FILOSOFI PENDIDIKAN METODE HORISONTAL

Metode Horisontal lahir dengan keinginan untuk memecahkan 
permasalahan yang paling mendasar dari pendidikan matematika di 
negara ini. Dan yang menjadi masalah terbesar dalam pendidikan 
Matematika adalah membangkitkan rasa percaya diri siswa terhadap 
kemampuan numerik & logika dan daya kreatifitas siswa dalam 
memecahkan soal, bukan sekedar mengajari bejibum topik matematika, 
yang akhirnya malah cenderung hanya memberikan formula jalan pintas 
agar siswa KELIHATAN menguasai matematika seperti yang terjadi di 
negara ini dan akhirnya membuat siswa muak dengan Matematika karena 
mereka sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang mereka kerjakan. 

Ketika seorang siswa sudah mempunyai kepercayaan diri pada kemampuan 
numerik & logika dan mempunyai daya kreatifitas untuk memecahkan 
masalah, mereka telah siap menerima pendidikan Matematika yang 
bersifat deduktif, yang biasa disebut Modern Mathematics. Di sini 
mereka akan benar-benar diajarkan bagaimana BERPIKIR LOGIS dan 
KONSISTEN secara mandiri. Bila mereka mampu memahami hal yang 
tersulit dalam matematika yaitu untuk berpikir secara logis dan 
konsisten ini, maka jalan untuk mempelajari jenis Matematika apapun 
akan terbuka lebar. Jadi kalau seorang siswa yang rajin sebenarnya 
tidak perlu kursus apapun juga asalkan dia sudah bisa BERPIKIR LOGIS 
dan KONSISTEN karena topik2 matematika yang harus diajarkan dalam 
kurikulum kita sebenarnya sudah ada di dalam buku-buku teks yang 
beredar. 

Dengan pemikiran seperti ini, Metode Horisontal membuat sebuah CARA 
BERHITUNG yang BARU beserta CARA PENGAJARAN yang BARU pula, dan 
tentunya pengajaran siswa diawali dari Tahap Pengenalan Bilangan 
sampai dengan Tahap Kreatifitas. Sebagai Cara Menghitung yang baru, 
Metode Horisontal merupakan bentuk deduktif dari Metode Sempoa, 
secara umum konsep yang mendasari baik Metode Horisontal dan Metode 
Sempoa adalah sama yaitu konsep Asosiasi Posisi. Di sini metode 
Horisontal bukan sekedar rumus atau formula untuk mempercepat 
perhitungan tetapi merupakan cara berpikir (the way of thinking). 
Jadi jelas bahwa Metode Horisontal bekerja mulai pada bidang paling 
fundamental dari Matematika yaitu Aritmatika Dasar. Informasi lebih 
lanjut dapat dilihat pada: www.sigmetris.com

Kemudian sebagai Cara Pengajaran yang baru, tentunya Metode 
Horisontal akan mengikuti standar kurikulum yang sudah ditetapkan 
pemerintah. Selain itu Metode Horisontal perlu membangun sebuah 
filosofi pendidikannya sendiri yang menjadi landasan bagi Cara 
Pengajarannya. Dalam artikel ini, akan diuraikan mengenai Filosofi 
Pendidikan dari Metode Horisontal, yang mempunyai beberapa kata-kata 
kunci yaitu Kongkrit, Penyelidikan dan Transformatif. Filosofi 
Pendidikan ini dibangun berdasarkan tahap-tahap yang harus dilalui 
seorang siswa dalam mempelajari sebuah materi pelajaran, terutama 
dalam bidang Matematika, yang secara garis besar adalah tahap 
Mengenal (know), tahap Memahami (understand), dan tahap Menguasai 
(mastering) suatu materi pelajaran tertentu. Karena itu sesuai 
dengan tahap-tahap ini, dibangun tiga dasar filosofi pendidikan yang 
mendasari proses pendidikan di dalam tahap-tahap tersebut, sebagai 
berikut:

1. Pendidikan yang Kongkrit – Tahap Mengenal

Dalam tahap pengenalan suatu ilmu pengetahuan pastilah akan timbul 
pertanyaan: Bagaimana siswa bisa bertanya dan tertarik mengenai 
suatu topik jika mereka belum tahu bidang tersebut sama sekali?. 
Pastilah di sini harus ada guru yang memperkenalkan topik tersebut 
dan memotivasi siswa agak tertarik dengan bidang tersebut. Jadi 
sebelum menginjak pada proses Penyelidikan (tahap Pemahaman), siswa 
perlu diperkenalkan dengan ilmu pengetahuan yang bersifat kongkrit 
(nyata) bagi mereka. Pendidikan seperti ini dinamakan sebagai 
Pendidikan yang Kongkrit. 

Pendidikan yang Kongkrit adalah jenis pendidikan yang menekankan 
segala materi yang diajarkan ke siswa sebaiknya terhubung dengan 
realitas kehidupan sehari-hari dan menggunakan konteks nyata sebagai 
sumber inspirasi untuk memperkenalkan siswa pada suatu pengetahuan 
tertentu. Singkatnya di sini siswa akan dapat mencerap bahwa materi 
yang diajarkan adalah hal yang nyata bagi dirinya, bukan sesuatu 
yang terlepas dari kehidupannya sehari-hari. Hal ini tentunya tidak 
perlu berupa materi yang berbentuk benda nyata, bisa saja topik 
tersebut berwujud suatu soal cerita atau sebuah puzzle. Melalui 
materi yang bersifat kongnrit seperti ini, kemudian mulai dibangun 
materi-materi yang bersifat lebih abstrak sebagai sebuah kontinuitas 
yang wajar darinya.

Pendidikan yang Kongkrit mempunyai beberapa karakteristik dasar, 
yaitu:
•       Menggunakan konteks kehidupan nyata sebagai awal proses 
pembelajaran
•       Menggunakan model sebagai jembatan antara dunia nyata dan 
ilmu pengetahuan. Di sini model berperan untuk menyederhanakan dunia 
nyata sehingga bisa dilihat karakteristik-karakteristik yang penting 
sehingga dapat dipahami prinsip dasar ilmunya.
•       Model yang dibangun tersebut harus dipahami benar oleh siswa 
sehingga harus menggunakan istilah, simbol, diagram dan gambar yang 
mudah ditangkap atau yang sudah biasa digunakan oleh siswa
•       Menggunakan proses pengajaran yang interaktif sehingga siswa 
dapat merasakan benar-benar bahwa konteks yang dibahas relevan dalam 
kehidupannya sehari-hari.
•       Tidak menolak untuk membahas suatu subjek secara lintas ilmu 
bila hal ini memang dapat membuat materi yang diajarkan semakin 
Kongkrit dalam sudut pandang siswa.

Bila karakteristik ini dipenuhi dalam suatu proses pengajaran, maka 
siswa akan mencerap suatu bidang bukan sebagai hal yang abstrak 
tetapi sebagai hal yang nyata dan berguna bagi dirinya. Dan tentunya 
karena ditekankan pula penggunaan istilah, simbol, diagram dan 
gambar yang mudah dipahami siswa, hal ini akan membuat mereka merasa 
nyaman dan tentunya mereka juga otomatis akan merasa tertarik dengan 
bidang tertarik karena merasa mudah memahaminya. Bila hal ini telah 
terjadi maka Pendidikan dengan cara Penyelidikan telah siap untuk 
dilakukan oleh siswa, karena prasyaratnya dari sebuah proses 
penyelidikan adalah antusiasme dan rasa ingin tahu.

Selanjutnya dalam Pendidikan yang Kongkrit ini, peran seorang guru 
adalah sebagai berikut: 
•       Sebagai seorang pengajar, yaitu ia harus memperkenalkan 
suatu topik di depan kelas dengan mulai pada hal-hal yang kongkrit 
di sekitar kehidupan siswanya.
•       Kemudian dalam interaksinya dengan siswa, guru harus 
memberikan sebuah tantangan (challenge) dan sekaligus bantuan (clue) 
yang dibutuhkan siswa untuk memahami topik yang diajarkan. Bantuan 
tersebut dapat berupa sebuah diagram, gambar atau penjelasan yang 
dibutuhkan untuk memecahkan tantangan yang diberikan.
•       Perlu pula ditekankan dalam pendidikan yang kongkrit ini, 
guru juga berperan sebagai motivator, hal ini dapat dengan bermacam-
macam cara misalnya dengan menceritakan tokoh yang berperan dalam 
bidang tersebut, dengan mendemonstrasikan kegunaan ilmu tersebut di 
depan kelas dan sebagainya. Selain itu mereka harus selalu memandang 
secara positif setiap Keberhasilan dari setiap siswa yang diajarnya 
dalam memecahkan soal dan berusaha membantu siswanya dalam 
mengkonstruksi konsep diri yang positif. 
•       Terakhir guru perlu terus-menerus memantau keaktifan 
siswanya di dalam kelas ketika berusaha memahami topik yang 
diajarkan dengan mengamati caranya bertanya atau menjawab tantangan 
(challenge) yang diberikan.

2. Pendidikan dengan Penyelidikan – Tahap  Memahami

Dalam model Pendidikan yang menekankan proses Penyelidikan, siswa 
didorong untuk bertanya tentang suatu topik tertentu yang menarik 
bagi dirinya. Tentunya topik ini harus diperkenalkan oleh seorang 
guru yang berperan sebagai fasilitator di sini. Pertanyaan-
pertanyaan siswa ini tidak perlu merupakan hal yang masuk akal atau 
mudah dijawab, dan guru tidak bertugas untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan siswa, tetapi bertugas untuk memfokuskan pertanyaan-
pertanyaan ini sehingga siswa dapat memberikan alternatif jawabannya 
sendiri.

Pendidikan dengan cara menyelidiki dimotivasi oleh fakta bahwa 
seorang Pembelajar yang baik ternyata mempunyai perhatian terhadap 
aktifitas bertanya dan menyelesaikan pertanyaan itu sendiri, bukan 
hanya tertarik pada hasil akhir pengetahuan saja. Aktifitas 
penyelidikan ini sebaiknya dilakukan secara sosial, yaitu bersama-
sama dengan guru dan juga teman-teman sebayanya.

Di sini terdapat daftar dari seorang Pembelajar yang baik, yaitu:
•       Percaya diri terhadap kemampuan belajar mereka
•       Kesenangan dalam memecahkan suatu masalah
•       Tajam dalam melihat hubungan-hubungan yang relevan
•       Bersandar pada pendapatnya sendiri bukan pada pendapat orang 
banyak.
•       Tidak takut untuk salah
•       Tidak terburu-buru untuk menjawab
•       Mempunyai sudut pandang yang fleksibel
•       Menghargai Fakta diatas sebuah Opini dan dapat membedakan 
dengan jelas antara sebuah Fakta dan Opini.
•       Merasa nyaman dalam Ketidaktahuan, sehingga tidak merasa 
perlu untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul secepat mungkin. 
Dan tidak puas dengan suatu jawaban yang sangat disederhanakan.

Untuk melakukan model pendidikan dengan cara Penyelidikan ini 
diperlukan peran baru bagi seorang guru yang berbeda dari model 
pendidikan tradisional. Di sini, guru lebih berperan sebagai 
fasilitator dan penuntun dibandingkan sebagai seorang pengajar yang 
memberikan kuliah saja. Ada beberapa hal yang harus dipahami seorang 
guru dalam metode pengajaran ini:
•       Mereka harus menghindari siswa bahwa mereka harus tahu 
sesuatu hal agar siswa merasa nyaman jika mempunyai pertanyaan yang 
belum bisa terjawab olehnya.
•       Mereka berbicara dengan siswa dengan cara bertanya kembali 
yang berfungsi untuk memfokuskan setiap pertanyaan siswa.
•       Mereka tidak dapat menerima jawaban siswa yang 
disederhanakan saja
•       Mereka harus mendorong siswa untuk bertukar pikiran dengan 
siswa-siswa yang lain dan mendidik siswa untuk tidak menghakimi apa 
yang telah dikatakan temannya.
•       Mereka harus memperkenalkan suatu masalah tertentu agar 
menarik minat siswanya.
•       Mereka mengukur keberhasilan siswa berdasarkan sifat-sifat 
seorang Pembelajar yang baik, yang ditetapkan sebagai tujuan 
Pembelajaran ini.


3. Pendidikan Transformatif – Tahap Menguasai

Setelah kita membahas tentang Pendidikan dengan cara Penyelidikan, 
selanjutnya akan dibahas mengenai Pendidikan Transformatif sebagai 
akibat wajarnya. Dengan menerapkan cara Penyelidikan dalam 
kehidupannya sehari-hari, seorang siswa pastilah akan menggali 
banyak informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Pada suatu 
tahap tertentu, pastilah ia akan mempertanyakan kembali informasi-
informasi yang didapat karena biasanya informasi2 tersebut tidaklah 
selaras satu dengan yang lainnya atau mungkin pula karena ia tidak 
dapat menjawab suatu masalah dengan informasi yang telah 
dimilikinya. Bila hal ini telah terjadi, maka sangatlah dibutuhkan 
apa yang dinamakan Pendidikan Transformatif. Jadi proses 
transformatif diawali dengan Kegagalan siswa untuk memahami suatu 
bidang ilmu pengetahuan yang bersifat individual, yang berakibat 
pada kebingungan terhadap konsistensi pemikirannya atau 
ketidakmampuannya dalam memesahkan suatu masalah tertentu. 

Untuk memudahkan pembahasan, maka proses kognitif manusia secara 
sederhana dibagi menjadi dua macam:
•       Berpikir tingkat Pertama meliputi - menghitung, mengingat, 
membaca dan memahami.
•       Meta-kognisi, yaitu – proses memantau perkembangan dan hasil 
dari dari Berpikir tingkat Pertama.

Dalam Pendidikan dengan cara penyelidikan, berpikir-tahap-pertama 
digunakan secara intensif untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan 
yang muncul dalam diri seorang siswa. Tetapi selain tahap pemikiran 
ini, perlu juga disadari bahwa siswa terus memantau setiap 
informasi2 baru yang mereka dapat dan berusaha membandingkan dengan 
informasi2 yang telah didapat sebelumnya, proses ini dinamakan 
dengan meta-kognisi. Dilain pihak seorang siswa pastilah sampai 
suatu saat akan terbentur dengan suatu pertanyaan yang tidak dapat 
dijawab dengan segala informasi yang telah dipunyai. 

Ada satu kata kunci yang perlu dipahami dalam Pendidikan 
transformatif pada tahap ini, yaitu Perubahan. Jika hal-hal di atas 
telah dialami oleh seorang siswa, maka disini saatnya siswa tersebut 
harus berubah. Apanya yang berubah? Tentu yang berubah adalah sudut 
pandangnya dalam memandang hal-hal yang telah diketahuinya tersebut. 
Ia harus mulai lagi memeriksa informasi2 yang telah mereka dapat 
satu persatu, dan memisahkan mana yang sekedar opini dan mana yang 
benar-benar berupa fakta. Setelah proses menyaring tersebut maka 
akan didapatkan semua hal-hal yang relevan, dan mulailah ia 
mempertanyakan Landasan sudut pandangnya terhadap informasi yang 
relevan tersebut, terutama dikaitkan dengan Asumsi dasar yang telah 
dipegang mereka. 

Dalam kehidupan sehari-hari, Asumsi dasar ini adalah berupa suatu 
Makna Kehidupan dan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan 
manusia, karena mau tidak mau hampir semua sudut pandang dan tingkah 
lakunya bermuara pada makna kehidupan tersebut. Sehingga dalam 
kehidupan nyata, dengan menyesuaikan makna kehidupan terhadap 
informasi2 yang relevan tersebut, seorang siswa akan memandang 
segala sesuatu secara berbeda. 

Bila kita mendaftar apa sebenarnya yang terjadi pada seorang siswa 
dalam proses transformatif ini terutama dalam bidang Akademik, maka 
didapat sebagai berikut:
•       Memahami kerangka berpikir yang telah digunakan selama ini
•       Mempelajari kerangka berpikir alternatif yang lain
•       Mentranformasi sudut pandang yang digunakan.agar dapat 
mengakomodasi kerangka berpikir yang lain tersebut (yang dianggap 
relevan tentunya)
•       Dan akibatnya akan Mentranformasi segala kebiasaan 
berpikirnya 

Untuk melakukan hal ini seorang siswa perlu dibantu oleh guru (atau 
orang tuanya) yaitu dalam melalui proses transformatif yang sangat 
kritis ini. Tentunya tidak dengan memaksakan kerangka berpikir 
mereka sendiri kepada siswa tersebut, tetapi membiarkan siswa 
membangun kerangka berpikirnya sendiri. 

Proses transformatif ini bisa diajarkan dalam bidang akademis dan di 
sini tugas seorang guru adalah sebagai berikut:
•       Memberikan suatu masalah atau menunjukkan suatu kejadian 
tertentu yang dapat menyadarkan siswa akan Keterbatasan pengetahuan 
dan pendekatan mereka.
•       Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi dan 
mendeskripsikan Asumsi-asumsi dasar yang mendasari pengetahuan dan 
pendekatan yang mereka gunakan.
•       Mendorong siswa untuk menelaah dari mana Asumsi-asumsi ini 
berasal dan bagaimana asumsi tersebut membatasi pemahaman mereka
•       Mendiskusikan apa yang telah mereka telaah kepada guru dan 
siswa yang lain.
•       Memberikan kesempatan kepada mereka untuk menguji perspektif 
mereka yang telah diperbaharui. 

Bila siswa telah biasa dengan proses Transformatif dalam bidang 
akademisnya, maka kemungkinan besar mereka juga akan dapat 
menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-harinya terutama dalam 
melalui perubahan-perubahan dalam tahap kehidupannya dengan sukses.

Alexander Agung



Kirim email ke