----- Original Message ----- 
From: Iman 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Adhiyasa (E-mail) ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Sim Leony (E-mail) ; 
[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, August 05, 2006 10:11 AM
Subject: Cerita yg memberi inspirasi...



  TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA
  Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah 
perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada 
pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan 
penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.Pemilik perusahaan merasa sedih 
kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu 
tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk 
menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia 
merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. 

   Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan 
bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh 
tuannya.Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus 
mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. 

  Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia 
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. 

  'Ini adalah rumahmu, ' katanya, 'hadiah dari kami.' Betapa terkejutnya si 
tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa 
ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan 
mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di 
sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri. 
  Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita 
yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung 
jawab.Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. 
Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang 
terbaik. 

  Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan 
dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. 

  Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini 
dengan cara yang jauh berbeda. 

  Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan 'rumah' yang sedang 
kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding 
dan atap. Mari kita selesaikan 'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah 
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.   


  Empat Rahib Memecah Kesunyian
  Empat orang rahib memutuskan berdiam diri selama satu bulan. Mereka 
memulainya dengan penuh semangat, tetapi setelah satu hari salah seorang dari 
mereka berkata, "Aku lupa apakah sudah mengunci pintu sel di biara sebelum kita 
berangkat," 

  Yang lainnya berkata, "Bodoh engkau! Kami sudah mau diam satu bulan dan 
sekarang engkau membatalkannya." 

  Rahib ketiga berkata, "Engkau bagaimana? Engkau batal juga!" 

  Yang keempat, "Puji Tuhan, sayalah satu-satunya yang belum berbicara." 


  Kesabaran Belajar
  Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya 
untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak 
muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu 
memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui 
permintaannya. "Datanglah ke sini besok pagi." katanya. 

  Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas 
tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu 
meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore. 

  Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam 
batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. 
Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima. 

  Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, "Guru, kapan 
saya akan diajarkan sesuatu?" 
  Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, "Akan tiba saatnya nanti," dan kembali 
meneruskan pekerjaannya. 

  Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata 
itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda 
frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi 
ketika batu itu diletakkan di atas tangannya, anak muda itu langsung berkata, 
"Ini bukan batu yang sama!" 

  "Lihatlah, kamu sudah belajar," kata gurunya. 


  Dokter Mulia 

  Suatu ketika ada seorang dokter yang mendirikan klinik gratis untuk mereka 
yang tidak mampu. Suatu hari, ada orang menghambur ke dalam klinik itu dengan 
membawa berita bahwa putra bungsu dan kesayangan sang dokter baru saja 
meninggal. Meski sangat perih hatinya, sang dokter berpikir sejenak, dan 
setelah tenang kembali ia memutuskan untuk terus melayani pasiennya. 

  Orang-orang yang kemudian mengetahui kejadian ini, agak kaget dengan sikapnya 
yang tidak begitu peduli itu. Ketika ditanya, ia menjawab, "Putraku telah mati, 
aku tidak dapat berbuat apa-apa soal itu. Tapi orang-orang ini yang bahkan 
tidak mampu untuk membayar, memerlukan pertolonganku. Aku tahu aku bisa berbuat 
sesuatu untuk mereka. Tidakkah lebih baik jika aku mengatasi rasa sedihku dan 
tetap membantu mereka yang berada dalam kesusahan ini?" 


  Kita Tidak Miskin 

  "Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah 
itu, Bu?" 

  "Tidak, kita tidak miskin, Aiko" 

  "Apakah kemiskinan itu?" 

  "Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang 
lain." 

  "Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat 
kita berikan?" 

  "Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita 
memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat 
tempat menginap kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur." 

  "Kita menjadi bersempit-sempitan" 

  "Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga 
Watari, bukan?" 

  "Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya 
apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain." 

  "Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang 
lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu." 

  "Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan 
cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka 
cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah. Juga cerita-cerita 
Alkitab dari Sekolah Minggu." 

  "Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar 
cerita." 

  "Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!" 


  [ Disadur dari Audrey McKim: Aiko and Her Cousin Kenichi, terjemahan: Kita 
Tidak Miskin, YKBK/OMF - sebuah buku cerita ringan yang inspiratif] 

  Moral dr cerita2 di atas ,
  Nampaknya yang perlu ditanyakan bukanlah "Apakah saya punya?", karena kita 
pasti mempunyai sesuatu. Melainkan "Apakah yang saya punya?" yang bisa 
diberikan -waktu, perhatian, cerita, tenaga, makanan, tumpangan, uang, ... 
Pertanyaannya bukanlah "Seberapa saya punya?", karena kekayaan sejati lebih 
ditentukan oleh "Seberapa saya memberi?" 



IMPORTANT NOTICE:
This email may be confidential, may be legally privileged, and is for the 
intended recipient only.  Access, disclosure, copying, distribution, or 
reliance on any of it by anyone else is prohibited and may be a criminal 
offence.  Please delete if obtained in error and email confirmation to the 
sender.



IMPORTANT NOTICE:
This email may be confidential, may be legally privileged, and is for the 
intended recipient only.  Access, disclosure, copying, distribution, or 
reliance on any of it by anyone else is prohibited and may be a criminal 
offence.  Please delete if obtained in error and email confirmation to the 
sender.

[Non-text portions of this message have been removed]






*****

HELP ME !

1. Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan Karyawan Anda menurun ? 

Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, 
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta 
Bisnis, Edisi  41 / III / Agustus 2005. 

2. Kemana mencari SDM yang Kompeten dan Antusias ?

3. Kemana mencari Narasumber / Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan 
Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ?

4. Siapa yang dapat menjadi Pelatih Pribadi (Personal Coach) serta memprogram 
Prestasi Karir / Profesi ? 

5.Kemana menghilangkan Hambatan Sukses seperti Insomnia ? Trauma ? Phobia ? 
Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? 
Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ?

Testimonies pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 
52. Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<<

*****

SERVO CENTER
Pusat Pemrograman Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257

Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi :

1. Radio MSTRI  104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00
2. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00
   Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan

>>>http://servocenter.wordpress.com/<<< 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke