Membicarakan tentang IBU? Kita harus bijaksana dan sangat hati-hati, sebab
surga ada di telapak kakinya.
Oh Ibu ....
Engkau adalah insan yang termulia di muka bumi ini
Jasamu tiada terkira, terlebih hanya memberi dan tak pernah meminta
Dekapan kasih sayang dan tutur katamu nan lembut adalah penyejuk hatiku
Terlampir sebuah cerpen di bawah.
LA.
Menu Makan Malam
Cerpen Kadek Sonia Piscayanti
Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
Ibu bersumpah untuk membangun keluarganya di atas meja makan. Ia terobsesi
mewujudkan keluarga yang bahagia melalui media makan bersama. Maka, ia
menghabiskan hidupnya di dapur, memasak beribu-ribu bahkan berjuta-juta menu
makanan hanya untuk menghidangkan menu masakan yang berbeda-beda setiap
harinya. Ia memiliki jutaan daftar menu makan malam di lemari dapurnya. Daftar
itu tersusun rapi di dalam sebuah buku folio usang setebal dua kali lipat
kamus besar Bahasa Indonesia, berurut dari menu masakan berawal dengan huruf A
hingga Z. Ia menyusun sendiri kamus itu sejak usia perkawinannya satu hari
hingga kini menginjak usia 25 tahun. Di sebelah kamus resep masakan itu,
bertumpuk-tumpuk pula resep masakan dari daerah Jawa, Madura, Padang, bahkan
masakan China. Belum lagi kliping resep masakan dari tabloid-tabloid wanita
yang setebal kamus Oxford Advanced Learner.
Isi kepala Ibu memang berbeda dengan ibu lain. Dalam kepalanya seolah hanya
ada tiga kata, menu makan malam. Setiap detik, setiap helaan napasnya,
pikirannya adalah menu-menu masakan untuk makan malam saja. Makan malam itulah
ritual resmi yang secara tersirat dibikinnya dan dibuatnya tetap lestari
hingga saat ini. Meskipun, ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia tak pernah
surut mempersiapkan makan malam sedemikian rupa sama seperti ketika ia
melakukannya pertama, sejak usia pernikahannya masih satu hari.
Keluarga ini tumbuh bersama di meja makan. Mereka telah akrab dengan
kebiasaan bercerita di meja makan sambil menikmati menu-menu masakan Ibu.
Mereka berbicara tentang apa saja di meja makan. Mereka duduk bersama dan
saling mendengarkan cerita masing-masing. Tak peduli apakah
peristiwa-peristiwa itu nyambung atau tidak, penting bagi yang lain atau
tidak, pokoknya bercerita. Yang lain boleh menanggapi, memberi komentar atau
menyuruh diam kalau tak menarik. Muka-muka kusut, tertekan, banyak masalah,
stres, depresi, marah, kecewa, terpukul, putus asa, cemas, dan sebagainya,
bisa ditangkap dari suasana di atas meja makan. Sebaliknya muka-muka ceria,
riang, berseri, berbunga-bunga, jatuh cinta, juga bisa diprediksi dari ritual
makan bersama ini. Ibu yang paling tahu semuanya.
Ia memang punya kepentingan terhadap keajegan tradisi makan bersama ini.
Satu kepentingan saja dalam hidupnya, memastikan semua anggota keluarganya
dalam keadaan yang ia harapkan. Bagi Ibu, sehari saja ritual ini dilewatkan,
ia akan kehilangan momen untuk mengetahui masalah keluarganya. Tak ada yang
bisa disembunyikan dari momen kebersamaan ini. Dan kehilangan momen itu ia
rasakan seperti kegagalan hidup yang menakutkan. Ia tak mau itu terjadi dan ia
berusaha keras untuk membuat itu tak terjadi.
Ia tak berani membayangkan kehilangan momen itu. Sungguh pun tahu, ia pasti
menghadapinya suatu saat nanti, ia merasa takkan pernah benar-benar siap untuk
itu. Yang agak melegakan, semua anggota keluarganya telah terbiasa dengan
tradisi itu dan mereka seolah menyadari bahwa Ibu mereka memerlukan sebuah
suasana untuk menjadikannya "ada". Semua orang tahu dan memakluminya. Maka
semua orang berusaha membuatnya merasa "ada" dengan mengikuti ritual itu.
Namun, kadang beberapa dari mereka menganggap tradisi ini membosankan.
***
Jam empat pagi. Ibu telah memasak di dapur. Ia menyiapkan sarapan dengan
sangat serius. Ibu tak pernah menganggap memasak adalah kegiatan remeh. Ia tak
pernah percaya bahwa seorang istri yang tak pernah memasak untuk keluarganya
adalah seorang Ibu yang baik. Jika ada yang meremehkan pekerjaan memasak, Ibu
akan menangkisnya dengan satu argumen: masakan yang diberkahi Tuhan adalah
masakan yang lahir dari tangan seorang Ibu yang menghadirkan cinta dan kasih
sayangnya pada setiap zat rasa masakan yang dibikinnya. Ibu meyakini bahwa
makanan adalah bahasa cinta seorang Ibu kepada keluarganya, seperti jembatan
yang menghubungkan batin antarmanusia. Sampai di sini, anak-anaknya akan
berhenti mendengar penjelasan yang sudah mereka hapal di luar kepala. Ibu
takkan berhenti bicara kalau kedamaiannya diusik. Dan yang bisa
menghentikannya hanya dirinya sendiri.
Sarapan tiba. Ibu menyiapkan sarapan di dapur. Ia menyiapkan menu sesuai
dengan yang tertera di daftar menu di lemari makanan. Telur dadar, sayur hijau
dan sambal kecap. Ada lima orang di keluarganya. Semua orang memiliki selera
berbeda-beda. Suaminya suka telur yang tak matang benar, agak asin, tanpa
cabe. Aries suka telur yang benar-benar tergoreng kering, dan harus pedas.
Pisca, suka makanan serba manis. Telur dadarnya harus setengah matang dengan
kecap manis dan sedikit vitsin. Sedangkan Canestra, tak suka pada kuning
telur. Sebelum didadar, kuning telur harus dipisahkan dulu dari putihnya. Jika
tidak dibuatkan yang sesuai dengan pesanannya, ia bisa mogok makan.
Berhari-hari.
Bagaimana dengan Ibu? Ibu bahkan tak pernah macam-macam. Telur dadarnya
adalah yang standar, tidak ada perlakuan khusus. Ia boleh makan apa saja, yang
penting makan, jadilah.
Pukul 07.05. Telur dadar setengah matang asin, telur dadar pedas, telur
manis dengan vitsin, dan telur tanpa kuning, berikut sayur hijau dan sambal
kecap telah terhidang. Semua telah menghadapi hidangan masing-masing sesuai
pesanan. Makan pagi biasanya tak ada yang terlalu banyak bicara. Semua sibuk
dengan rencana masing-masing di kepalanya. Kelihatannya, tak ada yang ingin
berbagi. Aries kini sudah bekerja di sebuah kantor pemerintah, menjadi tenaga
honor daerah. Ia harus tiba di kantor setidaknya pada tujuh dua lima, karena
ada apel setiap tujuh tigapuluh. Pisca harus ke kampus. Ia duduk di semester
tujuh kini. Tampaknya sedang tak bisa diganggu oleh siapa pun. Wajahnya
menunjukkan demikian. Mungkin akan bertemu dengan dosen pembimbing atau entah
apa, tapi mukanya keruh. Mungkin banyak persoalan, tapi Ibu cuma bisa
memandang saja. Sedang Canestra masih di SMA. Ia tampak paling santai.
Tangannya memegang komik. Komik Jepang. Makan sambil membaca adalah
kebiasaannya. Sang Bapak, duduk diam sambil mengunyah makanan tanpa bersuara
dan tanpa menoleh pada yang lain. Pria yang berhenti bekerja beberapa tahun
lalu itu tampak lambat menyelesaikan makannya. Ia menikmati masakan itu, atau
tidak peduli? Tak ada yang tahu.
Satu per satu mereka meninggalkan ruang makan. Hanya piring-piring kotor
yang tersisa di meja makan. Ibu membawanya ke dapur, mencuci piring-piring itu
sampai bersih dan mengelap meja makan. Ritual berikutnya adalah menyerahkan
anggaran belanja ke pasar hari itu kepada suaminya. Saat-saat inilah yang
paling ia benci seumur hidupnya. Ia benci menerima uang dari suaminya yang
selalu tampak tak rela dan tak percaya.
Akhirnya, memang bahan-bahan menu itu dipangkas seenak udelnya, ia tak mau
tahu apa pun. Ujung-ujungnya ia cuma memberi sepuluh ribu saja untuk semua
itu. Tentu saja kurang dari anggaran yang seharusnya, dua puluh ribu. Untuk
itu semua, maka otomatis menu berubah; tak ada ayam bumbu rujak, tak ada
capcay, yang ada tinggal perkedel jagung dan tempe. Sayur hijau, katanya,
bolehlah. Yang penting sayur, dan murah. Ah
Ibu berjalan ke pasar dengan gontai. Hari itu Jumat. Hari pendek. Anak-anak
akan pulang lebih cepat dari biasa. Ia mempercepat langkahnya. Tak mudah
membagi waktu, kadang pekerjaan teramat banyaknya sampai-sampai tak ada waktu
untuk melakukan hal lain selain urusan dapur. Kadang ia berpikir ada sesuatu
yang memang penting untuk dilakukan tapi itu akan mengabaikan urusan dapur dan
itu berarti pula mengabaikan selera anak-anaknya. Itu tidak mungkin. Tak ada
yang mengerti selera anak-anaknya kecuali dia.
Tapi kadang ia bosan berurusan dengan menu-menu. Ia telah mencoba semua menu
yang ada di buku-buku masakan, ia telah mencoba semua resep masakan di teve,
dan ia kehabisan ide suatu ketika. Ia mencatat menu-menu yang sudah pernah
dibikinnya. Serba-serbi sambal: sambal goreng krecek, sambal goreng hati,
sambal godog, sambal kentang, sambal bawang, sambal kecicang, sambal serai,
dll. Aneka ca, semacam: ca sawi, ca kangkung, ca bayam, ca tauge, ca bunga
kol, dll. Semua jenis perkedel dan gorengan kering: perkedel ketimun, perkedel
kentang, perkedel jagung, pastel kentang, kroket kentang, dan seterusnya.
Sampai makanan golongan menengah dilihat dari mahalnya bahan pokok semacam:
babi kecap, gulai kare ayam, gulai udang, sate bumbu rujak, opor ayam, sup
kaki ayam dengan jamur tiongkok, dendeng sapi, kepiting goreng. Juga
serba-serbi makanan China semacam: shiobak, koloke, fuyung hai, ang sio hie,
hao mie, tao mie, dan seterusnya. Daftar ini masih akan bertambah
panjang kalau disebutkan serba-serbi pepes, serba-serbi urap, atau
serba-serbi ikan.
Semua menu sudah dicobanya habis tak bersisa, tapi sepertinya masih saja ada
sesuatu yang kurang. Ia pun lebih kerap berkreasi, satu menu masakan
kadang-kadang dipadu dengan menu masakan lain, misalnya pepes tempe, gulai
pakis, sate tahu, dan sebagainya. Tapi masih saja menu-menu itu terasa tak
cukup untuk membuat variasi menu yang berbeda setiap harinya. Karena itulah
yang akan membuat keluarganya betah dan merindukan makan malam.
Ia pernah merasa ingin berhenti saja memikirkan menu-menu itu, tapi suaminya
akan berkata, "Kau telah memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, tidak
bekerja dan melayani keluarga. Bahkan kau bersumpah akan membangun keluarga di
atas meja makan, kenapa tidak kau pikirkan sebelumnya?"
Ibu merenungkan kata-kata suaminya. Ada yang salah terhadap
penilaian-penilaian. Ada yang tak adil di dalamnya. Hampir selalu, yang
menjadi korban adalah mereka yang dinilai, mereka yang tertuduh, mereka yang
melakukan sesuatu tapi dinilai salah dan dianggap biasa-biasa saja. Tapi apa
sesungguhnya yang terjadi dengan biasa dan tak biasa? Apa yang menentukan yang
biasa dan yang tak biasa? Menjadi Ibu adalah sangat luar luar luar biasa.
Apakah seorang ibu rumah tangga yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk
keluarga lebih biasa daripada seorang ibu yang tak pernah sekalipun berpikir
tentang keluarganya, meski ia punya tujuh perusahaan dan kaya raya? Lagipula,
itu cuma perasaan, bukan angka-angka dalam matematika, namanya juga perasaan.
Tercium bau hangus. Ibu tersentak dari lamunannya. Tempenya gosong.
Ia menyudahi goreng-menggoreng tempe itu. Lalu dengan bergegas ia menyambar
sekeranjang cucian kotor, mulai mencuci. Anaknya datang satu per satu. Ibu
belum selesai mencuci. Ia agak tergesa karena harus menyiapkan makan siang
untuk anak-anaknya. Setelah menyiapkan makan siang, ia kembali bekerja,
menyelesaikan cucian.
Makan siang Ibu adalah jam 3 sore. Setelah itu, ia tidur dua jam. Sehabis
jam 5 sore, sehabis tidur siangnya, ia harus menyiapkan makan malam. Sehabis
makan malam, jangan kira ia selesai. Ada Bapak yang setiap hari minta
dipijit, tapi setiap hari mengeluh pijitan Ibu tak pernah mengalami kemajuan.
Ah
Dia melakukannya selama sisa hidupnya. Ia berkutat dengan semua itu selama
puluhan tahun, tak pernah ada yang memujinya, dan ia pun tak ingin dipuji,
tapi itukah yang disebut perempuan biasa?
Suatu ketika, sebuah peristiwa datang mengusik keluarga itu.
Hari itu Selasa, ketika sebuah perubahan memperkenalkan dirinya kepada
keluarga itu. Aries menolak makan bersama. Ia tentu punya alasan di balik aksi
mogoknya. Tapi tak ada yang tahu apa alasan Aries.
Ibu kecewa. Menu makan malamnya tak dicicipi selama tiga hari
berturut-turut. Ini adalah beban mental bagi seorang Ibu. Ia bukanlah orang
yang suka memaksa, tapi selalu membaca dari tanda-tanda dan suka juga
menebak-nebak. Sialnya, Aries tak pernah memiliki cukup waktu untuk
menjelaskan semua itu. Ia tampak begitu sibuk. Kadang ia bahkan terlihat
menyibukkan diri, menghindar dari Ibu. Ia menomorduakan ritual makan malam
mereka. Ibu menangis, ia merasa segala usahanya untuk membangun tradisi makan
malam ini sia-sia saja. Salahkah jika ia berusaha membikin sesuatu yang kelak
retak menjadi abadi? Mungkin memang salah, tapi dulu tak seorang pun cukup
berani menunjukkan di mana letak salahnya, tak seorang pun tega mengecewakan
Ibu. Tapi Aries, kini telah membuatnya kecewa secara nyata.
Suasana menjadi semakin keruh ketika di hari kelima, keenam dan ketujuh,
Aries juga absen makan malam.
Ibu bertindak. Ia masuk ke kamar si sulung, lalu, mungkin, bicara di sana.
Pisca dan Canestra duduk di depan tivi, tidak mendengar apa-apa.
Satu jam kemudian, Ibu keluar dengan wajah murung, tapi dibikin agar
kelihatan berseri. Ia tampak aneh.
"Aku tahu selama ini kita tak pernah jujur dengan makan malam itu.
Satu-satunya yang jujur hanya dia. Kita semua sudah bosan, ya kan? Ibu juga.
Dan mulai saat ini, tidak ada lagi kebohongan apa pun. Tinggalkan saja jika
kalian memang tak setuju. Ibu juga sudah lelah memikirkan menu-menu makan
malam untuk kalian. Ibu ingin merasa tidak perlu menyiapkannya untuk kalian.
Ibu akan mencoba. Selamat bersenang-senang!"
Ibu terlihat enteng menyelesaikan persoalannya. Bapak menyusul Ibu ke
kamar. Mudah-mudahan mereka bercinta. Ah ya mereka sepertinya tak pernah
bercinta lagi sejak beberapa tahun ini. Padahal itu perlu, terutama bagi Ibu
yang lelah luar biasa. Fisik dan jiwa.
Pisca menyelinap masuk ke kamar Aries, meninggalkan Canestra yang masih
asyik nonton tivi. Ia sungguh ingin tahu, apa yang dibicarakan Ibu dan Aries,
sehingga Ibu keluar dengan wajah aneh, murung tapi dipaksakan berseri. Pisca
bertanya, "Ada apa?" Aries tak menjawab, namun tiba-tiba menangis dan
menenggelamkan wajahnya di bawah bantal. Dengan sesenggukan, ia berkata,
"Untuk apa lagi mempertahankan sebuah kepalsuan di depan Ibu? Salah satu dari
kita semua telah mengkhianati Ibu, untuk apa lagi semua ini dipertahankan?"
Pisca menangkap ucapan kakaknya dengan jelas, namun ia tak mengerti, dan tak
ingin mengerti, karena semua itu terlalu menyedihkan baginya. Apalagi yang
lebih menyedihkan ketika tahu seseorang telah berkhianat kepada Ibu? Siapa pun
dia, Pisca tak ingin tahu. Ia tak ingin mendendam, apalagi terhadap
keluarganya sendiri. Tapi, bukankah Ibu selalu tahu apa yang terjadi? Semua
pertanyaan bertumpuk-tumpuk di kepalanya.
Sesuatu yang kelak retak, yang Ibu pernah berusaha membikinnya abadi, kini
sudah benar-benar retak berkeping-keping dan tak mungkin disatukan lagi. Sejak
saat itu, makan malam bersama tidak rutin lagi bagi mereka. Hanya Ibu yang
masih betah di sana. Sesekali Pisca atau Canestra mendampinginya. Mungkin tiba
saat ketika ia benar-benar rindu makan malam bersama.
Sialnya, Bapak benar-benar tak memahami persoalan dengan baik. Ia sok bijak
dan pandai. Kata-katanya sungguh tak tepat untuk menggambarkan seluruh
keadaan ini.
"Benar kan, Ibumu memang perempuan biasa-biasa saja. Ia bahkan menganggap hal
remeh ini sebagai kiamat dalam hidupnya!"
Pisca meradang. Ia merasa Bapak yang sombong itu harus dihentikan.
"Apa yang biasa? Apa yang tak biasa? Bapak juga laki-laki biasa, yang tak
bisa seperti Ibu. Bapak jauh lebih biasa dari Ibu. Ibu, setidaknya berusaha
membikin tradisi agar kita tahu arti kebersamaan sekalipun di atas meja makan.
Tapi lihatlah Bapak yang hanya suka mengejek tapi tak pernah melakukan apa
pun, bahkan tak pernah berusaha melakukan apa pun!"
Bapak diam. Dia kelihatan tersinggung. Tapi Pisca suka dan puas membuatnya
tersinggung. Pisca memutuskan untuk menemui Ibu. Ibu menyambutnya dengan
senyum. Ia tahu Pisca akan berbicara soal Bapak, soal biasa dan tak biasa. Ibu
mencegahnya bicara lebih dulu, "Begini. Bapak benar soal Ibu yang biasa-biasa
saja. Ini sudah seharusnya. Ibu menerima semua itu, bukan karena Ibu pasrah
tapi Ibu mengerti betul kalian semua dan juga persoalan ini. Ibu memang
perempuan biasa, tak ingin menjadi yang tak biasa. Ibu mencintai Bapak, kalian
semua. Ibu tak bisa memberi uang, maka Ibu cuma memberi kemampuan Ibu memasak,
itu pun jika kalian mau menikmatinya."
"Tapi Bu, ini penghinaan. Masalah makan malam itu bukan masalah sekadar,
bukan masalah remeh temeh. Sebesar itu usaha Ibu membangun tradisi kebersamaan
di keluarga kita, tapi Bapak bahkan menganggapnya tak ada. Kita belajar satu
sama lain di meja makan itu, kita memutuskan hidup kita di atas meja makan
itu, dan ingat, ketika Bapak berhenti bekerja di kantor karena penyelewengan
dana yang sangat memalukan itu, yang menolong Bapak adalah kita, juga di atas
meja makan itu."
"Bapak kini sedang merasa kesepian, ia kehilangan saat-saat terbaiknya, itu
hal tersulit yang pernah ditemuinya. Kita harus memahami itu."
Dari beranda, Bapak mendengar semua percakapan itu. Ia berpikir bahwa
istrinya memang baik, pengertian dan sabar, tapi sungguh ia sangat biasa, dan
yang terpenting, tak menggairahkan. ***
Singaraja, 8 November 2005
arie du <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
sekedar renungan ... mohon maaf bila sudah pernah membaca ..
-adu-
Titip Ibuku ya Allah
"Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja..."
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat.
Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang Karyawan disebuah Perusahaan
Tambang., tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
"Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa."
pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Punketika
Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan
kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku.
Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang
fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang
kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk
bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah
membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Bu, maafin aku kalau telah
menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?"
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu
berkata, "Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah
dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan
sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa
kalian lakukan sendiri"
Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani
putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari
sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih
karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan
dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam
usiaku sekarang ?
Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada
Ibu.
Ibu menjawab
"Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian
tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan.
Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu.
Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu.
Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu
kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan
di situlah kebahagiaan orang tua."
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap
"Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang
kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu."
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita
karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari
pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku
seorang yang idealis,
Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang
ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun
dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan
sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...
Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah
membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
"Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat
mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan
kuucapkan "terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati,
ijinkan aku membahagiakan Ibu...".
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu... Aku
masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti
kebahagiaan buat Dirimu..
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "aku
sayang padamu... ", namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan
rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo
kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Ibu dan ayah
walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.
Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
Wallaahua'lam
"Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu..."
dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul
khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia
menyayangi aku selagi aku kecil"
"Titip Ibuku ya Allah"
---------------------------------
Get your email and see which of your friends are online - Right on the new
Yahoo.com
http://asia.groups.yahoo.com/group/bintangpelajar/
Tiada hari tanpa belajar, tiada prestasi tanpa dikejar
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
*****
1. Anda ingin meningkatkan Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan
Karyawan Anda ?
Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO,
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta
Bisnis, Edisi 41 / III / Agustus 2005.
2. Anda mencari Narasumber / Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan
Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ?
3. Anda mencari Penasihat Karir, Pelatih Pribadi (Personal Coach) ?
4. Anda ingin menghilangkan Hambatan Sukses Anda seperti Insomnia ? Trauma ?
Phobia ? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ?
Depresi ? Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ?
Testimonies di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<<
*****
Hubungi Sdr. Iwan S. di :
(021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257
SERVO CENTER
Pusat Pemrograman Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
>>>http://servocenter.wordpress.com/<<<
*****
1. Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi :
a. Radio MSTRI 104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00
b. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00
Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan
2. Anda ingin mengkonsultasikan masalah Pribadi Anda ?
Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/140/<<<
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/