Alat atau sarana menuju kepada Allah

Saya mengingatkan baik diri saya pribadi dan pembaca pada umumnya, sebaiknya 
kita tidak berpuas diri dengan ilmu, amal, kelompok, madzhab, manhaj, jama'ah 
minal muslimin, aliran, tarekat, harokah/pergerakan karena semua itu adalah 
bukan tujuan hidup kita namun semata mata alat atau sarana menuju kepada Allah.

Saya sangat sedih melihat ada muslim yang begitu bangga dan "mendebatkan" 
dengan kaum muslim lainnya atau "membela mati-matian" akan kaumnya bahwa 
menurut dia,  mereka berada pada "jalan yang lurus" atau "jalan yang benar", 
namun pada kenyataannya dia tidak "melakukan" atau "melanjutkan" perjalanannya. 
Ibaratnya dia terpaku di jalan itu dan pada hakikatnya dia masih berada pada 
alam dunia.

Untuk itu,  saya hadirkan blog http://mutiarazuhud.wordpress.com ,  InsyaAllah 
dalam rangka saling mengingatkan baik diri saya pribadi maupun para pembaca 
agar marilah kita "melakukan" atau "melanjutkan" perjalanan "menuju" kepada 
Allah, "bersaksi" sebenar-benarnya "saya bersaksi", kembali kepada Allah bahkan 
ada sebagian muslim mengingatkan agar kita "Fafirruu Ilallah", Larilah kembali 
kepada Allah !

Marilah kita hentikan saling hujat-menghujat ataupun berdebat yang tidak jelas, 
jangan mau diadu domba baik oleh hawa nafsu maupun oleh orang-orang yang 
memusuhi orang mukmin yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. jangan 
mau masuk dalam kancah perang pemikiran (ghazwul fikri).

Cukuplah dengan pendapat saya atau kami begini , pendapat antum begitu. Tidak 
lebih dari itu, karena sesungguhnya pendapat atau pemahaman adalah sekedar apa 
yang "dilhat" atau "disaksikan" oleh seorang muslim selama dalam "perjalanan".  
Dimana bisa saja terjadi perbedaan diantara muslim, karena tergantung karunia 
pemahaman (al-hikmah) yang Allah kehendaki, sebagaimana Allah telah sampaikan 
dalam firmanNya yang artinya,
"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As 
Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi 
hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya 
orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman 
Allah)." (Al-Baqarah – 269).

Saya membenci terhadap pensesatan atau pengkafiran muslim lain, yang dilakukan 
orang-perorang atau satu kelompok saja. Semua muslim yang sudah paham rukun 
Islam, rukun Iman tidak dilebihkan dan tidak dikurangi, maka InsyaAllah pada 
jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Allah beri ni'mat, bukan 
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Semua muslim, InsyaAllah berada pada jalan yang lurus. Sedangkan yang perlu 
kita pahami, bagaimanakah perjalanan yang telah dan akan kita lakukan. Umat 
muslim yang senang menghujat, berdebat, membela mati-matian kaum atau 
pemahamannya adalah semata-mata membanggakan "kendaraan" atau alat atau sarana 
yang dia/mereka pergunakan.

Periksa, intropeksi diri maupun alat atau sarana yang kita pergunakan dalam 
perjalanan menuju kepada Allah. Apakah alat atau sarana tersebut mempercepat 
kita mencapai tujuan kepada Allah ? ataukan kita berpuas diri dengan 
"kecepatan" yang ada sekarang ? ataukah kita terjerembab atau terkubur pada 
"lubang" (dosa) ?

Beruntunglah orang-orang yang "dilipatkan perjalanannya" oleh Allah atau 
"ditarik" atas Kehendak Allah. Mereka adalah yang telah menyerahkan kendali 
(kendali perjalanan) mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di 
hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya 
dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka 
sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Begitu juga adanya kekeliruan yang tidak disadari oleh kita pada zaman modern 
ini, yakni tentang ulama, pembimbing spiritual, guru,  mursyid.

Hakikatnya mereka adalah alat atau sarana yang akan dipergunakan Allah untuk 
memimpin/mengajari  seorang murid (hamba Allah).  Mereka sama sekali bukan yang 
berkehendak dan mereka wajib menghilangkan "keakuan" atau ego diri pribadi. 
"Keakuan" akan memungkinkan timbulnya sifat ujub, yakni mereka melihat pada 
kemampuan dan kekuasaan dirinya dalam ilmu, ketaatan dan ibadahnya,  tidak 
melihat pada kekuasaan dan keagungan Tuhan,  Sikap semacam ini, sangat 
berbahaya, tidak ada yang lebih bahaya daripada ini.! Selengkapnya tentang 
bahaya ujub, silahkan baca tulisan pada 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/13/memandang-dosa/ dan 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan/

Tugas utama/pertama bagi  ulama, pembimbing spritual, guru, mursyid adalah 
semata-mata membantu, membimbing, mendidik, menghantarkan murid (hamba Allah)  
kepada Allah, membuat murid (hamba Allah) dapat mengingat Allah sambil berdiri 
atau duduk atau dalam keadan berbaring, "bertemu" Allah atau 
"terhubung"(wushul) dengan Allah .

Sesungguhnya Allahlah yang memimpin/mengajari hambaNya, sebagaimana firmanNya 
yang artinya,  "…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (memimpinmu); 
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (QS al Baqarah, 2: 282).

Cara membantu, membimbing, mendidik, menghantarkan murid (hamba Allah) kepada 
Allah adalah dengan mempersiapkan murid (hamba Allah) untuk "bertemu" Allah 
yakni mengajarkan pencapaian keadaan suci dan bersih baik ruhani maupun 
jasmani, meliputi pengetahuan dan latihan tentang Tazkiyatun Nafs, Akhlak,Hati, 
Pengenalan diri dan Ma'rifatullah. Selengkapnya, silahkan baca tulisan pada 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/03/saya-bersaksi/

Jadi itulah sesungguhnya hakikat fungsi utama/pertama  bagi ulama, pembimbing, 
guru atau mursyid  bukan sebagai yang dikultuskan, dipuja atau bahkan ada 
sampai tersesat sebagai yang disembah, tempat meminta pertolongan, dll. Juga  
kekeliruan seperti "menilai", memberikan "raport", menghakimi, mensesatkan 
bahkan mengkafirkan murid atau hambaNya.

Selengkapnya tentang pendidikan agama dan akhlak, silahkan baca tulisan pada 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Setelah murid(hamba Allah) sampai pada Allah, barulah ulama, pembimbing, guru 
atau mursyid mengajarkan apa-apa yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits tanpa 
dicampur dengan  hawa nafsu, kepentingan (pragmatis), kreasi sendiri atau 
bahkan sesuatu bid'ah dalam Islam.

Dalam mengajarkan sebaiknya dalam kesadaran bahwa segala sesuatu yang diajarkan 
adalah semata-mata bersumber dari Allah dan berserah diri kepada Allah.

Wassalam

Zon di Jonggol
http://mutiarazuhud.wordpress.com

Kirim email ke