Dear  Friends,

Dalam era globalisasi dan liberalisasi yang terjadi
saat ini, marilah kita mencoba "berfikir" untuk
mencoba mencari solusi terbaik bagi semua unsur yang
ada.

Perlu saya garis bawahi ttg "berfikir" tersebut,
karena sejarah memang harus dijadikan rujukan untuk
kita semua untuk tetap melangkah ke depan, bukan
mundur ke belakang.

Membangun manusia membutuhkan waktu yang relatif lama,
apalagi ratusan tahun kita terjajah secara mental,
yang akhirnya membutuhkan waktu untuk mengobati luka
lama tersebut.

Sejarah tentang peradaban & kebudayaan mestilah kita
jadikan rujukan, agar kita bisa melangkah dengan
benar, dan terbukti Peradaban Barat (khususnya
Amerika, Australia), bukanlah contoh terbaik (dalam
membangun kebudayaan suatu koloni/komunitas) untuk
kita jadikan rujukan, dan itu adalah fakta (bukankah
Kaum Aborigin & Suku Indian sudah punah ???).

Kita tinggal di lokasi yang sangat strategis di dunia
yang kecil (saat ini), dan liberalisasi sudah sampai
pada titik yang paling menentukan, yaitu Liberalisai
Kebudayaan.... dan kita memiliki guru yang tidak
memiliki kompetensi yang tepat untuk mengajarkan ttg
kebudayaan.

Marilah kita coba renungkan dengan akal sehat....mana
ada negeri yang secantik Indonesia ini.......

Salam,
RM


--- Makodam IV Paniai <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Martabat sebagai Papua dan sebagai Indonesia 
>   Oleh
> Habel Rumbiak 
>   
> 
> Guru Besar filsafat Sekolah Tinggi Filsafat
> Driyarkara Jakarta, Frans Magnis Suseno mengatakan,
> Papua dapat terintegrasi sepenuhnya kalau martabat
> orang Papua dihormati dan mereka dapat merasakannya.
> Persoalan mendasar berkaitan dengan Papua adalah
> rakyatnya belum merasa sebagai warga negara
> Indonesia sepenuhnya. Mereka merasa sebagai suatu
> bagian yang dieksploitasi (Kompas, 16/3).
>   Karena Papua bagian yang tak terpisahkan dari
> NKRI, pemerintah pun memberikan perlakuan istimewa
> secara formal (bukan secara faktual) sebagai wilayah
> otonomi khusus (otsus) melalui UU No 21/2001. Untuk
> melengkapi wilayah NKRI ini dengan otsus-nya,
> dibentuklah Majelis Rakyat Papua (MRP) yang konon
> mewakili rakyat Papua secara kultural. Dengan Inpres
> No 1/2003, Papua pun dimekarkan lagi menjadi tiga
> provinsi. Alasannya, melaksanakan UU No 45/1999,
> sekaligus untuk mempercepat kesejahteraan rakyat
> Papua.
>   ”Bila kami juga adalah anak kandung ibu Pertiwi
> NKRI, kenapa mesti diberlakukan sebagai anak tiri
> dan sebagai warga kelas dua di negeri ini”, itulah
> dalil rakyat Papua. Rakyat Papua pun menyodorkan
> sejumlah bukti dan fakta yang hampir-hampir tak
> dapat diruntuhkan Jakarta. Dan bahkan untuk
> meruntuhkan dan membungkam suara-suara anak tiri
> rakyat Papua, kekerasan, pembunuhan politik,
> pemenjaraan dan pembunuhan kilat terus terjadi di
> sana. 
>   
> Ekploitasi sumber daya alam (SDA) Papua oleh
> Jakarta, seolah merupakan hal utama dibanding
> kesejahteraan penduduk. Menurut rakyat Papua,
> pengelolaan SDA Papua oleh Jakarta, ibarat
> pemerintah kolonial Belanda dan VOC-nya yang
> menguras SDA Indonesia. Kini, berkembang asumsi
> Papua bukan wilayah NKRI, melainkan wilayah
> ”pendudukan” NKRI, karena bagi Jakarta bukan manusia
> Papuanya yang penting, tapi sumber alamnya.
>   
> Sejumlah bukti dan fakta kini menjadi pegangan
> generasi muda Papua yang tidak mengalami berbagai
> peristiwa yang telah menjadi catatan sejarah Papua
> dan RI. Misalnya, hingga kini tidak ada satu catatan
> pun yang membuktikan generasi muda Papua hadir pada
> acara sumpah pemuda yang fenomenal, yang diikrarkan
> pada tahun 1928. 
> 
> Tidak Sah
> Rakyat Papua pun tidak dilibatkan dalam proses
> persiapan dan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat
> (Pepera). Bahkan pelaksanaan Pepera itu sendiri yang
> seharusnya menggunakan prinsip one man one vote
> secara sepihak diganti pihak Jakarta dengan sistim
> perwakilan tanpa mendapatkan persetujuan rakyat
> Papua.
>   
> Otsus yang diberlakukan pun bukan kehendak rakyat
> Papua, tetapi lagi-lagi tawaran dan ciptaan Jakarta
> untuk meredam perasaan ”bukan Indonesia” menjadi
> orang ”Indonesia” dari rakyat Papua. Pemberlakuan
> Otsus melalui UU No 21/2001 ternyata dicederai
> dengan Inpres No 1/2003 tentang percepatan pemekaran
> Papua yang tidak bersumber pada UU Otonomi Khusus.
> Pemekaran ini lagi-lagi mengabaikan pendapat rakyat
> Papua.
>   
> Lalu lembaga kultural MRP yang merepresentasikan
> agama, perempuan dan adat rakyat Papua serta
> merupakan lembaga utama yang dikehendaki UU Otsus,
> baru terbentuk tahun 2004, setelah diperjuangkan
> rakyat Papua selama 3 tahun. Pemerintah bilang Papua
> bagian integral Indonesia, tetapi PP tentang MRP
> saja tidak diberikan pada waktunya, bahkan terkesan
> takut diberikan kepada warga Papua yang adalah
> rakyatnya sendiri.
>   
> Keberpihakan bukan pada rakyat Papua sangat nyata
> juga pada kasus PT Freeport Indonesia (PT FI). Papua
> (Irian Barat saat itu) waktu itu secara de facto,
> maupun de jure belum merupakan wilayah NKRI (belum
> Pepera) tapi pemerintah Jakarta melakukan negosiasi
> dan meneken kontrak karya dengan PT FI pada tahun
> 1967 untuk melakukan penambangan tembaga. 
>   
> Lagi pula Soeharto yang menandatangai kontrak
> tersebut belum lagi jadi pejabat presiden, baru
> pengemban TAP IX MPRS 1966 (Red SH). Kemudian,
> sekalipun Papua telah menjadi bagian dari NKRI
> melalui Pepera tahun 1969, pemerintah tetap saja
> tidak memandang keberadaan rakyat Papua ketika
> memperpanjang kontrak karya PT FI untuk kedua
> kalinya pada tahun 1991.
>   
> Kalau selama 43 tahun perlakuan dan kebiasaan
> pemerintah yang tak sepenuhnya berpihak pada rakyat
> Papua terus terjadi, apakah salah bila Ibu Pertiwi
> adalah ”Ibu Tiri” bagi rakyat Papua? Apakah salah
> jika rakyat Papua belum merasa sebagai orang
> Indonesia? Apakah salah bila rakyat Papua merasa
> martabatnya tidak dihormati?
> 
> Penulis adalah advokat dan Ketua LBH Damai Sejahtera
> Jakarta (tpn/opm)
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low
>  PC-to-Phone call rates.
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 
> 
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 





****

HELP ME !

Gemuk ? Insomnia ? Phobia ? Psikosomatis ?
Relapse ? Trauma ? Takut ? Cemas ? Sedih ? Depresi ? Stress ?
Kurus ? Marah ? Kebiasaan Buruk ? Pengalaman Negatif ? Dll. ?

di SERVO aja...!

TESTIMONIAL
Dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
 
Hadi (37 tahun)
....... Saya perfeksionis. Ketika Ada pekerjaan yang kurang sempurna hasilnya, 
saya selalu merasa tidak tenang dan tegang. Saya akan menghabiskan hampir 
seluruh waktu saya untuk menyempurnakan dan memikirkan pekerjaan tersebut.
 ...... hasil yang saya rasakan sekarang adalah perasaan lebih gembira. Saya 
merasa lebih rileks menghadapi segala sesuatu yang terjadi, tidak ada lagi 
beban yang berlebihan yang saya rasakan dan saya lebih mudah tersenyum.

Cinthya (23 tahun)
Saya menjalani Servo Therapy demi membenahi insomnia yang saya derita. Biasanya 
saya tidak bisa tidur sebelum memasuki waktu subuh. Setelah diterapi, saya 
mulai bisa tidur dengan teratur, sekitar jam 10 malam.
Terapi kedua dilakukan dua minggu kemudian. Kali ini untuk menyembuhkan fobia 
darah. Biasanya, kalau melihat darah saya langsung tidak tahan dan merasa 
pusing sekali. 
Kini saya sudah menikmati hasilnya setelah diterapi, tidak lagi merasa takut 
dan tidak pusing lagi saat melihat darah. ..............

Kristin (30 tahun)
Pada bulan April 2005 lalu, saya menjalani terapi dengan tujuan ingin 
menurunkan berat badan. Sebelum di Servo, berat badan saya mencapai 71 kg. Saya 
sebelumnya sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak berhasil. Pernah juga 
mencoba mengonsumsi obat untuk melangsingkan tubuh, kemudian berat badan saya 
berhasil turun, namun kembali bertambah berat lagi setelah berhenti 
mengonsumsinya. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba metode ini. ..........
Sekarang, bobot tubuh saya sudah turun menjadi 66 kg. Saya tidak lagi merasa 
tergoda untuk ngemil dan melahap gorengan.

SERVO CENTER - VISI GLOBAL INDONESIA
Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke