(Surat oleh Aulia A M/SMCN)

CurHat Surat untuk Aa Gym

Maaf Jika Saya Kecewa




Aa Gym yang baik, ketika mendapat kabar
kalau Aa menikah lagi, saya
tertawa. Geli sekali rasanya mendengar
kabar itu. Setelah Dhani Dewa,
kini Aa yang dikatakan beristri dua.
Gosip memang makin aneh saja ya,
Aa... Saya tidak percaya. Saya tahu, Aa
begitu mencintai Teh Ninih.
Di mata Aa, Teh Ninih begitu sempurna.

Setiap melihat foto keluarga Aa, dengan
tujuh anak dan Teh Ninih yang
tersenyum bahagia, selalu ada airmata
yang bergulir di sudut mata
saya. Aa membuat saya begitu bangga. Teh
Ninih memberikan saya ilham
tentang bagaimana mencinta. Melahirkan
tujuh anak di zaman ketika
memiliki banyak anak telah menjadi
semacam "aib", tak ada kata lain
untuk menjelaskannya, kecuali pengabdian
cinta. Maka, saya tidak
percaya gosip itu. Tidak mungkin Aa akan
begitu. Aa itu kiai saya,
guru saya, kakak, ayah, dan teladan
saya. Aa pasti tidak akan
mengecewakan saya.

Ketika Aa menggelar jumpa pers di kantor
Daarut Tauhid, di Jakarta,
Sabtu lalu, saya bersorak gembira. Akan
terjawab semuanya, batin
saya.

Akan terang betapa bodohnya pembuat
gosip itu. Saya bayangkan, Aa
akan tertawa, Teh Ninih akan terkikik
manja, dan memeluk Aa. Ketika
melihat Aa dan Teh Ninih muncul, dengan
busana satu warna, wajah yang
bercahaya, hati saya makin bahagia.
Sungguh Aa, tiap kali melihat Aa
dan Teh Ninih tampil bersama, saling
mengerling dan tersenyum, selalu
ada haru dan tangis di mata saya. Aa
membuat saya begitu bersyukur
dan bahagia. Saya tidak percaya, kerling
dan senyum itu akan Aa
berikan juga untuk Teteh yang lain....

Aa terlihat lebih muda. Apa karena tanpa
sorban ya, Aa? Dan Teh
Ninih, kenapa jadi tampak lebih tua.
Mata Teh Ninih berkerjapan,
tapi dia menyunggingkan senyuman. Aa
tahu, saya mulai was-was saat
itu. Melihat sorban yang lepas, hati
saya cemas. Melihat banyaknya
senyum Teh Ninih, dada saya berbuih.
Saya mulai menduga, ya Tuhan...
apakah kabar itu benar? Apakah benar Aa
telah menduakan Teh Ninih,
Mbak dan Ibu saya? Tolong Tuhan, tulikan
aku sementara... Aku tak
sanggup mendengarnya. ..

Dan airmata saya berloncatan. Saya
sesenggukan. Wajah Aa yang cerah
di teve dikaburkan airmata saya. Sungguh
Aa, saya tidak bisa
menerima.

Saya sakit, sakit... Setiap melihat Teh
Ninih, airmata saya langsung
berloncatan. Saya tajamkan pendengaran,
saya ingin tahu, apa alasan
Aa, apa kekurangan Teh Ninih? Tapi
sampai akhir jumpa pers itu, tak
ada satu pun dalih yang bisa
mengeringkan airmata saya. Aa
menyebutkan

TTM, teman tapi mesum, dan seks bebas,
yang kini jadi dianggap biasa.
Aa, saya kaget. Dari Aa-lah saya tahu
TTM itu teman tapi mesum.
Sebelumnya saya kira hanya teman tapi
mesra. Apakah Aa menilai
kemesraan sama dengan kemesuman? Aa juga
menyebut, keputusan itu
lahir dari keprihatinan karena poligami
dianggap sebagai perbuatan
tidak benar, sering dicemooh, bahkan
diperlakukan tidak sebagaimana
mestinya. Istri kedua dianggap sebagai
perebut suami orang. Aa
tampaknya ingin mendudukkan posisi
poligami, ingin menunjukkan bahwa
istri kedua tidak selamanya buruk. Maaf
Aa, saya tidak terharu dengan
penjelasan itu.

Aa yang baik, saya lalu mencari tahu
siapa Rini, Alfarini Eridani
itu.

Maaf Aa, saya tidak bisa menyebut Rni
dengan panggilan Teteh. Bagi
saya, hanya ada satu Teteh untuk Aa, Teh
Ninih. Saya lalu tercengang.
Bukan Aa, bukan karena dia mantan model.
Bagi saya, tidak penting
latar belakang seseorang. Bukankah Aa
dulu juga bukan seorang kiai?
Bukankah pernikahan Aa dengan Teh
Ninihlah, yang merupakan anak kiai
pondok, yang mengubah hidup Aa? Saya
hanya takjub pada kesaksian
banyak pihak bahwa sudah sejak awal Rini
itu Aa istimewakan. Rini
bebas di MQ, dengan status tidak jelas.
Bisa jadi marketing,
sekretaris, atau kerja serabutan.
Pengistimewaan Rini oleh Aa dan
adik Aa, Abdurrahman Yuri (Aa Deda) itu
terbaca sesama pengurus MQ,
dan mereka mengira Aa dekat karena ingin
mencarikan jodoh untuk Rini.
Mereka juga tidak merasa aneh, ketika
Juli lalu, Aa pun meminta Rini
jadi "pejabat" saat membentuk unit
pelayanan terpadu bank syariah di
ponpes Daarut Tauhiid. Tapi, sebagaimana
terungkap di banyak media,
akhirnya semua kaget, ketika Aa
memilihkan diri Aa sendiri sebagai
jodoh untuk Rini.

Aa yang baik, maaf jika saya berburuk
sangka. Ketika Aa mengatakan
telah lima tahun mempersiapkan dan
mendiskusikan dengan Teh Ninih
untuk berpoligamami, apakah Rini yang Aa
persiapkan? Apakah masuknya
Rini ke MQ beberapa tahun lalu bagian
dari persiapan itu? KH Miftah
Farid mengatakan, Aa menikahi Rini untuk
menyelamatkannya dari
rerebutan pengurus Daarut Tauhiid.
Kenapa harus diselamatkan, Aa?
Apakah kalau Rini dinikahi karyawan Aa,
hidupnya berada dalam bahaya?
Atau, apakah Aa merasa dapat berlaku
lebih adil daripada mereka yang
memperebutkan Rini?

Aa yang baik, maaf jika saya masih
bertanya-tanya. Benarkah Teh Ninih
sudah memberi izin dan ikhlas? Kalau
begitu, mengapa sewaktu
menikahinya Aa tidak mengikutkan Teh
Ninih? Mengapa tidak ada satu
pun keluarga Aa yang datang? Juga adik
Aa, Abdurahman Yuri (Aa Deda)
yang dekat dengan Rini, kemana? Kata KH
Miftah, setelah ijab itulah
baru Aa memberitahu Teh Ninih, benarkah?
KH Miftah juga mengatakan,
saat itu Aa hanya nikah agama, dan perlu
waktu untuk dicatatkan ke
KUA, menunggu izin tertulis dari Teh
Ninih, begitukah Aa? Jadi Aa,
benarkah Teh Ninih memberi izin dan
ikhlas karena pernikahan itu
telah terjadi?

Izin dan keikhlasan yang datang karena
tak lagi dapat berbuat apa-
apa?

Aa yang baik, benarkah ketika Senin
(4/12) di saat Aa memberikan
tausyiah untuk pengurus MQ Coorporation,
Teh Ninih dan Rini duduk
berdampingan, dan keduanya tidak
bercakapan juga bersalam? Juga,
kenapa ketika acara usai, Rini ingin
segera berlalu, sampai Aa
memanggilnya, "Ibu Rini..." agar dia mau
bergabung? Sungguhkah Teh
Ninih belum dapat menerima Rini, Aa?
Sekali lagi maaf jika saya
berburuk sangka. Saya hanya ingin
menumpahkan isi hati saya, jutaan
pertanyaan yang membebani, biar saya
dapat menerima Aa, dengan
ringan, dengan enteng, seperti Aa yang
ringan, riang, ketika
menjelaskan pernikahan itu.

Aa yang dirahmati Allah, di telinga saya
saat ini, masih terdengar
pengakuan Teh Ninih, Minggu, usai
tausyiah itu. Teteh mengaku klenger
saat tahu Aa telah menikah. Tiga bulan
setelah pernikahan itu, Teteh
juga mengaku belum kenal Rini ...

Aa, entah kenapa, saya selalu menangis
melihat ketabahan Teh Ninih.
Teteh saya itu, yang juga saya anggap
Mbak dan Ibu saya, demikian
kuat menahan perasaannya. Ia hanya
tersenyum, dan menjawab dengan
persetujuan Aa. Teteh mengajarkan kepada
saya, tentang cinta seorang
wanita, yang tak terbagi, tak berpamrih.
Dan saya kian menangis, saat
melihat Aa acap sekali memeluknya,
menciumnya, merangkulnya, lebih
sering dari apa yang biasa Aa tunjukkan.
Pikiran naif saya selalu
berkata, "kenapa bisa lelaki yang
demikian sayang dan cintanya, tapi
memadu istrinya..." Maaf Aa, sekali lagi
maaf, saya tidak bisa
berbicara halus seperti Aa, tidak bisa
sesabar seperti Aa. Itulah
sebabnya, ketika Teh Ninih berkata,
"Saya berkeyakinan, apa yang
tampaknya menyakitkan belum tentu
seburuk yang terlihat.." saya
tambah menangis. Saya membaca, Teh Ninih
telah mengatakan isi
hatinya kepada saya. Karena apa yang
dikatakan Teh Ninih bisa dibaca
sebaliknya, "apa yang tampak
menyenangkan, mengikhlaskan,
berpelukan, bahagia, belum tentu seindah
yang terlihat.... "

Aa yang baik, maaf kalau saya tampak
kecewa. Maaf kalau saya tidak
bisa mengerti, saya hanya tahu, betapa
kian kuat cinta saya kepada
Teh Ninih...

(Surat oleh Aulia A M/SMCN)

makeURL("http://www.suaramer 
deka.com/","eHNsL2J1bGxldGluLnhzbA==");http://www.suaramer deka.com/

     [input]  [input]  [input]  [input]  [input]  [input] Back




 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke