Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

 

Dari dulu, sampai sekarang, aku sering sekali bertanya-tanya
didalam hatiku disaat aku membaca AlQuranulkarim lafadz-lafadz yang hampir
mirip dalam beberapa ayat, tetapi ada sedikit perbedaannya. Ada yang 
didahulukan jar wamajrurnya dulu
ketimbang jumlah setelahnya, ada yang di akhirkan. Salah satu contohnya dalam
Q.S AlBaqarah 173, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu bangkai, darah,
daging babi, dan apa-apa yang disembelih diselain menyebutkan atas nama Allah
Ta’ala..dst”

Lafadz yang dipakai didahulukan Jar wa majrur yakni
:”Bihi”(Wamaa Uhilla bihi lighairillahi,  و ما أهل به لغير الله sementara 
didalam surah Al Maidah dan Al An’aam
(ayat 3, 145) lafadz “Bihi” nya ditakhirkan dari lafad “lighairillahi Bihi” وما 
أهل لغير الله به  .

 

Contoh lain, yang
sering dalam benakku adalah dalam satu ayat ada huruf takkidnya, sementara ayat
yang sama dalam ayat selanjutnya, baik dalam surah yang sama, atau surah yang
berbeda, tetapi kalimatnya sama, namun satu dikasih tanda takkid, satunya lagi
tidak dikasih tanda takkid(penguat).

 

Silahkan dilihat
Alquran surah Al Waqi’ah ayat 65 dan 70.

Maka terangkanlah
kepadaku tentang apa yang kamu tanam, apakah kamu yang menumbuhkannya, ataukah
Kami yang menumbuhkannya? kalau Kami kehendaki BENAR-BENAR(ada huruf takkid Lam
didalam kalimat “Laja’alnaa “ لجعلنا" tersebut,
Laja’alnaa) Kami jadikan dia kering dan hancur, sehingga kamu menjadi
tercengang dengan kehancuran tersebut.(AlWaqi’ah 63-65).

 

Sementara dalam ayat
selanjutnya, (silahkan dilihat ayat selanjutnya 68-70), ketika Allah
menceritakan tentang bagaimana air diciptakan, dengan TANPA  memakai huruf 
takkid Lam dalam lafadz
“Ja’alnaa”"جعلنا" “Maka terangkanlah kepadaku, tentang air
yang kamu minum, kamukah yang menurunkannya dari awan, ataukah Kami yang
menurunkannya?.Kalau Kami berkehendak niscaya kami akan menjadikannya asin,
maka kenapakah kamu tidak bersyukur? (AlWaqi’ah 68-70).

 

Contoh lain, dalam
cerita yang sama, disurah Al Kahfi “Famasthaa’uu”, dan “ wamastaTHA’uu”(dalam
satu ayat), tapi beda, satu tidak pakai “ta”, yang selanjutnya pakai ta(silahkan
dilihat AlQuran surah Al Kahfi ayat 97, dan diayat lain, cerita tentang Khidir
As, dan Nabi Musa As, saat Khidir berkata pada nabi Musa “Maalam Tasthi’(kamu
tidak sanggup), diayat yang lain, maalam Tastathi’(kamu tidak sanggup) juga
artinya. Lantas kenapa satu pakai “Ta”, satunya lagi tidak pakai “ta”?
sementara kedua kalimat  tersebut
diucapkan oleh orang yang sama, dan ditujukan untuk orang yang sama
juga(Khaidir As kepada nabi Musa As)

 

Didalam surah
Alwaqi’ah juga kulihat, disana ada tiga golongan mendapatkan balasan
masing-masing “Ashabulmuqarrabin,(orang yang terdekat), ashabul yamin(penduduk
kanan-maksudnya penduduk surga juga, tetapi derajatnya dibawah penduduk
muqarrabin=yang terdekat tadi), serta ashabussyimaal(penduduk neraka).

 

Disaat Allah
menceritakan bagaimana jumlah muqarrabin tadi, golongannya sangat sedikit,
dipakai kata “qoliilun” (Tsullatum minalawwaliin, wa qoliilum minal aakhirin)
Dari golongan Assabiquun/ muqarrabin tadi, sedikit dari mereka orang-orang yang
terdahulu, sedikit juga dari orang-orang yang datang kemudian, kalimat sedikit
yang kedua dipakai “Qaliilun” (Tsullatumminalawwaliinaa, waqaliilun minal
aakhirin)(Q.S Al Waqi’ah 13-14),

 

Sementara dalam
golongan kanan(surga juga), kalimat sedikitnya dipakai dengan lafadz”Tsullatun”,
bukan qaliilun”(Tsullatumminallawwaliina, wa Tsullatun minalaakhiriin”(Al
Waqi’ah 39-40).

 

Dan balasan diantara
keduanya juga berbeda. Jauh lebih nikmat balasan muqarrabin ketimbang golongan
kanan. Silahkan dilihat dan dibaca ayat-ayat surah AlWaqi’ah tersebut.
Penyebutan kesenangan dalam buahan saja, golongan muqarrabin disuruh memilih
apa buahan yang disukainya, sementara dalam golongan kanan, buahannya
disebutkan banyak saja. 

 

Begitu pula yang
terjadi dari golongan surga dalam surah Arrahman, dimana tingkatan derajat
lebih tinggi, maka nikmat yang mereka dapatkan juga lebih tinggi lagi dari
derajat dibawah mereka, baik dari sisi bidadari, makanan, buahan dan lainnya.
Maha benar Allah Ta’ala akan segala firmanNya. Allah Subhanahu wata’ala  
membalasi hamba sesuai dengan tingkatannya
masing-masing.

 

 Baik sisi kebaikan ataupun kejahatan manusia,
tidak ada satupun yang didzalimi, karena Allah bersifat Maha Adil, tidak dzalim.
Barang siapa yang berkontribusi lebih banyak dan besar didunia, dia akan 
mendapatkan
balasannya sesuai dengan apa yang dilakukannya, tidak didzalimi sedikitpun,
oleh karena itu, jauhilah sifat mendzalimi orang lain, karena Allah Maha Adil,
tidak dzalim sedikitpun.

 

Pokoknya sangat-sangat
banyak hal-hal semacam ini kutemukan dalam AlQuran, bikin aku penasaran terus,
dan mungkin, alhamdulillah, karena aku mengerti artinya, sehingga aku melihat
kesamaan arti /makna saat membacanya, tetapi kenapa lafadznya berbeda, ada yang
didahulukan, ada yang dihilangkan, ada yang disebutkan ada yang tak disebutkan
dan sebagainya,..

 

Aku penasaran dan
kubuka buku-buku tafsirku yang ada dirumah, alhamdulillah aku menemukan
jawabannya. Salah satu contoh kutemukan jawabannya adalah masalah takkid “lam”
dalam penciptaan tanaman dan air tadi. Ada
salah seorang ulama tafsir berpendapat, karena penciptaan tanaman jauh lebih
sulit, ketimbang air. Menumbuhkan tanaman lebih sulit, ketimbang menurunkan air
dari langit(awan), meski disisi Allah ta’ala tak ada satupun yang sulit, semua
mudah, kun fayakun, jadi, maka jadilah ia. Maksudnya bagi manusia, untuk
menjadikan tanah yang gersang, padang
pasir, menjadi tanah yang subur, jauh lebih sulit, ketimbang menggali air dari
mata air, ataupun menampung air hujan kedalam tadah/sumur.

 

Namun, meskipun
begitu, ada yang kurang setuju dengan pendapat ini, dan menyamaratakan saja
pemakaian lafadz tersebut, sama-sama sulit katanya.

 

Dalam kalimat fi’il
ma’lum dan majhul saja aku cari. Kenapa dalam perintah puasa diharamkan
bangkai, darah..dst itu dipakai kalimat fi’il majhul(kata kerja yang mana
fa’ilnya majhul=tidak diketahui), semacam “KUTIBA”(diwajibkan atas kamu
berpuasa, kenapa Allah tak sebutkan “Katabtu”(Aku wajibkan),
“Hurrimat”(Diharamkan ), atas kamu, kenapa Allah tidak pakai saja
“Harramtu”(Aku haramkan) atas kamu bangkai, darah dan daging babi.

 

Dan kenapa diharamkan sesuatu
yang sudah mati, darah, daging babi dan seterusnya itu. (Dan dalam hal ayam
mati, lembu mati(bukan ayam yang matinya disembelih atas nama Allah tersebut,
tetapi mati begitu saja, dan kenapa harus dipotong lehernya, tidak langsung
penggal kepalanya saja?), ternyata memang setelah diteliti para pakar dalam
bidangnya, ada kaitan dengan darah dari hewan tersebut, beda bila mati disebut
dengan nama Allah dan mati dengan tanpa disebut nama Allah, yakni mati sendiri,
atau mati ketabrak. Dan hikmah semua itu, dan semua demi kesehatan manusia itu
sendiri.

 

Begitulah
seterusnya,..aku cari dan aku gali terus AlQuran tersebut, sehingga aku
mendapatkan ilmu dari dalamnya dan keimananku mudah-mudahan bertambah
dengannya. Begitu banyak mu’jizat AlQuran yang masih belum diketahui manusia,
sedikit demi sedikit ada saja para ulama mentadabburinya, mendalaminya dan
menelitinya dari segala macam sisi, karena AlQuran mu’jizat secara
keseluruhannya.

 

Demikian, sekedar
wacana untuk memotivasi agar setiap kita membaca AlQuran mulailah sedikit demi
sedikit merenungi kandungannya. Itu saja.

Wassalamu’alaikum. Cairo, 18 April, 2010,
Rahima.
Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo) 





 "Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi 
manusia lainnya".


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke