--------- Forwarded message ---------- From: "Foryanto J. Wiguna" <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Girls, Berapa Harga Dirimu?
-Foryanto J. Wiguna- "On 7/12/07, rediyans <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > *Assalamualaikum wr wb.. > *>> dari sebuah milis... > * > *Girls, Berapa Harga Dirimu?* > > Berapa harga dirimu? Waduh, seakan-akan harga diri bisa ditakar dengan > materi. Emang begitu kan kondisi saat ini. Yang namanya harga diri, > murah banget. Diobral seribu tiga juga banyak yang mau. Kok bisa? > > Coba kamu amati lingkungan sekitarmu. Harga diri, terutama kaum > perempuan alias cewek, sudah banting harga di mana-mana. Mulai dari gaya > berpakaian yang kelihatan pusar, (maaf) celana dalamnya, /underwear/ > alias kaos daleman, sampai berpakaian tapi telanjang. Yaitu berpakaian > tapi semua lekuk tubuhnya kelihatan dengan amat sangat jelas bentuk dan > ukurannya. > > Dikomporin oleh sinetron kacangan di TV yang isinya melulu pacaran dan > pacaran, remaja kita jadi ikutan. Tubuh cewek, bagian mana yang belum > terekspos oleh lawan jenisnya (baca " pacarnya") sih? Dalih palsunya sih > biasanya sebagai bukti cinta. Padahal /mah/, pelecehan harga diri yang > seharusnya nggak boleh dibiarkan begitu saja. Tapi kalo mau sama mau, > kan nggak ada hukumnya tuh. Nah loh, bingung juga kan? Yuk, kita preteli > satu per satu masalah ini. > > *Cewek dan harga sebuah diri* > > Perkembangan jaman modern bukannya diikuti dengan perkembangan pola > pikir yang modern pula. Tapi pola pikir hingga pola sikap berkembang ke > arah jahiliyah (kebodohan). Hanya saja kali ini memakai bungkus baru: > jahiliyah modern. Lomba-lomba kecantikan yang semua ujung-ujungnya pamer > aurat, digelar di mana-mana. Mulai tingkat RT hingga dunia. Bahkan > institusi kampus yang katanya tempatnya intelektual muda, juga > terkontaminasi dengan pagelaran /miss/ kampus. > > Baju minim dan seronok namun berharga mahal jadi gaya hidup. > Lenggak-lenggok di atas panggung jadi kebanggaan. Paling banter harga > dari diri yang dipajang itu cuma sebuah piala dari kuningan dan karton > satu lembar bertuliskan angka nominal uang. > > Bagi mereka yang nggak kebagian lenggak-lenggok di atas pentas, ada cara > lain yang bisa ditempuh untuk menikmati dunia kemilau itu. Malakin cowok > tajir. Si cowok juga nggak kalah 'cerdik' yaitu dengan memanfaatkan > cewek rese dan matre untuk mendapat kemauannya. Mau dibawa kemana aja > asal pulang dibelikan HP. Mau diapa-apakan saja asal ada ongkos ganti > pulsa. Halah! > > Akhirnya muncul istilah cewek bispak, bisa dipake. Dipake betulin > genting, mompa air atau ngayuh becak? Ya nggaklah. Bisa dipake di sini > maksudnya buat hal-hal yang tak bermoral. > > *Cewek, kok mau dihargai rendah?* > > Kalo dipikir-pikir, kenapa pula para cewek itu mau dihargai rendah ya? > Para cewek yang seharusnya punya rasa malu yang tinggi melebihi kaum > adam, jadi berubah. Sudahlah aurat dipamerkan ke mana-mana, mereka ini > mudah banget dijadikan mangsa oleh cowok-cowok tak bertanggung jawab. > Seakan-akan mereka pasrah dan tak punya sikap untuk menentukan apa yang > terbaik bagi dirinya. > > Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kontrol masyarakat sekitar. > Mereka cuek bebek dengan merosotnya moral para remaja, terutama > ceweknya. Tak ada lagi sanksi sosial semisal didatangi pak RT bila ada > cowok bertandang ke rumah cewek hingga larut malam. Dan semakin lengkap > keparahan ini ketika negara sebagai penegur utama tak berdaya. Tak ada > KUHP atau hukum perdata yang bisa menjerat cowok yang wakuncar (waktu > kunjung pacar) ke ceweknya. Lha wong suka sama suka, bisa-bisa malah > dilindungi sama sistem yang bernama sekulerisme. Apalagi cuma sekadar > pakaian yang kelihatan pusar. Dalih kebebasan perempuan akan menjadi > senjata andalan bila ada yang berusaha mengingatkan. > > Gaya hidup mewah adalah penyebab lain dari fenomena cewek murah harga > diri. Semua ini akibat dari kehidupan yang mengagungkan materi alias > materialistis. Materi /oriented/ ini adalah khas milik kapitalisme. > Sebuah paham yang sangat memuja kepemilikan modal atau lapital. Sistem > inilah sebetulnya yang kudu bertanggung jawab terhadap merebaknya > cewek-cewek tak berharga diri. Udahlah ceweknya lemah iman, dikomporin > pake kemilau fana duniawi. Klop, jadi pada lupa daratan. > > *Cewek, kamu bisa apa?* > > Biar pun berjenis cewek, perempuan juga manusia. Dengan kemanusiaan ini > pula cewek juga dikaruniai akal untuk membedakan mana baik dan buruk. > Sayangnya, seringkali otak cewek nggak dipake. Bawaannya silau mulu kalo > liat barang mewah sampai harga diri tergadaikan nggak jadi masalah. > > Akal yang dipunya cewek, nggak beda dengan yang dipunya cowok. Tapi > seringkali cewek sendiri yang membuat rendah dirinya sehingga mudah aja > dipermainkan cowok. Bukan hanya cowok, tapi pemilik modal juga ikut > menghinadinakan kaum cewek dengan mengeksploitasi keindahan fisik. Oya, > sebelum saya diprotes oleh kaum cowok baik-baik, saya ingin tekankan > bahwa nggak semua cowok suka mempermainkan cewek. Ada kok cowok > baik-baik yang menghargai cewek dengan harga sangat tinggi. Karena > tingginya, harganya sebanding dengan surga. > > Dengan potensi akal ini, cewek bisa memilih jalan hidupnya. Mau > dijadikan objek ketelajangan dan permainan jaman edan bernama modern ini > atau sebaliknya. Cewek sebagai subjek perubah dan pelaku sejarah sebuah > peradaban. /How?/ Gimana caranya? > > Gals, cewek kudu nyadar untuk apa sih dia hidup di dunia ini. Untuk > hura-hura, senang-senang dan foya-foya? Hmm.. cewek kudu nyadar bahwa > hidup ini sementara. Kalo ada sementara pasti ada yang selamanya. Kalo > bermakna selamanya berarti bukan di dunia. Nggak ada orang hidup kekal > di dunia ini. Lha wong dunianya aja fana, kok penghuninya minta kekal. > Bila sudah menyadari kenyataan dunia fana ini, ingatlah bahwa semua yang > bernyawa pasti mati. Kalo sudah mati, lihat tuh jadi teman cacing tanah > dan belatung di tanah pekuburan. Ternyata manusia itu hina ya. Cuma > sebegitu aja akhir hidupnya. > > Kalau ingat kematian, manusia normal mana pun juga pasti akan berpikir. > Merenung dan berinsaf diri. Apalagi cewek yang memang dasarnya bersifat > peka. Maka akan mudah tersentuh hatinya dengan ajakan mengingat kematian > ini. Kecuali orang-orang bebal yang telah ditutup hatinya oleh Allah. > Mereka ini adalah yang enggan membicarakan kematian. Bahkan ada yang > dengan sengaja mengolok dan mencemooohnya loh. > > Dengan mengingat kematian, manusia termasuk para cewek tergugah untuk > mencari makna hidupnya. Tak lain dan tak bukan, ternyata hidup ini > adalah sarana saja untuk sebuah kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. > Bila ini sudah kamu sadari, maka sesungguhnya uang, katu kredit, mobil > dan gaya hidup mewah jadi tak ada artinya lagi. Ada sesuatu yang lebih > penting dari itu semua. > > Beramal untuk akhirat. Jangan bayangkan beramal untuk akhirat ini hanya > dengan sibuk sholat, dzikir, puasa dan ngaji saja. Bukan! > Aktivitas-aktivitas ini memang harus tapi tidak berhenti di situ saja. > Bumi dan seisinya perlu dimakmurkan dengan karya nyata kamu, para cewek. > Kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau, sukses dunia tapi punya investasi > juga untuk akhirat. Dengan menjadi ahli lomputer untuk mengacak-acak > radar musuh Islam yang akan menyerang negeri muslim, misalnya. Atau > menjadi bisnis /woman/ yang berhasil dan sebagian laba untuk kepentingan > dakwah dan perjuangan menegakkan Islam sebagai ideologi negara di bawah > naungan Daulah Khilafah. Gimana, keren kan? > > *Cewek, punyai harga diri!* > > Harga diri bukan barang obralan yang gampang banget dibeli dengan > gepokan rupiah atau kartu kredit. Masalahnya, gimana caranya agar cewek > mempunyai harga diri yang menjadikannya mulia? > > Karena di bahasan awal tadi kita sudah tahu bahwa hidup ini sementara > dan kudu nurut sama aturan Sang Pencipta, maka inilah langkah praktis itu: > > Pertama, hiasi diri dengan rasa malu. Malu akan menjadi tameng seorang > cewek dari perbuatan maksiat. > > Kedua, tundukkan pandangan. Dengan menundukkan pandangan, cewek akan > menjadi makhluk berharga di muka bumi karena nggak jelalatan. > > Ketiga, tutupi auratmu. Auratmu yang indah bukan untuk pajangan apalagi > pameran. Oleh karena itu tutupi dengan pakaian takwa berupa kerudung dan > jilbab. > > Keempat, jaga interaksi pergaulan. Langkah di atas nggak bakal ada > gunanya kalo kamu masih enteng aja colak-colek sama cowok. Batasi > interaksi dengan mereka seperlunya dan sewajarnya. Nggak perlu /over/. > > Kelima, dekatkan dirimu pada Allah. Dekat dengan Allah itu artinya nggak > ada satu celah kecil pun kamu berbuat dosa. Meski nggak ada kakak > pembina pengajian, ortu nggak liat, atau nggak ada satu orang pun > menyaksikan, kamu nggak bakal bisa lari dari pengawasanNya. > > Keenam,/ last but not least/, proaktif gals! Kalo kamu udah menjadi > cewek baik-baik, jangan simpen sendiri. Ajak teman-teman dan > sodara-sodara kamu untuk baik juga. Kalo kamu segan untuk negur secara > lisan, bisa juga pake tulisan. Berikan lembaran /Studia/ ini untuk > dibaca mereka, misalnya. > > Nah, ternyata nggak susah kan untuk membangun harga diri pada seorang > cewek. Murah meriah kecuali berbekal kemauan aja. Tips di atas bisa kamu > amalkan tuh. Nggak berhenti di sini aja, ternyata memutus rantai rusak > ini kamu nggak bisa sendirian. Ajak teman-teman dan sodaramu untuk > bareng-bareng merusak rantai ini. Kita ganti dengan rantai baru yang > indah dalam balutan ukhuwah Islamiyah, dasarnya akidah Islam. Setuju kan? > > Jadi kalo ada yang nanya berapa sih harga diri seorang cewek? Kamu bisa > dengan bangganya menjawab 'ridho Allah plus surga dengan segala isinya'. > Bila ini yang jadi jawabanmu, maka gepokan rupiah, kinclongnya mobil > nggak bakal bisa mengusikmu. Harga dirimu bukan lagi obralan seribu > tiga. Harga dirimu saat ini cuma surga yang mampu membeli. Jangan ragu, > teriakkan dengan lantang bahwa harga diri seorang cewek cuma satu > jawabnya; Islam! Oke? *[ria: [EMAIL PROTECTED] <riafariana%40yahoo.com> > ]* > STUDIA Edisi 349/Tahun ke-8 (9 Juli 2007)* >> http://studia-online.com >> http://dudung.net >> http://gaulislam.com > -- > Buletin Remaja Studia terbit setiap Senin sejak Januari 2000, "Gaul, > Syar'i, dan Mabda'i" > Penerbit: Studia Publication. HP 0856-1943803. Pemasaran: 0817-109797. Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
