BERIMAN SEJENAK
Dr. Said Abdul Azhim
Iman adalah pangkal segala sesuatu. Agama tidak berarti, tanpa iman.
Shalat tidak akan diterima tanpa iman. Shadaqah juga menjadi sia-sia jika tanpa
iman.
Kondisi iman pada manusia terkadang bertambah dan berkurang, sesuai dengan
tempatnya yang selalu berubah-ubah (qulibat), yaitu hati. Juga, Allah SWT
menilai manusia bukan dari bentuk lahiriahnya, tetapi dari hatinya sebagai
tempat bersemayamnya iman seseorang. Tidaklah manusia akan dicintai Allah
manakala kondisi imannya rusak. Sebaliknya, Allah akan selalu bersamanya ketika
ia melangkah, berbicara, dan berbuat manakala imannya sedang kuat.
Dengan demikian, sesuatu yang mesti kita lakukan adalah memperbaiki atau
memperbaharui iman tersebut agar tidak rusak dan semakin rusak. Hal ini, tidak
hanya berlaku bagi kita, tetapi juga bagi orang lain. Artinya, jika seseorang
lupa, lalai, atau bahkan telah keluar dari imannya, maka kitalah yang menjadi
pengingat dan pemberi peringatan agar imannya kembali seperti semula,
sebagaimana yang telah dilakukan para Nabi Muhammad SAW, sahabat, ulama, dan
para shalihin.
Uniknya, mereka sangat berani, lugas, dan objektif dalam berbicara, sekalipun
berhadapan dengan para penguasa dan pembesar kerajaan, agar mereka yang
diingatkan kembali beriman dengan sebenar-benar iman dalam waktu singkat. Akan
tetapi, bagaimanakah caranya?
Baiklah, setelah membaca buku "Beriman Sejenak" ini, saya mendapati bahwa hati
sering lalai, bahkan bisa saja menghinggapai mereka yang sudah kita anggap
ketekunannya di dalam beribadah kepada Allah. Dalam suatu kesempatan, mungkin
kita merasa puas dengan ibadah yang telah dikerjakan, tetapi pada kesempatan
lainnya justru dengan sebab itu menjadikan kita rehat. Padahal hari terus
berjalan, waktu terus mendekati masa-masa akhir; yaitu masa kematian dan masa
datangnya Hari Kiamat. Oleh karena itu, selayaknya kita terus melakukan tajdid
dan penambahan tensi ibadah kita kepada Allah secara terus menerus, baik secara
kualitas maupun kuantitasnya tanpa terhenti. Dengan demikian, diperolehlah iman
yang kuat, kokoh, dan dinamis.
Di dalam Al-Quran disebutkan dalam surah Al-Insyirah ayat 7: "Maka apabila kamu
telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain, (QS. Nasyrah: 7).
Demikianlah, apabila telah selesai mengerjakan suatu urusan, janganlah berhenti
dan rehat karena telah merasa selesai dengan urusan tersebut. Akan tetapi,
harus kembali melakukan aktivitas lain dengan bersungguh-sungguh (Mujahadah).
Dengan dilengkapi kisah-kisah yang menarik, buku ini menjadi enak dibaca dan
dipahami sekaligus hati kita mudah terenyuh. Coba simak kisah berikut,
Wahab bin Munabbih juga pernah berkata, Seorang laki-laki ahli ibadah pernah
bertemu dengan laki-laki lainnya yang juga ahli ibadah, lalu dia bertanya
kepada laki-laki kedua, Ada apa denganmu? Laki-laki kedua itu pun menjawab,
Aku merasa heran dengan apa yang terjadi pada diri Fulan. Dulu, dia adalah
orang yang rajin beribadah, tetapi kehidupan dunia telah memalingkannya dari
ibadah. Laki-laki pertama berkata, Janganlah kamu merasa takjub dengan orang
yang telah dipalingkan dari ibadahnya oleh kehidupan dunia, akan tetapi merasa
takjublah kepada orang yang memiliki pendirian teguh (istiqamah).
Wahab bin Munabbih pernah menemui Atha` Al-Khurasani, lalu dia
berkata, Celakalah kamu, wahai Atha`! Kamu telah mendatangi orang yang menutup
pintunya untukmu, telah memperlihatkan kefakirannya kepadamu, dan telah
menutup-nutupi kekayaannya darimu. Lalu, kamu pun meninggalkan Dzat yang selalu
membuka pintu-Nya untukmu, memperlihatkan kekayaan-Nya kepadamu, dan telah
berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Celakalah
kamu, wahai Atha`! Merasa senanglah jika kamu memiliki harta yang sedikit,
tetapi kamu memiliki ilmu, dan janganlah kamu merasa senang jika kamu memiliki
ilmu yang sedikit meskipun kamu memiliki dunia harta yang banyak! Celakalah
kamu, wahai Atha`! Jika kamu merasa cukup dengan harta yang mencukupi
kebutuhanmu, maka sesungguhnya harta yang sedikit pun dapat mencukupi
kebutuhanmu. Jika apa (harta) yang dapat mencukupi kebutuhanmu tidak dapat
membuatmu merasa cukup, maka tidak akan ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat
membuatmu merasa cukup. Celakalah kamu, wahai Atha`! Sesungguhnya perutmu itu
merupakan salah satu laut dan salah satu lembah, di mana tidak akan ada sesuatu
pun yang mengisinya selain tanah.
Seorang laki-laki pernah mendatangi Wahab bin Munabbih, lalu dia
berkata kepadanya, Sungguh, aku telah bertemu dengan Fulan, dia mencacimu dan
dia marah kepadamu. Lalu, dia mengatakan bahwa setan tidak menemukan utusan
lain selain dirimu. Laki-laki itu berkata, Aku masih berada di dekat Wahab
bin Munabbih, hingga orang laki-laki yang mencacinya pun mendatanginya. Orang
itu mengucapkan salam kepada Wahab. Wahab pun membalas ucapan salam itu. Wahab
mengulurkan tangannya dan dia menjabat tangan orang itu, lalu dia menyuruh
orang itu untuk duduk di sampingnya. Setelah itu, dia pun berkata, Jika
seseorang memujimu dengan kelebihan yang tidak ada pada dirimu, maka tidak
tertutup kemungkinan dia pun akan mencelamu dengan kejelekan yang tidak ada
pada dirimu.
Wahab bin Munabbih juga berkata, Iman adalah ibarat seorang
pemimpin (penunjuk jalan), amal perbuatan adalah ibarat pengemudi (kuda),
sedangkan jiwa adalah ibarat kuda-kuda (yang ditungganginya). Jika pemimpin itu
mau memimpin, tetapi sang pengemudi tidak mau mengemudikan (kuda-kuda) itu,
maka hal itu tidak bermanfaat sedikit pun. Demikian pula, jika sang pengemudi
mau mengemudikan (kuda-kuda) itu, tetapi sang pemimpin tidak mau memimpinnya,
maka hal itu juga tidak bermanfaat sedikit pun. Jika sang pemimpin mau memimpin
dan jika sang pengemudi mau mengemudikan kuda-kudanya, maka jiwa pun akan
mengikutinya dengan penuh kepatuhan dan keseganan. Lalu, amal perbuatannya pun
akan menjadi baik.
Thawus berkata, Ketika aku berada di Mekah, Al-Hajjaj menyuruhku untuk datang
kepadanya. Dia menyuruhku untuk duduk di dekatnya dan bersandar di sebuah
kasur, tiba-tiba dia mendengar seseorang membaca talbiyah di sekitar Baitullah
dengan mengeraskan suaranya. Dia pun berkata, Datangkanlah kepadaku orang
itu! Orang itu pun dihadapkan kepada Al-Hajjaj, lalu Al-Hajjaj bertanya, Dari
mana orang ini? Orang itu menjawab, Dari kalangan kaum muslimin. Al-Hajjaj
berkata, Bukan tentang keislamanmu yang aku tanyakan. Orang itu berkata,
Lalu, hal apa yang kamu tanyakan? Al-Hajjaj menjawab, Aku menanyakan
kepadamu tentang negeri asalmu. Orang itu menjawab, Aku berasal dari Yaman.
Al-Hajjaj bertanya, Bagaimana kondisi Muhammad bin Yusuf ketika kamu
tinggalkan? (Maksudnya saudara laki-laki Al-Hajjaj). Orang itu menjawab,
Ketika aku meninggalkannya, dia berada dalam kondisi gemuk. Al-Hajjaj
berkata, Bukan hal itu yang aku tanyakan. Orang itu berkata, Lalu, apa yang
kamu tanyakan? Al-Hajjaj menjawab, Aku menanyakan kepadamu tentang sepak
terjangnya. Orang itu menjawab, Ketika aku meninggalkannya, dia berada dalam
keadaan suka menzhalimi, bertindak sewenang-wenang, taat kepada makhluk, dan
durhaka kepada Sang Khaliq. Al-Hajjaj berkata kepadanya, Apa yang mendorongmu
untuk mengucapkan perkataan semacam ini, padahal kamu mengetahui bagaimana
kedudukan Muhammad bin Yusuf terhadap diriku? Orang itu balik bertanya,
Apakah menurutmu, kedudukannya terhadap dirimu adalah lebih mulia daripada
kedudukanku terhadap Allah I, padahal aku adalah orang yang sedang mengunjungi
rumah-Nya, mempercayai Nabi-Nya, dan melaksanakan ajaran-ajaran agama-Nya?
Thawus berkata, Al-Hajjaj pun terdiam dan tidak dapat memberikan satu jawaban
pun. Sementara, laki-laki itu bangun tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada
Al-Hajjaj, lalu dia pun pergi. Thawus berkata lagi, Aku juga bangun untuk
mengikuti jejaknya. Aku berkata, Sungguh, orang ini adalah seorang yang bijak.
Dia mendatangi Baitullah, lalu dia bergelantungan di dinding-dindingnya dan
berkata, Ya Allah, hanya kepada-Mu-lah aku berlindung dan hanya kepada-Mu-lah
aku meminta perlindungan. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai orang yang rindu
kepada kemurahan-Mu, ridha kepada jaminan yang Engkau berikan, terbebas dari
kebakhilan orang-orang yang bakhil, dan tidak butuh kepada apa yang ada di
tangan orang-orang yang suka memonopoli. Ya Allah, sesungguhnya kelapangan
dari-Mu akan datang dalam waktu dekat, kebaikan-Mu sudah ada sejak dulu, dan
sifat-Mu adalah baik. Setelah itu, dia pun pergi ke tengah-tengah kerumunan
orang banyak. Ketika sore hari, aku melihatnya kembali, dan saat itu dia
mengucapkan, Ya Allah, jika Engkau tidak menerima hajiku, kecapaian yang aku
rasakan, dan jerih payahku, maka janganlah Engkau haramkan diriku untuk
mendapatkan pahala dari musibah yang menimpaku ini, yaitu musibah yang
disebabkan karena Engkau tidak menerima amal ibadahku ini. Setelah itu, dia
pun pergi ke tengah-tengah kerumunan orang banyak. Pada waktu pagi, aku
melihatnya kembali di mana pada saat itu, dia mengucapkan, Demi Allah,
alangkah jeleknya diriku jika aku menjauh dari Allah!
Maruf Al-Kurkhi pernah berkata, Wahai jiwa, mengapa kamu menangis?
Bersihkanlah dirimu dan murnikanlah niatmu! Ketika ditanya tentang orang-orang
yang taat kepada Allah, Dengan apa mereka mampu untuk melakukan ketaatan
kepada Allah?, Maruf Al-Kurkhi pun menjawab, Dengan keluarnya kehidupan
dunia dari hati mereka. Seandainya kehidupan dunia itu masih ada pada hati
mereka, niscaya mereka tidak akan dapat melakukan satu sujud pun dengan benar.
Seorang laki-laki pernah berkata kepada Maruf, Berilah nasihat kepadaku!
Maruf pun menjawab, Bertawakallah kamu kepada Allah agar Dia menjadi temanmu,
kekasihmu, dan tempat mengadumu. Dan, perbanyaklah kamu mengingat mati agar
Allah menjadi temanmu. Ketahuilah bahwa ketika kesembuhan datang kepadamu,
sesungguhnya kesembuhan itu merupakan rahasia Allah. Dan, ketahui pula bahwa
sesungguhnya manusia sama sekali tidak dapat memberikan kemanfaatan ataupun
kemudharatan kepadamu. Mereka juga tidak dapat memberikan sesuatu pun kepadamu
dan tidak pula dapat menghalangi suatu pemberian.
Bisyr pernah berkata, Sungguh, tidaklah bertakwa kepada Allah
orang yang mencintai ketenaran (popularitas). Suatu hari, Bisyr pernah berdiri
di hadapan para pemilik buah-buahan, lalu dia memandangi buah-buahan itu.
Seseorang bertanya, Wahai Abu Nashr, apakah kamu menginginkan salah satu dari
buah-buahan ini? Bisyr menjawab, Tidak, aku hanya memandanginya. Aku
berfikir, jika orang yang durhaka kepada Allah saja diberi makanan seperti ini,
maka bagaimana dengan orang yang taat kepada-Nya? Ketika ingin memasuki
kawasan pemakaman, Bisyar berkata, Orang-orang yang mati yang berada di luar
pagar pemakaman ini adalah lebih banyak daripada orang-orang yang mati yang
berada di dalam pagar ini. Dia juga pernah berkata, Sesungguhnya kehidupan
dunia ini adalah ibarat seekor semut yang mengumpulkan biji-bijian di musim
panas dengan tujuan agar ia dapat memakannya di musim dingin. Pada suatu hari,
ketika ia mengambil biji-bijian itu dengan mulutnya, tiba-tiba datang kepadanya
seekor burung yang langsung merebut biji-bijian itu darinya. Sehingga, semut
itu pun tidak dapat memakan apa yang telah ia kumpulkan, dan tidak dapat
memperoleh apa yang ia cita-citakan.
Imam Ahmad bin Hanbal merupakan imam bagi kelompok Ahlus Sunah Wal
Jamaah. Sepertinya, Allah I telah mengumpulkan pada diri Imam Ahmad semua ilmu
yang dimiliki oleh orang-orang yang terdahulu (generasi pertama) dan
orang-orang yang hidup kemudian (generasi kedua), yaitu ilmu dari setiap bidang
keilmuan, sehingga dia dapat mengatakan sesuatu sekehendaknya dan tidak
mengatakan sesuatu sekehendaknya. Hal ini adalah seperti telah dikatakan oleh
Ibrahim Al-Harbi.
Imam Ahmad telah menghafal satu juta hadits, sebagaimana telah
dikatakan oleh Abu Zurah. Abdurrazaq berkata, Aku tidak pernah melihat
seorang pun yang lebih mendalami ilmu agama dan lebih wara daripada Ahmad bin
Hanbal.
Abu Dawud berkata, Ahmad bin Hanbal tidak pernah menggeluti satu
urusan duniawi pun yang telah digeluti oleh manusia pada umumnya. Ketika dia
mengingat satu ilmu, maka dia akan berbicara tentang ilmu itu.
Abdul Malik Al-Maimuni berkata, Aku tidak pernah melihat satu
orang pun yang memiliki baju yang lebih bersih dan sangat memperhatikan
dirinya, baik terhadap kumis, rambut kepala, maupun bulu-bulu badannya, serta
memiliki baju yang lebih suci dan lebih putih, daripada Ahmad bin Hanbal.
Diriwayatkan dari Abu Bakar Al-Marwazi bahwa dia berkata, Aku
pernah mendengar Abu Abdillah berkata, Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya
(penuh dengan) makanan dan pakaian. Dan, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya
sebentar. Al-Marwazi juga berkata, Aku pernah mendengar Abu Abdillah juga
berkata, Hari yang paling menyenangkan diriku adalah satu hari di mana ketika
aku menjumpai waktu pagi, tapi aku tidak memiliki sesuatu apa pun. Ketika Abu
Abdillah rahimahullâh berjalan di sebuah jalan, maka dia tidak suka jika ada
orang yang mengikutinya.
Abdullah bin Ahmad pernah berkata, Ayahku adalah orang yang paling
sabar (paling tahan) untuk menyendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat
ayahku, kecuali ketika dia sedang berada di dalam masjid, sedang melayat
jenazah, atau sedang mengunjungi orang yang sakit. Dia tidak suka berjalan di
pasar-pasar. Suatu hari, dia pernah berdoa, Ya Allah, jika ada orang yang
sedang berada di bawah pengaruh hawa nafsunya atau pendapatnya sendiri, lalu
dia menyangka bahwa dirinya sedang berada dalam kebenaran, padahal sebenarnya
dia tidak berada dalam kebenaran, maka kembalikanlah dia kepada kebenaran
sehingga tidak ada satu orang pun dari umat ini yang tersesat. Ya Allah,
janganlah Engkau sibukkan hati kami dengan apa yang telah Engkau berikan kepada
kami. Dengan rezeki dari-Mu ini, janganlah Engkau jadikan kami sebagai pelayan
bagi dzat lain selain-Mu. Jangan Engkau halangan kami untuk mendapatkan
kebaikan yang ada di sisi-Mu, meskipun tidak sedikit kejelekan yang ada pada
diri kami. Jangan Engkau biarkan kami melakukan apa yang telah Engkau larang
kepada kami. Muliakanlah kami dan janganlah Engkau hinakan kami. Muliakanlah
kami dengan ketaatan kepada-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami dengan
kemaksiatan kepada-Mu.
Imam Ahmad pernah berkata kepada putranya, Wahai anakku, sungguh
aku telah memberikan kepadamu seluruh jerih payahku.
Seorang laki-laki pernah datang kepadanya ketika dia sedang
dipenjara, Wahai imam, apakah hanya kamu yang berada dalam kebenaran,
sedangkan mereka berada dalam kebatilan? Imam Ahmad pun berkata kepada orang
itu, Celakalah kamu! Apakah kamu tahu bahwa kebenaran ada pada orang-orang
itu? Kenalilah kebenaran, niscaya kamu akan mengenali orang-orang yang ada
dalam kebenaran. Dan, kenalilah kebatilan, niscaya kamu akan mengenali
orang-orang yang didatangi oleh kebatilan itu.
Pada suatu hari, salah seorang murid Imam Ahmad yang bernama Abu
Said, mendatanginya. Saat itu, Imam Ahmad sedang dicambuk. Sang murid berkata
kepadanya, Wahai Imam, katakanlah karena sesungguhnya engkau memiliki
keluarga! Imam Ahmad pun berkata kepadanya, Lihatlah ke arah teras
(beranda)! Sang murid pun melihat ke arah teras, ternyata dia melihat banyak
sekali orang yang sedang berkumpul. Mereka semua ingin menulis apa yang akan
dikatakan oleh sang imam. Murid itu pun kembali kepada sang imam, lalu dia
menggambarkan kepada sang imam tentang apa yang baru dilihatnya. Sang imam pun
berkata kepadanya, Demi Allah, tidak seharusnya aku selamat, sedangkan mereka
semua tersesat.
As-Sirri pernah berkata, Melakukan sedikit sunah adalah lebih baik
daripada melakukan banyak bidah. Bagaimana mungkin suatu amal perbuatan yang
dilakukan dengan ketakwaan akan berkurang nilainya? Ketahuilah bahwa kekuatan
yang paling kuat adalah jika kamu dapat mengalahkan hawa nafsumu sendiri.
Barangsiapa tidak mampu untuk mendidik dirinya sendiri, maka dia akan lebih
tidak mampu untuk mendidik diri orang lain. Barangsiapa taat kepada Dzat yang
lebih tinggi darinya, maka orang-orang yang ada di bawahnya pun akan taat
kepadanya. Barangsiapa takut kepada Allah, maka segala sesuatu akan takut
kepadanya.
As-Sirri juga berkata, Jika kamu bersedih karena hartamu
berkurang, maka menangislah karena usiamu berkurang. Sedekah, meskipun hanya
sedikit, dapat mendatangkan teman yang banyak. Dan, di antara tanda istidrâj
(terpedaya oleh setan) adalah ketidaktahuan seseorang akan aib-aib yang ada
pada dirinya sendiri. Dia juga berkata, Orang yang paling kuat adalah orang
yang mampu mengendalikan amarahnya. Orang yang memperlihatkan kepada manusia
sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya, maka derajatnya akan jatuh di
mata Allah. Seseorang tidak akan pernah mencapai kesempurnaan hingga dia
mendahulukan agamanya daripada hawa nafsunya, dan seseorang tidak akan pernah
hancur hingga dia mendahulukan hawa nafsunya daripada agamanya.
Muawiyah bin Hisyam pernah bertanya kepada Khalid bin Shafwan, Apa yang telah
kalian dengar tentang sosok Ahnaf bin Qais? Khalid menjawab, Jika kamu
menghendaki, aku akan menceritakan kepadamu seribu hal tentangnya. Dan jika
kamu menghendaki, aku akan meringkas cerita itu untukmu. Muawiyah berkata,
Ringkaslah cerita itu untukku! Khalid berkata, Jika kamu menghendaki, aku
akan menceritakan tiga hal; jika kamu menghendaki, maka dua hal saja; dan jika
kamu menghendaki, maka hanya satu hal saja. Muawiyah bertanya, Apa ketiga hal
tersebut? Khalid menjawab, Dia tidak rakus, tidak dengki, dan tidak suka
menahan hak orang lain. Muawiyah bertanya, Apa kedua hal tersebut? Dia
mendapatkan pertolongan (dari Allah) untuk melakukan kebaikan, serta terjaga
dari keburukan. Muawiyah bertanya lagi, Lalu, apa yang satu hal itu? Khalid
menjawab, Dia adalah orang yang memiliki kekuatan paling besar dalam
mengendalikan dirinya sendiri.
Al-Ahnaf pernah berkata, Aku tidak pernah menyebutkan kejelekan
seorang pun setelah dia beranjak dari tempatku. Dia juga berkata, Sungguh,
tidak ada muru`ah (kehormatan) bagi seorang pembohong, tidak ada ketenangan
bagi orang yang suka dengki, tidak ada keberkahan bagi orang yang bakhil, tidak
ada kedudukan yang tinggi bagi orang yang berakhlak jelek, dan tidak ada
persaudaraan bagi orang yang tidak sabar.
Amir bin Abdullah pernah berkata, Sesungguhnya aku malu kepada
Allah jika aku takut kepada dzat lain selain Dia. Seseorang berkata kepadanya,
Sesungguhnya surga dapat diperoleh tanpa harus melakukan apa yang kamu
perbuat, dan sesungguhnya neraka dapat dihindari tanpa harus melakukan apa yang
kamu perbuat. Amir pun menjawab, Demi Allah, aku akan tetap berusaha. Jika
aku dapat selamat dari neraka, maka itu adalah karena rahmat Allah. Tetapi jika
aku masuk neraka, maka yang penting aku sudah bersusah payah untuk
menghindarinya.
Menjelang kematiannya, Amir bin Abdullah menangis. Seseorang
bertanya kepadanya, Apakah kamu takut mati sehingga kamu pun menangis? Amir
menjawab, Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Adakah orang yang lebih pantas
menangis daripada diriku pada saat ini? Demi Allah, aku tidak menangis karena
takut mati atau karena aku menginginkan kesenangan-- dunia kalian. Akan
tetapi, aku menangis karena takut kehausan pada Hari Yang sangat panas dan
keharusan untuk berdiri pada Malam Yang sangat dingin (Hari Kiamat).
Suatu ketika, seekor serigala menghadang perjalanan serombongan
kafilah. Ketika Amir datang, dia pun langsung turun dari kendaraannya. Mereka
berkata, Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya kami khawatir dirimu akan diterkam
serigala itu. Amir pun menjawab, Sesungguhnya serigala itu hanyalah salah
satu anjing Allah I. Jika Dia berkehendak untuk menaklukkan serigala itu,
niscaya Dia pun akan menaklukkannya. Dan, jika Dia berkehendak untuk
menahannya, Dia pun akan menahannya. Amir pun berjalan menghampiri serigala
tersebut hingga dia menyentuh kedua telinga serigala dengan menggunakan kedua
tangannya. Kemudian dia pun menyingkirkan serigala itu dari jalan. Kafilah itu,
akhirnya, berhasil melewati tempat tersebut. Amir berkata, Sesungguhnya aku
malu kepada Tuhanku, seandainya Dia melihat dalam hatiku ada rasa takut kepada
dzat lain selain Dia.
Dia juga berkata, Aku tidak pernah melihat sesuatu pun seperti
surga, di mana orang yang berusaha mencarinya dapat tidur di dalamnya. Dan, aku
tidak pernah melihat sesuatu pun seperti neraka, di mana orang yang berusaha
lari darinya juga dapat tidur di surga.
Dia juga berkata, Aku mencintai Allah I dengan kecintaan yang
dapat memudahkanku dalam menghadapi setiap musibah dan menjadikanku ridha
terhadap setiap keputusan Allah. Dengan kecintaanku kepada-Nya, aku tidak
peduli lagi bagaimana keadaanku ketika menemui waktu pagi dan sore.
Faktor yang menyebabkan diasingkan dan dideportasinya Amir bin
Abdullah adalah karena dia pernah bertemu dengan salah seorang pembantu raja.
Saat itu, orang tersebut sedang menarik seorang kafir dzimmi, kafir dzimmi
tersebut berteriak meminta pertolongan. Melihat itu, Amir pun menghadap ke arah
orang kafir dzimmi tersebut, kemudian dia bertanya kepadanya, Apakah kamu
sudah membayar jizyah? Orang itu menajwab, Ya. Lalu, Amir menghadap ke arah
sang pembantu raja, dia bertanya, Apa yang kamu inginkan darinya? Pembantu
raja itu menjawab, Aku ingin membawa orang ini supaya dia menyapu rumah
pemimpin kami. Amir menghadap kembali ke arah orang kafir dzimmi tersebut,
lalu dia bertanya kepadanya, Apakah kamu merasa senang dengan hal ini? Orang
itu menjawab, Sungguh, dia telah menyibukkan diriku sehingga aku harus
meninggalkan pekerjaanku. Amir berkata kepada pembantu raja itu, Biarkanlah
dia pergi! Sang pembantu raja menjawab, Aku tidak akan membiarkannya pergi.
Amir berkata lagi, Biarkan dia pergi! Sang pembantu raja menjawab, Aku tidak
akan membiarkannya. Kemudian Amir meletakkan pakaian (kebesaran)nya, lalu dia
berkata, Sungguh, jaminan keamanan yang telah diberikan oleh Nabi Muhammad r
kepada kafir dzimmi tidak boleh diabaikan selama aku masih hidup. Dia berkata
lagi, Lepaskanlah orang itu! Itulah faktor yang menyebabkan Amir bin Abdullah
diusir dan diasingkan.
Dia juga berkata, Ada empat ayat dalam Kitabullah I yang jika aku
mengingatnya, maka aku tidak peduli lagi terhadap keadaanku ketika menemui
waktu pagi atau waktu sore. Keempat ayat itu adalah firman Allah, Apa saja
yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun
yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada
seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.[1]; Firman-Nya,
Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang
menghilangkannya melain Dia sendiri.[2]; firman-Nya, Allah kelak akan
memberikan kelapangan sesudah kesempitan.[3]; dan firman-Nya, Dan tidak ada
suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya.[4] Dia juga berkata, Barangsiapa yang takut kepada Allah, Allah
akan menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Sedangkan barangsiapa yang
tidak takut kepada Allah, Allah akan menjadikan dirinya takut kepada segala
sesuatu.
Dia pernah mewajibkan kepada dirinya untuk memberi nafkah (sedekah)
kepada teman-temannya semampunya.
Ketika menemui waktu pagi, dia berkata, Ya Allah, sesungguhnya
orang-orang telah pergi ke pasar-pasar. Masing-masing orang memiliki keperluan
yang berbeda-beda. Wahai Tuhanku, sesungguhnya keperluanku kepada-Mu hanyalah
agar Engkau memberikan ampunan kepadaku. Seorang laki-laki pernah duduk di
dekat Amir ketika ia sedang shalat. Maka, dia pun mempercepat shalatnya, lalu
dia menemui laki-laki tersebut. Dia berkata kepadanya, Cepatlah sampaikan
keperluanmu, sesungguhnya aku sedang tergesa-gesa. Laki-laki itu berkata,
Untuk apa kamu tergesa-gesa? Amir menjawab, Aku tergesa-gesa karena Malaikat
pencabut nyawa hampir mendatangiku. Laki-laki itu pun, akhirnya, bangun untuk
meninggalkan Amir, sementara Amir bangun untuk meneruskan shalatnya.
Abu Al-Aliyah pernah berkata, Aku pernah pergi selama beberapa
hari untuk menemui seorang laki-laki. Setiap kali aku melakukan hal itu, maka
hal yang pertama kali aku cari tahu adalah tentang shalat orang itu. Jika aku
mengetahui bahwa orang itu selalu mendirikan dan menyempurnakan shalatnya, maka
aku akan tinggal bersamanya dan akan mendengarkan ilmu darinya. Akan tetapi,
jika aku mengetahui bahwa dia telah menyia-nyiakan shalatnya, maka aku akan
kembali dan tidak mau mendengarkan ilmu darinya. Lalu, aku berkata, Jika dia
telah menyia-nyiakan shalatnya, maka sudah pasti dia juga akan menyia-nyiakan
hal lain selain shalat.
Dia juga berkata, Kami telah beranggapan bahwa di antara dosa yang
paling besar adalah jika seorang laki-laki belajar tentang Al-Qur`an, kemudian
dia meninggalkannya hingga dia pun lupa akan apa yang telah dipelajarinya.
Diriwayatkan dari Fudhail bin Zaid Ar-Raqqasyi dia pernah
berperang bersama Umar sebanyak tujuh kali- bahwa dia berkata, Berusahalah
agar orang-orang tidak membuatmu lalai terhadap dirimu sendiri, karena hal itu
akan menyebabkan dirimu berada di bawah kekuasaan mereka. Dan, janganlah kamu
memutuskan hubungan dengan waktu siang dengan melakukan begini dan begitu,
karena sesungguhnya ia akan merekam apa yang kamu katakan pada waktu itu. Aku
tidak melihat sesuatu pun yang lebih baik dan lebih cepat menutup sesuatu yang
lain daripada kebaikan yang segera dilakukan seseorang setelah sebelumnya dia
melakukan perbuatan dosa.
Harim bin Hayyan pernah berkata, Seorang yang bijak tidak akan
mengutamakan dunia daripada akhirat, dan seorang yang berhati mulia tidak akan
pernah berbuat maksiat kepada Allah.
Dia juga berkata, Orang yang bergelut dengan ilmu kalam dihadapkan
pada salah satu dari dua keadaan berikut ini: jika dia kurang dalam
menyampaikan apa yang dikehendaki oleh penguasa, maka dia akan ditahan; dan
jika dia berlebihan menuruti kemauan penguasa, maka dia akan berdosa. Dia juga
berkata, Jika ada seseorang yang berkata kepadaku, Sesungguhnya kamu akan
termasuk penghuni neraka, Niscaya aku tidak akan meninggalkan amal shalehku.
Hal itu adalah agar aku tidak dicela oleh diriku sendiri, di mana ia akan
berkata, Mengapa kamu melakukan hal itu? Mengapa kamu menyia-nyiakan amal
shalehmu?
Diriwayatkan dari Hasan bahwa dia berkata, Harim bin Hayyan dan
Abdullah bin Amir pernah pergi ke Hijaz. Tiba-tiba kedua binatang tunggangan
mereka menarik sejumlah pohon. Maka, Harim berkata kepada Ibnu Amir, Sukakah
kamu jika kamu menjadi salah satu dari pohon-pohon ini? Ibnu Amir menjawab,
Tidak, demi Allah, aku berharap kepada Allah I agar Dia tidak menjadikanku
seperti itu. Harim berkata, Demi Allah, aku ingin menjadi salah satu dari
pohon-pohon ini, di mana binatang tunggangan ini memakan diriku, lalu dia
membuangku kembali dalam bentuk kotoran. Dengan demikian, aku tidak akan
merasakan beratnya hisab pada Hari Kiamat. Wahai Ibnu Amir, sesungguhnya aku
takut kepada Hari Kiamat, di mana pada saat itu aku tidak tahu apakah aku akan
ke surga ataukah ke neraka.
Hasan juga berkata, Harim adalah orang yang paling fakih
(mendalami agama) dan paling mengetahui tentang Allah I dibandingkan Ibnu
Amir.
Diriwayatkan bahwa Shilah bin Usyaim pernah bertemu dengan
sekelompok pemuda yang sedang bermain-main. Maka, dia berkata kepada mereka,
Beritahukanlah kepadaku tentang suatu kaum yang ingin mengadakan suatu
perjalanan, tetapi ketika waktu masih siang, mereka tersesat dan menyimpang
dari jalan yang semestinya hingga mereka pun terpaksa bermalam di perjalanan;
kapankah mereka akan mengakhiri perjalanan mereka?
Tsabit pernah menceritakan bahwa Shilah dan para muridnya pernah
bertemu dengan seorang pemuda yang menjulurkan pakaiannya hingga menutupi mata
kakinya dengan maksud untuk menyombongkan diri. Melihat itu, para murid Shilah
mencaci maki pemuda tersebut dengan cacian yang sangat keras. Shilah pun
berkata, Biarkan aku saja yang menanganinya. Kemudian Shilah berkata kepada
pemuda tersebut, Wahai putra saudaraku, aku ada perlu denganmu. Pemuda itu
bertanya, Apa keperluanmu? Shilah berkata, Angkatlah (tinggikanlah) kainmu
itu! Pemuda itu menjawab, Baiklah, dengan senang hati aku akan melakukannya.
Setelah itu, Shilah pun berkata kepada murid-muridnya, Ini lebih baik daripada
apa yang kalian lakukan. Sebab, jika kalian mencacinya, maka dia juga akan
mencaci kalian.
Seorang laki-laki pernah berkata kepada Shilah, Berdoalah kepada
Allah untuk kebaikanku! Shilah pun berkata, Semoga Allah I menjadikan hidupmu
bahagia di alam yang kekal (akhirat), semoga Allah menjadikanmu tidak suka
terhadap kehidupan yang fana` (zuhud), dan semoga Allah menganugerahkan
kepadamu sebuah keyakinan di mana seseorang tidak akan tenang kecuali jika
kembali kepada keyakinan itu dan tidak akan meminta bantuan dalam masalah agama
kecuali kepadanya.
Mutharrif bin Abdullah pernah berkata, Wahai saudara-saudaraku,
bersungguh-sungguhlah kalian dalam beramal shaleh. Sebab, jika apa yang akan
kita terima nanti adalah rahmat dan ampunan Allah seperti yang kita harapkan,
kita akan mendapatkan sejumlah derajat di surga. Tetapi jika apa yang akan kita
hadapi adalah kondisi sulit seperti yang kita khawatirkan dan waspadai, kita
pun tidak akan mengatakan, Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan
mengerjakan amal shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.[5] Kita
hanya akan mengatakan, Sungguh, kami telah melakukan amal shaleh, tetapi amal
shaleh itu belum bermanfaat bagi kami.
Diriwayatkan bahwa jika Mutharrif masuk ke dalam rumahnya,
bejana-bejana yang ada di rumahnya akan bertasbih bersama-sama dengannya. Suatu
hari, dia pernah berjalan di malam hari, tiba-tiba cemeti yang dibawanya
menerangi jalan yang dilaluinya.
Dia juga pernah berkata, Sesungguhnya kematian ini telah
menghancurkan kenikmatan yang dirasakan oleh para pemburu kenikmatan duniawi.
Maka, carilah oleh kalian kenikmatan yang tidak ada kematian di dalamnya
(kenikmatan akhirat).
Dia juga berkata, Seandainya aku mengetahui kapan ajalku datang,
niscaya aku khawatir akalku akan hilang. Sesungguhnya Allah I telah menanamkan
dalam diri hamba-hamba-Nya kelalaian terhadap kematian. Seandainya tidak ada
kelalaian seperti itu, niscaya mereka tidak akan mengagungkan kehidupan dunia
dan tidak akan ada pasar-pasar di tengah-tengah mereka. Dia pernah berdoa
kepada Tuhannya dengan berkata, Ya Allah, ridhailah diri kami. Jika Engkau
tidak mau meridhai kami, maka berilah maaf kepada kami. Karena terkadang Allah
I memberi maaf kepada salah seorang hamba-Nya, tetapi Dia tidak ridha
kepadanya.
Dia juga berkata, Sesungguhnya hal terjelek yang digunakan untuk
memperoleh kenikmatan duniawi adalah perbuatan akhirat (ibadah).
Di antara Mutharrif dan seorang laki-laki dari kaumnya pernah
terjadi masalah. Laki-laki itu pun berdusta kepada Mutharrif. Maka, Mutharrif
berkata kepadanya, Jika kamu berdusta, maka semoga Allah I mempercepat
ajalmu. Seketika itu pula, laki-laki itu pun meninggal di tempat Mutharrif.
Keluarga laki-laki itu meminta bantuan kepada Ziyad untuk menemui Mutharrif.
Ziyad bertanya kepada mereka yang menyaksikan kejadian itu, Apakah dia telah
memukulnya? Apakah dia telah menyentuhnya dengan menggunakan tangan? Mereka
menjawab, Tidak. Ziyad berkata, Doa orang shaleh tidak akan meleset dari
takdir Allah. Sejak saat itu, Mutharrif pun tidak pernah meminta kepada Allah
agar Dia mempercepat sesuatu untuk mereka.
Mutharrif pernah berkata kepada salah seorang saudaranya, Wahai
Fulan, jika kamu memiliki suatu keperluan, maka janganlah kamu berbicara
kepadaku tentang keperluan tersebut secara langsung, tetapi tulislah di
selembar kertas. Kemudian berikanlah kertas itu kepadaku, karena aku tidak
ingin melihat hinanya sebuah permintaan yang nampak di wajahmu.
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Surah Fâthir [35]: 2.
[2] Surah Al-Anâm [6]: 17.
[3] Surah Ath-Thalâq [65]: 7.
[4] Hûd [11]: 6.
[5] Surah Fâthir [35]: 37.
[Non-text portions of this message have been removed]
KLINIK S.E.R.V.O :
Pusat Terapi Trauma, Fobia dan Mania
Apakah Anda merasa terjebak dalam "penjara mental" ?
Apakah Anda sudah "capek" dan "bosan" dengan problem Anda ?
Apakah Anda ingin "berubah" dengan "cepat" ?
Apakah Anda ingin hidup "normal" dan "menyenangkan" ?
Klinik SERVO memberikan Servoterapi / Hipnoterapi guna "menghilangkan" segala
jenis "hambatan psikis/penjara mental" seperti :
- Trauma Psikis
- Marah
- Fobia
- Cemas
- Stress
- Takut
- Maniak
- Ketergantungan
- Kecanduan
- Relapse
- Gemuk / Kurus
- Sifat Buruk
- Kebiasaan Buruk
- Malas
- Sedih
- Depresi
- Obsesif
- Psikosomatis
- Insomnia, dsb.
ALAMAT PRAKTEK :
Klinik S.E.R.V.O
Komplek Cipondoh Makmur
Jl. Bahagia Raya, Blok B5b No. 2
Cipondoh, Tangerang - 15148
http://klinikservo.wordpress.com/
TELPON : (021) 554 6009, 5574 5555, 554 5257.
------------------
Ingin lihat Figur Para BinTaNG ?
>>> http://health.groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/links
------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/