Berpikir Sirkuler
May 16th, 2007 · No Comments

Dahulu kala, aku sempat sekilas tertarik membaca buku
fifth disicplinenya peter senge di ruangnya pak seger,
buku berwarna hitam kumal….tetapi kuabaikan. Dahulu
kala, sempat diberitahu pak ino tentang berpikir
sistem…kudengarkan tapi kuabaikan. Sampai suatu hari
kemudian aku mengikuti vibrant training dimana
dimainkan system thingking games. Games yang membuat
lompatan kesadaran bahwa kerumitan-kerumitan berpikir
sistem ternyata bisa diterjemahkan secara sederhana,
sesuatu yang kemudian kusadari merupakan khas mas
dani.

Lompatan kesadaran ini memicu semangatku untuk
belajar. Mulailah eksperimentasi beberapa improvisasi
system thinking games, pada pada sesi training maupun
di ruang-ruang kuliah. Menghayati benar setiap lekuk
tubuh games tersebut. Merasakan kelezatan setiap
potong games itu.

Yang menarik, dua hari yang lalu.  Ketika aku ngajar
kuliah psikodiagnostik 2:observasi…materinya
observasi pada setting industri dan organisasi. Otakku
tiba-tiba menjadi liar. ehm bagaimana kalau mahasiswa
kuajak dolan ke fakultas tetangga, farmasi. Aku minta
mereka mengamati ruang kerja karyawan dengan
membayangkan mereka tengah membawa tustel dan asyik
memotret setiap bagian ruang tersebut. karena nanti
foto hasil karya mereka akan dibahas dikelas. Mereka
berkeliaran disana sambil dipandangi dengan cara yang
aneh oleh para penghuninya…untungnya mahasiswa
termasuk kalangan para cuekers…jadi santai aja…

Setelah beberapa lama, maka aku mengajak muka-muka
puas untuk berkunjung ke kandang sendiri, ruang kerja
karyawan fakultas psikologi. singkat aja. 5 menit.
Tujuannya lebih untuk memunculkan ingatan mereka.
Setelah itu semua kembali ke kelas (bukan laptop….).
Aku meminta mahasiswa membentuk kelompok 4 orang. Aku
mainkan world cafe conversation untuk mendorong
terjadinya pengayaan dalam proses belajar (biasanya
kalau pakem pada satu kelompok,terjadi groupthink,
berpikir linear). Awalnya kuminta mereka mensharingkan
“foto” hasil jepretan mereka.

Nah selama mereka sharing, aku menuliskan serangkaian
pertanyaan di komputer kelas. 1. Apa ciri ruang kerja
karyawan fakultas farmasi? 2. Bagaimana ciri ruang
kerja karyawan itu berdampak pada interaksi antar
karyawan, interaksi karyawan dengan dosen dan
mahasiswa? 3. Secara umum, bagaimana pola interaksi
karyawan fakultas farmasi? 4. Bagaimana pola interaksi
berdampak pada koordinasi, kebersamaan dan konflik di
kalangan karyawan?

Aku ajukan pertanyaan itu satu per satu ke mahasiswa.
Aku meminta setiap 2 orang anggota kelompok berpindah
pada kelompok lainnya mengikuti arah jarum jam.
Suasananya sungguh menarik karena setiap mahasiswa
pengen tahu apa yang dihasilkan oleh kawannya.
Percakapanpun semakin ramai…yah mirip-mirip orang
cangkruk (kongkow gitulah…) di warung kopi di
pinggir trotoar jalan sekitar kampus. walah…apa
seh….

Dan pertanyaan terakhir. 5. Imajinasikan. Fakultas
Farmasi melakukan perancangan ulang ruang kerja
karyawannya. Bagaimana situasi koordinasi, kebersamaan
dan konflik di kalangan karyawan berpengaruh  pada
perancangan ulang ruang kerja karyawan dan pembagian
ruang diantara mereka?  Nah pada titik ini, muncul 
berbagai reaksi yang pada umumnya kebingungan. Satu
dua mahasiswa bertanya, “Apakah kami diminta untuk
menjelaskan apa yang membuat fakultas farmasi
merancang ruangan yang seperti sekarang ini?” 
Sebuah pertanyaan setback (bener ya…mbohlah),
pertanyaan yang menengok ke belakang….mencari
penyebab di masa lalu atas situasi kekinian. Setelah
eksplorasi, aku tahu pertanyaan itu muncul karena
mereka shock, tidak membayangkan bahwa bentuk ruang
akan berpengaruh pada bentuk ruang kembali.

Pada titik ini, aku memberikan penjelasan singkat
mengenai berpikir sirkuler dengan menggambarkan sebuah
lingkaran sebab akibat 4 elemen yang ditanyakan.
Singkatnya, a menyebabkan b, b menyebabkan c, c
menyebabkan d, d menyebabkan a. Lalu aku tanyakan,
mana yang menjadi penyebab? mana yang menjadi akibat?

Pada akhir sesi, aku menceritakan sebuah cerita yang
kuingat dari fifth dicipline workbook tentang
kunjungan seorang manajer dan konsultan. Dimana,
urusan oli tercecer merupakan dampak dari kebijakan
direksi yang ditetapkan setahun yang lalu. Pada buku
itu, disarankan untuk melacak rantasi sebab-akibat
sejauh mungkin, dengan menggunakan 5 pertanyaan why,
dengan mengabaikan sejenak trait/karakteristik
personal sebagai suatu penyebab.

Apa manfaat berpikir sirkuler bagi kita?

Entahlah….

SUMBER:
http://keajaibankecil.wordpress.com/2007/05/16/berpikir-sirkuler/


                
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke