Banyak terjadi salah kaprah dalam pemahaman mengenai hipnotis seperti pernyataan bahwa, "Hipnotis berbeda dengan gendam."
Bantahan : yang benar adalah mekanisme kerja hipnotis sama dengan gendam, yang membedakannya adalah "tujuan" penggunaan. Ibarat sepatu, jika digunakan sesuai fungsinya akan positif karena melindungi kaki dari resiko terluka, tetapi jika dipakai untuk melempar orang lain menjadi negatif. Gendam menggunakan tehnik "shock" yang juga biasa dipakai pada "stage hypnosis". Efektif untuk tujuan kejahatan, agar tidak mencolok dimuka umum bahwa telah terjadi tindak kejahatan. Demikian pula untuk keperluan atraksi panggung, diperlukan waktu yang singkat untuk memberi efek dramatis, sehingga tidak membosankan penonton. Adapula yang mengatakan bahwa, "Jika perintah hipnotis berbeda dengan pandangan moral yang bersangkutan maka hipnotis tidak akan mempan, misal perintah telanjang." Bantahan : Jika penghipnotisnya jago sehingga mampu men-sinkron-kan antara perintah hipnotis dengan ego korban (suyet) maka suyet akan bersedia melakukan perintah apapun. Contoh konkrit pada pelaku bom bunuh diri. Moral Islam mengharamkan membunuh atau menganiaya tawanan perang, apalagi terhadap orang yang tidak memerangi Islam sekalipun dia non muslim. Akan tetapi dengan kemampuan brain washing- nya pelatih, si pelaku bom bunuh diri dapat diyakinkan seolah olah sedang melakukan "jihad". Apalagi kalo cuma disuruh telanjang. Demikian pula ada yang mengatakan bahwa, "Perubahan pada terapi trauma atau fobia lebih efektif menggunakan obat-obatan, sedang penggunaan hipnoterapi bersifat tidak permanen." Bantahan : Semua tehnik konsultasi, konseling ataupun terapi berfokus pada akar masalah terbentuknya trauma atau fobia. Hipnoterapi dalam hal ini hanyalah sarana cepat menuju zona bawah sadar seseorang. Jika akar permasalahannya berhasil ditemukan, kemudian dilakukan pelepasan ketegangan (katarsis) secara tepat maka perubahan dapat bersifat permanen. Isywara Mahendratto http://servocenter.wordpress.com/
