Salam kenal pula dan terima kasih atas masukan bung Adi.
   
  Semoga selalu sukses !,
   
  Salam, 
   
  Isywara Mahendratto

adi debritto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Dear Serbuu....!
   
  Kalau mbak-nya pernah mempelajari ANSOS atau Analisis Sosial dalam istilah 
percaturan politik, pemikiran 'menyerbu' seperti itu sudah ada sejak Indonesia 
pernah 'mengekspor' duta-duta pengajarnya pada tahun 70-an ke ranah melayu 
sana. Kita menjadi mentor bagi para calon pengajar di sana. Sayangnya kemudian 
ini terhenti sejak berlakunya model link and match pada era Fuad Hasan. 
Perlahan tapi pasti akhirnya hilang, mirip ombak yang menelan lautnya. Malaysia 
tidak mau lagi menjadikan para mentor itu untuk mendidik calon pengajar mereka, 
yang ada mereka malah mengirimkan calon pengajarnya ke beberapa negara yang 
telah maju, spt Jepang, misalnya. Kemudian untuk menjaga kestabilan politik 
pada saat itu, mereka tetap menerima para mentor di negeri mereka tetapi untuk 
dijadikan guru pengganti di ruang-ruang kelasnya yang telah ditinggalkan kosong 
sebab para guru mereka sendiri telah dikirim belajar ke negeri orang yang model 
pendidikannya lebih maju. Lalu kita dapat apa? Kita
 tidak pernah dapat apa-apa hingga saat ini, kecuali hanya bogem mentah seperti 
yang didapatkan ketua dewan karate Donald Kolopita atau tenaga buruh asal 
Indonesia lainnya.
   
  Saya sendiri berpikir mengapa Indonesia tidak meniru model Jepang setelah 
terkena bom atom? Dengan seketika mereka menjadi negara yang maju hingga kini? 
Kenapa negara kita yang kaya segalanya tidak pernah bisa maju-maju? Mengapa 
kita mengirimkan orang-orang pintar kita hanya untuk membangun negara lain 
sedangkan negara sendiri tetap dibiarkan semakin terpuruk? Apakah karena gengsi 
individu untuk menciptakan citranya sendiri lantas bertekad untuk memberikan 
kepintarannya bagi negara lain?
   
  Saya jadi teringat dengan salah satu pemikir besar dan presiden pertama 
negeri ini dalam buku yang ditulisnya: Sarinah. Keinginannya tentang berdiri di 
atas kaki sendiri sebab negerinya memiliki kelimpahan harta yang tak dimiliki 
oleh negara lain, yang digambarkan melalui sosok Sarinah. Ketika suaminya pergi 
melaut untuk mencari ikan bagi kebutuhan pangan keluarganya. Tentu saja sebagai 
seorang nelayan baru bisa pulang setelah mendapatkan ikan, dan itu membutuhkan 
waktu berhari-hari. Kemudian dia berpikir kalau berhari-hari "aku" hanya 
menunggu suami-ku pulang, bagimana dengan anak-anak-ku? Akhirnya dia bekerja, 
bukan hanya karena dorongan untuk pemenuhan makan tetapi bekerja untuk tidak 
menggantungkan nasibnya pada suaminya.
   
  Memang, perjuangan membutuhkan kesabaran. Dan saya percaya  - entah sampai 
kapan -  bahwa di balik kesabaran selalu ada ketetapan hati, dan di balik 
ketetapan hati selalu ada kekuatan, dan di balik kekuatan akan memunculkan 
tekad bersama untuk melakukan suatu perubahan di atas negeri ini untuk 
kemakmuran bersama. Bukan kemakmuran suka cita individu di atas duka cita.
   
  Salam kenal, dan selamat berakhir pekan.
   
   
  Salam.
    
---------------------------------
  Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, 
when. 

       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke