--- In [EMAIL PROTECTED], audifax - 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Permainan bernama "Hidup"
   
  Oleh;
  Audifax
  Penulis buku "Semiotika Tuhan" (Pinus, 2007)
   
  Hidup adalah permainan yang memaksa siapapun yang terlempar ke 
dalamnya untuk ikut bermain hingga babak yang mesti dilakoninya usai. 
Dalam hidup, masing-masing individu memiliki permainannya sendiri, 
seperti halnya Eliot Goodman yang menjalani hidup layaknya filosofi 
permainan golf. Permainan dari masing-masing individu, satu sama lain 
terhubung dalam sebuah arena permainan yang lebih besar, yaitu Sang 
Kehidupan itu sendiri. Inilah yang membuat Elliot kemudian mesti 
bertanding golf melawan Sang Kehidupan yang mengirimkan 18 wakilnya.
   
  Jalinan kisah novel "Match Made in Heaven" ini berawal saat hidup 
Elliot berada di ambang ajal akibat serangan jantung. Saat itu Tuhan 
menghampiri Elliot untuk memberinya kesempatan tetap hidup. 
Syaratnya, Elliot harus mampu mengalahkan Tuhan dalam pertandingan 
golf delapan belas lubang. Pada kedelapan belas lubang itu, Elliot 
bukan berhadapan langsung dengan Tuhan, melainkan para wakilnya. 
Berturut-turut Elliot mesti menghadapi: Leonardo da Vinci, William 
Claude Dukenfield, Musa, John Lennon, Sigmund Freud, Edgar Allan Poe, 
Socrates, Pablo Picasso, Abraham Lincoln, Ludwig Von Beethoven, 
William Shakespeare, George Herman Ruth Jr., Christoforus Colombus, 
Mahatma Gandhi dan William Benjamin Hogan.
   
  Pertandingan demi pertandingan bukan sekedar `permainan golf' 
melainkan juga refleksi melalui interaksi Elliot dengan karakter demi 
karakter ke-18 lawannya. Tiap lawan memberi Elliot peristiwa dan 
pandangan baru yang mengagumkan untuk menjadi bekal Elliot dalam 
melanjutkan hidupnya yang sudah di ambang usai itu. Kurang lebih 
begitulah gambaran kisah dalam novel "Match Made in Heaven" karya Bob 
Mitchell yang diterbitkan oleh Penerbit Ufuk ini. Novel ini 
menyuguhkan kisah klasik pencarian manusia akan hakikat hidupnya dan 
pemahamannya atas hikmah tersembunyi yang dianugerahkan Tuhan di 
balik peristiwa-peristiwa kehidupan. Lewat tutur kata mengalir dan 
isi yang sarat makna, pembaca akan terbawa begitu saja pada pemahaman 
baru tanpa merasa telah membaca sesuatu yang "berat".
   
  Tokoh-tokoh yang hidup dalam diri
  Teori-teori psikologi perkembangan, telah banyak menjelaskan 
bagaimana individu belajar sesuatu dari sosok tokoh yang disukainya. 
Hasil belajar ini kemudian menjadi bekal bagi individu untuk 
menjalani `permainan' kehidupannya. Di titik inilah tokoh-tokoh itu 
bukan hanya berpengaruh tetapi juga hidup dalam `Diri' 
individu. `Diri' atau `Self' dengan demikian merupakan persilangan 
dari karakter sejumlah tokoh. Namun pada titik lain, individu mesti 
menghadapi pula kenyataan bahwa hidup adalah soal seberapa 
otentik `Diri' memainkan peran.
   
  Otentisitas ini pula yang membuat karakter dari orang-orang 
tertentu tak pernah mati meski jasad mereka tak ada lagi di dunia. 
Karakter mereka tetap hidup dan menjadi spirit bagi banyak orang, 
jauh melampaui jamannya. Pesan ini dapat terbaca jelas pada scene 
ketika Elliot bertanding melawan Colombus. Tersirat pada kalimat yang 
dikutip dari makam Colombus: "History knows of no man who ever like 
did the like". Sejarah (hanya mau) tahu bahwa tak ada orang yang 
menjalani hidup (untuk) menyerupai orang lain. Ini menunjukkan bahwa 
hanya mereka yang benar-benar berbeda dan sadar akan keberbedaannya, 
yang mampu keluar dari kerumunan untuk kemudian tercatat dalam 
sejarah. Sisanya, yang terjebak dalam kerumunan, akan hilang seiring 
usainya `permainan' hidup mereka.
   
  Martin Heidegger pernah mengemukakan istilah Dasein dan das man. 
Menurut Heidegger, kata "manusia" atau das man hanyalah merujuk pada 
spesies. Artinya, tak lebih dari sebutan untuk menggambarkan suatu 
kerumunan mahkluk yang dianggap sejenis. Dalam kerumunan sejenis, 
nama demi nama melenyap. Tak ada otentisitas di situ. Heidegger lalu 
memilih istilah yang dirasa tepat untuk menggambarkan otentisitas 
manusia, yaitu Dasein, yang kurang lebih artinya:"Yang-ada-di-
sana". `Ada' manusia dalam Dasein adalah `Ada' dalam otentisitas 
masing-masing nama yang di sana. Di sana mana? Di sana pada tempat 
masing-masing nama mengalami keterlemparan dalam peran pada permainan 
hidupnya masing-masing. Ada nama-nama seperti: Ratih, Goenardjoadi, 
Sisca, dan seterusnya.
   
  Diri, Tuhan dan Kehidupan
  Antara memilih menjadi otentik atau melenyap dalam kerumunan itulah 
hidup manusia ibarat permainan yang di dalamnya terdapat misteri dan 
paradoks atas hidup itu sendiri. Di sinilah baru kita bisa bicara 
lebih jauh tentang Tuhan. Carl Gustav Jung, psikoanalitik asal Swiss, 
pernah berkata: "Dipanggil atau tidak dipanggil, Tuhan hadir". 
Ungkapan itu menyiratkan, bukan manusia yang hadir mengikuti 
permainan Tuhan, melainkan Tuhan yang hadir mengikuti permainan kita 
masing-masing.
   
  Kenapa Tuhan memilih golf untuk pertandingan melawan Elliot? 
Alasannya bukan terletak pada permainan golf-nya, melainkan karena 
Elliot menyukai permainan golf. Bahkan ke-18 tokoh yang dipilih Tuhan 
untuk mewakili diriNya melawan Elliot, semua adalah tokoh-tokoh yang 
disukai Elliot. Setelah Elliot melawan ke-18 tokoh wakil Tuhan 
tersebut, ternyata skor pertandingan masih berakhir imbang sehingga 
diperlukan babak tambahan. Di babak tambahan ini, Elliot bukan lagi 
melawan tokoh terkenal, melainkan orang biasa. Meski demikian, di 
satu sisi Elliot merasa sudah mengenal akrab orang yang satu ini, 
sementara di sisi lain, ingatan Elliot tak pernah mampu menjelaskan 
kapan tepatnya ia mengenalnya. Orang itu hanya mengatakan bahwa ia 
akrab dipanggil "Dog".
   
  "Dog" ternyata kebalikan dari "God". Tuhan hadir dalam sosok orang 
biasa. Di babak tambahan ini Elliot kalah, namun Tuhan justru 
memberinya kesempatan untuk tetap hidup. Alasannya, di saat kritis 
hidupnya, Elliot memilih untuk tetap hidup dan mau berjuang untuk 
pilihannya itu. Scene akhir buku ini memuat pesan bahwa hidup adalah 
persoalan bagaimana manusia menentukan pilihan dan bertanggungjawab 
atas pilihan tersebut. Di sinilah letak otentisitas manusia. 
Barangkali di titik ini kita perlu merenungkan kembali bahwa hidup 
yang bertanggungjawab bukan dalam paradigma "Manusia berusaha, Tuhan 
menentukan", melainkan "Manusia menentukan, Tuhan mengusahakan". Dan, 
pertanyaan tajam dari kisah ini: "Jika Tuhan sudah mengusahakan 
begitu banyak untuk pilihan yang anda tentukan, sudahkah anda sendiri 
bertanggungjawab atas pilihan tersebut?"
   
   
    Bagi anda yang berminat mendiskusikan esei ini, saya mengundang 
anda bergabung mendiskusikannya di milis Psikologi Transformatif
   
  Bagi mereka yang ingin bergabung dengan milis Psikologi 
Transformatif, ketik:
   
  www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
   

   
   
  Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
  Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang 
didirikan oleh Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung 
dalam Komunitas Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas 
Surabaya. Saat ini milis ini telah berkembang sedemikian pesat 
sehingga menjadi milis psikologi terbesar di Indonesia. Total member 
telah melebihi 1900, sehingga wacana-wacana yang didiskusikan di 
milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa dipandang 
sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau 
keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana 
muncul di sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi "Di mana 
ada manusia,  di situ psikologi bisa diterapkan" di sinilah jargon 
itu tak sekedar jargon melainkan menemukan konteksnya. Ada berbagai 
sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan yang tak diajarkan di 
Fakultas Psikologi Indonesia.
   
  Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang 
berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya 
untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini 
yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus 
berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai 
member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak 
lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list 
ini, diharapkan diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi 
dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini 
antara lain adalah para pembicara dari simposium Psikologi 
Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul 
Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang 
aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Mang Ucup, 
Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus 
Takwin, Amalia "Lia" Ramananda, Himawijaya, Rudi
 Murtomo, Felix Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi 
Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo 
Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, 
Kidyoti, Priatna Ahmad,  J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie 
Iriana, Yunis Kartika, Ratih Ibrahim, Sartono Mukadis, Nurudin 
Asyhadie
   
   
  Jika anda ingin bergabung namun tidak ingin inbox e-mail anda 
dipenuhi oleh posting message (yang sangat padat, rata-rata 2500 
perbulan), anda bisa men-setting no e-mail dan menyaksikan bagaimana 
diskusi ini berlangsung via message archive di web Psikologi 
Transformatif.
   
  Caranya:
    
   Gunakan ID yahoo  
   Join dengan milis Psikologi Transformatif di: 
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif  
   Klik "join" yang ada di web Psikologi Transformatif  
   Pada pilihan menu, pilih web only  
   setiap kali anda ingin melihat apa yang terjadi di milis Psikologi 
Transformatif, anda tinggal ketik: www.yahoogroups.com, lalu masuk 
dengan ID dan password Yahoo anda  
   Di pojok kiri anda dapat melihat daftar milis yang anda ikuti, 
pilih milis Psikologi Transformatif  
   Jika anda sudah masuk ke web induk milis Psikologi Transformatif, 
pilih menu message.
  Selamat menikmati suguhan di message archive

       
---------------------------------
 Check out  the hottest 2008 models today at Yahoo! Autos.

--- End forwarded message ---


Kirim email ke