Sabtu, 08 April 2006  NASIONAL                Howard Kaji Ulang Visa Suaka
           
John Howard - SM/rtr         CANBERRA - Perdana Menteri John Howard mengatakan 
Jumat kemarin, pemerintahannya akan mengkaji ulang kebijakan pemberian visa 
bagi para pencari suaka. Kajian ulang itu dipandang perlu setelah Indonesia 
mengeluhkan keputusan Canberra memberi visa tinggal sementara bagi 42 orang 
Papua tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Jakarta.
  "Apa pun hasil dari kajian ulang itu nantinya, kami bisa pastikan bahwa kami 
akan tetap memenuhi kewajiban-kewajiban internasional, tetapi kami juga akan 
menghormati secara pantas pentingnya hubungan antara Australia dan Indonesia," 
kata Howard kepada wartawan.
  Howard selama ini tetap pada sikapnya bahwa Australia menganggap Papua 
sebagai bagian dari wilayah Indonesia. Alasannya, melepaskan Papua dari 
kedaulatan RI hanya akan meningkatkan ancaman teroris. 
  "Kami saat ini sedang berhadapan dengan masa depan negara Islam terbesar di 
dunia dan kepemimpin Islam yang moderat," kata dia.
  "Salah satu keberhasilan terbesar kampanye terorisme adalah Indonesia yang 
demokratis, progresif dan sukses. Jalan ke depan terbaik untuk Papua Barat 
adalah menjadi bagian dari Indonesia yang lebih demokratis dan lebih 
sejahtera," kata dia.
  Pernyataan Howard ditanggapi keras oleh oposisi. Ketua Partai Hijau minoritas 
Bob Brown mengatakan, pemerintah bakal melanggar hukum internasional apabila 
berkonsultasi dengan Indonesia atas klaim yang dikemukakan para pencari suaka.
  "Orang-orang Papua Barat yang mencari suaka di Australia punya hak untuk 
dirahasiakan identitasnya. Isu terorisme sekarang digunakan oleh Perdana 
Menteri Howard untuk menyunat hak-hak orang Papua Barat," kata Brown. 
  Sementara itu, seorang rohaniwan di Papua mengemukakan, satu keluarga 
beranggotakan enam orang yang mencari suaka telah tiba di sebuah pulau di 
Australia di wilayah Selat Torres. Namun, pencarian oleh Imigrasi Australia 
tidak menemukan mereka. Kemungkinan, pencari suaka itu masih berada di Papua 
Nugini.
  Deplu Membantah
  Departemen Luar Negeri (Deplu) menegaskan, enam orang yang dikabarkan mencari 
suaka politik ke Australia adalah tidak benar. Saat ini, mereka sedang berada 
di Kota Bula dekat Selat Tores, Papua Nugini. Hal itu disampaikan Juru Bicara 
Deplu Desra Percaya, Jumat kemarin, di kantor Deplu Jakarta Pusat. ''Kami 
sedang mencari motif mereka yang saat ini berada di sana.''
  Pihaknya berharap, masyarakat tidak terlalu berspekulasi bahwa enam warga 
Papua itu adalah pencari suaka ke Australia menyusul pemerinan visa sementara 
kepada 42 lainnya. 
  ''Dan, untuk mengantisipasi adanya permintaan suaka politik dari warga Papua 
di Australia, TNI Angkatan Laut sudah melakukan pengamanan di perairan Papua. 
Hal itu sah-sah saja karena untuk menjaga perairan atau teritorial Indonesia,'' 
tandas Desra Percaya.
  Di tempat terpisah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengemukakan, 
dalam dialog dengan PM Belanda Dr Jan Peter Balkenenden, NU dan Muhammadiyah 
mengharapkan sikap serta pandangan Pemerintah Belanda atas persoalan Papua. Dan 
dalam konsep negara kesatuan tersebut, PM Belanda telah menyampaikan sikap dan 
pandangannya untuk menolak dan tidak menyetujui intervensi pihak asing. 
  ''PM Belanda menekankan, Kerajaan Belanda sangat mendukung integrasi 
teritorial Indonesia. Dan tentu, dengan demikian tidak setuju dengan berbagai 
upaya untuk pemisahan diri dan perpecahan negara kesatuan RI,'' ungkap Din.
  Pertemuan jajaran Pemimpin Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul 
Ulama dengan Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende berlangsung di ruang 
sidang gedung Muhammadiyah Jalan Menteng 62 Jakarta, Jumat kemarin.
  Pada pertemuan itu, digelar dialog dengan topik pembicaraan mulai persoalan 
makro hingga mikro sebagai bentuk kewajiban dan tanggung jawab bersama 
mewujudkan dialog dan kerja sama. Pada kesempatan itu, PM Belanda menyatakan 
dukungan sepenuhnya dan menghormati integritas teritorial Indonesia.
  Pertemuan berlangsung satu jam dan diakhiri dengan konferensi pers bersama 
pemimpin Muhammadiyah, NU, dan PM Belanda. Dari PP Muhammadiyah hadir Ketua 
Umum M Din Syamsuddin yang didampingi Zamroni (ketua), Siti Chamamah Soeratno 
(ketua umum PP Aisyiyah), Rizal Sukma (ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri), 
Imam Addaruqutni, Abdul Muíti (ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah). 
  Dari NU hadir Wakil Sekretaris Umum PB NU Endang Turmudzi, Chofifah Indar 
Parawansa (ketua umum Muslimat NU), Bina Suhendra, Abdullah Hasyim, dan Masrur 
Ainun Najih. 
  Delegasi PM Belanda antara lain Gerard van der Wulp (Direktur Jenderal 
Pemerintah Belanda Pelayanan Informasi merangkap juru bicara Perdana Menteri), 
Rob Swartbol dan Pieter de Gooijer (keduanya wakil Direktur Jenderal Urusan 
Politik Kementerian Luar Negri), Max Valstar (pejabat senior Kebijakan pada 
Departemen Asia Timur Kementerian Luar Negeri) didampingi Duta Besar Belanda 
untuk Indonesia Nikolaos van Dam. (rtr-gn,H27,bn,D12-41,49j)

   
  SUARA PEMBARUAN DAILY   
---------------------------------
    DPD Sudah Berada di Australia  [JAKARTA] Kisruh rencana keberangkatan enam 
anggota DPR ke Australia masih berlanjut. Sementara Wakil Ketua Dewan 
Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida, telah berada di Australia, Jumat (7/4). 
Selain menjadi pembicara mengenai masalah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara, dia 
juga telah dijadwalkan untuk bertemu dengan sejumlah Senator Australia.   
"Keberangkatan saya, sebenarnya untuk memenuhi undangan sebagai pembicara dalam 
seminar yang diadakan Australian National University (ANU). Di sana saya juga 
akan bertemu dengan pemuda pelajar Indonesia (PPI), yang berada di sekitar 
Canberra, untuk membicarakan masalah-masalah aktual," ucap Laode, sebelum 
bertolak ke Australia, Kamis (6/4) sore.   Undangan itu lantas dirasa merupakan 
kesempatan yang baik, untuk sekaligus bisa bertemu dengan kalangan Senat 
Australia. "Sebelumnya, DPD juga telah menjalin hubungan dengan kalangan Senat 
Australia, setelah kunjungan DPD ke sana pada 21-28 Mei 2005," kata
 Irman Gusman, Wakil Ketua DPD.   Dilakukan kontak dengan sejumlah pihak, yang 
menghasilkan jadwal pertemuan di Adelaide, Senin (10/4) dengan Senator John 
Hogg, Wakiil Ketua Senat (Deputy President of Senate) dari Partai Buruh 
Australia (ALP). Serta Blaine Gordon, President of the International 
Association of Business Communicators (IABC), untuk membicarakan masalah bisnis 
dan investasi.   "Pembicaraan dengan Blaine, merupakan salah satu bagian dari 
tugas kami di DPD, untuk memperjuangkan investasi di daerah," ujarnya. Pada 
hari yang sama, dia juga dijadwalkan untuk bertemu dengan anggota Grup 
Persahabatan Antar Parlemen untuk Indonesia, yaitu Trish Draper, Andrew 
Southcott, dan Debra Chapman.   Jumat (7/4) ini Laode tengah berada di 
Canberra, untuk mengadakan pertemuan di Sekretariat Kerjasama DPD dan Senat 
Australia. Dia baru dijadwalkan berbicara dalam seminar, pada 8 April. "Kami 
juga telah berusaha untuk meminta jadwal pertemuan, dengan sejumlah senator 
yang mendukung
 pemberian suaka, seperti Kerry Nettle. Belum didapat konfirmasi, tapi bila 
harus, saya sewaktu-waktu bisa memundurkan jadwal kepulangan," katanya.   
Berbeda dengan rencana beberapa anggota DPR, Laode menyebut keberangkatannya 
itu bukan atas biaya DPD, maupun biaya pribadinya. "Saya datang ke sana dengan 
pembiayaan dari pihak pengundang," katanya.   Lebih lanjut disebut Laode, 
agenda keberangkatannya itu telah disampaikan pada Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono, pada rapat konsultasi Presiden dan DPD, Selasa (28/3). "Presiden 
meminta agar saya sekaligus berbicara dengan para Senator, saat berada di 
Australia," ucapnya.   Pada kesempatan terpisah, Effendi Choirie, anggota 
Komisi I DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) yang menyatakan tegas menolak 
keberangkatan enam anggota DPR ke Australia, memuji keberangkatan Laode. "Itu 
setuju saya. Justru bagus, dia punya agenda yang jelas, dan dia datang atas 
undangan Australia," ujarnya.   Namun Effendi menyatakan enggan
 berkomentar, terkait pendapat yang menyebut beberapa anggota DPR yang akan 
berangkat ke Australia, karena ingin mengikuti jejak DPD, hingga bisa mendapat 
popularitas di hadapan Presiden, seperti halnya restu yang diberikan Yudhoyono 
pada DPD.   Sementara itu, anggota DPD asal Papua, Ferdinanda Ibo Yatipay, 
menyatakan keberatannya dengan penyebutan separatis terhadap orang Papua yang 
menerima suaka di Australia. Menurutnya, pengibaran bendera itu justru bentuk 
perjuangan, karena selama ini rakyat Papua hanya ingin menyampaikan kebenaran, 
tapi dibungkam dengan tudingan separatis.   "Rakyat Papua sesungguhnya 
menginginkan adanya dialog dengan pemerintah. Bisa duduk bersama, dan 
menjalankan otonomi khusus bersama-sama. Otsus sebenarnya memuat segala sesuatu 
yang menjadi hak orang Papua. Jalankan Otsus dengan benar, supaya rakyat Papua 
bisa merasakan keadilan, dan kebenaran yang sesungguhnya," ujar dia.   Boy MW 
Saul, anggota Komisi I dari Fraksi Partai Demokrat, menyebut tak
 perlu ada kekhawatiran berlebih terkait pemberian suaka ke Australia. Dia 
meyakini, bahwa pemberian suaka itu sendiri sebenarnya bukan hal mudah bagi 
Australia. Bahkan pemberian suaka itu, bisa ikut memberi potensi konflik bagi 
Australia. Pemberian suaka oleh Australia dengan dalih masalah ketidakadilan, 
kemanusiaan, bisa saja memicu mencuatnya lagi masalah serupa yang menimpa orang 
Aborigin di Australia.   Hal senada juga dipaparkan AS Hikam, anggota Komisi I 
dari FKB. Menurutnya hal yang penting dilakukan saat ini, adalah mencari solusi 
terbaik. Dalam waktu dekat, DPR akan membuat tim khusus masalah Papua. Dia 
menyebut hal itu justru lebih masuk akal, dapat dilakukan, dan sekaligus bisa 
mendapat banyak masukan mengenai akar permasalahan yang terjadi di Papua. 
[TPN/OPM]    

   
                
Photos:                                               logo_sm.gif(13k) [View] 
                         Save to Computer
      sm1johnhoward8epsx.jpg(10k) [View] 
       

                
---------------------------------
Blab-away for as little as 1¢/min. Make  PC-to-Phone Calls using Yahoo! 
Messenger with Voice.

[Non-text portions of this message have been removed]





****

HELP ME !

Gemuk ? Insomnia ? Phobia ? Psikosomatis ?
Relapse ? Trauma ? Takut ? Cemas ? Sedih ? Depresi ? Stress ?
Kurus ? Marah ? Kebiasaan Buruk ? Pengalaman Negatif ? Dll. ?

di SERVO aja...!

TESTIMONIAL
Dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
 
Hadi (37 tahun)
....... Saya perfeksionis. Ketika Ada pekerjaan yang kurang sempurna hasilnya, 
saya selalu merasa tidak tenang dan tegang. Saya akan menghabiskan hampir 
seluruh waktu saya untuk menyempurnakan dan memikirkan pekerjaan tersebut.
 ...... hasil yang saya rasakan sekarang adalah perasaan lebih gembira. Saya 
merasa lebih rileks menghadapi segala sesuatu yang terjadi, tidak ada lagi 
beban yang berlebihan yang saya rasakan dan saya lebih mudah tersenyum.

Cinthya (23 tahun)
Saya menjalani Servo Therapy demi membenahi insomnia yang saya derita. Biasanya 
saya tidak bisa tidur sebelum memasuki waktu subuh. Setelah diterapi, saya 
mulai bisa tidur dengan teratur, sekitar jam 10 malam.
Terapi kedua dilakukan dua minggu kemudian. Kali ini untuk menyembuhkan fobia 
darah. Biasanya, kalau melihat darah saya langsung tidak tahan dan merasa 
pusing sekali. 
Kini saya sudah menikmati hasilnya setelah diterapi, tidak lagi merasa takut 
dan tidak pusing lagi saat melihat darah. ..............

Kristin (30 tahun)
Pada bulan April 2005 lalu, saya menjalani terapi dengan tujuan ingin 
menurunkan berat badan. Sebelum di Servo, berat badan saya mencapai 71 kg. Saya 
sebelumnya sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak berhasil. Pernah juga 
mencoba mengonsumsi obat untuk melangsingkan tubuh, kemudian berat badan saya 
berhasil turun, namun kembali bertambah berat lagi setelah berhenti 
mengonsumsinya. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba metode ini. ..........
Sekarang, bobot tubuh saya sudah turun menjadi 66 kg. Saya tidak lagi merasa 
tergoda untuk ngemil dan melahap gorengan.

SERVO CENTER - VISI GLOBAL INDONESIA
Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke