Assalamu'alaikum wr.wb.

Saya sendiri merasa kaget dengan tanggapan yang luar biasa atas 
"Public SpeaKid". Dalam dua jam setelah Saya posting tulisan Saya, 
belasan orang langsung memberi komentar secara japri, dan dua orang 
bahkan menawarkan penjajakan kerjasama di bidang anak-anak, yang satu 
berbentuk program pendidikan dan yang satu lagi mengajak menulis buku 
khusus untuk anak-anak secara tandem.

Saya sebenarnya hanya melaporkan apa yang telah terjadi. Begini 
ceritanya. Hari Kamis yang lalu, adalah hari di mana kami sebagai 
orang tua, kebagian jatah untuk men-serve menu sehat bagi murid dan 
guru. Menu makanan sehat ini, digilir di antara para orang tua atas 
biaya orang tua. Hari Kamis itu, Saya mengantarkan menu sehat ke 
sekolah, dan mendapat kabar tentang telah terimplementasinya program 
public speakid di sekolah anak-anak Saya. Sepulang dari sekolah, Saya 
langsung ke notebook dan mulai menulis. Saya hanya menceritakan 
kembali prosesnya. Tak dinyana, ternyata mendapat sambutan yang bagus 
untuk ditindaklanjuti. Buat Anda yang sudah EDAN, Anda tahu tentang 
apa ini semua. Ini adalah sebuah demonstrasi dari salah satu konsep 
penting dalam metode EDAN yaitu "declare".

Beberapa pihak bertanya tentang bagaimana implementasi program ini. 
Sebenarnya tidak sulit. Tidak dibutuhkan guru khusus yang paham 
public speaking, syukur jika sudah EDAN. Apa yang penting adalah 
koordinasi antara sekolah dan orang tua murid. Jika persatuan guru 
dan orang tua murid sudah sepakat, maka tinggal ditentukan hari apa 
dalam setiap minggu yang akan dijadikan sebagai hari public speakid.

Pada hari itu, murid-murid diminta untuk menceritakan sesuatu dengan 
gaya seorang public speaker. Ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dari 
apa yang selama ini telah diterapkan di berbagai sekolah berkaitan 
dengan interaktifitas guru dan murid di kelas. Hanya saja, 
pendekatannya memang lebih ke public speaking.

Ada contoh begini. Kemarin, anak-anak kami mendapat tugas untuk 
menghadiri Islamic Book Fair di senayan. Setiap anak diwajibkan 
membeli sebuah buku, apapun dengan harga berapapun. Dan besok, hari 
Senin, anak-anak itu diminta untuk maju ke depan, menceritakan 
kembali suasana di pameran dan sekaligus juga menceritakan apa isi 
buku yang telah dibelinya. Ini kan persis seperti keseharian di 
berbagai sekolah? Tinggal, pihak gurulah yang mendisain situasi event 
itu menjadi sebuah situasi public speaking. Salah satu yang harus 
bisa dilakukan guru adalah mendorong sang anak, agar mampu berbicara 
dengan luwes dan mulus. Ini bisa dilakukan dengan memperhatikan 
beberapa hal misalnya:

- Penggunaan teknik open ended question;
- Teknik probing yaitu mengarahkan pembicaraan agar tetap fokus, 
dalam hal ini fokus pada public speaking;
- Pemahaman guru tentang "teachable moment". Beberapa dari Anda 
mungkin baru mendengar konsep ini, padahal konsep ini sangat mendasar 
dalam pendidikan. Kapan-kapan kita bahas tentang ini.

Waktu si anak untuk berbicara dibatasi dan tentu saja, karena 
pendekatannya adalah public speaking, maka akan ada evaluasi 
berkaitan dengan presentasi yang dilakukan. Evaluasi ini, sesuai 
kemampuan anak-anak, tidak berupa analisis yang mendalam, melainkan 
hanya sekedar observasi berkaitan dengan suara, intonasi, bahasa 
tubuh, dan ekspresi si anak yang bisa dengan jelas dilihat oleh teman-
temannya. Itu saja. Begitu mudah dan sangat bermanfaat.

Hal terbaik yang bisa diperoleh dari proses pendidikan alternatif 
semacam ini, adalah meningkatnya rasa percaya diri sang anak. Sebab, 
dengan teknik yang benar, maka proses interaktif tidak akan 
dipersepsi sebagai interogasi oleh sang anak, melainkan "pengakuan" 
tentang presentasi yang baru dilakukannya. Inilah kunci dari peluang 
untuk meningkatkan rasa percaya diri sang anak ke tingkat yang lebih 
baik.

Intinya, itu semua mudah dilakukan, hanya, pihak gurulah yang perlu 
berfokus pada orientasi public speaking. Dan sang guru, tidak perlu 
terlalu dalam menguasai teknik public speaking. Beruntung, bahwa guru 
dan kepala sekolah anak saya sudah pernah ikut EDAN. Jadi, sesuai 
dengan yang Saya kemukakan kepada mereka di awal, Saya memang 
menginginkan bahwa anak-anak bisa ikut menjadi "EDAN". Guru dan 
kepala sekolah anak-anak Saya itu, memang sudah menangkap maksud 
Saya. Guru dan pak Kepsek menjadi sangat mudah menterjemahkannya ke 
dalam bahasa dan metode komunikasi anak. Sehingga, ini menjadi 
sesuatu yang sangat berbeda, sekalipun bungkusnya di mata anak-anak 
tidak berbeda dari apa yang biasa mereka lakukan di kelas sehari-hari.

Anak-anak Saya sendiri pun, sering pulang ke rumah dan bercerita 
bahwa gurunya mengatakan ini dan itu. Saya menanggapinya dengan 
berbagai pujian dan senyum. Dan Saya tahu, semua yang disampaikan 
oleh anak-anak Saya, sebenarnya adalah apa yang Saya sampaikan kepada 
guru dan kepala sekolahnya. Ini sebuah pertanda, bahwa Ibu guru dan 
Pak Kepsek, telah berhasil menterjemahkan konsep EDAN, kepada anak-
anak.

Anak pasti kaget, jika anak-anak Anda pulang, kemudian mengatakan 
begini, "Yah, kata ibu guru di sekolah, kalo kita ngomong sama orang 
terus orang itu ngejelekin kita, atau ngejek kita, atau tidak 
menganggap kita ada, atau menganggap kita tidak pandai, biarin aja. 
Soalnya itu berarti orang itu blah...blah...blah..."

Tidakkah itu sudah mencerminkan sebuah arah ke tingkat percaya diri 
yang lebih baik dan sesuai dengan tata nilai yang menurut Anda benar, 
logis, dan mendukung pendewasaannya?

Saya bersyukur bahwa di dalam kebutaan Saya tentang dunia pendidikan 
anak-anak, ternyata guru dan kepala sekolah anak Saya bisa sangat 
membantu dengan kemampuannya menterjemahkan konsep EDAN ke jiwa anak-
anak, tanpa pemaksaan sebagai orang dewasa. Sehingga, secara kejiwaan 
mereka tetap anak-anak, tapi secara life skill, mereka berada di 
track pembelajaran yang benar. Insya Allah.

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
021-70096855
http://milis-bicara.blogspot.com

--- In [email protected], OmPopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ini Baru Hebat: Public SpeaKid
> 
> Anak-anak Saya masih kelas satu dan dua SD, di sebuah SD Islam 
Terpadu di
> bilangan Cilandak Jakarta Selatan. Sebagai orang tua, Saya 
berkeinginan
> untuk memberikan apapun yang terbaik bagi mereka. Termasuk, apa-apa 
yang
> sudah Saya kuasai dan miliki. Termasuk, apa yang telah menjadi 
hasil dari
> proses belajar Saya selama ini.

Kirim email ke