Sirah Shahabat: Saad bin Abi Waqas

Alhamdulillah, blog ini dapat menghadirkan kembali seri Sirah Sahabat untuk 
kesekian kalinya. Kali ini kita akan mengetengahkan kisah Saad bin Abi Waqas. 
Semoga kita dimudahkan Allah SWT untuk mengambil hikmah dari setiap Sirah 
Sahabat dan meneladani mereka. Amiin.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- 
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, 
dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu 
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak 
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan 
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang 
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan 
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman : 14-15)

Ayat-ayat yang mulia ini mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan 
mengejutkan; menyebabkan satu golongan diantara dua golongan yang bertentangan 
jatuh terbanting, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut. 
Akhirnya kemenangan berada di pihak yang baik dab beriman.

Tokoh kisah ini adalah seorang pemuda Makkah dari keturunan terhormat, dan dari 
ibu bapak yang mulia. Nama pemuda itu Saad bin Abi Waqas.

Tatkala cahaya kenabian memancar di kota Makkah, Saad masih muda belia, penuh 
perasaan belas kasih, banyak bakti kepada ibu bapak, dan sangat mencintai 
ibunya. Walaupun Saad baru menjelang usia 17 tahun, namun dia telah memiliki 
kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Dia tidak tertarik kepada aneka 
macam permainan yang menjadi kegemaran pemuda-pemuda sebayanya. Bahkan dia 
mengarahkan perhatiannya untuk bekerja membuat panah, memperbaiki busur, dan 
berlatih memanah, seolah-olah dia sedang menyiapkan diri untuk suatu pekerjaan 
besar. Dia juga tidak puas dengan kepercayaan/agama sesat yang dianut 
bangsanya, serta kerusakan masyarakat, seolah-olah dia sedang menunggu uluran 
tangan yang kokoh kuat, penuh kasih sayang, untuk mengubah keadaan gelap gulita 
menjadi terang benderang.

Sementara itu, Allah SWT menghendaki akan menaikkan harkat kemanusiaan yang 
telah merosot, secara keseluruhan dan merata, melalui pribadi yang belas kasih 
itu, yaitu melalui penghulu segala makhluk, Muhammad bin Abdullah. Dalam 
genggamannya memancar sinar petunjuk ketuhanan yang tidak tercela, yaitu 
Kitabullah.

Saad segera memenuhi panggilan yang berisi petunjuk dan haq ini (agama Islam), 
sehingga dia tercatat sebagai orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. 
Bahkan dia sering berucap dengan penuh kebanggaan: "Setelah aku renungkan 
selama seminggu, maka aku masuk Islam sebagai orang ketiga."

Rasulullah SAW sangat bersuka cita dengan Islamnya Saad. Karena beliau melihat 
pada pribadi Saad terdapat ciri-ciri kecerdasan dan kepahlawanan yang 
menggembirakan. Seandainya kini dia ibarat bulan sabit, maka dalam tempo 
singkat dia akan menjadi bulan purnama yang sempurna.

Keturunan dan status sosialnya yang mulia dan murni, melapangkan jalan baginya 
untuk mengajak pemuda-pemuda Makkah mengikuti langkahnya masuk Islam seperti 
dia. Di samping itu, sesungguhnya Saad termasuk paman nabi SAW juga. Karena dia 
adalah keluarga Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah SAW.

Rasulullah sangat membanggakan pamannya. Pernah diceritakan, pada suatu ketika 
beliau sedang duduk-duduk bersama beberapa orang shahabat. Tiba-tiba beliau 
melihat Saad bin Abi Waqas datang. Lalu beliau berkata kepada para shahabat 
yang hadir, "Inilah pamanku. Coba tunjukkan kepadaku, siapa yang punya teman 
seperti pamanku!"

Tetapi, Islamnya Saad tidak langsung memberikan kemudahan yang mengenakkan 
baginya. Sebagai pemuda muslim, dia ditantang dengan berbagai tantangan, ujian, 
serta cobaan-cobaan berat dan keras. Ketika cobaan-cobaan itu telah sampai di 
puncaknya, Allah SWT menurunkan wahyu mengenai peristiwa yang dialaminya. 
Marilah kita dengarkan kisahnya.

Kata Saad bercerita: Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi, 
seolah-olah aku tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku 
sedang mengalami puncak kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan 
cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu. aku melihat tiga orang telah lebih 
dahulu berada di hadapanku mengikuti bulan tersebut. Mereka itu ialah Zaid bin 
Haritsh, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Ash-Shidiq. Aku bertanya kepada mereka: 
Sejak kapan Anda bertiga di sini? Belum lama, jawab mereka.

Setelah hari siang, aku mendapat kabar, Rasulullah SAW mengajak orang-orang 
kepada Islam secara diam-diam. Yakinlah aku, sesungguhnya Allah SWT menghendaki 
kebaikan bagi diriku, dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan 
kepada cahaya terang. Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya 
pada suatu tempat ketika dia sedang shalat Ashar. Aku menyatakan masuk Islam di 
hadapan beliau. Belum ada orang mendahuluiku masuk Islam, selain mereka bertiga 
seperti yang terlihat dalam mimpiku.

Saad melanjutkan kisahnya masuk Islam. Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, 
dia marah bukan kepalang. Padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu 
memanggilku dan berkata: "Hai Saad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau 
meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Allah! Engkau harus meninggalkan agama 
barumu itu! atau aku mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu 
melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang 
menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya."

Jawabku: "Jangan lakukan itu, Bu! Tetapi aku tidak akan meninggalkan agamaku 
biar bagaimanapun."

Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan 
minum. Sehingga tubuh dan tulang-belulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama 
sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan 
minum walaupun agak sedikit. Tetapi ibu memang keras. Beliau tetap menolak dan 
bersumpah akan tetap mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku, 
Islam.

Aku berkata kepada ibu: "Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku 
lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu memiliki 
seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu satu per satu (untuk memaksaku 
keluar dari agamaku) sungguh aku tidak meninggalkan agamaku karenanya."

Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. 
Lalu dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa.

Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW:
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang 
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, 
dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,"

Setelah Saad masuk Islam, dia lantas berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin 
dengan prestasi baik dan tinggi. Dalam perang Badar, Saad ikut berperang 
bersama-sama adiknya Umair. Ketika itu Umair masih muda remaja, belum lama 
mencapai usia baligh. Tatkala Rasulullah SAW memerintahkan tentara muslimin 
berkumpul dan bersiap sebelum berangkat perang, Umair bersembunyi-sembunyi, 
takut kalau-kalau dia tidak diperbolehkan Rasulullah turut berperang, karena 
usianya masih kecil. Tetapi Rasulullah tetap melihatnya, lalu tidak 
memperbolehkannya ikut. Umair menangis, sehingga Rasulullah merasa kasihan, dan 
akhirnya membolehkan Umair turut berperang. Saad mendatangi adiknya dengan 
gembira, lalu mengikatkan pedang di bahu Umair, karena tubuhnya yang kecil. 
Kedua saudara itu pergi berperang berjuang bersama fi sabilillah.

Seusai peperangan Saad kembali ke Madinah seorang diri. Sedangkan adiknya, 
Umair tinggal di bumi Badar sebagai syuhada'. Saad merelakan adiknya ke 
pangkuan Allah SWT dengan mengharap pahala dari-Nya.

Ketika tentara kaum muslimin lari kucar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah SAW 
tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara kaum muslimin, tidak 
lebih dari sepuluh orang. satu diantaranya ialah Saad bin Abi Waqas. Sa'ad 
berdiri melindungi Rasulullah SAW dengan panahnya. Tidak satupun anak panah 
yang dilepaskan Saad dari busur melainkan mengenai sasaran dengan jitu, dan 
orang musyrik yang terkena, tewas seketika.

Tatkala dilihat Rasulullah SAW Sa'ad seorang pemanah jitu, beliau berkata 
memberinya semangat "Panahlah, hai Saad! Panahlah…! Bapak dan ibuku menjadi 
tebusanmu!"

Saad sangat bangga sepanjang hidupnya dengan ucapan Rasulullah itu. sehingga 
Saad pernah pula berkata, tidak pernah Rasulullah berucap kepada seorang jua 
pun, mempertaruhkan kedua ibu bapaknya sekalipun sebagai tebusan, melainkan 
hanya kepadaku."

Namun puncak kejayaan Saad, ialah ketika Khalifah Umar Al-Faruq bertekad 
menyerang kerajaan Persia, untuk menggulingkan pusat pemerintahannya, dan 
mencabut agama berhala sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Khalifah Umar 
memerintahkan kepada setiap Gubernur dalam wilayah kekuasaannya, supaya 
mengirim kepadanya setiap orang yang mempunyai senjata, atau kuda, atau setiap 
orang yang mempunyai keberanian, kekuatan atau orang yang berpikiran tajam, 
yang mempunyai suatu keahlian seperi syair, berpidato dan sebagainya, yang 
dapat membantu memenangkan perang. Maka tumpah ruahlah ke Madinah para pejuang 
muslim dari setiap pelosok. Setelah semuanya selesai melapor, Khalifah Umar 
merundingkan dengan para pemuka yang berwenang, siapa kiranya yang pantas dan 
dipercaya untuk diangkat menjadi panglima angkatan perang yang besar itu. 
mereka sepakat dengan aklamasi menunjuk Saad bin Abi Waqas, singa yang 
menyembunyikan kuku. Lalu khalifah menyerahkan panji-panji perang kaum muslimin 
kepadanya dengan resmi, dalam pengangkatannya menjadi panglima.

Sewaktu angkatan perang yang besar itu hendak berangkat, Khalifah Umar 
berpidato memberi amanat dan perintah harian kepada Saad.

Katanya, "Hai Saad! Janganlah engkau terpesona, sekalipun engkau paman 
Rasulullah dan shahabat beliau. Sesunggunya Allah tidak menghapus suatu 
kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Allah menghapus kejahatan dengan kebaikan. 
Hai, Saad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan 
seseorang melainkan dengan mentaati-Nya. Segenap manusia sama di sisi Allah, 
baik dia bangsawan atau rakyat jelata. Allah adalah Tuhan mereka dan mereka 
semuanya adalah hamba-hambaNya. Mereka berlebih berkurang karena taqwa, dan 
memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikanlah cara Rasulullah, yang 
engkau telah mengetahuinya, maka tetaplah ikuti cara beliau itu."

Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Di dalamnya 
terdapat 99 orang alumni pahlawan perang badar, lebih kurang 319 orang para 
shahabat yang tergolong dalam baiatur ridlwan, 300 orang pahlawan yang ikut 
dalam penaklukan Makkah bersama-sama Rasulullah SAW, 700 orang putra-putra 
shahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya (yang keseluruhan berjumlah 30.000 
orang).

Sampai di Qadisiyah, Saad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. 
Pada hari itu sebagai hr yang menentukan. Mereka mengepung musuh dengan ketat, 
lalu maju ke depan dari segala arah, sambil membaca takbir.

Dalam pertempuran itu, kepala Rustam, panglima tentara Persia, berpisah dengan 
tubuhnya oleh lembing kaum muslimin. Maka merasuklah rasa takut dan gentar ke 
dalam hati musuh-musuh Allah. Sehingga dengan mudah kaum muslimin menghadapi 
para prajurit Persia dan membunuh mereka. Bahkan kadang-kadang mereka membunuh 
dengan senjata musuh itu sendiri.

Saad bin Abi Waqas dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang 
lumayan. Tetapi ketika wafat telah mendekatinya, dia hanya meminta sehelai 
jubah usang. Katanya, "Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapatkan dari seorang 
musyrik dalam perang badar. Aku ingin menemui Allah dengan jubah itu." [sumber: 
Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]

http://muchlisin.blogspot.com/

Kirim email ke