Ibu itu...?? wordless...gak ada satupun kata yang mampu menggambarkan keindahan
hati beliau,,tak ada setitik embun yang mampu menyamai kesejukan pandangan
sayangnya, tak ada kehangatan sehangat pelukan kasihnya, cintanya menggelorakan
semangat dan jiwa kita, menghidupi kita..takkan pernah ada kehidupan tanpa
cintanya..doa-doanya adalah aliran darah kita, tanpa kita sadar...berapa banyak
air mata yang tertumpah di sujudnya tiap malam, bukan untuk siapa-siapa, tapi
untuk kita...
Ibu...semoga 4JJI melindungi mu..merahmati mu...tiap detik, tiap hembusan
nafasmu adalah saat dimana 4JJI menganugerahkan cintaNya padamu...tempatmu
dekat denganNya wahai ibu...
Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa
kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam,
tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna
sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata
kita dan
terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu
mendorong
mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir
sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan
untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering
memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu
berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU
YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering
meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat
rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan
sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak
sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup
ikan itu,
ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang
masih
menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan
yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh,
lalu
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak
suka makan
ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang
dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah
kotak korek api
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan
sedikit uang
untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba,
aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin
kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak
korek api. Aku
berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih
harus
kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak,
aku tidak
capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat
menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai
menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik
matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan
ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh
yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu
kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh
lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan
gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak,
aku tidak
haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus
merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia
yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan
keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan.
Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman
yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik
masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah
melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati
ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak
mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari
sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi
ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan
sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan
abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk
membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau
menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu
berkata : "Saya
punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan
kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di
Amerika
berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku
pun bekerja
di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku
bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu
yang baik
hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata
kepadaku "Aku
tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit
kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada
jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk
menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di
ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua,
menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di
wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat
dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku
terlihat
lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil
berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam
kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "jangan menangis
anakku,Aku
tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku
tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian
pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih
ibu ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak
menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak
menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah
aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan
untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa
akan ayah
dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih
peduli dengan
pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar
kita, cemas
apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia
bahagia bila di
samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari
ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas
apakah ortu kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba
kita
renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas
budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata
"MENYESAL" di
kemudian hari.
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
[Non-text portions of this message have been removed]