Penyimpangan Perilaku Versus Perubahan Nilai Ditulis oleh: Drs.Juswan Setyawan
[Suatu tanggapan terhadap ide perlu tidaknya Psikologi khas Asia untuk Asia.] Pembahasan soal "local based psychology" (psikologi khas Asia untuk Asia) pada APsyA di Bali yang lalu adalah cerminan perbedaan pendapat yang mendasar tentang substansi tri-matra manusia dan karenanya tentang akar masalah serta tata cara penganggulangannya. Umpamanya saja sebagai contoh, akan mampukah para psikolog mengubah the so called "penyimpangan perilaku" Imam Samudra atau Amrozi, walaupun mereka katanya telah mampu mengidentifikasi "skema kognitif" dari para teroris. Saya rasa masih jauh panggang dari api apalagi untuk memberantas calon teroris di Indonesia. Cara termudah bagi psikolog untuk mengelak tugas itu ialah dengan memakai dalih bahwa pekerjaan mengubah perilaku seseorang yang memiliki "penyimpangan perilaku" ialah tugas para psikiater. Para psikiater pada gilirannya dapat pula berdalih, pasien psikiatris akan mampu berubah kalau mereka sendiri mau berubah. Nah, di sinilah diketemukan "causa prima' sekaligus "causa curationis" yaitu "kemauan untuk berubah" (volition to change) yang termasuk wilayah rohani manusia dan bukan lagi wilayah matra kejiwaan manusia. Mengapa hal ini menjadi masalah yang pelik? Jawabannya ialah karena orang hampir selalu sukar untuk membedakan antara matra kejiwaan (psyche) manusia dengan matra ruh (spirit) manusia. Dan kecenderungannya ialah bahwa dunia psikologi tidak (dapat) mengambil garis pemisah yang tegas antara keduanya bahkan cenderung untuk menganggapnya keduanya sebagai sama saja. Keduanya memang "tidak dapat dipisahkan" (unseparable) namun bukanlah berarti "tidak dapat dibedakan" (undifferentiable) karena perbedaannya sungguh-sungguh dapat diamati (observable). Penyimpangan perilaku (behavior deviation) tidaklah sama, bahkan secara esensial berbeda dengan "perubahan nilai" (value changes) atau "kekosongan nilai" (value absence). Pada saat psikolog tidak mampu membedakan kedua realitas yang berbeda tersebut maka psikolog - lewat konsultasi psikologisnya - tidak pernah akan mampu mengoreksi "penyimpangan perilaku" tersebut. Kembali ke tema psikologi khas Asia untuk Asia maka pikiran dasar (thinking base) para psikolog itu masih tetap sama. Seorang menjadi teroris bukan karena terjadi suatu "penyimpangan perilaku" (behavior aberration) pada dirinya (itu hanyalah akibat) melainkan karena telah terjadi "perubahan nilai" yang diadopsi atau yang dilepaskannya secara sukarela. Inilah dictum atau credo daripada "value based" thinking yang bukan sekedar "stimulus based" thinking yang dianut oleh para psikolog. Kalau penyimpangan terjadi akibat respons terhadap suatu stimulus tertentu maka penyimpangan itu seharusnya bersifat temporer. Kalau penyimpangan itu bersifat permanen maka penyebabnya haruslah akibat perubahan nilai. Maka dari itu bisa dimengerti mengapa Amrozi dapat terus tersenyum sumringah walaupun terancam hukuman mati dan keluarganya tidak mau mengajukan permintaan amnesti kepada Presiden. Adapun penyebab penyimpangan perilaku maupun perubahan nilai dapat sama-sama terjadi akibat dari suatu "proses pencucian otak" yang terus menerus. Pertama-tama memang baru terjadi "perubahan tingkah" laku tetapi bila dilakukan terus menerus dalam jangka panjang maka akhirnya terjadi "perubahan nilai" seseorang yang lazimnya secara awam disebut "perubahan keyakinan" seseorang. Dan "perubahan keyakinan" selalu menyangkut kemauan bebas manusia yang azasi karena orang mengubah keyakinan lewat kemauan bebasnya "lewat persuasi" (evolusioner ataupun radikal lewat dressur proses cuci otak) dan bukan "lewat paksaan" atau "lewat siksaan". Maka lembaga penjara umumnya tidak mampu mengubah "pilihan nilai" seorang narapidana, akibatnya ia cenderung menjadi recidivist setelah ia bebas dan keluar dari penjara sekalipun. Keberatan lain tentang "localised psychology" ialah bahwa manusia itu di mana pun ia berada memiliki kebebasan memilih nilai yang sama, inheren dan permanen. Contohnya: Pada pengungsi gempa di Bantul telah menampakkan pola reaksi perilaku yang berbeda dengan para pengungsi tsunami di Aceh walaupun kedua kelompok masyarakat itu sama-sama memandang gempa sebagai sunatullah. Apakah komunitas manusia Aceh berbeda sebagai manusia dengan komunitas manusia Bantul? Maka di sini berlaku pula credo "value based thinking" bahwa tidak ada yang dinamakan stereotype perilaku massa (dan penyimpangan perilaku) yang bersifat homogen. Tidak ada yang namanya "collective value" yang homogen. Yang ada ialah kecenderungan suatu masyarakat tertentu (collective cult) untuk mengadopsi nilai-nilai tertentu yang kebetulan sama secara tidak langsung dan secara pribadi tetapi ke arah sasaran nilai yang sama. Pasrah dan sumeleh itu konsep yang sama sekali berbeda walaupun qua value keduanya kebetulan homonim dalam bahasa Indonesia. Pasrah dapat saja bersifat indifferent tetapi sumeleh bersifat positif. Maka dengan nilai sumeleh alih-alih berwajah muram durja (secara psikologis dapat dimaklumi) orang Bantul dapat tetap saja menampakkan wajah yang sumringah walaupun kondisinya sungguh-sungguh amat memprihatinkan. Mereka masih dapat "menertawakan kemalangan" mereka dan tetap dapat guyonan dan gojekan antara sesama mereka . Bahkan masih mampu memakai momentum itu untuk mengritik para elit penguasa yang suka mengumbar janji tanpa realisasi nyata dengan memperingatkan mereka supaya mengendalikan "cangkem mbacot" mereka sesuai falsafah "sabdha panditha ratu" yang mereka anut. Seorang mantan kepala perawat - sahabat saya menceritakan bagaimana ia ikut terjun merawat para korban gempa itu di kampungnya. Ia menyapa dan merangkul mereka, memberikan mereka obat-obatan secara gratis dan menjejalkan satu dua lembar ribuan rupiah kumal ke jarik nenek-nenek yang benar-benar tak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi itu. Ternyata reaksi mereka terhadap perlakuan dengan komunikasi empati tersebut telah membuat mereka demikian tersentuh dan terharu sehingga mereka mungkin memandang dia (kebetulan beretnik Cina) sebagai penjelmaan dari Dewi Kwan Im sendiri atau hal hal semacam itu. Pada saat pengungsi Aceh diperlakukan secara sama maka reaksinya juga akan sama sehingga tidak perlu adanya psikologi lokal kecuali mungkin psikologi yang lebih empatik. Manusia secara esensial adalah manusia seutuhnya di mana pun ia berada entah ia bermukim di Asia atau Amerika. Pengaruh lingkungan terhadap perilaku memang tidak dapat disangkal. Namun, pada tingkat adopsi nilai yang kemudian dibungkus ke dalam prinsip hidup jangka panjang maka manusia tetap memilih dengan kemauan bebasnya. Atas dasar pemikiran itu maka rencana perumusan psikologi khas Asia untuk Asia itu boleh-boleh saja namun tidak akan banyak mengubah keadaan bila masih belum mampu membedakan masalah "penyimpangan perilaku" di satu pihak dengan "kekosongan nilai" pada pihak lainnya. Bagaimanapun juga bukankah masalah nilai adalah masalah spiritual yang di luar kawasan dan jangkauan dunia psikologi, kecuali termasuk kancah "psikologi moral" barangkali? Bagaimana kalau alih-alih malah diusulkan pembentukan Fakultas Psikologi Nilai misalnya? Jakarta, 23 Agustus 2006. Mang Iyus (Pengamat Value System dan Kompatiologi) Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com ***** HELP ME ! 1. Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan menurun ? Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta Bisnis, Edisi 41 / III / Agustus 2005. 2. Kemana mencari SDM yang Kompeten dan Antusias ? 3. Kemana mencari Narasumber / Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ? 4. Siapa yang dapat menjadi Pelatih Pribadi (Personal Coach) serta memprogram Prestasi Karir / Profesi ? 5.Kemana menghilangkan Hambatan Sukses seperti Insomnia ? Trauma ? Phobia ? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ? Testimonies pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52. Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<< ***** SERVO CENTER Pusat Pemrograman Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148. 021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257 Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi : 1. Radio MSTRI 104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00 2. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00 Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan >>>http://servocenter.wordpress.com/<<< Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
