktual, kini sedang menggelinding perjuangan yang memadukan para ulama 
dan kaum muda dari kelas menengah ditopang oleh kekuatan mustadh'afin. 
Sementara, kalangan atas mulai melirik Islam.  Hal ini meniscayakan makin 
bertambahnya optimisme dalam perjuangan menegakkan Islam.[]






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke