Zubair Bin Awwam radhiallahu 'anhu
Rabu, 02 Juni 04

Pembela Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam.

Setiap tersebut nama Thalhah, pastilah disebut orang nama Zubair! Begitu pula 
setiap disebut nama Zubair, pastilah disebut orang pula nama Thalhah ... ! Maka 
sewaktu Rasulullah shallallahu alaihi wasalam mempersaudarakan para shahabatnya 
di Mekah sebelum Hijrah, beliau telah mempersaudarakan antara Thalhah dengan 
Zubair.

Sudah semenjak lama Nabi shallallahu alaihi wasalam memperkatakan keduanya 
secara bersamaan ..., seperti kata beliau: "Thalhah dan Zubair adalah 
tetanggaku di dalam surga''. Dan kedua mereka berhimpun bersama Rasul dalam 
kerabat dan keturunan.

Adapun Thalhah bertemu asal-usul turunannya dengan Rasul pada Murrah bin Ka'ab. 
Sedang Zubair bertemu pula asal-usulnya dengan Rasulullah pada Qusai bin Kilab, 
sebagaimana pula ibunya Shafiah, adalah saudara bapak Rasulullah

Thalhah dan Zubair, kedua mereka banyak persamaan satu sama lain dalam aliran 
kehidupan .... Persamaan di antara keduanya sangat banyak dalam pertumbuhan di 
masa remaja... kekayaan, kedermawanan, keteguhan beragama dan kegagah-beranian.

Keduanya termasuk orang-orang angkatan pertama masuk Islam dan tergolong kepada 
sepuluh orang yang diberi kabar gembira oleh Rasul masuk surga. Keduanya juga 
sama termasuk kelompok shahabat ahli musyawarah yang enam, yang diserahi tugas 
oleh Umar bin Khatthab memilih Khalifah sepeninggal-nya....

Akhir hayatnya juga bersamaan secara sempurna ...bahkan satu sama lain tidak 
berbeda ... !
Sebagaimana telah kita katakan, Zubair termasuk dalam rombongan pertama yang 
masuk Islam, karena ia adalah dari golongan tujuh orang yang mula-mula 
menyatakan keislamannya, dan sebagai perintis telah memainkan peranannya yang 
penuh berkat di rumah Arqam .... Usianya yaitu itu baru limabelas tahun. Dan 
begitulah ia telah diberi petunjuk, nur dan kebaikan selagi masih remaja .... 
Ia benar-benar seorang penunggang kuda dan berani sejak kecilnya ...hingga ahli 
sejarah menyebutnya bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam 
adalah Zubair bin 'Awwam.

Pada hari-hari pertama dari Islam, sementara Kaum Muslimin waktu itu sedikit 
sekali hingga mereka selalu bersembunyi-sembunyi di rumah Arqam, tiba-tiba pada 
suatu hari tersebar berita bahwa Rasul terbunuh.

Seketika itu, tiada lain tindakan Zubair kecuali menghunus pedang dan 
mengacungkannya, lain ia berjalan di jalan-jalan kota Mekah laksana tiupan 
angin kercang, padahal ia masih muda belia ... ! Ia pergi mula-mula meneliti 
berita tersebut dengan bertekadad andainya berita itu ternyata benar, maka 
niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang Quraisy, sehingga ia 
mengalahkan mereka, atau mereka menewaskan-nya....

Di suatu tempat ketinggian kota mekah, Rasulullah menemukannya, lain bertanya 
akan maksudnya. Zubair menyampaikan berita tersebut .... Maka Rasulullah 
memohonkan bahagia dan mendu'akan kebaikan baginya serta keampuhan bagi 
pedangnya.

Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang dalam kaumnya, namun tak kurang 
ia menang,6ung adzab derita dan penyiksaan Quraisy. Yang memimpin penyiksaan 
itu adalah pamannya sendiri. Pernah ia disekap di suatu kurungan, kemudian 
dipenuhi dengan embusan asap api agar sesak nafasnya, lalu dipanggilnya Zubair 
di bawah tekanan siksa: "Tolaklah olehmu Tuhan Muhammad itu, nanti kulepaskan 
kamu dari siksa ini!"Tantangan itu dijawab oleh Zubair dengan pedas dan 
mengejutkan: "Tidak !... demi Allah, aku tak akan kembali kepada kekafiran 
untuk selama-lamanya!" Padahal pada waktu itu ia belum menjadi pemuda teruna, 
masih belia bertulang lembut ....

Zubair melakukan hijrah ke Habsyi (Ethiopia) dua kali, yang pertama dan yang 
kedua, kemudian ia kembali, untuk menyertai ketinggalan semua peperangan 
bersama Rasulullah.

Tak perna ia ketinggalan dalam berperang atau bertempur. Banyaknya tusukan dan 
luka-luka yang terdapat pada tubuhnya dan masih berbekas sesudah lukanya itu 
sembuh membuktikan pula kepahlawanan Zubair dan keperkasaannya... ! Maka 
marilah kita dengarkan bicara salah seorang shahabatnya yang telah menyaksikan 
bekas-bekas luka yang terdapat hampir pada segenap bagian tubuhnya, demikian 
katanya: "Aku pernah menemani Zubair ibnul 'Awwam pada sebagian perjalanan dan 
aku melihat tubuhnya, maka aku saksikan banyak sekali bekas luka goresan 
pedang, sedang di dadanya terdapat seperti mata air yang dalam, menunjukkan 
bekas tusukan lembing dan anak panah .... Maka kataku kepadanya: "Demi Allah, 
telah kusaksikan sendiri pada tubuhmu apa yang belum pernah kulihat pada orang 
lain sedikit pun ... !" Mendengar itu Zubair menjawab: "Demi Allah, semua 
luka-luka itu kudapat bersama Rasulullah pada peperangan di jalan Allah .... !"

Ketika perang Uhud usai dan pasukan Quuaisy berbalik kembali ke Mekah, ia 
diutus Rasul bersama Abu Bakar untuk mengikuti gerakan tentara Quraisy dan 
menghalau mereka, hingga mereka menganggap Kaum Muslimin masih punya kekuatan, 
dan tidak terpikir lagi untuk kembali ke Madinah guna memulai peperangan yang 
baru.

Abu Bakar dan Zubair memimpin tujuhpuluh orang Muslimin. Sekalipun mereka 
sebenarnya sedang mengikuti suatu pasukan yang menang, namun kecerdikan dan 
muslihat perang yang dipergunakan oleh ash-Shiddiq dan Zubair, membuat 
orang-orang Quraisy menyangka bahwa mereka salah duga menilai kekuatan Kaum 
Muslimin, dan membuat mereka berfikir, bahwa pasukan perintis yang diPimpin 
oleh Zubair dan ash-Shiddiq dan tampak kuat, tak lain sebagai pendahuluan dari 
balatentara Rasul yang menyusul di belakang, dan akan tampil menghalau mereka 
dengan dansyat. Karena itu mereka bergegas mempercepat perjalanannya dan 
mengambil langkah seribu pulang ke Mekah!

Di samping Yarmuk, Zubair merupakan seorang prajurit yang memimpin langsung 
suatu pasukan .... Sewaktu ia melihat sebagian besar anak buah yang dipimpinnya 
merasa gentar menghadapi balatentara Romawi yang menggunung maju, ia 
meneriakkan "Allahu Akbar" ...dan maju membelah pasukan musuh yang mendekat itu 
seorang diri dengan mengayunkan pedangnya, kemudian ia kembali ke tengah-tengah 
barisan musuh yang dahsyat itu dengan pedang di tangan kanannya, menari-nari 
dan berputar bagaikan kincir, tak pernah melemah apalagi berhenti ....

Zubair radhiallahu anhu . sangat gandrung menemui syahid! Amat merindukan mati 
di jalan Allah.') Ia pernah berkata: "Thalhah bin Ubaidillah memberi nama 
anak-anaknya dengan nama Nabi-nabi padahal sudah sama diketahui bahwa tak ada 
Nabi lagi sesudah Muhammad saw. ... maka aku menamai anak-anakku dengan nama 
para syuhada, semoga mereka berjuang mengikuti syuhada ... !

Begitulah dinamainya seorang anaknya Abdullah bin Zubair mengambil berkat 
dengan shahabat yang syahid Abdullah bin Jahasy. Dinamainya pula seorang lagi 
al-Munzir bin Amr mengambil berkat dengan shahabat yang syahid al-Munzir bin 
Amar.

Dinamainya pula yang lain 'Urwah mengambil berkat dengan 'Urwah bin Amar. Dan 
ada pula yang dinamainya Hamzah, mengambil berkat dengan syahid yang mulia 
Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada lagi Ja'far, mengambil berkat dengan syahid yang 
besar Ja'far bin Abu Thalib. Juga ada yang dinamakannya Mush'ab mengambil 
berkat dengan shahabat yang syahid Mush'ab bin Umeir. Tidak ketinggalan yang 
dinamainya Khalid mengambil berkat dengan shahabat Khalid bin Sa'id. 
Demikianlah ia seterusnya memilih untuk anak-anaknya nama para syuhada, dengan 
pengharapan agar sewaktu datang ajal mereka nanti, mereka tercatat sebagai 
syuhada ... !

Dalam riwayat hidupnya telah dikemukakan:"bahwa ia tak pernah memerintah satu 
daerah pun, tidak pula mengumpul pajak atau bea cukai, pendeknya tak ada 
jabatannya yang lain kecuali berperang pada jalan Allah ... ". Kelebihannya 
sebagai prajurit perang tergambar pada pengandalannya pada dirinya sendiri 
secara sempurna dan kepercayaan yang teguh. Sekalipun sampai seratus ribu orang 
menyertainya di medan tempur, namun akan kau lihat bahwa ia berperang 
seakan-akan sendirian di arena pertempuran ..., dan seolah-olah tanggung jawab 
perang dan kemenangan terpikul di atas pundaknya sendiri. Keistimewaannya 
sebagai pejuang, terlukis pada keteguhan hatinya dan kekuatan urat syarafnya. 
Ia menyaksikan gugur pamannya Hamzah di perang Uhud. Orang-orang musyrik telah 
menyayat-nyayat tubuhnya yang terbunuh itu dengan kejam, maka ia berdiri di 
mukanya dengan sikap satria menahan gejolak hati dengan memegang teguh hulu 
pedangnya. Tak ada fikirannya yang lain daripada mengadakan pembalasan yang 
setimpal, tapi wahyu segera datang melarang Rasul dan Muslimin hanya mengingat 
soal itu saja ....

Dan sewaktu pengepungan atas Bani Quraidha sudah berjalan lama tanpa membawa 
hasil, Rasulullah mengirimnya bersama Ali bin Abi Thalib. Ia berdiri di muka 
benteng musuh yang kuat serta mengulang-ulang ucapannya: "Demi Allah, biar kami 
rasakan sendiri apa yang dirasakan Hamzah, atau kalau tidak, akan kami 
tundukkan benteng mereka ... !" Kemudian ia terjun ke dalam benteng hanya 
berdua saja dengan Ali.... Dan dengan kekuatan urat syaraf yang mempesona, 
mereka berdua berhasil menyebarkan rasa takut pada musuh yang bertahan dalam 
benteng, lain membukakan pintu-pintu benteng tersebut bagi kawan-kawan mereka 
di luar .

Di perang Hunain, Zubair melihat pemimpin suku Hawazin yang juga menjadi 
panglima pasukan musyrik dalam perang tersebut nama-nama Malik bin Auf ..., 
terihat olehnya sesudah pasukan Hawazin bersama panglimanya lari tunggang 
langgang dari medan perang Hunain, ia sedang berada di tengah-tengah gerombolan 
besar shahabat-shahabatnya bersama sisa pasukan yang kalah, maka secara 
tiba-tiba diserbunya rombongan itu seorang diri, dan dikucar -kacirkannya 
kesatuan meueka, kemudian dihalaunya mereka dari tempat persembunyian yang 
mereka gunakan sebagai pangkalan untuk menyergap pemimpin-pemimpin Islam yang 
baru kembali dari arena peperangan.

Kecintaan dan penghargaan Rasul terhadap Zubair luar biasa sekali, dan 
Rasulullah sangat membanggakannya, katanya:
"Setiap Nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin 'Awwam ... !'' 
Karena bukan saja ia saudara sepupunya dan suami dari Asma binti Abu Bakar yang 
empunya dua puteri semata, tapi iebih dari itu adalah karena pengabdiannya yang 
Iuar biasa, keberaniannya yang perkasa, kepemurahannya yang tidak terkira dan 
pengurbanan diri dan hartanya untuk Allah Tuhan dari alam semesta. Sungguh, 
Hasan bin Tsabit telah melukiskan sifat-sifatnya ini dengan indah sekali, 
katanya:

"Ia berdiri teguh menepati janjinya kepada Nabi dan mengikuti petunjuknya. 
Menjadi pembelanya, sementara perbuatan sesuai dengan perkataannya. Ditempuhnya 
jalan yang telah digunakannya, tak hendak menyimpang daripadanya. Bertindak 
sebagai pembela kebenaran, karena kebenaran itu jalan sebaik-baiknya.

Ia adalah seorang berkuda yang termasyhur, dan pahlawan yang gagah perkasa.
Merajalela di medan perang dan ditakuti di setiap arena.
Dengan Rasulullah memplanyai pertalian darah dan masih berhubungan keluarga.
Dan dalam membela Islam mempunyai jasa-jasa yang tidak terkira.
Betapa banyaknya marabahaya yang mengancam Rasulullah Nabi al-Musthafa.
Disingkirkan Zubair dengan ujung pedangnya, maka semoga Allah membalas 
jasa-jasanya"

Ia seorang yang berbudi tinggi dan bersifat mulia.... Keberanian dan 
kepemurahannya seimbang laksana dua kuda satu tarikan ... ! Ia telah berhasil 
mengurus perniagaannya dengan gemilang, kekayaannya melimpah, tetapi semua itu 
dibelanjakannya untuk membela Islam, sehingga ia sendiri mati dalam berutang 
... ! Tawakkalnya kepada Allah merupakan dasar kepemurahannya, sumber 
keberanian dan pengurbanannya hingga ia rela menyerahkan nyawanya, dan 
diwasiatkannya kepada anaknya Abdullah untuk melunasi utang-utangnya, demikian 
pesannya:

"Bila aku tak mampu membayar utang, minta tolonglah kepada Maulana - induk 
semang kita -- "Lalu ditanya anaknya Abdullah: "Maulana yang mana bapak 
maksudkan ... ?" Maka jawabnya: "Yaitu Allah .... Induk Semang dan Penolong 
kita yang paling utama ... !"

Kata Abdullah kemudian: "Maka demi Allah, setiap aku terjatuh ke dalam 
kesukaran karena utangnya, tetap aku memohon:
"Wahai Induk Semang Zubair, lunasilah utangnya, maka Allah mengabulkan 
permohonan itu, dan alhamdulillah hutang pun dapat dilunasi ... "
Dalam perang Jamal sebagaimana telah kami utarakan dalam ceriteranya yang lalu 
mengenai Thalhah, Zubair menemui akhir hayat dan tempat kesudahannya .... 
Sesudah ia menyadari kebenaran dan berlepas tangan dari peperangan, terus 
diintai oleh golongan yang menghendaki terus berkobarnya api fitnah, lalu ia 
pun ditusuk oleh seorang pembunuh yang curang waktu ia sedang lengah, yakni di 
kala ia sedang shalat menghadap Tuhannya....

Si pembunuh itu pergi kepada Imam All, dengan maksud melaporkan tindakannya 
terhadap Zubair, dengan dugaan bahwa kabar itu akan membuat Ali bersenang hati, 
apalagi sambil menanggalkan pedang-pedang Zubair yang telah dirampasnya setelah 
melakukan kejahatan tersebut ....

Tetapi Ali berteriak demi mengetahui bahwa di muka pintu ada pembunuh Zubair 
yang minta idzin masuk dan memerintahkan orang untuk mengusirnya, katanya: 
"Sampaikan berita kepada pembunuh putera ibu Shafiah itu, bahwa untuknya telah 
disediakan api neraka ... !" Dan ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali 
oleh beberapa shahabatnya, ia menciumn dan lama sekali ia menangis kemudian 
katanya: "Demi Allah, pedang ini sudah banyak berjasa, digunakan oleh 
pemiliknya untuk melindungi Rasulullah dari marabahaya ...

Dalam mengakhiri pembicaraan kita mengenai dirinya, apakah masih ada 
penghormatan yang lebih indah dan berharga untuk dipersembahkan kepada Zubair, 
dari ucapan Imam Ali sendiri ... ? Yaitu :
"Selamat dan bahagia bagi Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan 
hidupnya ! Selamat, kemudian selamat kita ucapkan kepada pembela Rasulullah ... 

http://www.alsofwah.or.id/

Kirim email ke