Posted by: "anwar aris" [email protected]   anwararis 
Mon Apr 19, 2010 6:55 pm (PDT) 
(dikutip dari milis jurnalisme)

Menyoal Rubrik Fotografi Koran Tempo
Edisi 18 April 2008 

Salam sejahtera.
Saya mulai dari foto-foto yang dipajang di rubrik
fotografi Koran Tempo edisi 18 April 2010. Tiada yang istimewa dari foto 
tersebut.
Seorang pria tua dengan kaos alakadar terkesan senyum. Seorang lagi tiduran
miring di kursi berbantal sebelah tangan, tatapannya kosong. Roman mukanya
tanpa ekspresi. Entah apa maksud Koran Tempo hanya menampilkan foto 3 buah
kursi di luar ruang nyaris seperempat halaman. Di sisi kanan atas halaman itu,
seorang duduk di kursi roda menyelimuti wajahnya dengan sweater yang ia
kenakan. "Pasukan Nazi datang...!"

Teriakan seperti ini terkadang masih terdengar dari mulut-mulut tua renta dari
pusat rehabilitasi mental Shaar Menashe di Israel sebelah utara..., begitu
Koran tempo mengawali tulisan dalam tiga paragraf pendeknya yang berjudul "Sisa 
Tragedi Di Shaar Menashe", foto-foto full colour satu halaman
penuh. Seolah hendak menyampaikan bahasa tubuh wanita dalam foto hasil jepretan 
Sebastian Scheiner, wartawan AP:
mengesankan peristiwa traumatik terdahsyat yang membuncah kembali dari benaknya.

Di pojok kanan halaman ini, foto Scheiner menampilkan sesosok kakek tanpa
diperlihatkan mata dan jidatnya, tampak kempot menghisap rokok yang mengepulkan
asap di sela bibirnya. Kalimat penutupnya: Sebuah
pemandangan yang memprihatinkan akibat kengerian masa lalu. 
Saya perhatikan, hanya memuat tiga paragraf
pendek-pendek plus foto-foto tersebut tak sedikitpun mengesankan kesedihan,
apalagi menularkan kengerian. Mungkin Koran Tempo edisi tersebut berniat
menggambarkan penghuni Shaar Menashe dengan "bantuan" fotografi ecek-ecek, agar 
pembaca mengingat
Holocaust; konon 6 juta orang Yahudi dibantai oleh rezim Nazi di bawah komando
Hitler. Meski validitas dan otentisitas jumlah korban yang dramatis itu tak
lebih dari bualan semata, mengingat jumlah keseluruhan umat Yahudi pada masa
itu kurang dari 3 juta jiwa. 

Disebutkan sekitar 220 ribu orang selamat dari
Holocaust. 200 orang di antara yang selamat itu dirawat di Shaar Menashe hingga
sekarang. Meski peistiwa itu telah 65
tahun berlalu, trauma peristiwa mengerikan itu sempat membuat sebagian penghuni
tidak mau berbicara sedikitpun, bersikap introvert, dan tak punya kemauan 
menanggapi
berbagai hal..., kalimat ini adalah paragraf kedua. 

Menarik untuk mengulas sedikit isi rubrik Koran
Tempo ini. Superioritas bangsa Yahudi terbukti mampu eksis melanglang buana
selama 6 ribu tahun lebih dengan memberi kontribusi besar terhadap peradaban
yang bergulir. Tapi akibat ulah segilintir orang dari sekte Zionis, kedigdayaan
itu seakan habis dan pupus karena pemberitaan yang terus menerus oleh berbagai
media tentang penghuni Shaar Menashe. Benarkah Koran Tempo edisi ini tidak
sekedar menginformasikan Holocaust, namun mengesankan pembelaan. 
Beberapa tahun lalu, saya baca buku berjudul JEWS,
GOD and HISTORY, karya seorang Yahudi Polandia bernama Max I. Dimont. Sejak
awal bahasan, Dimont mengetengahkan keperkasaan bangsa Yahudi di pentas sejarah
dunia. Melalui buku itu, ia menelanjangi kepongahan Barat yang secara 
terang-terangan
menyebutkan berbagai peranan bangsa Yahudi dalam peradaban besar dunia. Dapat
dikatakan, bangsa Yahudi-lah yang membuat dunia ini berputar dari berbagai
segi, mulai dari ekonomi, sains, sastra, filsafat dan ilmu-ilmu sosial. 
Nama-nama
seperti Baruch Spinoza, Albert Einstein, Niels Bohr, Felix Mendelssohn dan
Gustav Mahler, misalnya, disebut dengan bahasa yang cukup merdu di telinga. Tak
cukup sampai di sini, Max I. Dimont menunjukkan supremasi bangsa Yahudi karena
berhasil lolos dari berbagai teror dan pembantaian yang mereka alami hingga era
Hitler. Bangsa Yahudi menjadi unggul berkat keberhasilan mereka melalui proses
screening ala teori Darwin.

Max I. Dimont dalam hal ini memang terasa tidak
obyektif. Juga ada bagian tulisannya mengakui bahwa hanya di peradaban Islam
sajalah bangsa Yahudi dapat mencapai kemajuan luar biasa tanpa tekanan dan 
pencabutan
nyawa secara tiba-tiba. Keterbukaan Islam terhadap siapapun, ras dan bangsa
apapun justru terlihat dengan penerimaannya atas konsekwensi multikultur,
termasuk terhadap bangsa Yahudi yang berhak berkembang sebagaimana
bangsa-bangsa lain. Namun, patut disesali, fakta ini justru diubah drastis oleh
media massa arus utama Barat dan "anak-anaknya", akhirnya terjadi bias yang
memang sengaja diciptakan.

Satu hal yang pasti, tulisan pendek dan foto-foto
dalam Koran Tempo edisi tersebut justru membuat saya meragukan kemampuan bangsa
Yahudi ”tepatnya Yahudi Zionis”dalam menyikapi peristiwa yang katanya 
mengguncang
mental: Holocoust. Jika kaum radikal Zionis mengatakan, "Bangsa Yahudi adalah
bangsa yang sempurna dan unggul di muka Bumi,"  maka saya, setelah melihat foto 
dan
sedikit tulisan tersebut menyebutnya sebagai bias informasi. Inilah yang saya
sukai dari media: bias yang diciptakannya justru menampilkan dirinya murahan di
mata para pembaca, apalagi di mata mereka yang mau jujur dan berpikir saat 
membacanya. 

Bintang David di Intermezo
MBM (Majalah Berita Mingguan) Tempo
Sebenarnya saya malas menulis ini. Tapi melihat
Koran Tempo edisi 18 April 2009, nurani kemanusiaan memerintah jemari saya
untuk menindih-nindih tuts keyboard laptop yang setia menemani saya. Sebelum
Koran Tempo edisi itu memuat berita berjudul "Sisa Tragedi di Shar Menashe",
MBM Tempo edisi 29 Maret-4 April 2010 memuat Intermezo 8 halaman dengan judul 
"Kings of Lion di Gurun Yudea" lengkap
dengan bintang David berwarna biru, dipungkasi wawancara dengan Shimon Peres.
Meski liputan itu terkesan obyektif, tapi usungan materinya sangat mengiklankan
Israel dan jauh dari fakta yang sebenarnya terjadi.

Jurnalis Purwanto Setiadi yang mendapat kesempatan
meliput secara langsung ke Israel dengan fasilitas dari mereka yang menggulirkan
program Australia-Israel & Jewish Affairs Council. Semua foto yang
ditampilkan menyertai tulisan yang sangat apik itu tidak satupun hasil jepretan 
sang wartawan MBM Tempo: semua
foto adalah copyright AP PHOTO. Padahal, sosok kuli tinta yang bersangkutan
juga dikenal unggul dalam memotret oleh kalangan jurnalis, setidaknya di
Jakarta. Saya tahu, tentara IDF Israel di setiap penjuru Israel siaga 24 jam
dengan M16 yang penuh amunisi. Cool,
isn't it? 

Saya jadi teringat Fadhel Shana, kameraman Reuters
yang mati mengenaskan pada minggu kedua bulan Januari 2008. Meski jelas
menggantung di lehernya ID.CARD bertuliskan Press, tetap saja lehernya brodol
akibat diterjang peluru M16. Tapi sayang, Shana mati akibat peluru tentara IDF
Israel, andai dia mati akibat peluru HAMAS, pasti Reuters tak akan 
mendiamkannya.

Saya kutip penggalan paragraf 4 hal. 56 di
Intermezo MBM Tempo edisi itu: ... tak ada penjagaan ketat (paling tidak
yang terlihat berseragam), tiada ketegangan, serta orang dari berbagai kalangan
dan kelompok bisa berbaur tanpa hambatan apapun. Lalu diikuti pragraf
selanjutnya yang memberi sugesti bahwa sesungguhnya “kelonggaran� itu bisa
dirasakan di banyak tempat di Israel dan sungguh saya sempat mual membaca
kalimat itu. Apakah MBM Tempo sengaja menutup fakta sebenarnya yang terjadi di
sana? 

Meski Israel sudah menghentikan agresi militernya,
namun nestapa kemanusiaan masih diharuskan ditanggung bangsa Paletina hingga
detik ini dan entah sampai kapan. Sebut saja Jalur Gaza yang semakin kritis
akibat blokade dari segala arah oleh Israel. Bahan-bahan bangunan yang
diperlukan—untuk rekonstruksi Gaza akibat serangan milter Israel selama 22 
hari
sejak 27 Desember 2008—juga peralatan untuk penunjang pendidikan 
dilarang-keras
masuk lahan gersang yang penghuninya adalah pengungsi itu. Blokade dengan alasan
keamanan yang didalihkan pemerintah Israel itu basi. Apakah MBM Tempo juga 
mengamini "hukuman" kolektif yang
dijatuhkan Israel terhadap rakyat Palestina itu? 

Banyak segmen yang disuguhkan renyah di Intermezo
berbintang David MBM Tempo dalam edisi itu. Apakah itu semua adalah propaganda 
atau
"kepanjangan tangan" Zionisme semata? Saya hanya ingin mengulas dua segmen di
antaranya. Pertama tentang Aliyah,
kedua tentang isi wawancara dengan Shimon Peres. 

Doktrin Aliyah Unsur Utama Pembentuk Negara Israel

Dalam Intermezo itu, diakhiri dengan kalimat yang
saya penggal: ...apa boleh buat berkaitan
dengan isu permukiman. Dan, dengan begitu, juga kompleksitas isu mengenai 
aliyah satu hal yang, sejak awal, substansial bagi
eksistensi Israel., apakah MBM Tempo membenarkan pengusiran dan pembunuhan
massal penduduk Palestina yang dilakukan tentara Israel sejak negara ini 
dideklarasikan
hingga detik ini? 

Aliyah atau migrasi yang dilakukan kaum Zionis
secara besar-besaran ke bumi Palestina, terbesar ketika Unisoviet runtuh pada
tahun 1993 telah memaksa bangsa Palestina terbunuh secara biadab, paling ringan
terusir dari tanah airnya dan kini, selama puluhan tahun terlunta-lunta menjadi
pengungsi. 

Kemarahan dunia? Israel tak pernah ambil pusing,
ini "bisnis propaganda" yang dilakukan Amerika dan Inggris, kemudian mengekor
pula Negara-negara Eropa. Tujuan yang diidamkan adalah terbentuknya Timur
Tengah Baru, agar minyak dan seluruh sumber daya alam dapat mereka eksploitasi
dan Negara di Kawasan yang tidak terima pasti dipaksa kacau dan kemudian
dimiskinkan. Coba tanya AIPAC dan konco-konconya. 

Duh...hukum apa yang membenarkan para turis
mendirikan sebuah negara di negeri orang! Kalau ada, pasti itu hukum penjajah.
Jika dibiarkan, perlahan Israel juga seperti pendirian Amerika; Apache, Cheroke
dan suku lainnya dibantai lalu namanya diabadikan dalam seri Helikopter tempur
dan merek mobil. Seperti Australia juga, suku aslinya dinamakan Aborigin (baca:
tidak asli), sementara para pendatang dari Eropa disebut pemilik sah benua itu.

Pada halaman 59 Intermezo
MBM Tempo edisi 4 April 2010, maktub tulisan:
Sebagai Negara kecil tanpa
sumber daya alam, hanya dalam setengah abad Israel bisa berdiri sejajar dengan
sebagian besar Negara maju pendiri Organization for Economic Co-operation and
Development. Sederhana
saja, bisa dipastika Israel memelihara tuyul bernama AIPAC yang mengendalikan
nyaris seluruh media besar dunia.

Shimon Peres, MBM Tempo dan
Senggama Propaganda Media Arus Utama Barat

Israel
merupakan Negara yang paling dibenci atau disalahpahami oleh rakyat Indonesia.
Bagaimana Anda bisa mendapatkan kepercayaan mereka? Kalimat itu adalah 
pertanyaan terakhir sang
wartawan yang memungkasi Intermezo MBM Tempo edisi 29 Maret-4 April 2009. Dan,
jawaban sesepuh Israel yang sudah menggelambir kulit lehernya, Shimon Peres, 
"Itu pertanyaan yang harus saya ajukan
kepada kalian... masalahnya adalah kebencian mudah berkelana di dunia media
ketimbang tanggung jawab dan harapan. Tapi media bukan segalanya."

Bukan "disalahpahami", bung! Tepatnya, Israel tak
memiliki syarat untuk menjadi Negara. Kami, bangsa Indonesia tak terlalu bodoh
untuk memahaminya, maka jangan men-generalisir, tepatnya memastikan kami
"salah-paham". 

Konsepsi Deer Judenstaat atau Negara Yahudi,
tepatnya Negara Zionis adalah doktrin yang bertentangan dengan ajaran Taurat
yang disucikan dan ditaati oleh kaum Yahudi. Sementara kaum Zionis lebih
mentaati Talmud (tafsir Taurat) yang disebut oleh Rabbi Aaharon Cohen sebagai
kitab iblis. Apa alasan tepat untuk membenarkan pendirian Negara oleh ras
khusus (baca: Zionis) untuk dihuni kaum spesifik yang hanya menganut satu sekte,
yaitu Zionisme?

Saya merasa Israel dan pendukungnya yang
berkepentingan membentuk Timur Tengah Baru mengalami kegagalan propaganda. Saya
sebut demikian karena strategi branding dan marketing di Indonesia itu salah
guna, karena kami tidak pernah membenarkan tindakan sadis kaum Zionis terhadap
bangsa Palestina. Dana trilyunan dollar yang dikucurkan oleh AIPAC dan
konco-konconya habis tanpa dampak yang memberikan keuntungan signifikan
terhadap Zionisme. Karena kami yakin, Israel segera runtuh dan penduduknya
segera kembali ke Negara asalnya. 

Penguasaan kaum Zionis, semacam Shimon Peres
terhadap media besar seperti Reuters, TIME, AFP dan VoA dan sejenisnya seakan 
sia-sia
meski selalu melakukan senggama dalam hal propaganda. Jadi, siapakah yang
menebar kebencian? Bangsa Indonesia atau para pemilik media-media itu? Saya
rasa dewan redaksi MBM Tempo dan siapapun pemerhati masalah ini tahu
jawabannya. 

Tulisan dan Foto-foto yang ditampilkan dalam Intermezo
MBM Tempo edisi 4 April 2010 dan Koran Tempo edisi 18 April 2010 justru seakan
berbicara, "Dear, Mr. Zionist, you need
to change your strategy."

Bulan April 2010 adalah bulan yang "bersejarah"  bagi
kalangan jurnalis Indonesia. Bagaimana tidak, secara berangsur-angsur namun
pasti, salah satu media terbesar di Indonesia tak lagi independen, benarkah
demikian?

Terimakasih. Salam.




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke