Islam memang mengajarkan sistem pengobatan sendiri yang tak jarang lebih 
efektif dan efisien daripada sistem pengobatan Barat.

Kalau di Barat cenderung memakai obat kimia yang umumnya merupakan racun. Bisa 
mengobati gejala satu penyakit namun bisa merusak organ ginjal dan hati. 
Kemudian jika bermasalah bisa operasi/amputasi.

Saya pernah membaca satu majalah di mana seorang penderita diabetes yang 
kakinya sampai bengkak bernanah. Menurut kedokteran barat mungkin harus 
diamputasi. Namun dalam Islam, tabib tsb menoreh (walau pun di ilmu bekam lain 
ini dilarang) nanah tsb hingga kempes dan menempelnya dgn herba (kemungkinan 
madu sunnah). Dan alhamdulillah nanahnya sembuh.

Penyakit darah tinggi, stroke, atau jantung sebetulnya jika belum kritis, masih 
bisa disembuhkan dengan bekam, madu, dan habbatus saudah. Bekam yang biasa 
dilakukan Nabi setiap bulan juga terbukti bisa menurunkan kadar gula dalam 
darah pada penderita diabetes.

Seorang ahli bekam, Ustad Kathur punya banyak murid di mana 10 di antaranya 
dokter. Waktu saya belajar bekam ke ustad Agung Yulianto ternyata seorang 
peserta yang belajar juga dokter.

Alhamdulillah efektivitas pengobatan Islam yang mengutamakan pengeluaran racun 
dan peremajaan darah melalui bekam serta memperkuat kondisi badan dengan madu 
dan habbatus saudah mulai dikenal oleh para dokter2 kita.

Insya Allah ini juga bermanfaat karena jika hipertensi kemudian stroke ke RS 
kita bisa habis sampai ratusan juta rupiah, dengan bekam 4-6 x biayanya tidak 
sampai Rp 1juta.
http://media-islam.or.id/2008/12/02/pengobatan-ala-nabi-thibbun-nabawi/
http://media-islam.or.id/2008/07/02/mencegah-dan-mengobati-stroke-dan-darah-tinggi-dengan-bekam-hijamah/

===

Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

Milis Ekonomi Nasional: [email protected]

Belajar Islam via SMS:

http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone

--- Pada Sen, 19/4/10, Satrio Arismunandar <[email protected]> 
menulis:

Dari: Satrio Arismunandar <[email protected]>
Judul: [syiar-islam] Dr. Amarullah Siregar, Dokter Naturopati Indonesia
Kepada: "news Trans TV" <[email protected]>, "kampus tiga" 
<[email protected]>, "Syiar Islam" <[email protected]>, 
"HMI Kahmi Pro Network" <[email protected]>, "ex menwa UI 2" 
<[email protected]>, "ppiindia" <[email protected]>, "nasional 
list" <[email protected]>, "technomedia" 
<[email protected]>, "netsains sains" <[email protected]>
Tanggal: Senin, 19 April, 2010, 3:15 AM







 



  


    
      
      
      



(dikutip dari Multiply)



Dr. Amarullah Siregar Dokter Naturopati Indonesia 

Apr 18, '10 10:52 PM



Naturopati, masih menjadi ilmu pengobatan yang belum banyak dikenal di 
Indonesia. Bahkan sempat dipandang sinis oleh dokter-dokter yang belum 
mengenalnya. dr Amarullah Hasanuddin Siregar menjadi ahli naturopati dan 
menjadi satu-satunya dokter yang menerapkan cara pengobatan itu. Naturopati 
sesuai dengan asal katanya, nature [alami] dan path [lintasan] diartikan 
sebagai suatu cara pengobatan dengan cara memperbaiki jalan alami tubuh.

Sebenarnya, di luar negeri, cara pengobatan ini sudah lama dikenal. Naturopati 
muncul seiring dengan timbulnya masalah pada cara penanganan penyakit pada ilmu 
kedokteran lama. Rene Dubos, seorang Profesor Rockfeler University, mengatakan 
bahwa masyarakat Amerika Serikat tak akan lebih sehat dengan mengonsumsi 
obat-obatan, bahkan akan mati lebih muda dibanding orangtua meraka.

dr Amarullah, secara kebetulan mengenal naturopati saat studi di Inggris untuk 
spesialis jantung. Di akhir masa studinya, ia ikut praktek di klinik dan 
menangani beberapa pasien. Ternyata banyak pasien yang meminta saran untuk 
ditunjukkan naturopat [ahli naturopati] mana yang cocok untuknya, setelah 
pengobatan selesai. Mendapat petanyaan itu ia marah, karena masih ada arogansi 
sebagai dokter dan ketidaktahuannya. Dalam bayangannya, naturopat itu seperti 
terkun [dokter setengah dukun] yang dulu sempat heboh saat kasus Simon Gunawan.

Lama-kelamaan terbersit dalam pikirannya, “Masak negara maju seperti Inggris 
percaya kayak gituan? Itulah yang mendorong aku ke perpustakaan,” jelasnya. Di 
perpustakaan itu, ia menemukan buku-buku tentang naturopati. Kenallah ia dengan 
ilmu kedokteran yang tugasnya memperbaiki jalan alami tubuh itu. Ia pun 
menyadari, sebagai spesialis jantung, ia tak bisa menyelesaikan masalah jantung 
secara tuntas karena tak mengena pada sumbernya. Pasien jantung biasanya diberi 
obat yang macam-macam untuk mencegah serangan jantung. Tetapi, obat-obatan itu 
justru menimbulkan masalah baru lagi. Sementara sumber masalah, jalan alami 
yang mengakibatkan penyakit jantung tidak terselesaikan.

Ketertarikannya pada naturopati, membuatnya ingin mendalami dari orang yang 
ahli. Kemudian, oleh salah satu dokter di tempatnya belajar, ia 
direkomendasikan untuk mendalami naturopati ke Amerika. “Di situlah aku semakin 
mendalami naturopati, dan semakin menyadari betapa besarnya Allah. Banyak 
kasus-kasus yang sudah mentok, tetapi bahan-bahan alami bisa membuatnya sehat 
kembali,” ujarnya.

Belajar mendalami naturopati membawanya pada suatu kesimpulan bahwa sebenarnya 
cara naturopati itu cara hidup Rasulullah Saw. Ia bertekad untuk mempelajari 
bagaimana Rasulullah Saw dulu menerapkan perilaku hidup sehat. Kebetulan, ia 
juga dipertemukan dengan Islamic Medical Doctor, sebuah asosiasi dokter-okter 
muslim di Florida. Banyak kajian-kajian ilmiah tentang bagaimana cara hidup 
Rasulullah Saw yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia memilih naturopati dengan 
berbagai spesifikasi menjadi profesinya. Konsekuensinya, ia harus meninggalkan 
dokter anak dan spesialis jantung, yang menurut banyak orang, adalah ladang 
penghasilan yang besar. Karena itu ada yang menganggapnya gila, sudah mendapat 
posisi yang enak, malah ingin menjadi terkun. Tetapi, semua anggapan itu tak 
menyurutkan niatnya.

Dua tahun tak bergaji

Setelah kembali, pulang ke Indonesia, ada kendala yang membuatnya selama dua 
tahun luntang-lantung dan tak mendapat gaji. dr Amarullah mengisahkan, dulu, 
sewaktu berangkat ke Inggris, ia sedang bertugas di Sumatera Utara. Sesuai 
dengan peraturannya, setelah selesai, ia harus kembali ke induknya itu. Namun 
demikian, setelah melapor ke Departemen Kesehatan, pejabat Dep-Kes bilang bahwa 
ilmu yang dikuasai tidak cocok jika harus ditempatkan di daerah. Menurut 
pejabat itu, posisi yang paling pas untuknya adalah di pusat, Jakarta. 
Berdasarkan prosedur yang berlaku, ia harus meminta surat “lolos butuh” dari 
Dinas Kesehatan Daerah Sumatera Utara.

Surat “lolos butuh” sudah diperoleh, dan sudah resmi keluar dari Daerah 
Sumatera Utara. Ternyata, sampai di Jakarta masih menunggu penempatan. 
Ditawarkan ke litbang, tidak bisa, ke direktorat pelayanan medik dan pelayanan 
kesehatan masyarakat, juga tidak bisa. “Dua tahun lebih nggak menerima gaji. 
Gaji di daerah sudah distop, sementara di Jakarta masih belum ada penempatan. 
Sebenarnya pihak Dep-Kes sudah mengerti, tetapi masih bingung menempatkan di 
mana.”

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil. 
Tetapi, surat pengunduran dirinya tak diterima. Statusnya menjadi tidak jelas, 
pegawai negeri bukan, karena tak ada penempatan. Keluar dari pegawai negeri 
juga tidak, karena belum ada surat keputusan. Di tengah kebingungan posisinya, 
ia berinisiatif untuk mengurus ijin praktek. Ijin praktek pun juga sulit 
keluar. Ijin praktek bisa dikeluarkan jika ada rekomendasi dari induk 
spesialisnya. Padahal di Indonesia belum ada spesialis naturopati. Ijin praktek 
dokter jantung tidak diterimanya, “Kalau aku melayani anak-anak, berarti 
malpraktek dong.” Setelah dipertimbangkan, ijin praktek yang keluar adalah 
sebagai dokter umum. “Bodo amat, semua bisa ditangani. Yang penting aku bisa 
praktek,” kenangnya.

Tekad dr Amarullah untuk terus menekuni naturopati membuahkan hasil. Ia 
akhirnya diminta menjadi konsultan, membantu pemerintah dalam pembuatan 
peraturan mengenai pengobatan tradisional dan pengobatan komplementer. Saat 
ini, ia diminta menyusun semacam guideline sebagai konsultan ahli untuk WHO 
dari Dep-Kes. “Aku bilang kepada direktur di Direktorat, sekarang bayaranku 
lebih mahal dibanding menjadi dokter pegawai negeri. Kalau dulu Ibu tinggal 
perintah, sekarang, Ibu harus meminta ke saya,” katanya sambil tersenyum. Ia 
ditawari kembali untuk mengurus posisinya sebagai pegawai negeri, tetapi tidak 
mau, karena sudah terlanjur menyukai profesi yang sekarang, bebas, tak ada yang 
mengikat.

dr Amarullah sempat diberi wejangan dari mendiang ayahnya, kalau memang harus 
bekerja di luar negeri dan tidak kembali, ayahnya rela. Ia menjawab, “Ah, nggak 
Yah. Ayah sejak awal sudah mengingatkan, iman, ilmu, dan amal. Lebih baik, aku 
mengamalkan ini di negeri sendiri, meski secara materi kurang, tetapi kepuasan 
melayani terasa beda,” kenangnya. Melihat tekadnya itu, ayahnya mengatakan agar 
selalu bersabat. Perkataan ayahnya tidak salah, ilmu yang dikuasainya itu bisa 
disebarluaskan setelah diperbolehkan mengajar di perguruan tinggi oleh Dep-Kes. 
Direktur Pasca Sarjana Universitas Indonesia sudah memintanya, namun, Fakultas 
Kedokteran belum siap. Ia tidak gegabah menjadikan naturopati menjadi 
spesialis, meski sejak tahun 80-an sudah menjadi cabang spesialis di luar 
negeri. Paling tidak, saat ini sudah menjadi mata ajar para dokter.

Belajar sampai Madinah

Ada kisah menarik saat dr Amarullah mendalami cara hidup Rasulullah Saw sebagai 
dasar dari naturopati. Pada tahun 2004, ia diberi kesempatan Allah untuk 
menunaikan ibadah haji, dan kebetulan ustad Syafiq sebagai pembimbingnya. Ia 
merasa nyaman dibimbing Ustad Syafiq. Terjadi banyak diskusi antara ia 
dengannya. Akhirnya Ustad Syafiq mengetahui minatnya. Waktu haji itu belum 
terjadi apa-apa, karena sibuk menjalankan rukun haji.

Tahun berikutnya, ia melaksanakan umrah dan meminta kepada travel yang sama 
untuk dibimbing Ustad Syafiq lagi. Saat umrah itu tidak banyak kegiatan yang 
harus ia jalani. Ustad Syafiq mengajaknya ke suatu tempat. “Ke mana Ustad?” 
tanyanya. “Sudahlah ikut saja, akan saya tunjukan sesuatu kepada Anda,” jawab 
Ustad Syafiq. Ternyata, ia dibawa ke sebuah perpustakaan di Masjid Nabawi. 
Ustad Syafiq punya akses ke perpustakaan itu karena ia berstatus mahasiswa. 
Dari banyak deretan buku, diambilnya satu untuk ditunjukkan kepada dr 
Amarullah, dibaca dan diterjemahkannya. Ternyata buku itu tentang hidup 
Rasulullah Saw. Ustad Syafiq bilang bahwa Rasulullah Saw dulu kalau tidur 
begini. Ia terkejut, apa yang dipraktekkan Rasulullah Saw ternyata sama seperti 
teori sleep medicine, cara tidur yang banyak dianjurkan pakar kesehatan. Tidur 
seperti itu akan meningkatkan growth hormone yang berfungsi untuk merestorasi 
sel. Sejak saat itu ia bertekad, bagaimanapun ia

 harus mempelajari buku-buku itu.

“Setiap tahun, aku berdoa untuk mendapat rezeki agar bisa umrah.” Tak seperti 
umrah pada umumnya, ia meminta satu minggu penuh berada di Madinah bersama 
ustad Syafiq untuk mempelajari buku-buku itu. Ada 40 buku tentang Rasulullah 
Saw, meski tak semuanya tentang perilaku sehat Rasulullah, tetapi perilaku 
ibadahnya juga sangat berguna buatnya. Ia juga membawa buku-buku untuk 
dicocokkan dengan buku-buku di perpustakaan itu. Ustad Syafiq juga menguasai 
ilmu hadits dan mahzab sehingga bisa diajak berdiskusi. Hubungan dengan Ustad 
Syafiq berlanjut sampai sekarang. “Terkadang aku memintanya untuk datang ke 
Indonesia, berdiskusi dengan teman-teman yang ada di sini.”

dr Amarullah tertarik juga membuat buku tentang naturopati ini, tetapi karena 
kesibukannya, niat tersebut belum kesampaian sampai sekarang. Pernah juga ada 
yang menawari untuk menulis bukunya. Ada seseorang dari salah satu majalah di 
Jakarta yang tertarik membuatnya, sudah diskusi banyak dengannya, tetapi buku 
itu belum juga bisa terwujud. “Mungkin karena sama-sama sibuk.”

Pembahasan tentang kesehatan dalam Islam yang hanya satu sisi ini, sangat luas. 
Ia memperkirakan, kalau sudah terwujud dalam buku, bisa ada tiga jilid buku. 
Bukan dari cara hidup Rasulullah Saw yang cocok dengan teori kesehatan 
sekarang, tetapi juga bagaimana cara ibadahnya juga bisa dijelaskan secara ilmu 
pengetahuan. “Sadarkah kita bahwa shalat kita yang seperti patok ayam itu tidak 
baik buat sendi-sendi? Sering yang kita lihat, hanya dari sisi spiritualnya 
saja. Padahal tuma’ninah itu pun secara kesehatan bisa dijelaskan manfaatnya.” 
Ia punya keinginan agar cara hidup sehat ala Rasulullah ini bisa diketahui 
banyak orang. Selain melalui pembuatan buku, ia juga berharap pada peran media 
untuk menyebarkannya.

sumber: http://nonigenetic. com/blog/ dr-amarullah- siregar-dokter- naturopati- 
indonesia/



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke