Anak-Anak Pemulung Itu?.  (Rubrik Resonansi - Koran Republika)
  
           
  Ketika para elite  politik mendeklarasikan partai baru dengan dana tak 
sedikit dan tentu  dengan harapan meraih kekuasaan besar ada anak-anak meraih 
rezeki di  tong sampah. Ketika para demonstran berpawai ingin mencabut mandat  
SBY-JK, anak-anak pemulung itu terkadang menemukan bayi yang dibuang  
orangtuanya. Siapa yang memikirkan anak-anak itu?
  
  
    
  
      
  Dua pekan lalu, saya menerima  surat elektronik dari Abdul Rahman dari 
Yayasan Portalinfaq. Rahman  menulis; yayasan ini mendirikan sekolah alam Tunas 
Mulia untuk  anak-anak pemulung di Bantar Gebang, Bekasi. 
  
  

  Di sekolah sangat sederhana itu, anak-anak pemulung juga dibekali  pelajaran 
menanam kangkung, menanam biji jagung, dan juga mendaur ulang  botol plastik 
dijadikan mainan. Kangkung dan jagung telah pula mereka  panen.
  
  
    
  Pada Idul Adha lalu, sambil makan nasi dan sate qurban di daun  pisang, Ibu 
Widi - relawan yang menjadi guru anak-anak pemulung -  berkisah tentang 
pengalaman murid-muridnya ketika mengais-ngais sampah.  Tidak jarang, anak-anak 
itu menemukan mayat bayi dalam kantung plastik  yang dibuang begitu saja ke 
dalam truk sampah. Bayi itu ada yang masih  segar, ada pula yang telah membusuk 
dengan bau yang menyengat.
  
  
    
  Ada juga kisah tentang persaingan ketat pemulung dalam mengais  rezeki. 
Setiap kali truk sampah datang, yang berarti itu rezeki,  pemulung junior 
anak-anak itu langsung melompat ke dalam truk dan  berebut dengan para 
seniornya yang jauh lebih kekar dan kuat. Tidak  mudah mereka mendapatkan 
botol-botol plastik, bahkan terkadang setelah  diperoleh, dirampas para 
seniornya.
  
  
    
  Di sekolah alam, hidup yang keras seakan mencair begitu saja.  Anak-anak yang 
berpakaian dan jilbab seadanya, tubuh-tubuh kecil yang  terkadang berbau 
sampah, bermain dengan bebas dan tertawa lepas di  sekolah. Mereka semangat 
menuntut ilmu, mengubah peruntungan.
  
  
    
  Sekolah yang terletak di Pangkalan 2 Bantar Gebang itu sangat  sederhana. 
Terbuat dari kayu dan bambu. Biaya diperoleh dari infaq.  Dalam situsnya 
www.portalinfaq.org,  selain mengimbau donator menginfaqkan hartanya - yayasan 
ini berencana  membebaskan tanah untuk meluaskan sekolah dan juga pembuatan 
pagar  mereka juga mengajak para relawan untuk menjadi tenaga pengajar, di  
antaranya untuk bahasa Inggris, pertanian, dan tentu berbagai disiplin  ilmu 
yang bermanfaat untuk anak-anak pemulung itu.
  
  
    
  Ketika membaca surat elektronik Abdul Rahman dan membuka situs portalinfaq,  
saya terpana. Di tengah banyak orang dengan mudah mengeluarkan jutaan  rupiah 
untuk politik, meraih jabatan, memuaskan nafsu dunia, ada  sekelompok orang 
berpikir untuk mengangkat hidup dan martabat anak-anak  pemulung, anak-anak 
yang tersisih.
  
  
    
  Para relawan itu, guru-guru, tanpa dibayar mensedekahkan  ilmunya, 
mengantarkan anak-anak pemulung meraih masa depannya. Mereka  peduli pada masa 
depan anak-anak itu, anak-anak yang mungkin tidak  mereka kenal orangtuanya, 
tidak mereka kenal asal usulnya.
  
  
   
  Mereka para relawan, pemberi infaq memberi apa yang mereka  miliki, tanpa 
memintanya kembali. Mereka mengalirkan air jernih menjadi  sungai kehidupan 
untuk anak-anak pemulung itu. Air jernih tersebut  mengalir selamanya ke surga. 
Tidakkah seharusnya kita ikut bersama  mereka menuju kehidupan kekal yang 
indah? 

      
      Oleh : Asro Kamal Rokan
  
  
  http://www.portalinfaq.org/g02x01_article_view.php?article_id=468
  
  
 
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people 
who know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke