Dear pak Budi yang baik,

Saya pernah melihat proses PKMB Unair yang dikomandani
pak Duta dengan konsep dari pak Budi.
Saya juga pernah mengikuti pelatihan mengenai Future
Learning yang diselenggarakan oleh UNICEF untuk staff
mereka beberapa bulan yang lalu yang saya kira intinya
sama.
Saya sangat salut pada pak Budi bila bisa menerapkan
konsep ini di dunia pendidikan. Saya melihat basic
concept dibelakang layarnya adalah Life Skill
Education yang memberikan bekal kepada anak didik
bagaimana menghadapi kehidupan seperti apapun
keadaannya. Mereka diberi bekal melihat kelemahan dan
kelebihan diri sendiri kemudian melihat berbagai
peluang dan hambatan yang akan mereka hadapi dalam
menapak kehidupan di masa datang untuk mencapai Dream
mereka.
Dengan upaya meningkatkan kelebihan dan mengurangi
kekurangan mereka, mereka menDISAIN jalan hidupnya
yang kemudian akan mereka implementasikan.
Permasalahan yang sering kita hadapi, kita telah
mempunyai konsep kurikulum atau disain suatu konsep
tetapi metode untuk menyampaikan kepada anak didik
kadang kurang merangsang aktivitas, kurang menggali
kreativitas, yang akhirnya kurang efektif dan kurang
menyenangkan bagi siswa (PAKEM-nya MBS). PAKEM
(Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan) ini telah saya lihat pada kegiatan PKMB
Unair yang lalu. Bravo buat pak Budi!!!
Bila pak Budi bisa menggabungkan keduanya saya kira
dunia pendidikan akan sangat berterima kasih sekali
atas konsep pak Budi tersebut.
Ini sekedar urun rembug saya semoga pak Budi masih
selalu peduli pada dunia pendidikan kita.
Maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan.

wass

rachmat hargono

--- Budi Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Salam Damai,
>   Apakah masa depan adalah pengulangan masa lalu?
> Apakah masa depan adalah kelanjutan dari masa lalu?
> Apakah yang kita ketahui saat ini masih berlaku di
> masa depan? Apakah yang kita lakukan masih akan kita
> lakukan lagi di masa depan? Apakah kita
> sungguh-sungguh ingin menciptakan kehidupan baru di
> masa depan yang manusiawi dan penuh harapan, lepas
> dari kekelaman masa lalu? Atau hanya mengulangi masa
> lalu?
>    
>   Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang membuat
> saya resah, apakah pantas saya menjadi dosen ketika
> saya sendiri tidak yakin pengetahuan yang saya
> sampaikan masih relevan pada 5 - 10 tahun yang akan
> datang? Apakah pantas cara2/mekanisme2 yang saya
> ajarkan sekarang masih digunakan 5 - 10 tahun yang
> akan datang? Saya merasa seperti seorang penebang
> pohon yang menggunakan kapak dan mengajarkan anaknya
> menebang pohon dengan menggunakan kapak untuk hidup.
> Tetapi ketika masa sang anak dewasa, pohon-pohon
> telah habis, tak ada lagi yang bisa ditebang.
> Tinggallah batu-batu. Dan konyolnya, karena sang
> anak hanya tahu dan terampil menggunakan kapak maka
> ia memecah batu-batu itu dengan menggunakan kapak.
>    
>   Pendidikan kita memang banyak mengajarkan masa
> lalu kepada mereka pencipta masa depan. Saya dan
> generasi sebelum saya mungkin terlalu sok tahu apa
> yang benar, apa yang baik, apa yang dapat digunakan,
> disetiap masa.
>    
>   Keresahan-keresahan ini yang membimbing saya
> melalui peristiwa kebetulan pada penemuan-penemuan
> cara pandang yang berbeda terhadap belajar dan
> pendidikan. Awalnya adalah teori u, yang dengan
> tegas menyatakan bahwa belajar adalah dari masa
> depan yang emergent, bukan dari masa lalu. Masa lalu
> harus dipelajari hanya ketika relevan dengan masa
> depan. Ibarat pengendara kendaraan, pandangan kita
> menatap ke depan, dan hanya perlu sesekali melihat
> masa lalu melalui kaca spion. Bayangkan apa yang
> terjadi apabila seorang pengendara terpaku melihat
> kaca spion?
>    
>   Dari teori u, saya menengok kembali pada
> pendekatan yang saya tekuni, appreciative inquiry
> (AI), sepertinya kok nyambung. Langkah dasarnya
> adalah discovery (penemuan faktor sukses/inti
> positif), dream (imajinasikan masa depan), design
> (merancang apa yang harus) dan destiny (melakukan
> apa yang dapat). Kita diminta untuk menengok sejenak
> ke masa lalu kita, melihat pengalaman sukses kita.
> Lalu didorong untuk menciptakan masa depan dan
> selanjutnya semua langkah berbekal inti positif
> mengarah pada masa depan.
>    
>   Pada akhirnya, saya bersua dengan sebuah nasehat
> yang teramat menarik. "Didiklah anakmu untuk suatu
> zaman yang bukan zamanmu" -- (Ali bin Abi Thalib
> KRH). Semua keresahan kemudian langsung membulat
> tekad untuk menciptakan model
> pembelajaran/pendidikan yang tidak biasa, yang saya
> sebut sebagai FUTURE LEARNING.
>    
>   Semester lalu, saya sudah sempat mencoba dalam
> kelas yang dipercayakan kepada saya, dengan 34
> mahasiswa. Awalnya, para mahasiswa melakukan
> eksplorasi keunikan masing-masing melalui pertanyaan
> dan dialog. Berdasarkan keunikan ini, mahasiswa
> menetapkan atau menciptakan suatu profesi. Kemudian,
> mahasiswa mempelajari tren dunia yang berkembang,
> sejak 50 tahun yang lalu hingga saat ini. Mahasiswa
> kemudian berimajinasi tentang dunia masa depan dan
> profesi dirinya di masa depan. Setelah beberapa kali
> proses memperjelas impian melalui pemeranan,
> mahasiswa kemudian baru menetapkan dan mempelajari
> konsep/kemampuan/perilaku yang harus dipelajarinya
> agar profesi impiannya terwujud.
>    
>   Proses serupa kemudian sempat saya ulangi lagi
> tetapi sebagai bagian dari proses orientasi
> mahasiswa baru di dua kampus. Pada akhir kegiatan,
> setiap mahasiswa sudah membuat apa yang disebut
> sebagai future plan, suatu panduan bertindak untuk
> mencapai impian masing-masing.
>    
>   Banyak komentar-komentar menarik terhadap FUTURE
> LEARNING, yang intinya mereka merasa tercerahkan
> tentang tujuan hidup, tujuan kuliah dan tujuan
> belajar.
>    
>   Bagaimana komentar dari kawan-kawan semua? Apakah
> kira-kira FUTURE LEARNING bisa menjawab
> keresahan-keresahan kita? 
>    
>   Saya sendiri sekarang tengah merancang penerapan
> FUTURE LEARNING untuk level playgroup hingga SMA. 
>    
>   Semoga sharing pengalaman ini berguna bagi kita
> semua!
>    
>    
>   Damai di Bumi
>    
>    
>   Budi Setiawan
>   http://bukikpsi.blog.com/
>  
> http://groups.yahoo.com/group/Appreciativecommunity/
>   Fakultas Psikologi Universitas Airlangga 
>   www.fpsi.unair.ac.id 
> 
>  __________________________________________________
> Apakah Anda Yahoo!?
> Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki
> perlindungan terbaik terhadap spam  
> http://id.mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke