Dear all, 
  Ada resensi buku yang memotret tentang konflik Israel-Palestina dalam 
  bentuk novel.  Buku ini baru saja di resensi di Koran Tempo, 6 Agustus 2006 
dan Media Indonesia,7 Agustus 2006, 
  
  Berikut lampiran resensinya. 
  http://www.korantempo.com/korantempo/2006/08/06/Buku/krn,20060806,20.id.html

    Minggu, 06 Agustus 2006

    Menjadi Orang Terbuang di Negeri Sendiri
    I Saw Ramallah; Akhirnya Kulihat Ramallah, 
  
  
  Mourid Barghouti, Pustaka
  Alvabet, Jakarta, 2006
    
  Mourid Barghouti namanya. Dia orang Palestina. Dunia menyebut Mourid
  dan bangsa Palestina kaum naziheen, orang-orang terbuang. Pada musim
  panas 1996, Mourid si terbuang diizinkan melihat Ramallah, tanah
  kelahirannya.
    
  Diizinkan? Ya, laksana orang asing, Mourid harus beroleh izin untuk
  menengok Tanah Air sendiri. Kala melintasi jembatan Sungai Yordania
  yang memisahkan Yordania dan Palestina, tentara Israellah yang
  berwenang memeriksanya, meski di situ ada petugas Palestina. Ironis
  memang. Dan Mourid menggambarkan ironi itu dengan tepat dalam
  otobiografinya ini: "Orang lain masih menjadi tuan di tanah ini."
  Bagi Mourid, keterasingan dan keterbuangan seperti ini laksana
  kematian. "Keterbuangan seperti kematian. Sejak musim panas 1967, aku
  menjadi si asing yang terbuang.... Orang asing adalah orang yang
  senantiasa memperbarui izin tinggalnya.... Dia merupakan orang yang
  selalu ditanya: 'Dan asalmu dari mana, Saudara?' Atau, 'Panaskah musim
  panas di negerimu?'"
    
  Otobiografi Mourid ini bukan otobiografi biasa. Ini otobiografi
  naratif dan puitis sekaligus liris dari seorang penyair. Ia patut
  disebut karya sastra. Karena itulah, otobiografi ini beroleh
  penghargaan bergengsi Naguib Mahfouz Medal for Literature. Simaklah
  narasi Mourid nan puitis lagi liris ketika dia memasuki Ramallah yang
  dicaplok Israel:
  Gerbang-gerbang pengasingan dibukakan untuk kami dari arah yang yang
  asing! 
  
    
  Arah yang menuju negeri kami sendiri, bukan ke negeri orang lain.
  Aku berdiri di atas debu tanah ini. Di atas tanah bumi ini.
  Negeriku memangkuku. 
  Mourid kuliah di Fakultas Sastra Universitas Kairo, Mesir. Kala itu,
  tepatnya pada 1967, pecah perang Arab-Israel. Israel unggul dan itulah
  awal keterbuangannya, keterasingannya, serta ketercerabutannya dari
  akar Palestina.
    
  Republik Arab-Mesir sendiri bukanlah negeri yang seratus persen
  bersahabat dengan Mourid. Pemerintah Mesir menganggap Mourid sebagai
  penyusup. Itu hanya karena Mourid dan istrinya, Radwa, pernah
  bergabung dalam aksi duduk mahasiswa yang menentang kebijakan Presiden
  Anwar Sadat, yang pada 1973 berdamai dengan Israel.
  Pada suatu Lebaran, polisi Mesir merenggut Mourid dari istrinya, Radwa
  Ashour, dan anaknya, Tamim, yang berusia lima bulan. Dari Mesir,
  Mourid dideportasi ke Bagdad. Dari Bagdad dia ke Beirut, ke Budapest,
  ke Amman, lalu ke Kairo lagi. Selama 30 tahun pengembaraannya, dia
  tidak tahu apakah dia seorang pelancong, pengungsi, tamu, atau warga.
  Setelah bertahun-tahun berkelana, Mourid akhirnya melihat Ramallah.
  Saat berada di Ramallah inilah, Mourid menjalin otobiografinya melalui
  berbagai kenangan yang terserak selama puluhan tahun: tentang
  ketenteraman Ramallah di masa kanak-kanaknya, tentang kematian
  misterius kakaknya--Mounif Barghouti--di pengasingan, tentang
  pembunuhan sahabat-sahabat senimannya, serta tentang muslihat bahasa
  Israel.
    
  Mourid mengingat kata per kata muslihat bahasa Perdana Menteri Israel
  Yitzhak Rabin. Lewat muslihat bahasa itu, Rabin berhasil mengaburkan
  kebenaran, membalik kenyataan. Kala itu, di Taman Gedung Putih, Rabin
  berkata, "Kami menjadi korban perang dan kekerasan. Kami tak pernah
  mengenal tahun atau bulan di mana para ibu tak meratapi
  putra-putranya." Bagi Mourid, lewat muslihat bahasa itu, Rabin telah
  mengambil semuanya, bahkan kisah kematian orang-orang Palestina.
    
  Mourid sadar bukan cuma sejarah penderitaan bangsa Palestina yang
  dengan leluasa bisa diputarbalikkan oleh Israel. Mourid sadar,
  sejarah, di mana pun, ditulis oleh yang berkuasa. "... Maka
  panah-panah orang Red Indians akan jadi asal muasal kriminalitas dan
  bedil-bedil orang kulit putih pun seluruhnya akan dipandang sebagai
  korban.... Si kulit hitam yang marah kepada si kulit putih menjadi
  barbarian. ... Gandhi pun dipandang bertanggung jawa atas pelbagai
  tragedi orang Inggris.... Orang-orang Vietnam yang hangus pun akan
  melukai kemanusiawian bom napalm.... Lagu-lagu Victor Jara akan
  menjadi hal memalukan, dan bukan peluru-peluru Pinochet yang telah
  membunuh puluhan ribu orang di Stadion Santiago...," tulis Mourid.
    
  Lewat narasi-narasi dalam otobiografi ini, Mourid jelas hendak menolak
  dan melawan sebab keterbuangannya. Tapi Mourid sepertinya sadar bahwa
  dia tak sepenuhnya mampu menolak keterbuangan itu. Dia sadar bahwa dia
  hanya beralih dari satu keterbuangan ke keterbuangan berikutnya.
  "Cukuplah bagi seseorang mengalami ketercerabutan yang pertama, untuk
  menjadi tercerabut selamanya," tulis Mourid lagi.
    
  Mourid memang terkesan pesimistis dalam otobiografinya ini. Tapi itu
  sangat manusiawi dan realistis. Ketercerabutan bangsa Palestina bahkan
  masih terjadi hingga kini. Mourid tidak tahu sebabnya. Di bagian akhir
  otobiografinya, Mourid menulis:
  Apa yang mencabut jiwa dari warna-warninya?
  Apa selain peluru para penyerbu yang menembus jasad itu? USMAN KS,
  JURNALIS TELEVISI.
  
  
      Media Indonesia, Senin 7 Agustus 2006 
  CATATAN HARIAN ORANG TERBUANG 
  
    I Saw Ramallah; Akhirnya Kulihat Ramallah, Mourid Barghouti, Pustaka
  Alvabet, Jakarta, 2006
    
  SEJARAH tentang pendudukan tak pernah meninggalkan kenangan manis.
  Bahkan pendudukan selalu menyisakan kegelapan, dan kengerian, seperti
  segumpal kabut yang sulit disingkap bagi penduduk suatu negeri yang kalah.
  Tak ada kebebasan dan klaim sebagai tanah jajahan, tak jarang membuat
  'bulu kuduk berdiri' serta masa depan bangsa pun menjadi samar-samar,
  tidak jelas dan tak tentu. Anak-anak kecil menjadi telantar dan
  wanita-wanita tidak berdosa pun kerap menjadi korban. Lebih tragis,
  sebagian warga negeri yang kalah bahkan harus terusir dari tanah
  kelahiran dan terpisah dari keluarga.
    
  Nasib tragis itulah yang dialami oleh Mourid Barghouti ketika Israel
  mencaplok negeri Palestina, sejak 5 Juni 1967. Praktis, sejak itu
  Palestina seperti tidak lagi menjadi miliknya. Palestina tak seperti
  tanah kelahiran yang menyimpan masa kanak-kanak dan remaja Mourid.
  Karena Israel dengan sewenang-wenang telah mencegah ratusan pemuda
  Palestina yang berada di luar negeri pulang ke Palestina, termasuk
  dirinya yang saat itu sedang kuliah di Universitas Kairo. Akibatnya,
  ia menjadi orang naziheen (terbuang). Tak diizinkan masuk ke
  negerinya, terpisah dari keluarga dan selalu berpindah tempat tinggal.
  Setelah mengalami duka lara akibat dilarang pulang dan akhirnya bisa
  berkumpul kembali ke Palestina, dia mengisahkan perjalanan getir
  selama tiga puluh tahun sebagai orang terbuang itu dalam buku I Saw
  Ramallah.
    
  Sebuah catatan perjalanan yang penuh kengerian, kecemasan dan
  ketakmenentuan tentang perjalanan hidupnya yang dibayang-bayangi
  kerinduan, juga ketakutan. Karenanya, ketika dia diizinkan
  menyeberangi jembatan kayu yang memisahkan antara Palestina dan Amman
  (Yordania), ia menjadi tertegun. Dalam perjalanan pulang ke kota
  Ramallah, Palestina yang telah ditinggalkan selama tiga puluh tahun,
  seperti sebuah tempat yang tak lagi ia kenali kecuali kenangan dan
  secuil ingatan di masa remaja dulu.
    
  Hati Maurid tersayat. Palestina yang dulu dibayangkan dalam 'ingatan'
  masa remaja, rupanya tinggal menjadi gagasan tentang Palestina.
  Palestina yang dulu diselimuti oleh pepohonan dan semak-semak serta
  bunga liar, telah menjadi tandus dan telanjang. Apalagi setelah ia
  tiba di Ramallah dan bertemu dengan Abu Hazim, tak ada yang terlintas
  dalam benak Mourid kecuali keinginan untuk membangun dan memajukan
  Palestina.
    
  Buku catatan perjalanan orang naziheen ini memang cukup mencekam
  sekaligus menggelisahkan. Tidak salah jika buku ini tidak lebih dari
  goresan luka, kegetiran hidup, kerunyaman nasib dan malapetaka akibat
  dari pendudukan Israel. Dipenuhi dengan bahasa puitis yang menyentuh,
  catatan perjalanan dari seorang penyair asal Palestina yang berpisah
  dari keluarga dan terbuang selama tiga puluh tahun ini, boleh
  dikatakan sepenggal kisah tentang penderitaan dan ketertindasan warga
  Palestina.
    
  Walau mencekam, Mourid menuangkan kisah itu dengan bahasa subtil dan
  tidak dilaburi dengan dendam kesumat yang membarakan api dendam. Ada
  goresan kemanusiaan meski dari cerita yang dituangkan itu diliputi
  dengan ketersiksaan. 
  Nur Mursidi, cerpenis dan pengelola blog sastra
  
  
        
                      

http://asia.groups.yahoo.com/group/bintangpelajar/
“Tiada hari tanpa belajar, tiada prestasi tanpa dikejar”
                
---------------------------------
 All New Yahoo! Mail – Tired of [EMAIL PROTECTED]@! come-ons? Let our SpamGuard 
protect you.

[Non-text portions of this message have been removed]



*****

HELP ME !

1. Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan karyawan Anda menurun ? di 
ServoPower aja !

Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, 
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta 
Bisnis, Edisi  41 / III / Agustus 2005. 

2. Anda ingin rekrut SDM yang Kompeten dan Bersemangat tinggi ? di 
ServoRecruitment aja ! 

3. Anda mencari Partner Kerja, Pembicara / Narasumber, Personal Coach,  
Motivator tentang Manajemen Diri, Pemrograman Prestasi, ServoPower, 
ServoTherapy, HypnoTherapy ? di ServoCenter aja ! 

4. Anda pengen menghilangkan Hambatan Sukses seperti Insomnia ? Trauma ? Phobia 
? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? 
Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ? di ServoTherapy 
aja !

Testimonies pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 
52. Klik aja >>>http://servocenter.blog.com/ServoTestimonies/<<<

5. Anda pengen belajar Hipnotis ? atau menjadi seorang ServoTherapist ? atau 
menjadi pemilik Klinik Servo ? di ServoCenter aja ! 

6. Anda pengen memberi hadiah kepada Karyawan Anda, Staf Anda ataupun orang 
yang Anda sayangi ? di ServoPrint aja !

Print-out artikel ini atau teruskan keberadaan milis ini !

*****

SERVO CENTER
Pusat Pelatihan Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257

Anda pengen Solusi, di SERVO CENTER aja !
Klik aja >>>http://servocenter.blog.com/<<<

*****

HELP YOU !

1. Anda ingin berbagi pengalaman tentang keberhasilan Anda mengatasi masalah ? 
Klik aja >>>http://servocenter.blog.com/817488/#cmts<<<

2. Anda ingin Testimonial / Kesaksian tentang ServoPower/ServoTherapy ? Klik 
aja >>>http://servocenter.blog.com/760208/#cmts<<< 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke