terima kasih om popa, tulisan yang memotivasi untuk sukses diri selalu. Saya lagi menghayal nih buat keluarga bahagia..
salam, agussyafii --- In [EMAIL PROTECTED], OmPopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > *Law of Attraction: The Expectation Theory* > > Tulisan ini adalah kelanjutan dari proses pembelajaran Saya tentang "Law of > Attraction" > > Hampir di setiap seminar sukses, pelatihan sukses, workshop sukses atau > event-event "suksesi" sejenis lainnya, Anda sering diminta untuk > "mengkhayalkan" kesuksesan Anda. Istilah teknisnya, visualisasi. Di berbagai > event itu, Anda akan sering diminta untuk mengimplementasikan nasehat > seperti ini: > > *"Fake it till you make it"* > *"Jika mau sukses bersikaplah sukses"* > > Maksudnya, jika Anda belum bisa berpura-puralah bisa dan jika Anda belum > sukses berpura-puralah sukses. > > Apa yang perlu Anda pahami tentang sikap "berpura-pura" itu, bukanlah > sekedar menipu diri sendiri dengan "khayalan bisa" atau "khayalan sukses". > Itu ada rasionalisasinya. > > Sebagai contoh, jika Anda menginginkan punya mobil mewah, maka coach sukses > akan meminta Anda untuk menggambarkan atau memvisualisasikan mobil mewah itu > di kepala Anda. Anda, biasanya diminta untuk sangat detil dalam > menggambarkannya. Bentuknya, harganya, warnanya, tahun keluarannya, velgnya, > bahan untuk joknya, variasinya, model gagang stirnya, sampai plat nomornya. > > Apa yang diharapkan bisa terjadi dengan visualisasi semacam itu? Apa yang > diharapkan terjadi pada diri Anda, adalah berfungsinya "The Law of > Attraction" sehingga Anda benar-benar sukses. Dengan imajinasi, visualisasi, > dan khayalan itu, Anda diharapkan membentuk sebuah visi, kemudian disadari > atau tidak meramu semacam emosi, yang kemudian bisa menggerakkan Anda untuk > mulai merealisasikannya. Hingga akhirnya, Anda benar-benar bisa > mendapatkannya. > > Anda mungkin akan berkata, "Ah, itu kan njelehi alias nggilani. Sukses koq > mengkhayal." Ya, sepertinya memang begitu. Tapi bukan begitu. Saya sendiri, > sering menjawab komentar semacam itu dengan, "Alah. Mengkhayal aja koq > pelit." Mari kita lihat rasionalisasinya. > > Katakanlah mobil idaman Anda sudah diproduksi dan sudah dijual di suatu toko > di luar sana. Di tangan Anda, sudah ada uang Rp 560 juta, pas sejumlah harga > mobil itu on the road. Apa yang Anda lakukan? > > Yang Anda lakukan adalah, sekali lagi memastikan bahwa mobil itulah yang > Anda inginkan. Kemudian, Anda mulai mencari-cari di mana toko yang > menjualnya. Setelah ketemu, Anda hampiri mobil itu, dan Anda mulai > mencocok-cocokkan feature-nya dengan idaman Anda. Anda pas-pasin warnanya > cocok nggak. Joknya sesuai mau Anda nggak. Velgnya seperti yang Anda > inginkan atau tidak. Begitu seterusnya. Setelah semuanya cocok, Anda malah > masih sering coba-coba menawar lagi kan? Supaya bisa dapat lebih murah, > he..he..he... > > Akhirnya, setelah berbagai penyesuaian atau sedikit penyimpangan, mobil itu > Anda beli juga. Tercapailah target Anda. > > *Skenario I* > > Sekarang, mari kita tarik ke sebulan sebelumnya. Uang sejumlah Rp 560 juta > itu, belum ada di tangan Anda. Anda hanya punya separohnya yaitu Rp 280 > juta. Akan tetapi, Anda tahu persis bahwa ada sebuah proyek yang akan gol, > dan akan memberi Anda uang sejumlah Rp 500 juta. Menurut kalkulasi Anda, > uang itu "pasti" Anda terima. Apa yang Anda lakukan? Sangat mungkin, Anda > akan melakukan hal yang kurang lebih sama, seperti jika uang itu sudah di > tangan Anda. Anda bersiap-siap untuk membeli mobil impian Anda. Betul bukan? > > > *Skenario II* > > Sekarang, mari kita tarik ke enam bulan sebelumnya. Uang di tangan Anda baru > sepertiga dari harga mobil itu, alias Rp 187 juta. Anda sudah > memperhitungkan bahwa dalam enam bulan ke depan, Anda akan mendapatkan uang > Rp 32 juta sebulan. Artinya, enam bulan lagi jumlah uang itu adalah Rp 192 > juta. Jumlah yang lebih besar dari Rp 187 juta. Apa yang Anda lakukan? Sama! > Anda bersiap-siap untuk membeli mobil itu. > > *Skenario III* > > Sekarang, kita tarik ke tiga tahun sebelumnya. Tidak sepeserpun uang Anda > punya. Tapi Anda, kini bekerja dan menerima gaji Rp 12 juta sebulan. Apa > yang Anda lakukan? Anda mulai berpikir tentang kenaikan progresif pendapatan > Anda, yang nantinya pada akhir tahun ketiga, akan membuat Anda punya uang Rp > 560 juta. Jika Anda bisa memastikan hal itu dengan keahlian dan kepakaran > Anda dalam bekerja, apa yang Anda lakukan? Sama! Anda mestinya juga > bersiap-siap untuk membeli mobil itu. > > *Skenario IV* > > Sekarang, kita tarik ke tiga tahun sebelumnya. Akan tetapi, gaji Anda hanya > Rp 5 juta sebulan. Anda harus mencari cara, agar tiga tahun lagi uang Anda > memang terkumpul sebanyak Rp 560 juta. Lepas dari benar atau tidaknya, dan > dari baik atau buruknya, Anda mungkin mencoba berselingkuh di kantor, dengan > mencari objekan di ladang-ladang yang lain. Atau, Anda mulai menjajal > kemampuan entrepreneurship Anda, dengan mencoba membuka usaha sendiri. Atau, > Anda memberdayakan anak dan istri Anda, untuk mendukung penghasilan Anda. > Jika Anda bisa memproyeksikannya, apa yang Anda lakukan? Sama! Anda mestinya > bersiap-siap untuk membeli mobil itu. Wong tinggal soal waktu koq. > > *Prinsip-prinsip Turunan* > > Dengan uang di tangan sejumlah Rp 560 juta, Anda tetaplah mengkhayal. Sebab, > jika Anda pergi ke showroom dengan uang itu, kemudian (maaf) Anda dirampok > di tengah jalan sebelum sampai ke sana, cita-cita Anda juga nggak bakal > kesampaian. Jika uang itu ditransfer lewat bank sekalipun, kalo saat Anda > mengelus-elus mobil itu di showroom, tiba-tiba handphone Anda berdering, dan > pembantu Anda memberi tahu (maaf lagi), "Pak rumah kebakaran!" Bagaimana? > Anda juga cuma mengkhayal. > > Dengan tanpa uang di tangan, tiga tahun sebelumnya, Anda juga cuma > mengkhayal. Tapi jika khayalan Anda di dukung oleh sebuah sistem atraksi > yang benar, maka Anda akan sangat mungkin berhasil mencapainya. > > Masalahnya, Anda terlalu condong kepada logika. Logika mengatakan kepada > Anda, "Itu nggak logis dan itu nggak mungkin!" Padahal, logika Anda sangat > terbatas kemampuannya. Sementara alam semesta, punya satu milyar cara untuk > mendeliveri impian Anda. > > Rezeki itu di tangan Tuhan. Anda sangat mungkin "deserve" untuk impian Anda. > Apa yang perlu Anda lakukan, adalah menyogrok-nyogrok rezeki itu agar jatuh > ke tangan Anda. Tentunya, dengan cara-cara yang disukai oleh Yang Memberi > Rezeki. Yaitu ilmu dan keahlian, serta memahami hukum universal 1, 2, dan 3. > Dan tentu saja, Anda harus membatasi diri, nggak perlu kemaruk. > > Cara yang moderat begini. Jika Anda punya impian, kemudian Anda lihat > kemampuan Anda saat ini belum ada, maka buatlah proyeksi. Dua jam lagi > bagaimana. Besok bagaimana. Sebulan lagi bagaimana. Setahun lagi bagaimana. > Dan tiga tahun lagi bagaimana. Kalo Anda malas, lupakan saja impian Anda! > > Maksudnya, ada dua hal saja yang perlu Anda lakukan berkaitan dengan > mimpi-mimpi Anda. > > Jika impian Anda tidak bisa diproyeksikan keberhasilannya, adjust mimpinya, > atau: buatlah sistem otomasi agar impian itu bisa terwujud. Intinya sih > sama, tetap saja Anda mengkhayal! > > Pak, Bu. Dunia ini khayalan. Apa yang perlu Anda lakukan, pada akhirnya > tetap sama, yaitu kerja, kerja, kerja. Bertindak, bertindak, bertindak. > Belajar, belajar, belajar. > > Kini Anda pasti memahami, mengapa ada seminar "sukses bermodal dengkul", > "menjadi kaya tanpa modal", "kebebasan finansial", atau "passive income". > Jangan pelit mengkhayal, asal Anda membuat sistem untuk merealisasikannya. > Syukur kalo bisa bikin sistem otomasi. Di dalam "Sales Magic" Pak Tung Desem > Waringin bilang, "Yang penting tahu di mana letak batunya." > Ting...ting...ting... Jangan pelit mengkhayal. > > So, mana yang akan Anda khayalkan? > Apakah Anda mau mengkhayal untuk kesuksesan Anda? > Atau, Anda mau mengkhayal bahwa Anda tidak mampu mencapainya? > > Link: > Law of Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/2007/03/law-of- attraction.html> > Law of Attraction: The Basic Principles > <http://milis-bicara.blogspot.com/2007/04/law-of-attraction-basic- principles.html> > > Sukses selalu (mengkhayal) > Ikhwan Sopa > Trainer E.D.A.N. > 021-70096855 > http://milis-bicara.blogspot.com > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
