Bike2Work, Kegilaan yang Dianjurkan
Written by Arief Rahman, Muhammad
Tuesday, 28 November 2006
Tahukah Anda kalau bersepeda bisa membuat orang jadi gila? Dan apakah
Anda percaya kalau di sisi lain kegilaan justru dapat dicegah dengan
bersepeda?
****
Pagi di pertengahan Oktober 2005 lalu, sebuah tayangan entertainment
di salah satu TV swasta mengulas tentang suatu komunitas pekerja bersepeda
yang selalu menggunakan sepeda ke tempat kerjanya. Sebuah aktivitas yang tak
lazim dilakukan mayoritas masyarakat di Ibukota, yang kebanyakan lebih
memilih menggunakan bus atau kendaraan bermotor lainnya. Spontan, saya pun
berkomentar, “Gila!”.
Kini, komentar itu telah berbalik tertuju kepada saya. Hampir semua
rekan kerja saya berseru, “Dasar gila”, karena saya pergi bekerja dengan
menggenjot sepeda dari rumah di kawasan Cipayung, Jakarta Timur menuju
Kuningan, Jakarta Selatan sejak November 2005 lalu hingga sekarang.
Benarkah saya sudah gila? Bisa jadi. Menurut kabar di sebuah situs
berita, kini semakin banyak orang gila berkeliaran di jalan karena stres
pascakenaikan harga BBM. Faktanya, selama ini saya pun stres dengan situasi
kemacetan lalulintas Ibukota dan polusi udara yang semakin parah. Kendaraan
bermotor setiap hari kian bertambah justru seiring meroketnya harga BBM.
Ironis!
Namun ternyata komunitas pekerja bersepeda, Bike to Work (B2W)
Indonesia menawarkan alternatif jitu untuk mengekspresikan kegilaan
tersebut. Mereka mensosialisasikan penggunaan sepeda sebagai alat
transportasi alternatif sehari-hari untuk ke tempat kerja maupun aktivitas
lainnya.
Jika menilik makna kata gila yang berarti ‘tidak biasa’, maka dapat
dibenarkan kalau B2W adalah suatu bentuk kegilaan tersendiri. Bagaimana
tidak, saat ini siapa yang mau bersepeda di tengah-tengah lalulintas Ibukota
yang semrawut? Siapapun mungkin akan ngeri menggenjot sepeda di antara
kendaraan bermotor yang berseliweran sak enak udele dewe.
Untuk bersepeda di Jakarta mungkin dibutuhkan kesiapan bertarung
dengan pengendara bermesin demi memperebutkan space walau setengah meter
saja. Beradu sikut dengan pesepeda motor bahkan diseruduk moncong bus,
seolah telah ditakdirkan sebagai risiko yang harus di hadapi para ksatria
“kendaraan berotot” ini. Ya, kata orang Ibukota memang kejam, begitupun
lalulintas jalan rayanya. Tetapi B2W justru ingin melawan image yang telah
melekat kuat di sebagian besar masyarakat Ibukota.
Predikat gila pada B2W tidak habis hanya sampai di situ. Kata gila
juga dapat berarti ‘tidak masuk akal’. Dan faktanya, mayoritas orang
menganggap aktivitas yang diusung B2W sebagai tindakan gila, nggak masuk
akal. Seperti yang juga diserukan rekan kerja saya tadi. Ketika saya ikut
menyuarakan beberapa moto yang diusung B2W, no pollution, less traffic, save
gasoline, save money, mereka pun dengan apatis menimpali save your lung
guys!
Bagi mereka, bersepeda di Jakarta untuk saat ini sangat tidak
realistis. Jakarta sebagai kota berperingkat ketiga polusi udara di dunia,
lalulintasnya sudah semrawut. Mereka nggak mau kalau paru-paru mereka ikutan
jadi “semrawut” karena kebanyakan menghirup CO2.
Tapi melalui aksi kampanyenya, B2W berusaha membalikkan opini
masyarakat bahwa ternyata kegilaan itu justru sangat realistis. Pepatah
Jerman mengatakan, “Sebuah sepeda jauh lebih baik daripada satu truk
obat-obatan”. Artinya, Dengan bersepeda, kita tidak perlu obat-obatan lain
untuk menjaga kesehatan kita.
Banyak hasil riset membuktikan bahwa orang-orang yang mengendarai
sepeda setiap hari, mengalami kemajuan tingkat kesehatan yang lebih baik
daripada orang-orang yang biasa berkendaraan mobil atau kereta. Bahkan, ada
salah satu anggota B2W yang masih tampak bugar di usianya yang hampir kepala
lima karena kegilaannya itu. Bukti riset dan pengalaman seperti itu kerap
disosialisasikan para anggota B2W ke masyarakat baik secara langsung maupun
lewat forum di milis B2W.
Soal polusi udara yang justru mengancam paru-paru? Nggak usah cemas.
Toh B2W tidak asal menyuruh orang-orang bersepeda di Jakarata begitu saja.
Ada persiapan yang harus dipenuhi untuk bersepeda di Ibukota. Di antaranya,
wajib hukumnya memakai masker agar paru-paru kita terlindung dari udara yang
tidak sehat. Justru dengan banyaknya orang bersepeda akan menghemat konsumsi
BBM, sehingga mengurangi polusi udara di kota-kota besar seperti Jakarta.
Jadi, ini kegilaan yang masuk akal dan realistis bukan!
Hanya sampai di situkah kegilaan B2W? Tampaknya tidak. Karena kata
gila masih menyimpan asosiasi makna yang lain, yaitu ‘menyukai’,
‘mencintai’, atau ‘menggemari’ (sesuatu). Menggiring masyarakat agar mau
memilih sepeda sebagai transportasi alternatif, memang tidak mudah. Perlu
ada kesadaran yang ditanamkan terlebih dahulu dalam diri mereka bahwa
bersepeda itu ternyata menyenangkan. Ketika seseorang telah merasakan senang
bersepeda, maka ia pun berpotensi jadi gila dalam arti menjadi menyukai,
menggemari, atau bahkan mencintai aktivitas bersepeda.
Rasa senang itu sendiri bisa timbul dari beberapa faktor, di antaranya
faktor kenyamanan. Dan berbicara masalah kenyamanan bersepeda, dapat dilihat
dari dua sisi. Pertama, kenyamanan yang ditimbulkan dari diri sendiri
melalui sepeda yang digunakan, dan beberapa perlengkapan utama seperti helm,
masker, sarung tangan, kacamata, atau jaket pelindung.
Kedua, kenyamanan yang diciptakan dari luar, yaitu prasarana pendukung
berupa bike lane atau jalur prioritas sepeda yang perlu ditopang fasilitas
lain seperti tempat parkir khusus sepeda dan kamar mandi di perkantoran,
mal, terminal, stasiun dan tempat-tempat umum lainnya, sebagaimana yang
tergambar dalam misi B2W. Itu semua dapat tercapai apabila pemerintah,
pengelola perkantoran, dan pengelola fasilitas umum, serta masyarakat,
sama-sama berkomitmen untuk meraihnya.
Saat ini tercatat baru beberapa gedung perkantoran di
Jakarta yang telah menyediakan fasilitas parkiran sepeda, salah satunya
gedung Siemens di Jalan M.T. Haryono, Jakarta Selatan. Itu digagas atas
inisiatif salah seorang karyawannya yang juga anggota B2W. Sementara untuk
penyediaan bike line, nampaknya harus membutuhkan proses panjang karena
terkait dengan pembangunan infrastruktur besar yang terencana dengan
perhitungan matang.
Misalnya, perlu memperhitungkan berapa banyak orang yang
menggunakan sepeda di Jakarta, sehingga pembangunan bike line tidak mubazir.
Karena tidak mungkin pemerintah mau membuat bike line jika jumlah pengguna
sepeda hanya sedikit. Tampak dilematik memang, karena di sisi lain adanya
bike line justru juga dapat mendorong masyarakat untuk mau bersepeda. Tetapi
B2W tidak larut dalam dilema itu. Misi perealisasian bike line terus
disuarakan dan B2W pun kian gencar mengajak banyak orang untuk bersepeda.
Sampai saat ini anggota komunitas B2W yang tergabung di milis
[EMAIL PROTECTED] 2 Agustus 2006, berjumlah 567 orang. Sekedar
asumsi, jika jumlah minimum pengguna sepeda di Jakarta yang dipersyaratkan
harus sebanyak 300 ribuan untuk realisasi bike line, maka jumlah tersebut
baru dapat tercapai selama 10 tahun lebih. Itu pun jika setiap anggotanya
berhasil “meracuni” kegilaan ini kepada satu orang saja setiap minggunya.
Tapi perlu dicatat, di luar anggota yang terdaftar itu, masih ada lebih dari
dua ribuan pesepeda yang berseliweran di jalan-jalan Ibukota. Jadi, bukan
mustahil jika angka yang dipersyaratkan itu dapat terwujud kurang dari dua
tahun.
Maka tak heran jika hingga saat ini B2W ─yang dideklarasikan pada 27
Agustus 2005 lalu─ tetap gencar dan serius menjalankan visi dan misinya
itu. Hampir setiap minggu aksi B2W, baik secara individu maupun masal selalu
terlihat lewat kampanye di jalan-jalan Ibukota seperti di Bunderan HI.
Selain melalui flayer, penyebaran informasinya pun kini mulai diperluas
melalui kerjasama dengan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.
Dan, di penghujung Agustus lalu, B2W genap setahun menularkan
kegilaannya. Dengan tema 2006-nya, “Cegah Polusi, Hemat BBM, Kurangi Macet,
Sehat dan Bugar Beraktifitas”, B2W mungkin akan menjadi virus baru yang
akan menjangkiti masyarakat Ibukota. Maka lagi-lagi akan banyak orang yang
berseru “Gila!”. Namun kegilaan kali ini tertuju pada bentuk semantik
berupa seruan yang menggambarkan ungkapan ‘kagum’. Terbukti telah banyak
respon positif masyarakat terhadap gerakan ini. Tak jarang rasa salut walau
sekadar acungan jempol diberikan sebagai bentuk apresiasi mereka. Seperti
yang pernah dialami salah satu anggota B2W yang suatu ketika dipepet sebuah
mobil, yang ternyata si pengendara hanya mau menyampaikan rasa salutnya.
Jadi, terjawab sudah semantik yang mengikat makna kata gila. Tanpa
sebuah penjabaran teori linguistik, Anda dapat melihat satu wilayah semantik
yang merangkul seluruh makna kata gila dalam sebuah nama Bike to Work
*****
Tapi ternyata uraian ini belum habis karena kegilaan ini masih
menyimpan sebuah tanya. Bagaimana dengan masalah kepraktisan? Tak dipungkiri
pastinya orang akan menganggap kalau bersepeda ke tempat kerja pasti repot.
Badan berkeringat, sehingga harus mandi dan mau tak mau harus membawa
pakaian ganti.
Kalau soal itu nanti dulu, karena yang tepenting adalah apakah Anda
telah siap menerima kegilaan yang ditawarkan B2W? Sebaiknya sih Anda
menjawab “iya” karena ini adalah kegilaan yang sangat dianjurkan. Maka
ketika Anda siap untuk mejadi gila, tanpa di sadari nantinya Anda akan
benar-benar gila sehingga tak lagi memikirkan repotnya berkeringat, mandi,
dan membawa pakaian ganti. Hingga pada suatu saat rekan-rekan kerja Anda
yang akan menyadarkan Anda dengan seruan “Dasar gila!”. Tapi jangan
khawatir, niscaya Anda tetap akan mempertahankan kegilaan yang akhirnya
telah Anda sadari.
Jakarta, 24 Juli 2006
Muhammad Arief Rahman
Penulis adalah anggota komunitas Bike2Work
Alamat penulis:
Jln. Raya Cipayung No.31 Rt.003/02 Jakarta 13840
Telp. 021-93201201
[Non-text portions of this message have been removed]