Siapa yang Memutuskan?



Seorang sahabat yakin betul bahwa dia bisa mendapatkan yang diinginkannya, 
bahkan menentukan nasib orang sesuai yang diinginkannya. Dia sangat percaya, 
tidak akan ada yang bisa menahan keberhasilan apabila telah berusaha keras. 
Baginya, sukses seseorang seperti menyusun bata demi bata; semakin kuat 
berusaha maka semakin tinggi bata yang disusun, semakin tinggi pula bangunan 
yang diinginkan.

Sahabat itu memang selalu mendapatkan yang dia inginkannya. Tapi, tak jarang 
pula dia gagal. Tentu itu alamiah. Yang menjadi soal adalah, ketika gagal 
--meski menurutnya telah berusaha keras-- dia menyalahkan orang lain. Dia 
menganggap kegagalan itu karena dijegal orang yang dengki, yang tak ingin 
melihatnya sukses.

Saya katakan kepadanya, ''Jika Anda jatuh karena tersandung sebatang kayu, 
jangan cari siapa yang meletakkan kayu di jalan yang Anda lalui. Boleh jadi 
Anda tidak hati-hati, tidak melihat kayu itu, dan jatuh.''

Ini cerita sahabat yang lain. Pembantunya, Ahmad, tidak tamat sekolah dasar. 
Setiap hari, Ahmad mencuci mobilnya dan sesekali memajukan dan memundurkan 
mobil itu. Setelah bekerja cukup lama, Ahmad berhenti. Sembilan tahun kemudian 
sahabat itu bertemu lagi dengan Ahmad. Dia sangat kaget, Ahmad telah memiliki 
dua truk dan toko emas di kampungnya.

Dalam sembilan tahun Ahmad begitu maju pesat, sedangkan sahabat itu merasa 
seperti jalan di tempat. Bahkan, sahabat tersebut membandingkan pula dengan 
saudaranya, sarjana manajemen lulusan luar negeri, pintar dan sangat ahli 
manajemen, namun usahanya selalu gagal. Sebaliknya Ahmad, mungkin tidak paham 
teori manajemen, tak pernah membaca buku, apalagi mengenal pemikiran Robert T 
Kiyosaki.

Dua kisah itu menjelaskan bahwa manusia bukanlah penentu. Dua sahabat saya tadi 
dan juga saudaranya yang ahli manajemen, tentu telah bekerja dengan sangat 
keras, mencari segala jalan untuk meraih target dan cita-citanya. Selain usaha 
keras, mungkin pula mereka tak henti-hentinya berdoa. Ahmad --yang awalnya 
pembantu kini sukses secara materi-- tentu juga mendapatkan hasil atas kerja 
keras dan mungkin juga terus berdoa.

Alkisah, ada cerita tentang seorang raja yang merasa bisa menentukan kehidupan 
seseorang. Dia dapat menjadikan seseorang kaya raya, dan seseorang kaya menjadi 
miskin. Dengan kekuasaannya, dia memfitnah seorang sudagar kaya melakukan 
penyelewengan. Harta si saudagar dirampas untuk negara sehingga jatuh miskin. 
Namun dengan sedikit sisa uangnya, saudagar yang juga diusir itu membuat warung 
di pinggir kampung.

Sebaliknya, Raja memasukkan sebongkah emas ke dalam semangka seorang pedagang 
miskin secara diam-diam. Dia berharap, emas itu ditemukan si miskin dan 
kemudian menjualnya. Raja ingin membuktikan, dia bisa menciptakan si miskin 
menjadi kaya raya. Namun, yang terjadi kemudian, karena tidak memiliki uang 
untuk makan, si miskin memberikan semangka itu kepada pemilik warung, yang tak 
lain adalah saudagar tadi.

Begitu terjadi berhari-hari. Raja tetap memasukkan emas ke dalam semangka si 
miskin, dan si miskin tetap memberikan semangka itu pada si saudagar. Maka, si 
miskin tetap miskin, si saudagar yang dimiskinkan, kembali menjadi kaya.

Setiap orang memang harus bekerja keras, punya perencanaan untuk mencapai 
target yang dikehendaki. Tapi, siapa yang dapat menentukan apa yang terjadi 
hari esok, siapa yang menentukan arah angin bertiup, siapa yang dapat 
memastikan benih yang ditanam menghasilkan buah? Tidak ada, kecuali Allah SWT. 
Dialah yang memutuskannya, bukan manusia.

Kehendak Allah SWT berlaku untuk semuanya, tanpa ada pengecualian. Jadi, 
mengapa kita merasa dapat menentukan segalanya dan menyalahkan orang lain 
ketika tidak sesuai kehendak kita ?




Sumber:  Asro Kamal Rokan



 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke