Secara etimologi (bahasa), *al-khusyu'* memiliki makna al-khudhû' (tunduk).
Seseorang dikatakan telah mengkhusyu'kan matanya jika dia telah menundukkan
pandangan matanya. Secara terminologi (istilah syar'i) *al-khusyu'* adalah
seseorang melaksanakan shalat dan merasakan kehadiran Alloh *Subhannahu wa
Ta'ala* yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang
dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh. Dia
betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Alloh *Subhannahu wa
Ta'ala*. Segala gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal
shalat hingga shalatnya berakhir.

Berikut firman Alloh *Subhannahu wa Ta'ala* tentang sholat yang khusyu',
yang artinya: *"Yaitu orang-orang yang khusyu' didalam sholatnya"* (QS:
Al-Mu'minun:2). Ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Abbâs *Radhiallaahu anhu
* bahwa: "Orang-orang yang khusyu' adalah orang-orang yang takut lagi penuh
ketenangan". Dan Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa "Yang dimaksud dengan
khusyu' dalam ayat ini adalah kekhusyu'an hati".

*Kiat-kiat yang dilakukan sebelum melaksanakan shalat.
*Sebelum memulai ibadah shalat maka perhatikanlah kiat-kiat berikut ini:

*Menjawab seruan adzan* dengan lafazh sebagaimana yang dikumandang kan oleh
muadzin kecuali lafazh: *"hayya 'alash shalah dan hayya 'alal falâh"* maka
jawabannya adalah *"lâ haula walâ quwwata illa billâh" *sebagaimana perintah
Rasululloh *Shalallaahu alaihi wasalam* dalam sabdanya, yang artinya: *"Apabila
kalian mendengar muadzin (mengumandangkan azan) maka ucapkanlah seperti apa
yang diucapkannya...."* (HR: al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya).

Lalu berdo'a selesai adzan dengan do'a yang diajarkan oleh Rasululloh
*Shalallaahu
alaihi wa salam* seperti *Allahumma Rabba hadzihid da'watit taammah...*dst.

Kemudian berdo'a sesuai dengan keinginan masing-masing, sebagaimana yang
telah disabdakan oleh Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa salam*, yang
artinya:* "Do'a antara adzan dan iqomah tidak tertolak" *(HR: Abu Dawud,
at-Tirmizi, an-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah dan lainnya)

*Berwudhu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh
Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam.* Melakukan wudhu berarti telah
merealisasikan perintah Alloh *Subhanahu Wa Ta'ala,* yang terdapat dalam
firman-Nya, yang artinya: *"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu, basuhlah tanganmu hingga
siku, dan usaplah (sapulah) kepalamu, serta basuhlah kakimu hingga kedua
mata kakimu..." *(QS: Al-Maidah: 6)

Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa salam* bersabda tentang keutamaan wudhu,
yang artinya: *"Barangsiapa yang berwudhu', lalu berwudhu' dengan
sebaik-baiknya, kemudian dia shalat, niscaya dosa antara sholatnya itu dan
sholatnya yang lain (berikutnya) diampuni." *(HR: Ibnu Khuzaimah dan Imam
Ahmad)

*Dan bahkan orang yang berwudhu` itu berarti dia telah menggugurkan
dosa-dosanya bersamaan dengan air yang mengalir dari anggota wudhu` yang
telah dibasuh.* (HR: Ibnu Khuzaimah dan Muslim)

*Bersiwak* (atau menggosok gigi) sebelum shalat sebagaimana perintah
Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa salam* dalam sebuah haditsnya, yang
artinya: *"Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan
mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu' (dalam riwayat yang lain) setiap
kali hendak sholat"* (HR: Muttafaq 'Alaih)

*Memakai pakaian yang sopan (layak), bersih dan wangi, serta menjauhi
semaksimal mungkin pakaian yang sudah kotor, bau dan tidak layak untuk
dipakai dalam shalat.*  Menghindari pakaian yang ketat sehingga menyebabkan
kesulitan untuk bergerak dan bernafas, janganlah memakai pakaian bergambar
atau bertulisan agar mata kita terjaga dan juga agar orang lain tidak
terganggu, lalu perhatikan juga pakaian yang membungkus tubuh kita, apakah
sudah memenuhi syarat? Apakah sudah benar-benar menutupi aurat? Semua hal
ini sebagai bentuk realisasi dari firman Alloh *Subhannahu wa Ta'ala*, yang
artinya: *"Wahai manusia pakailah pakaianmu yang indah setiap kali memasuki
masjid"* (QS:Al-'Araf: 31)

Jagalah konsetrasi dalam melaksanakan shalat dengan cara menghindari tempat
dan suasana yang panas atau gerah, sebagaimana larangan Rasululloh *Shalallaahu
alaihi wa salam *untuk tidak shalat Dzuhur pada saat panas sangat menyengat.
Beliau *Shalallaahu alaihi wa salam *bersabda, yang artinya: *"Laksanakanlah
sholat Dzuhur pada waktu panas sudah mereda, karena panas yang sangat
menyengat itu adalah hawa panas yang berasal dari neraka jahannam" *( HR:
al-Bukhari, Ahmad dll).

Dan jagalah konsentrasi shalat kita dengan memenuhi segala kebutuhan jasmani
kita yang mendesak, seperti; kalau seandainya sebelum shalat perut kita
terasa mulas, ingin buang air maka janganlah ditahan-tahan, sebab kalau kita
shalat sambil menahan perut kita yang mulas pasti konsetrasi shalat kita
terganggu.

Demikian juga apabila kita merasa lapar sebelum melaksanakan shalat maka
bersegeralah untuk makan untuk memenuhi hajat perut kita tersebut agar rasa
lapar itu tidak membuyarkan konsetrasi kita ketika sedang shalat, dan
mengenai dua permasalahan diatas Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa
salam *bersabda,
yang artinya: *"Tiada sholat ketika makanan sudah terhidang dan tiada sholat
ketika seseorang menahan hajat buang airnya"* (HR: Muslim, Ahmad dan
lain-lain).

*Carilah tempat shalat yang tenang*, yang jauh dari kebisingan, yang jauh
dari suara-suara berisik dan suara-suara gaduh, Rasululloh *Shalallaahu
alaihi wa salam* bersabda, yang artinya: *"Jauhilah suara-suara berisik
seperti di pasar (ketika berada di masjid)" *(HR: Muslim)

Oleh karena itu siapa saja yang berada di masjid hendaklah menjaga
ketenangan dan ketentraman masjid, apabila kita berdzikir maka lirihkanlah
suara dzikir kita, dan apabila kita membaca al-Qur'an maka lirihkanlah suara
bacaan Al-Qur'an kita. Jangan sampai suara kita membuyarkan konsentrasi
saudara-saudara kita yang sedang bermunajat kepada Alloh *Subhannahu wa
Ta'ala*, Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa salam *bersabda, yang
artinya: *"Sesungguhnya
orang yang shalat sedang bermunajat kepada Rabnya, maka perhatikanlah
saudaramu yang sedang bermunajat itu, Janganlah keraskan bacaan Qur'an
kalian!"* (HR: al-Bukhari dan Imam Malik)

Luangkanlah waktu untuk menunggu datangnya waktu shalat. Meluangkan waktu
menunggu datang nya waktu shalat bisa dilakukan di dalam masjid terutama
bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita maka lebih utama di rumah.
Alloh*Subhanahu Wa Ta'ala
* akan memberikan keutamaan dan fadhilah yang sangat banyak bagi orang yang
menunggu waktu shalat, Sebagaimana Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa
salam *bersabda,
yang artinya: *"Senantiasa dihitung perbuatan seorang hamba itu sebagai
pahala sholat selama ia menunggu datangnya waktu sholat, dan para malaikat
(senantiasa) berdo'a untuknya, "Ya Alloh ampunilah dia dan rahmatilah dia,"
sampai seorang hamba itu selesai (melaksanakan sholat) atau ia berhadats,
(ada yang bertanya); apa yang dimaksud dengan hadats, (kata Rasululloh);
keluar angin dari lubang dubur baik bau maupun tidak"* (HR: Muslim dan Abu
Daud)

Dalam hadits yang lain beliau *Shalallaahu alaihi wa salam *bersabda, yang
artinya: *"Maukah aku beritahukan tentang beberapa hal, yang mana Alloh akan
menjadikannya sebagai pelebur dosa dan pengangkat derajat kalian? Para
shahabat menjawab, "Tentu mau ya Rasululloh," lalu Rasululloh bersabda, yang
artinya: "Sempurnakan wudhu' walau dalam keadaan tidak menyenangkan (spt;
dingin), perbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah
melaksanakan sholat, maka yang demikian itu adalah ar-ribath, yang demikian
itu ar-ribath."* (HR: Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Muslim)

Ar-ribath adalah senantiasa menjaga kesucian, shalat dan ibadah maka
pahalanya diumpamakan seperti jihad di jalan Alloh *Subhannahu wa Ta'ala*.

Demikianlah kiat-kiat yang perlu kita perhatikan sebelum melak sanakan
shalat. Dengan merealisasikan itu semua mudah-mudahan shalat kita menjadi
shalat yang khusyu' dan diterima disisi Alloh *Subhannahu wa Ta'ala*.

*Keutamaan Shalot yang Khusyu'
*Sesungguhnya Alloh *Subhannahu wa Ta'ala* telah memuji orang yang khusyu'
pada banyak ayat dalam al-Qur'an, di antara nya adalah:

Firman Alloh *Subhannahu wa Ta'ala*, yang artinya: *"Sesungguhnya telah
beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' didalam
sholatnya".* (QS: Al-Mu'minun: 1-2)

Firman Alloh *Subhannahu wa Ta'ala*, yang artinya: *"Dan mintalah
pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan sholat, karena sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'". *(QS.
al-Baqarah: 45)

Firman Alloh *Subhannahu wa Ta'ala* pada ayat yang lain, yang artinya: *"Mereka
yang berdo'a kepada Kami dengan penuh harapan dan rasa takut (cemas), dan
mareka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami". *(QS: Al-Anbiya': 90)

Alloh *Subhannahu wa Ta'ala* berfirman, yang artinya: *"Mereka menyungkurkan
mukanya dalam keadaan menangis dan kekhusyu'an mereka semakin bertambah" *(QS:
Al-Isra': 109)

Alloh *Subhannahu wa Ta'ala* berfirman, yang artinya: *"Dan dari orang-orang
yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih, Apabila dibacakan
ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur
dengan bersujud dan menangis."* (QS: Maryam: 58)

Firman Alloh *Subhannahu wa Ta'ala*, yang artinya: *"Sesungguhnya
orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka
akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar."* (QS: Al-Mulk: 12)

Demikian juga beberapa hadits Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa salam *yang
menjelaskan tentang keutamaan khusyu' berikut ini:

Dari Abu Hurairah *Radhiallaahu anhu*, Rasululloh *Shalallaahu alaihi wa
salam* bersabda, yang artinya: *"Tujuh golongan yang mendapat naungan Alloh
pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Alloh; …(dan
disebutkan di antaranya) seseorang yang berdzikir (ingat) kepada Allah dalam
kesendirian (kesunyian) kemudian air matanya mengalir." *(HR: Al-Bukhari,
Muslim dan lain-lainya)

Nabi *Shalallaahu alaihi wa salam* bersabda, yang artinya: *"Barangsiapa
yang mengingat Alloh kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir
jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari Kiamat kelak."* (HR.
al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih)

Dari Abu Hurairah *Radhiallaahu anhu*, Nabi *Shalallaahu alaihi wa
salam*bersabda, yang artinya:
*"Semua mata (manusia) pada hari Kiamat akan menangis kecuali (ada beberapa
orang yang tidak menangis) (pertama) mata yang terjaga dari hal-hal yang
diharamkan Allah, (kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (pada
malam hari) di jalan Allah, (ketiga) mata yang menangis karena takut pada
Allah walau (air mata yang keluar itu) hanya sekecil kepala seekor
lalat"*(HR: Ashbahâny)

Dari Bahaz Bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya semoga Alloh meridhai
mereka, kakeknya berkata, *"Saya mendengar Rasululloh Shalallaahu alaihi
wasalam bersabda, "Diharamkan neraka membakar tiga golongan manusia yang
disebabkan matanya, (pertama) mata yang menangis karena takut pada Allah,
(kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (begadang) di jalan Alloh,
(ketiga) mata yang terpelihara dari hal-hal yang diharamkan Alloh." *(HR:
At-Thabrani, Al-Baghawi dan yang lainnya, al-Hakim mengatakan hadits ini
shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi) *Wallahu a'lam bish shawab*.

(Sumber Rujukan: Taisîr Karimir Rahman, Asy-Syaikh Abdur Rahman Bin Nâshir
As-Sa'dy; Tafsir Ibnu Katsir)
-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
Internal Auditor
PT.Sanyo Indonesia
Ejip Industrial Park Plot 1a Cikarang-Bekasi
--------------------------------------------
See my Article On http://erwinarianto.blogspot.com/


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke