Kesombongan adalah inti dosa paling besar berdasarkan apa yang dicontohkan,
- Iblis ketika menolak perintah Allah. Ia merasa tak pantas untuk bersujud
kepada Adam as, sebab ia merasa lebih baik kok malah disuruh bersujud.
- Orang-orang Yahudi memandang bahwa mereka adalah umat pilihan Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Mereka merasa diistimewakan dan dilebihkan atas seluruh umat pada
zaman yaitu semasa Nabi Musa `alaihissalam
Menurut ulama sufi, hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab,
hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga
hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul `ibadah, sampai karomah juga
bisa menjadi hijab, dll.
Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong
itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan
batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana
dia bisa "melihat" Allah ("bersaksi").
Lebih lanjut tentang "Saya bersaksi", silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/03/saya-bersaksi/
Kita simak sebuah kisah ini tentang kesombongan,
Siang itu Abu Nawas pergi ke rumah Syekh Ahmad. Disana mereka terlibat obrolan
tentang makhluk gaib.
"Sikap pertama yang dihembuskan setan kepada anak Adam adalah sombong, takabur
atau 'ujub, yaitu bangga diri."
"Kenapa bukan yang lain, Syekh?" tanya Abu Nawas.
"Sebab sifat inilah yang telah membuat nenek moyang mereka, iblis dilaknat
Allah. Karena sifat ini pula iblis menolak perintah Allah. Ia merasa tak pantas
untuk bersujud kepada Adam as, sebab ia merasa lebih baik kok malah disuruh
bersujud.
Karena itu jauhilah oleh kalian sifat merasa lebih berilmu dari orang lain,
sifat merasa lebih bertaqwa dari orang lain, sifat merasa lebih layak masuk
surga dari yang lain atau dengan kata lain sifat merasa lebih baik dari orang
lain.
Saya lebih baik kok harus begini..., saya lebih taat kok malah menjadi
makmum,...saya lebih tinggi sekolahnya kok malah dia yang disuruh..., saya yang
lebih paham agama kok.., dan sebagainya.
Nah, sifat yang seperti inilah yang berbahaya, jadi kita harus menghindarinya.
Ingatlah itu!"
"Susah juga ya, Syekh!"
"Benar, perasaan itu begitu halus ditiupkan setan. Begitu tersembunyi sehingga
sering secara lahir kita biasa-biasa saja padahal nan jauh di dalam lubuk hati
tergores perasaan yang begitu halus, yaitu rasa bangga diri."
"Apa resikonya, Syekh?"
"Ya bakalan seperti iblis, yaitu diusir dari surga. Rasulullah telah mengancam
bagi siapa saja yang di hatinya ada rasa sombong meski sekecil apapun tidak
akan diizinkan Allah masuk surga. Sombong disini yang dimaksud beliau adalah
menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Kira-kira gimana kiatnya biar kita
nggak sombong, Abu?
"Waduh. Kok jadi tanya sama Abu, sih Syekh?"
"Lho, kamu kan cerdik, mestinya bisa jawab dong!"
"Nah, itu jeratan kesombongan, Syekh.
Syekh memuji saya cerdik, wah kalau nggak hati-hati bisa jadi sombong nih saya.
Kalau begitu kita harus serahkan semuanya kepada Allah, bahwa segala pujian itu
hanyalah milik Allah semata."
"Terus apa lagi?"
"Hem...ya, Allah mengajarkan di surat Al-Kahfi jika kita melihat kebaikan atau
sesuatu yang bagus hendaknya mengucapkan, "Masya Allah, Laa Quwwata Illaa
Billah." (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan
kecuali dengan pertolongan Allah)
Jadi semua itu atas kehendak Allah, bukan karena kepintaran kita."
"Benar jawabanmu. Kita yang lain, sesuai hadist tadi, kalau ada kebenaran kita
harus mau menerima meski dari siapapun datangnya. Apakah itu dari orang yang
lebih muda maupun bodoh sekalipun, dan kita tak boleh meremehkan orang lain.
Hidup kita belum berakhir, bisa jadi mereka yang sekarang malas beribadah nanti
akan mati sebagai syuhada' kan kita nggak tahu."
Wassalam
Zon di Jonggol
http://mutiarazuhud.wordpress.com
Rujukan
*Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari
kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR.
Muslim)
**Keagungan adalah sarungKU dan kesombongan adalah pakaianKU. Barangsiapa
merebutnya (dari AKU) maka AKU menyiksanya. (HR. Muslim)