Jejak-jejak Budaya Sunda di Tanah Banyumas
http://www.kotapurwokerto.info/index.php?pilih=lihat&id=75

Purwokerto - Bagi penduduk Jawa Barat, kalau berwisata ke timur, jangan 
hanya ke sekitar Yogyakarta. Jauh sebelumnya, menyimpanglah ke Kabupaten 
Banyumas. Di wilayah dengan ibu kota Purwokerto ini, kita akan menikmati 
jejak-jejak kesundaan di Jawa Tengah yang masih terekam pada nama-nama 
geografinya.

Salah satu kawasan yang kita tuju adalah daerah Batu raden yang berada pada 
lereng selatan Gunung Slamet (berketinggian 3.428 m dpl) atau gunung api 
kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru (3.676 m) di Jawa Timur.

Menuju Baturaden dari Purwokerto, kita hanya menempuh kurang dari setengah 
jam perjalanan dengan mobil ke arah utara. Pemandangan alam yang menawan dan 
udara sejuk alam pegunungan pada ketinggian 800-900 m langsung menyambut 
kedatangan kita.

Daerah Baturaden, Purwokerto Utara, seperti Lembang berpuluh tahun yang 
lalu, sejuk, bersih, dan asri. Tidak seperti Lembang sekarang yang sudah 
"tercemar" oleh maraknya kawasan-kawasan resor, deretan vila, dan real estat 
yang terdapat di mana-mana, daerah Baturaden masih tetap bersuasana pedesaan 
di lereng gunung yang apik.

Kawasan wisata alamnya merupakan primadona untuk Kabupaten Banyumas di Jawa 
Tengah bagian barat. Seperti halnya lokasi wisata alam lereng-lereng gunung 
api, selain pemandangan alam yang memesona, mata air panas dan sungai-sungai 
pegunungan dengan air jernih, adalah objek yang banyak menarik pengunjung.

Sungai-sungai pegunungan ini mengalir belum terlalu jauh dari sumbernya di 
lereng Gunung Slamet. Alirannya di Baturaden membentuk jeram dan air terjun 
ketika melalui batuan keras berjenis basalt atau andesit.

Seperti di Maribaya, Lembang, batuan basalt di Baturaden membentuk 
retakan-retakan kolom (columnar joint) yang tegak teratur. Kondisi itu 
terjadi ketika magma basalt hasil letusan Gunung Slamet yang meleleh sebagai 
lava batuan pijar, kemudian mendingin dan membeku menjadi batu. Saat 
pendinginan batuan itu, retakan-terakan kolom berbentuk poligonal segi enam 
terjadi secara alamiah. Analoginya seperti lumpur basah yang mengering.

Tapi ada hal lain yang juga menarik, terutama bagi pengunjung yang berasal 
dari Jawa Barat, yaitu air terjun di Baturaden ini dikenal sebagai Curug 
Gumawang. Di kawasan air terjun ini, terjadi musibah ketika putusnya sling 
jembatan gantung, pada liburan Lebaran 25 Oktober 2006 lalu.

Curug adalah bahasa Sunda yang berarti air terjun, sedangkan dalam bahasa 
Jawa mestinya grojogan. Begitu pula kata gumawang yang menurut Kamus Umum 
Basa Sunda (LBSS, 1995), berarti bersinar atau berkilap. Jadi rupanya, 
walaupun secara administratif Baturaden ada di Provinsi Jawa Tengah, 
beberapa nama geografisnya tetap mempertahankan nama Sunda.

Penamaan Sunda pada lokasi-lokasi geografis di Banyumas, bukan hanya Curug 
Gumawang, tetapi juga nama-nama geografis lain di sekitarnya, misalnya Curug 
Ceheng. Makin ke arah barat dari Purwokerto, nama-nama Sunda semakin 
kentara.

Antara Purwokerto dan Kota Kecamatan Ajibarang di sebelah baratnya, terdapat 
Kecamatan Cilongok. Jika kita amati nama-nama geografis pada peta topografi 
di sekitar Cilongok-Ajibarang, kita akan dapati nama-nama tempat seperti 
Ciroyom, Cideng, Cikembulan, Rancamaya, Rancah, Bojongkadu, Bojongsari, 
Pasirmalang, Pasirluhur, Curug Cipendok, dan masih banyak lagi. Jelas 
nama-nama itu tidak akan dijumpai di dalam kosakata Bahasa Jawa karena "ci" 
berarti air atau sungai, "ranca" rawa, "bojong" tanjung atau bagian tanah 
yang menjorok ke perairan, "pasir" bukit, dan "curug" air terjun. Seluruhnya 
merupakan awalan nama-nama tempat yang sangat umum dijumpai di Tatar Sunda.

Kota Kecamatan Ajibarang terletak di kaki barat daya Gunung Slamet. Jika 
ditarik garis lurus ke selatan, akan menyambung dengan Wangon dan hingga 
pantai selatan ke Cilacap.

Sedangkan jika ditarik ke utara, Ajibarang menyambung ke Bumiayu di lereng 
barat Gunung Slamet, dan ke Brebes di jalur pantai utara.

Antara Ajibarang dan Cilacap mengalir Kali Tajum dan bermuara ke Samudra 
Hindia. Sementara antara Bumiayu dan Brebes mengalir Kali Pemali yang 
berhulu di lereng barat daya Gunung Slamet, utara Ajibarang, dan bermuara ke 
laut Jawa.

Kali Pemali-Tajum yang kalau disambung menjadi garis utara-selatan inilah 
sebenarnya dua sungai yang memisahkan secara geografis Sunda di barat dan 
Jawa di timur.

Pada zaman ketika Kerajaan Pajajaran masih berjaya hingga abad ke-17, batas 
paling timur Kerajaan Sunda (Pajajaran) adalah Kali Pemali di utara dan 
diperkirakan Kali Tajum di selatan. Hal ini juga tercatat dengan baik oleh 
pangeran pengelana dari istana Pakuan (Bogor), Bujangga Manik, yang 
mengelana keliling Jawa Bali di abad ke-15.

Ia mencatat Kali Pemali (Cipamali, menurut catatannya) sebagai "tungtung 
Sunda" atau ujung ( Kerajaan) Sunda. Maka tidaklah mengherankan kalau banyak 
masyarakat Brebes di Kabupaten Tegal masih asyik berbahasa Sunda, walaupun 
secara administratif berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Di jalur selatan, hingga Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, pengaruh 
Sunda masih sangat terasa. Banyak penduduk Majenang masih menggunakan bahasa 
ibu bahasa Sunda.

Namun demikian, pencampuran kedua budaya tidak dapat dihindari. Selain itu, 
sudah pasti pengaruh Jawa akan sangat kuat terhadap masyarakat yang tadinya 
berbahasa Sunda, terutama di kota-kota. Namun di desa-desa dan 
kampung-kampung terpencil sebelah barat aliran Kali Pemali-Tajum, 
masyarakatnya bertahan dengan budaya masing-masing.

Begitulah pengalaman yang menarik dari berwisata di perbatasan Jawa Barat 
dan Jawa Tengah. Jadi ketika kita bepergian dengan kendaraan ke arah Jawa 
Tengah melalui jalur selatan, saat melewati Sungai Citanduy sebagai batas 
provinsi, kita belum benar-benar berada di tanah Jawa.

Karena hingga ke sekitar Majenang, Cimanggu, Wangon, Ajibarang bahkan 
Purwokerto, kita sebenarnya masih berada pada daerah-daerah yang masih 
terpengaruh Tatar Sunda

WWW.KOTAPURWOKERTO.INFO - Portal-nya Wong Panginyongan 

Kirim email ke