--- In [EMAIL PROTECTED], audifax -
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
PSIKOLOGI TRANSFORMATIF: SEBUAH PEMBACAAN ULANG ATAS PSIKOLOGI
Oleh:
Audifax
Penulis buku "Mite Harry Potter" (2005, Jalasutra) dan "Imagining
Lara Croft" (2006, Jalasutra)
Mengapa Psikologi perlu dibaca ulang? Psikologi seperti apa yang
perlu dibaca ulang? Dan seperti apa pula pembacaan ulang terhadap
psikologi? Barangkali itu semua adalah pertanyaan yang muncul di
benak anda ketika membaca judul di tulisan ini. Memang tulisan ini
ditujukan untuk membaca ulang psikologi, bukan hanya psikologi
seperti yang diajarkan di perguruan tinggi, namun juga psikologi
yang berlaku di realita kehidupan: psikologi saya, anda dan kita.
Psikologi yang saya bicarakan di sini adalah psikologi yang kita
gunakan untuk memahami realita kehidupan yang menampak di hadapan
masing-masing dari kita. Psikologi, perlu disadari, bukan hanya
digunakan oleh para ahli psikologi, tetapi juga oleh kita, masing-
masing dari kita.
Ketika kita bertemu orang, ketika kita berada di tengah suasana
tertentu, semua itu adalah saat-saat di mana kita menggunakan
psikologi. "Ilmu" yang kita pelajari dalam hidup kita dan kita
gunakan untuk memahami orang lain atau memahami realita yang
menampak di hadapan, itulah yang saya sebut di sini sebagai
psikologi. Jadi, interpretasi terhadap orang lain (Liyan) atau
konstruksi realita di atas suatu fenomena tertentu, pada dasarnya
bukan saja milik orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan formal
psikologi, tapi juga ada pada diri orang-orang yang tak pernah
mengenyam pendidikan psikologi. Nah, di sinilah pentingnya membaca
ulang atas semua yang bisa kita sebut sebagai psikologi.
MANUSIA DAN PSIKOLOGI BAGI MANUSIA
Saya bisa mengatakan bahwa psikologi, atau cara memahami orang
(understanding human being) baik yang diajarkan dan digunakan oleh
banyak psikolog maupun psikologi yang digunakan oleh orang awam,
sebenarnya terjebak dalam suatu pola yang itu-itu saja. Memang "cara
baru" seolah-olah terus bermunculan dan menjadi trend, namun di
balik derasnya kemunculan berbagai hal baru yang satu sama lain
mengklaim diri lebih baik, terdapat ketakmawasan bahwa dalam 2500
tahun terakhir tak ada kemajuan sama sekali dalam upaya memahami
psike (jiwa) manusia, selain upaya mengategorikannya dalam sesuatu
yang sama sekali lain dari apa yang coba dikategorikan. Jiwa, selalu
meloloskan diri dari apapun jerat kategori yang coba diterapkan
atasnya. Pendeknya, Jiwa selalu menjadi Yang-Lain (Other) dari
apapun yang coba dipikirkan manusia atasnya.
Lebih jauh, ada sesuatu yang lebih esensial, bahwa kita kerap
terjebak dalam aturan-aturan tertentu, yang sebenarnya diadopsi
begitu saja dari sesuatu yang bukan berasal dari kultur di mana kita
hidup saat ini. Kita bukan memelajari lagi, tapi sudah terjebak di
dalamnya. Terjebak dalam teks-teks, entah itu teori, aturan,
termasuk titel. Lalu, kita merasa sudah benar ketika sudah berada di
jalur yang sejatinya menjebak kita itu. Ini bukan hanya berlaku di
psikologi, tapi juga dalam kehidupan di masyarakat yang lebih luas.
Bahkan, keterjebakan seperti inilah yang kerapkali membuat orang
kurang bisa menerima orang lain. Orang menjadi terlalu yakin dengan
apa yang menjebaknya sehingga tak bisa menerima pluralitas. Banyak
hal yang menjebak, mulai dari ilmu pengetahuan (contoh: demo-demo
mengatasnamakan ilmu pengetahuan seperti `perlawanan
buruh', `feminisme' dan lain-lain, fanatisme agama, fanatisme etnis,
dan sebagainya). Ini semua pada dasarnya adalah sebuah psikologi di
antara kita. Sebuah cara dari kita untuk memahami manusia lain,
yang sayangnya kita paksakan untuk masuk dalam paradigma yang kita
yakini paling benar.
Saya pikir bahkan kita mungkin perlu meredefinisikan lagi makna
dari psikologi, ketika kita mau menerapkan psikologi dalam
permasalahan yang kontekstual. Kita perlu meredefinisi dengan
memperhitungkan pemahaman yang merangkul pengalaman manusia itu
sendiri, pengalaman masing-masing orang, masing-masing nama dari
kita, pengalaman hidup yang kontekstual dengan masing-masing
permasalahan dari kita. Termasuk memperhitungkan apa yang tak mampu
disadari pemikiran manusia. Nah, ini poin pentingnya. Manusia tak
bisa memahami realita kehidupan atau manusia lain di luar apa yang
mampu dipikirkannya. Ini adalah keterbatasan manusia yang memang
harus kita terima dan jalani. Tetapi, bukan berarti apa yang tak
mampu dipikirkan atau di luar batas kemampuannya untuk memikirkan,
lantas bisa begitu saja dianggap tidak ada atau dipinggirkan. Inilah
yang selama ini kerap terjadi. Orang memahami sejauh apa yang mampu
ia pikirkan. Sedangkan paradigma berpikir manusia itu sendiri,
menggunakan
sarana-sarana yang membantu memudahkannya memahami kehidupan,
seperti ilmu pengetahuan, agama atau pemahaman budaya. Masalahnya,
orang kerap tak menyadari bahwa apapun yang mereka gunakan untuk
memudahkan memahami dunia itu, selalu sifatnya terbatas dan tak
mungkin mencakup semuanya.
Anda mungkin pernah melihat, entah itu psikolog ataupun orang non-
psikolog, yang melakukan interpretasi terhadap orang
lain, "memperkirakan" berdasarkan kriteria tertentu, misalnya etnis,
agama, atribut, potongan rambut, cacat fisik atau hal-hal lain yang
tampak dan terpikirkan, lalu menarik kesimpulan mengenai orang
tersebut berdasarkan suatu konstruksi yang ada dalam benak penafsir.
Ini adalah sebuah "praktek" psikologi. Sah-sah saja. Apa yang
penting justru bukan benar atau salah interpretasi yang dibuat,
namun kerendahan hati bahwa apapun interpretasi yang dibuat, itu
adalah sebuah interpretasi terhadap Liyan, terhadap sesuatu yang
lain dari apa yang ada di pikiranku. Kenapa? Karena sejatinya
pikiranku tak akan pernah mampu menjangkau yang lain itu. Apa yang
aku lakukan dengan pikiranku atas Liyan tersebut, adalah sebuah
upaya pengkategorian berdasarkan konstruksi realita tertentu yang
telah tertanam di benakku, jadi bukan Liyan itu sendiri. Sekali lagi
saya ulangi:
Semua itu hanyalah sebatas konstruksi sosial yang ada dalam
pikiranku dan bukan Liyan itu sendiri.
Selama ini, kita sebenarnya tidak begitu jelas ketika berbicara
mengenai apa itu psikologi. Kita bicara simptom-simptom perilaku,
kognisi, kesadaran-ketaksadaran, tetapi itu semua bukan psike (Jiwa)
yang sesungguhnya. Psike itu sendiri, berada "di luar" semua
pengalaman manusia akan perilakunya, kognisinya, kesadaran-
ketaksadarannya. Lebih jauh lagi, esensi dari semua ini adalah
proses meng-Ada manusia itu sendiri dengan semua hal itu. Perhatikan
sekali lagi: "Proses meng-Ada", jadi meng-Ada manusia itu selalu
dalam proses. Ia tak pernah berhenti dalam finalitas definisi
seperti halnya konstruksi-konstruksi realita yang ada dalam pikiran.
Ia bukan pula definisi-definisi manusia dalam psikologi yang seolah
berlaku sama bagi semua orang. Bukan, bukan itu semua. Psike adalah
sesuatu yang meng-Ada bersama nama demi nama dari kita, yang selalu
berproses, selalu bertransformasi. Inilah sebenarnya sentral dari
segala permasalahan.
PSIKOLOGI TRANSFORMATIF
Psikologi Transformatif, adalah inner psikkologi yang mengajak
manusia untuk mentransformasi. Ini karena hidup adalah transformasi,
adalah perjalanan. Inilah kesejatian understanding human being. Kita
tak bisa menghentikan pengetahuan tentang manusia dalam suatu
definisi-definisi, melainkan berusaha mentransformasi manusia,
sesuai perjalanan hidupnya masing-masing. Dan inti dari proses
transformasi ini adalah meng-Ada-nya psike itu sendiri.
Psikologi Transformatif bukan melulu terhenti pada penyembuhan,
advis, terapi dan sejenisnya, tapi bagaimana menolong untuk
bertransformasi. Bagaimana caranya? Psikologi Transformatif mengajak
nama demi nama untuk hidup dalam kisahnya sendiri. Banyak orang
sudah tak mampu mengisahkan, menarasikan dirinya. Orang sudah
tertutup kesejatian dirinya ketika ia berada dalam kerumunan, entah
itu kerumunan pendemo, kerumunan suporter, kerumunan penggemar
selebriti, kerumunan penjarah, kerumunan pendukung partai dan
berbagai kerumunan lainnya. Manusia seolah-olah merasa aman ketika
sudah berada dalam kerumunan dan "menyelaraskan" diri dengan norma
kerumunan itu. Maka tak heran ketika orang berada dalam kerumunan,
keberaniannya untuk mempertahankan norma kerumunannya menjadi
berlipat. Tak jarang mengganyang orang yang dianggap berbeda.
Bagaimana proses pengganyangan ini terjadi? Dengan cara mereduksi
orang-lain-yang-berbeda (Liyan) ke dalam apa yang aku pikirkan. Cara
memahami Liyan dengan cara mereduksi (memotong) Liyan hanya sebatas
apa yang mampu aku pikirkan ini, sejatinya telah begitu mengakar
kuat dalam budaya di manapun.
Pengkategorian, entah itu, sudah berupa teori yang diajarkan di
perguruan tinggi maupun masih common-sense, tak bisa dipungkiri
memang sedikitnya membantu manusia untuk berjalan di dunia yang
sejatinya tak pasti ini. Namun, kerendah hatian untuk mengakui
ketakpastian dunia juga tak boleh serta merta lenyap. Kerendah
hatian itulah justru yang jauh lebih penting dibanding segala bentuk
pengkategorian, karena dengan kerendah hatian itulah masing-masing
dari kita bisa menerima pluralitas kehidupan. Pluralitas yang ada
karena dunia ini adalah ruang yang penuh ketakpastian. Ruang yang
selalu bertransformasi.
Jika ada sebuah ruang yang diperlukan untuk sebuah pluralitas,
maka ruang itu mestilah sebuah ruang yang memberi kesempatan bagi
nama demi nama untuk bertransformasi berdasar keunikannya masing-
masing. Kesempatan bagi nama demi nama itu untuk berkisah sesuai
jalan hidupnya, sesuai apa yang dibekalkan semesta dalam dirinya.
Dalam ruang inilah keberbedaan dan bahkan ketakcocokan bisa bertemu
satu sama lain, saling tahu satu sama lain walau tak sejalan. Inilah
ruang di mana masing-masing nama memiliki kesempatan untuk "membuat
keputusan" dan bukan hanya sekedar "mengambil keputusan".
MANUSIA, SUBJEK BERPIKIR YANG BERLUBANG
Dalam ruang ini, manusia, tetaplah sesuatu yang berpikir. Namun,
ia memiliki kerendahhatian bahwa apapun yang ia pikirkan mengenai
realitas, adalah bukan realitas itu sendiri. Realitas yang coba
direngkuh dalam pemahaman sebatas apa yang mampu ia pikirkan, akan
selalu meloloskan diri. Seakan ada lubang dalam diri manusia tempat
keluarnya segala realitas yang coba dimasukkan ke dalam pemahaman
diri. Kesadaran bahwa manusia adalah subjek yang "berlubang" ini
adalah bentuk lain kesadaran bahwa manusia bukanlah subjek aku-
berpikir yang utuh atau bisa mengutuhkan dunia dalam pikiran,
melainkan subjek yang tak utuh atau tak sempurna. Ketaksempurnaan,
itulah kesejatian manusia, Sang Aku yang berpikir.
Seperti dijelaskan oleh seorang psikoanalisis lacanian bernama
Slavoj Zizek, bawa sepanjang hidup, manusia memang selalu berusaha
untuk memahami dunia dengan pikirannya, berusaha membuat dunia ini
utuh dalam pikirannya, namun itu semua tak lebih dari upaya menambal
lubang (baca: ketakutuhan, ketaksempurnaan, keretakan) dalam diri
yang selalu gagal. Namun, sepanjang hidup pula manusia seakan
ditakdirkan untuk terus menerus menambal lubang yang sia-sia saja
dilakukan, karena apapun yang digunakan menutup lubang ini selalu
tersedot keluar. Inilah tragedi manusia yang bisa diibaratkan
Sisifus dalam mitologi Yunani, yang dikutuk untuk selalu mengangkat
batu ke atas bukit hanya untuk melihat batu itu menggelinding
kembali ke bawah.
Lalu, dalam keberulangan yang sia-sia ini apa yang harus
dilakukan? Satu-satunya kesempatan manusia adalah membuat hidup yang
berada dalam keberulangan sia-sia ini menjadi indah layaknya karya
seni. Di sinilah pentingnya masing-masing nama membangun kisah
hidupnya sebagai suatu keindahan. Dalam keindahan karya seni, selalu
ada kebaruan walau karya itu dilihat berulang-ulang. Keindahan karya
seni juga mengatasi ruang dan waktu kehidupan. Sebuah karya seni
mampu `hidup' melampaui jamannya. Keindahan inilah yang akan muncul
ketika masing-masing nama di dunia menyadari untuk apa mereka hidup.
Ketika manusia melukai, mencelakakan, membunuh manusia lain,
persoalannya bukan terletak pada batasan benar-salah yang mereka
langgar, namun pada ketidaktahuan untuk apa mereka hidup.
Ketidaktahuan bahwa masing-masing nama dari kita adalah sebuah kisah
yang sejatinya adalah karya-karya seni yang mesti dibangun dalam
sebuah keindahan.
Bukan benar-salah (atau segala macam kategori-dikotomis lain
seperti: Hitam-putih, laki-perempuan, baik-jahat, dll) yang penting
dalam memahami kehidupan, namun justru pengenalan batasan-batasan
kategoris itu dan melampauinya. Melampaui berbeda dengan melanggar.
Melampaui di sini justru menyiratkan bahwa dalam kepatuhan atau cara
pemahaman yang memang terbatas, manusia masih bisa rendah hati untuk
menyadari bahwa selalu ada sesuatu Yang-Lain yang tak tercakup
penjelasan berdasarkan kategori-kategori dikotomis yang dibuat
manusia tersebut. Inilah pentingnya mendekonstruksi pemahaman
berdasarkan kategori dikotomis yang dibuat manusia. Kerendahatian
bahwa kategori itu tal lebih dari upaya mendekati realita, namun
bukan realita itu sendiri. Dengan demikian, kita tak hanya rendah
hati, namun juga memberi kesempatan bagi kita sendiri untuk selalu
bertransformasi dan tak terkungkung dalam kategori yang kita yakini
secara buta telah mampu menjelaskan dunia.
© Audifax 23 April 2007
Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang
berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya
untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini
yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus
berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung
sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan
tindak lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui
mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan mengenai
transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah
terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari
simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto,
Herry Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,.
Beberapa rekan lain yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax,
Leonardo Rimba, Vincent Liong, Mang Ucup, Prof Soehartono Taat
Putra, Bagus Takwin, Amalia "Lia" Ramananda, Himawijaya, Rudi
Murtomo, Felix
Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni
Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku
Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna
Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Yunis
Kartika, Ratih Ibrahim, Yustinus Prastowo.
Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi
Transformatif, klik:
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
--- End forwarded message ---