Source: 
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/27/time/115752/idnews/566112/idkanal/10

Analisis Denny Indrayana 
Indonesia Negeri Kaya Nihil Dosa
Denny Indrayana - detikcom

Jakarta - Siapa bilang Indonesia miskin-papa. Salah besar, bohong benar. 
Indonesia negara kaya-raya. Negeri makmur-subur, damai-sentosa. Indonesia hanya 
pura-pura miskin: pura-pura banyak utang; pura-pura banyak teroris; pura-pura 
banyak masalah. Sejatinya, Indonesia adalah negara paling bahagia di seluruh 
dunia, di seantero jagat raya.

Dunia yang mengira Indonesia miskin, tertipu. Mereka hanya melihat kulit, tidak 
melihat isi. Dunia terpana tampilan luar fisik Indonesia yang 
coreng-moreng-bopeng, padahal itu hanya topeng. Sebenarnya Indonesia bukan 
negeri gepeng -- gelandangan-pengemis -- tapi bangsa yang keren-mentereng. Tak 
percaya? Simak saja bagaimana harga minyak dikerek menyamai harga di pasaran 
dunia, bukankah itu artinya daya beli masyarakat Indonesia pun seharusnya 
setara dengan negara hebat lainnya?

Meski mengirim babu ke manca negara, itu bukan berarti kita berkasta sudra. 
Justru sebaliknya, Indonesia itu negeri luar biasa kaya-raya. Buktinya, punya 
utang US$ 134,9 miliar pada akhir 2003, tenang-tenang saja. Malah unjuk gigi 
berutang lebih banyak lagi. Agar negara kaya senang hati. Indonesia itu 
pura-pura miskin, untuk berbaik budi, sebagaimana praktik yang diajarkan para 
sufi.

Indonesia itu bangsa emas. Hanya emaslah yang terus diuji, diasah. Kalau batu 
cadas, ketemu langsung dibuang. Indonesia emas, bukan cadas. Indonesia adalah 
jamrud khatulistiwa. Meski dimana-mana ada bencana. Itu semua bukan laknat. Itu 
semua nikmat, berkat yang diturunkan dalam bentuk yang tidak memikat.

Tsunami di Aceh, itu nikmat. Longsor dimana-mana itu rahmat. Demam berdarah, 
flu burung di seantero nusantara, itu berkat. Kalau pemerintah negeri lain 
pasti kalang-kabut menghadapi itu semua, pemerintah Indonesia, santai dan 
damai-damai saja. Sama tenangnya dengan kebanyakan televisi yang tetap sarat 
menyajikan hiburan ala goyang pantat dan acara-acara yang mengumbar syahwat.

Mau tahu resepnya Indonesia begitu hebat? Hanya satu kata: TAAT. Pemimpin 
Indonesia semua terhormat-bermartabat. Bayangkan, koruptor di Indonesia itu 
agamanya luar biasa kuat. Sekelas Kiai yang tak jua mau bertobat meski menilep 
dana alokasi umat. Itu maknanya, agama difahami amat hakiki, sesuai nilai 
dasarnya saja. Agama itu ada, dikala orang tidak perlu mengingatnya. Orang yang 
beragama, tidak perlu selalu pamer keberagamaannya. Jika perlu, pura-pura saja 
lupa. Sholat-puasa biasa, korupsi juga jalan apa-adanya.

Pokoknya Indonesia itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Adanya, seperti 
tiadanya. Yang kelihatan, belum tentu yang kenyataan. Indonesia itu negeri 
paling sufi. Buktinya Amerika Serikat sang Adi Daya saja di subsidi 
kehidupannya oleh masyarakat miskin di ujung Papua. Gunung emas di Timika 
diberikan secara nyaris cuma-cuma di tengah banyak masyarakat puncak Jaya 
Wijaya yang tak putus dirundung nestapa, apalagi setelah kerusuhan di Abepura.

Australia adalah negara super lain yang paling tahu bagaimana bersahajanya 
politik Indonesia. Demi persahabatan antar dua negara, Indonesia rela dikira 
tak punya daya upaya. Berbilang kali Australia bermain-main dengan harga diri 
bangsa, tetapi pemerintah Indonesia tetap saja bermanis muka. Karenanya, 
kemarahan pemerintah Indonesia akibat pemberian visa kepada pencari suaka dari 
Papua hanya dibalas Australia dengan pandangan sebelah mata. Seandainya dengan 
negara lain, Australia pasti sudah disumpahi tak setia, ibarat TTM, teman tapi 
monyong kelakuannya.

Indonesia adalah negeri tanpa dosa. Hanya di negeri ini koruptorpun dihormati 
dan diberi fasilitas hidup layaknya di surga. Tak mengherankan lebih dari 1200 
orang pejabat negara betah saja diperiksa sebagai tersangka maupun terdakwa. 
Bahkan KPK yang seharusnya menjadi panglima angkatan perang bersenjata, 
penyidiknya pun terperangkap penyakit korupsi yang memang terlanjur merajalela.

Korupsi. Agaknya memang praktik itulah yang di Indonesia tidak pernah dianggap 
dosa. Terutama bagi para petinggi negara. Tengok saja, ada empat wilayah yang 
tetap bebas melakukannya, yaitu: Istana, Cendana, Senjata dan Pengusaha Naga. 
Di ke empat ranah itu, hukum hanya pajangan semata dan tidak berdaya melawan 
praktik nista para pelaku mafia. Komisi Yudisial yang mencoba-coba berlaga 
harus berhadapan para hakim agung yang tebal muka, buta mata-buta hatinya. 
Perorangan yang mencoba-coba mengangkat suara akan dengan mudah dibuat tiada, 
semudah arsenik menyatu dengan jiwa-raga bersahaja Munir yang kasusnya hingga 
kini tak tentu ujung rimbanya.

Hukum rimba itulah memang yang nyata hadir di bumi persada. Hukum yang 
menghamba sahaya kepada para penguasa dan penyandang dana. Hukum yang lupa akan 
tugas utamanya untuk membawa kabar bahagia kepada siapa saja, tak perduli apa 
posisinya. Hukum yang berbeda perlakuannya ketika berhadapan dengan para elit 
atau kawula alit. Hukum yang tebang pilih kasih. Hukum yang menebas para kopral 
tapi melepas para jenderal. Hukum yang sarat dengan praktik nista mafia 
peradilan.

Karena semua kemunafikan itu, di negeri jamrud khatulistiwa ini sewajibnya 
hadir kekhawatiran nyata. Karena tanpa tindak segera, negeri ini tak akan 
bertahan lama. Negeri yang kaya harta tapi miskin harga diri bangsa. Rasa 
kebangsaan ber-Indonesia berada di persimpangan antara (ti)ada dan tiada. 
Sejujurnya, Indonesia memang kaya tapi terkena kutukan menjadi sudra dunia 
karena tak pernah merasa korupsi itu adalah dosa yang teramat nyata. 

Keterangan Penulis:
Denny Indrayana, Doktor Hukum Tata Negara, Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, 
Direktur Indonesian Court Monitoring.

[Non-text portions of this message have been removed]





****

HELP ME !

Gemuk ? Insomnia ? Phobia ? Psikosomatis ?
Relapse ? Trauma ? Takut ? Cemas ? Sedih ? Depresi ? Stress ?
Kurus ? Marah ? Kebiasaan Buruk ? Pengalaman Negatif ? Dll. ?

di SERVO aja...!

TESTIMONIAL
Dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
 
Hadi (37 tahun)
....... Saya perfeksionis. Ketika Ada pekerjaan yang kurang sempurna hasilnya, 
saya selalu merasa tidak tenang dan tegang. Saya akan menghabiskan hampir 
seluruh waktu saya untuk menyempurnakan dan memikirkan pekerjaan tersebut.
 ...... hasil yang saya rasakan sekarang adalah perasaan lebih gembira. Saya 
merasa lebih rileks menghadapi segala sesuatu yang terjadi, tidak ada lagi 
beban yang berlebihan yang saya rasakan dan saya lebih mudah tersenyum.

Cinthya (23 tahun)
Saya menjalani Servo Therapy demi membenahi insomnia yang saya derita. Biasanya 
saya tidak bisa tidur sebelum memasuki waktu subuh. Setelah diterapi, saya 
mulai bisa tidur dengan teratur, sekitar jam 10 malam.
Terapi kedua dilakukan dua minggu kemudian. Kali ini untuk menyembuhkan fobia 
darah. Biasanya, kalau melihat darah saya langsung tidak tahan dan merasa 
pusing sekali. 
Kini saya sudah menikmati hasilnya setelah diterapi, tidak lagi merasa takut 
dan tidak pusing lagi saat melihat darah. ..............

Kristin (30 tahun)
Pada bulan April 2005 lalu, saya menjalani terapi dengan tujuan ingin 
menurunkan berat badan. Sebelum di Servo, berat badan saya mencapai 71 kg. Saya 
sebelumnya sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak berhasil. Pernah juga 
mencoba mengonsumsi obat untuk melangsingkan tubuh, kemudian berat badan saya 
berhasil turun, namun kembali bertambah berat lagi setelah berhenti 
mengonsumsinya. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba metode ini. ..........
Sekarang, bobot tubuh saya sudah turun menjadi 66 kg. Saya tidak lagi merasa 
tergoda untuk ngemil dan melahap gorengan.

SERVO CENTER - VISI GLOBAL INDONESIA
Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke