Jika saya menerimaa suatu undangan  Kondangan atau menghadiri suatu persepsi
pernikahan, apa lagi resepsi di suatu gedung yang terpikir oleh saya adalah
suatu pesta yang meriah dengan makanan yang berlimpah.

Saat ini mungkin hampir semua orang yang berpunya dari presiden, samapi
rakyak jelata ingin merayakan suatu pesta pernikahan di suatu gedung dengan
makanan enaknya, dengan tamu yang banyak, dengan acara musik yang meriah dan
pesta adat yang wah!!.

Memang kita tidak dilarang menyelenggarakan untuk merayakan resepsi
pernikahan, tetapi yang saya amati adalah suatu fenomena yang menyedihkan,
kenapa saat orang datang ke resepsi pernikahan di suatu gedung atau tempat
pesta, para tamu lebih mendahului untuk menyantap makanan, secara berebutan
di banding untuk mengucapkan selamat kepada mempelai pengantin.

Padahal acara utama menurut pendapat saya adalah memberi selamat dan
mendoakan agar pengantin dapat selamat dalam menjalani kehidupan rumah
tangga. Tetapi kebanyakan kita enggan untuk memberi selamat, kadang yang
terpikir oleh kita jika kita menghadiri suatu resepsi pernikahan, adalah
makanan apa yang ada ya…..? suatu pertanyaan yang mengundang senyum saya.

Ketika acara resepsi di mulai, banyak orang datang berebut untuk mencoba
makan tertentu, contoh mungkin untuk stan / gubug favorit seperti kambing
guling orang rela antri panjang dan sedikit berebutan untuk sekedar
mencicipi, atau terkadang dengan "pura-pura bego" menyelak suatu antrian.
"ini lomba makan gratis atau acara resepsi pernikahan" pikiran nakal saya
berkata.

Dan setelah perut terisi baru kita memberi selamat kepada para mempelai.
Terkadang yang lucu banyak teman-teman saya mempunyai rasa takut untuk
datang terlambat menghadiri acara pernikahan untuk alas an tertentu, bukan
untuk mendoakan pengantin lebih awal, tetapi untuk alas an yang sangat
menggelitik hati saya yaitu " Agar tidak kehabisan makanan" bagai mana
dengan anda mengapa anda datang lebih awal… mungkin juga takut kehabisan
makanan ya…..

Keberhasilan dalam merayakan suatu pesta pernikahan adalah seberapa banyak
makanan yang dapat disuguhkan kepada tamu, dan enakkah makanan yang
disajikan. Suatu fenomena yang salah kaprah menurut saya. Dan terkadang
sesorang akan menjadi cibiran bila makanan yang disajikan dalam
menyelenggarakan pesta bila jumlah makanan yang disajikannya kurang porsinya
atau rasanya tidak enak. Fenomena social masyarakat yang salah kaprah
menurut saya.

Terkadang juga banyak sahabat saya berfikiran nakal, kan saya sudah nyumbang
missal Rp 50000 atau nominal laimnya, "masa saya sudah ngasih angpau
sejumlah tersebut makanannya kayak gini…" senyum saya pun tersenyum kembali.
Apakah kita menghadiri resepsi pernikahan atau kita masuk ke restoran *all
you can eat.* Bagai mana menurut anda..? Suatu gejala duniawi yang sangat
aneh.

Dan terkadang terjadi perebutan makanan dalam suatu acara, yang lucunya yang
datang adalah para undangan yang terhormat dengan dasi dan jas yang keren,
tetapi kelakuan masih seperti sepupu saya yang berumur 5 tahun…  atau
seperti kita tidak pernah merasakan masakan tersebut.

Saya mempunyai sedikit pengalaman nakal, sewaktu Kuliah, dimana kami tidak
membawa uang yang cukup untuk makan direstoran, maka kami memilih memasuki
acara resepsi orang untuk mengisi perut kami… hahhaha pengalaman yang nakal

Tapi itulah fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita, bahwa
resepsi pernikahan adalah acara makan-makan, sedikit rasa sedih atas kondisi
ini didalam kondisi masyarakat Indonesia yang sedang lemah ekonomi kita
harus menghamburkan uang untuk suatu pesta sehari untuk suatu persepsi
pernikahan.

Dan yang membuat sedih, mengapa makanan yang dituju dalam acara pernikahan
bukan mendoakan keselamatan dan kesuksesan pengantin dalam menjalani
kehidupan, terkadang resepsi pernikahan telah kehilangan rasa sakralnya.

Terkadang terbersit pikiran saya apakah dengan resepsi pernikahan seperti
ini mendorong orang untuk kawin-cerai, polygamy. Karena meraka merasa mudah
dan mampu untuk melakukan acara resepsi pernikahan. Jawabanya saya serahkan
kepada para pakar sosiologi dan antropologi, serta anda semua. Tapi saya
berharap ini bukanlah suatu pembenaran atas tindakan tersebut.

Untuk yang mau menikah dengan kondisi seperti saat ini saya hanya bisa
menyarankan untuk menyiapkan dana yang cukup untuk merayakan dan memberi
makan undangan yang anda sebarkan, biasanya tamu yang datang akan berjumlah
2-3 kali undangan yang datang.

Mengapa kita tidak memberi makan kaum fakir miskis, akan lebih bermanfaat
dari pada kita memberi makanan kaum berpnya. Tapi semua saya kembalikan
kepada anda. Saya pun yang belum menikah pun akan segera mengalami



" mari buat pernikahan itu sacral seumur hidup, dan tidak untuk sesaat dan
menjadi permainan belaka.."



(Terilhami dari suatu keinginan untuk menikah dengan seseorang yang akan
menjadi pendamping hidupku.)



Dalam perenungan malamku,

Cimanggis-Depok 04 Augustus 2007, 5.18.WIB

Erwin Arianto,Se

Just come and read my article on Http://erwinarianto.blogspot.com



-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
See my Article On http://erwinarianto.blogspot.com/
See My poem http://360.yahoo.com/arianto_erwin


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke