*Kisah Pilu Rizka Amalia >Ingin Jadi Dokter, Jualan Koran* > > >Hidup susah tak membuat Rizka Amalia, murid kelas 5 SDN 05 Kenari, Jakarta >Pusat, ini jadi malu atau patah semangat. Sebaliknya, dia terus berjuang >menghabiskan paruh waktunya demi keluarga dengan berjualan koran. > >Itu dia lakukan selepas pulang sekolah sampai kembali ke rumah kontrakannya >sebesar Rp 250.000/bulan di Citayam, Depok. Rizka tinggal di Citayam >bersama ibu dan tiga kakaknya, yakni Idris (25), Dedy (23), dan Rifki, >pelajar kelas dua SMA, setelah rumah mereka di Kwitang, Jakpus, terbakar >tahun 2000. > >Kehidupan keras itu dilakoni Riska setelah ayahnya meninggal dunia tiga >tahun lalu. Kala itu, putri bungsu almarhum Husin dan Ny Rustidjah ini >berjanji dalam hati kecilnya, "Ma...aku mau cari uang, buat bantu Mama". >Miris memang, tapi apa mau dikata, Rizka melakukan itu demi cita-citanya >menjadi seorang dokter. > >Sejak bergelut sebagai loper koran, Siska, sapaan Rizka Amalia, tidak >pernah lagi punya waktu bermain seperti anak-anak sebayanya. Waktunya habis >buat sekolah dan mencari uang. "Dia (maksudnya Rizka-Red) pernah saya >larang tapi dia tetap nekat berjualan koran," ucap Rustidjah yang ditemui >Sabtu (24/3) siang. > >Setiap hari menjelang subuh, Rizka sudah bangkit dari tempat tidur. Usai >Shalat Subuh, Rizka mandi, sarapan, dan siap berangkat ke sekolah. >Menjelang pukul 04.30, dari rumah kontrakannya di Kampung Kelapa, RT 05/06 >Citayam, Depok, Rizka diantar ibunya naik angkot ke Stasiun KA Citayam. > >Lalu, ibu dan anaknya ini turun di Stasiun KA Gondangdia kemudian naik ojek > menuju ke SDN Kenari 05 Jalan Kramat IV, Jakarta Pusat. Selama anaknya >belajar, Rustidjah menunggu di luar gedung. Pulang sekolah, mereka langsung >menuju perempatan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat. Mau apa di situ? > >Kedatangan Rizka bersama ibunya ke Tugu Tani bukan mau jalan-jalan atau >rekreasi. Tapi, di situ Rizka mulai berganti jati diri dari seorang pelajar >menjadi penjual koran. Dengan mengenakan topi, baju sweater, dan masih >mengenakan seragam sekolah, Rizka menemui seorang loper untuk menerima >pasokan koran. > >"Kebetulan kakak Rizka yang nomor tiga namanya Rifki juga jualan koran di >Tugu Tani ini. Nah, begitu Rifki datang, Rizka saya tinggal pulang ke >Citayam. Sebenarnya saya tidak tega membiarkan anak saya berjualan koran. >Cuma mau bagaimana lagi, dia yang mau begitu," ujar Rustidjah. > >Biaya transport dan makan sehari sekitar Rp 25.000. Rinciannya, naik ojek >dari rumah ke Stasiun KA Citayam Rp 4.000, lalu naik kereta Rp 2.000. Ojek >dari Gondangdia ke sekolah Rp 4.000. Pulang pergi (pp) berarti Rp 20.000, >ditambah uang makan sehingga total Rp 25.000. > >Sebait lirik lagu Iwan Fals berjudul Tugu Pancoran yang berbunyi, anak >sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu >tidurnya, tepat sekali dengan pengalaman hidup Rizka. Sebagai penjual koran >dia harus merasakan panas terik dan guyuran hujan. Meski demikian Rizka >mampu bertahan. > >Setiap hari dari hasil menjual koran, Rizka yang gemar berenang ini mampu >mendapatkan penghasilan bersih Rp 15.000. Uang itu dia simpan di tasnya. >Selepas maghrib, dia bersama kakaknya bergegas ke Stasiun KA Gondangdia >untuk pulang kembali ke Citayam. Sampai di rumah biasanya pukul sembilan >malam. > >Tugas-tugas sekolah yang diberikan guru dikerjakan Rizka di gerbong kereta, >dibantu kakaknya. Dalam kondisi lelah dan ngantuk, Rizka berjuang >mati-matian supaya dia bisa memperlihatkan tugasnya kepada guru. >Sesampainya di rumah Rizka langsung mandi, makan, dan tidur. Begitu >seterusnya saban hari ketika tidak libur sekolah. > >Disimpan > >Uang hasil jual koran dititipkan pada ibunya. "Uang itu saya simpan dan >digunakan lagi buat kebutuhan Rizka sehari-hari, " kata ibunya. Jika ada >sisa uangnya ditabung. "Handphone ini hasil tabungan Rizka Bang, dibeli >biar bisa komunikasi dengan ibu," kata Rizka. > >Keberadaan Rizka yang selalu berjualan koran dengan memakai seragam sekolah >membuat kepala sekolah uring-uringan. Begitu muncul di surat kabar, Kepala >SDN 05 Kenari Sriminta Ningsih, sempat menegur Rizka supaya tidak memakai >seragam sekolah jika berjualan koran. > >Tapi apa yang diucapkan Sriminta berbeda dengan apa yang dikatakan Rizka. >Murid yang masuk tiga besar di kelasnya ini menuturkan, ibu kepala sekolah >telah membuat dirinya sakit hati karena merasa diintimidasi. Apalagi ia >diancam akan disuruh pindah bila tetap berjualan koran dengan berseragam >sekolah. Mendengar kejadian itu, Yayasan Loper Indonesia (YPI) tersentak. > >Sabtu (24/3) pagi, Laris Naibaho, Ketua YPI, bersama Dicky EA, >sekretarisnya, mendatangi Sriminta Ningsih di ruang kerjanya. "Kami datang >untuk mengonfirmasi berita seputar Rizka. Sebab, bagiamanapun Rizka anggota >kami. Tentu jika ada perbuatan negatif kepada loper kami akan turun," >tandas Naibaho. > >Tapi, kata Naibaho, kepala sekolah mengatakan bahwa dia tidak bermaksud >mengintimidasi tapi cuma mengimbau saja. Meski demikian, kata Naibaho, >sebenarnya sah-sah saja jika ada murid berseragam sekolah berjualan koran. >"Kan nggak ada undang-undang yang melarang," paparnya. > >Diakui Rizka, tasnya menjadi terlalu berat jika harus membawa pakaian >ganti, sementara dia tidak mungkin pulang dulu ke rumahnya di Citayam untuk >berganti pakaian. Di mata Naibaho, anak-anak seperti Rizka ini patut >diacungi jempol karena dalam kondisi hidup susah dia masih punya jiwa >kreatif. > >"Daripada jadi Pak Ogah, lebih baik kan jadi loper koran. Kenapa anak-anak >ini harus turun ke jalan sebab pemerintah tidak bisa menjamin kehidupan >mereka. Dengan adanya mereka, para loper koran, maka masyarakat bisa >pintar. Coba kalau tidak ada yang menjual koran, masyarakat buta >informasi," ucap Naibaho. Guru pun kalau ingin pintar sebaiknya baca koran. >
>-- >=========== ========= ========= ==== >Sumber : http://www.kompas. com/ver1/ Metropolitan/ 0703/25/094505. htm Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
