*Mayoritas Adalah Kebenaran Muthlak?*
Kelima: Diantara kaedah (berpikir) mereka yang paling besar adalah, mereka tertipu dengan jumlah mayoritas. Mereka menjadikan mayoritas sebagai pertanda kebenaran dan minimnya pengikut (sebuah paham) serta keterasingan paham tersebut sebagai tanda bahwa paham adalah bathil. Maka, Allah *Subhanahu Wa Taala* menegaskan sebaliknya (yaitu, mayoritas adalah sesat) dalam beberapa tempat dalam al-Qur'an. jika pada matan ke empat menjelaskan salah satu ciri khas orang-orang * jahiliyah* adalah *taklid*. *Taklid* merupakan sumber nilai dan hukum bagi orang-orang *jahiliyah* yang utama dan pertama, wahyu Allah *Subhanahu Wa Taala* seringkali di nomor-duakan, sehingga kesesatan menjadi-jadi dan menggurita di kalangan orang-orang jahiliyah. Maka pada matan yang kelima ini, Syaikh menjelaskan karakter berpikir orang-orang jahiliyah, yaitu; *Pertama*, Mereka menjadikan mayoritas / jumlah terbanyak sebagai standar dalam menilai kebenaran sesuatu. *Kedua*, Menurut mereka, segala sesuatu / ideologi yang dianggap asing oleh masyarakat maka itu adalah ideologi sesat, tidak layak dianut. *Ketiga*, Jika pengikut sebuah ideologi jumlahnya minoritas (sedikit) itu pertanda bahwa ideologi tersebut bathil, tidak layak diikuti, tidak benar dan tidak menjamin keselamatan. Allah *Subhanahu Wa Taala* menceritakan cara berpikir orang-orang jahiliyah ini dalam beberapa ayat, diantaranya; "Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab." (TQS. Saba':34-35) Dalam ayat ini Allah *Subhanahu Wa Taala* menjelaskan alasan orang-orang * jahiliyah* menolak serta mengingkari dakwah para *nadzir* (nabi dan rasul) karena para *nadzir* itu tidak layak untuk diikuti, pasalnya jumlah harta dan anak-anak mereka lebih banyak dari apa yang dimiliki oleh para *nadzir*. Orang-orang *jahiliyah* berpendapat, pertanda kebenaran adalah jumlah harta, anak dan pengikut yang banyak. Harta, anak dan pengikut yang banyak pertanda Allah meridhoi mereka, jika Allah tidak ridho terhadap mereka maka Allah *Subhanahu Wa Taala* tidak akan memberikan kenikmatan yang banyak kepada mereka. jika jumlah harta, anak dan para pengikut sedikit maka itu pertanda itu tidak benar dan bathil. Harta, anak dan pengikut yang banyak adalah pertanda Allah *Subhanahu Wa Taala* tidak ridho, jika Allah *Subhanahu Wa Taala* ridho tentu harta melimpah, anak dan pengikut banyak pula. Demikian logika yang dianut oleh orang-orang jahiliyah. Ibnu Katsir berkata, "(Dalam ayat diatas) mereka menyombongkan diri karena banyaknya jumlah harta, anak-anak dan pengikut mereka. Mereka meyakini bahwa ini adalah pertanda Allah *Subhanahu Wa Taala* mencintai dan memberi perhatian kepada mereka. Dan bahwasanya Allah *Subhanahu Wa Taala* mustahil mengadzab mereka di akherat, karena kenikmatan dunia yang Allah *Subhanahu Wa Taala* anugerahkan kepada mereka sebagai pertanda mereka akan diselamatkan dari siksaan akherat." (Ibnu Katsir, 6/521) Dalam ayat lain Allah *Subhanahu Wa Taala* berfirman, Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat" (TQS. al-Kahfi:34) Ayat diatas mengkisahkan dua orang manusia, satu mukmin satu kafir. Masing-masing diberi kebun Allah *Subhanahu Wa Taala*. Yang mukmin menghabiskan hartanya untuk bersedekah di jalan Allah *Subhanahu Wa Taala*, sedangkan yang kafir tidak pernah menyedekahkan hartanya, sehingga jumlahnya kian berlipat. Dia membangga-banggakan harta dan pengikutnya yang banyak; menganggap itu sebagai pertanda Allah *Subhanahu Wa Taala* ridho kepadanya, walau ia tidak beramal sholeh sama sekali. Bahkan dengan takabbur ia berkata, "Menurutku, kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan hari kiamat itu tidak akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu." (TQS. al-Kahfi:35-36) Imam ath-Thobari berkata, "Orang kafir ini berkata, 'Andaikata saya kembali ke tuhanku, niscaya aku akan mendapatkan kebun yang lebih bagus dan indah dari pada kebunku di dunia ini. Karena pemberian Allah *Subhanahu Wa Taala* di dunia ini, pertanda bahwa Allah akan memberikan yang lebih baik dari ini semua di akherat." (lih. Tafsir ath-Thobary, 15/262) *Bukan Pertanda Allah SUBHANAHU WA TAALA Meridhoi* Mengenai keyakinan orang-orang *jahiliyah* ini, Allah *Subhanahu Wa Taala* telah membantahnya dalam beberapa ayat, diantaranya; "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan arnal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga)." (TQS. as-Saba':37) Melalui ayat ini, Allah membantah anggapan orang-orang jahiliyah bahwa banyaknya anak, harta dan pengikut sebagai pertanda Allah *Subhanahu Wa Taala* meridhoinya dan dapat mengantarkan seseorang masuk surganya Allah *Subhanahu Wa Taala*. Dan hanya amal sholeh yang bisa mengantarkan seseorang ke surga. (lih. Ath-Thobary, 19/295) Lebih tegas lagi, Allah menyangkal keyakinan orang-orang jahiliyah ini dalam firmannya, Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti), Kami menyegerakan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar" (Qs. al-Mukminun:55-56) 'Orang-orang jahiliyah, yang menolak dakwah para nabi menyangka, limpahan rizki dari Allah *Subhanahu Wa Taala* pertanda Allah *Subhanahu Wa Taala* menyegerakan kebaikan kepada mereka. Sayang, mereka tidak menyadarinya bahwa itu adalah sebuah *istidraj* (dilulu_Jawa), itu adalah sebuah bentuk tipuan dari Allah *Subhanahu Wa Taala*, agar mereka semakin sesat, sehingga dosanya semakin menumpuk dan di akherat mereka tidak diberi belas kasih, mereka akan diadzab di neraka." (lihat. Ath-Thobari, 17/ 65-66) Dalam ayat lain Allah *Subhanahu Wa Taala* berfirman, "Maka janganlah * ta'ajjub* terhadap harta benda dan anak-anak. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (TQS. at-Taubah:55) Di sini Allah mengingatkan agar jangan iri dengan harta dan anak-anak orang-orang munafik, yang kelihatannya banyak, berhasil dan sukses dalam kehidupannya. Itu, tidak patut dibanggakan. Sesungguhnya, Allah mengadzab mereka lewat harta dan anak-anak mereka di dunia. Maksudnya, mereka telah bercapek dan letih dalam mengusahakan harta dan membiayai anak mereka. Kadang, kesedihan, kecemasan, kegalauan, stress, kekhawatiran kehilangan harta dan berbagai kesukaran selalu mereka hadapi ketika mereka mengumpulkan harta. Sayang, semua ini tidak memberi manfaat di akherat. Inilah adzab dunia yang Allah a maksud dalam ayat ini. Yang paling menyedihkan, mereka akan diwafatkan dalam keadaan kafir, tertipu dengan banyaknya jumlah harta dan kesuksesan anak-anak mereka. Ayat-ayat di atas menegaskan, kemakmuran, kemewahan dan kesentosaan hidup seorang manusia bukan pertanda benarnya tindakan dan aqidah yang dianutnya, juga bukan pertanda Allah pasti meridoinya. Banyak sejarah yang membuktikan bahwa banyak para penentang dan musuh para nabi dari kalangan orang-orang yang berada, bahkan para raja. Bukankah Fir'aun orang terkaya, terkuat dan paling banyak prajuritnya pada masa itu ... ? Bukankah Qarun sosok manusia yang terkaya, dan memiliki pengawal yang banyak pada masanya?! Ya, kemakmuran dunia, bukan bukti ridho Allah *Subhanahu Wa Taala*. *Mayoritas Tersesat **dan Menyesatkan* Dalam sejarah dakwah, pengikut kebenaran jumlahnya selalu minoritas dibanding jumlah manusia yang ada. Jumlah pengikut para nabi selalu lebih sedikit dibanding jumlah orang yang menolaknya. Rasullah *Shallallahu Alaihi Wassalam* bersabda, "Ditampakkan kepada saya seluruh umat, saya melihat seorang nabi bersamanya satu bangsa, seorang nabi bersamanya beberapa orang, seorang nabi bersamanya sepuluh orang, seorang nabi bersamanya lima orang dan (saya juga melihat) seorang nabi yang berjalan sendirian (tidak memiliki pengikut)." (HR. Bukhari) Memang pengikut ideologi dan *aqidah* yang *haq* (benar) seringnya lebih sedikit dibanding jumlah pengikut ideologi *bathil* dan *syirik*. Pengikut dan pendukung ideologi sesat dan *syirik* selalu banyak. Allah *Subhanahu Wa Taala* berfirman, Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah."(TQS. alAn'am:1 16) Manusia-manusia sholeh banyak yang memusuhi, orang yang mendukungnya selalu sedikit. Sebagaimana sabda Rasulullah *Shallallahu Alaihi Wassalam*, ketika ditanya ciri-ciri orang yang komitmen dengan syari'atnya; `Yaitu manusia-manusia sholeh yang hidup di tengah komunitas manusia buruk. Orang yang menyalahi (melawan) mereka lebih banyak daripada orang yang setuju dengan mereka.'(HR. Ahmad, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani) *Jahiliyah Demokrasi* Salah satu bentuk kejahiliyah yang tidak disadari manusia hari ini adalah demokrasi. Sudah maklum, penentu kebenaran dan kesalahan dalam sistem demokrasi adalah suara / pendapat terbanyak. Apapun keputusannya, baik menyelisihi atau mengandung kekafiran, tetap diakui dan dijalani jika sudah disetujui oleh orang banyak. Demokrasi menganut 'suara mayoritas, suara tuhan'. Banyak umat Islam tertipu dengan demokrasi. Tidak sedikit menyamakan demokrasi dengan 'syuro'. Bahkan yang lebih parah, sebagian umat Islam mengatakan, "Islam adalah agama demokrasi." Sepertinya, umat Islam yang bodoh hari ini, hanya mengulang ungkapan orang-orang jahiliyah. Pernyataan mereka persis seperti yang diungkapkan dalam alQur'an, "Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?." (at-Taubah:30).* (Msd) *Sumber* : An-Najah No.07/VII/Mei/2010 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ === Untuk berlangganan milis Syiar Islam, kirim email ke: [email protected] Jangan lupa isi biodata anda. http://media-islam.or.id Umrah mulai US$ 1.500 dan Haji ONH Plus mulai US$ 6.000 http://media-islam.or.id/hajiumrah TokoIslam.Info: Toko Obat Herbal Thibbun Nabawi. Aman dan Islami http://media-islam.or.id/2010/04/22/tokoislam-info-menjual-obat-herbalalami-thibbun-nabawi Belajar Islam via SMS: http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

