[EMAIL PROTECTED] wrote:
Mereka tidak Mengenal Orangtua Kandung
Kiki berjalan tertatih menyeberangi perempatan Karet Bivak, Jakarta
Pusat. Ia menyodorkan tangan kirinya yang menggenggam erat lipatan uang kertas,
kepada seorang ibu muda. Uang kertas Rp. 2.000 segera terenggut dari tangan
bocah yang belum genap berusia 4 tahun tersebut, berpindah tangan ke genggaman
"ibunya".
"Itu ibu Kiki" katanya, suaranya masih cadel. Namun, soal menjelajah
jalanan, dapat dikata Kiki sudah sangat berpengalaman. Kaos putih bergaris
merah dengan gambar kartun di dada kirinya lusuh luar biasa. Rambutnya memerah,
dipastikan karena kurang gizi dan terus menerus tiap hari terpanggang matahari.
Segurat senyum lucu bergantian dengan mimik memelas menghias wajahnya yang
kotor. Itu adalah salah satu jurus Kiki untuk meraih iba para pengendara yang
terjebak lampu merah. Ujung-ujungnya, rupiah demi rupiah mengucur ke tangannya.
"Saya temukan dia sejak masih bayi merah di dekat stasiun Pasar Senen.
Tidak di urus sama ibunya. Ya sudah, saya ambil saja. Sekarang dia anak saya.
Bersamanya, saya pindah-pindah mangkal. Hampir 6 bulan ini menetap disini" kata
nyonya Sabeni (37). Kiki bukan satu-satunya "anak" ny. Sabeni. Di perempatan
Karet Bivak itu, Kiki di temani seorang bocah laki-laki berusia sekitar 6 tahun
yang dipanggil Boni dan remaja perempuan, Nisa, berusia 11-12 tahunan.
Menurut pengakuan Sabeni, Nisa adalah anak kandungnya, sedangkan Boni sama
seperti Kiki.
Mendekati ketiga anak-anak itu cukup sulit karena Sabeni dengan galak
segera menghalau trio spesialis peminta-minta ini mendekati dirinya, ibu itupun
terkesan tidak suka ditanyai soal aktivitasnya. Jawaban-jawaban pendek akhirnya
terlontar dari mulutnya, setelah mengekornya berjam-jam.
Sama seperti Sabeni, beberapa ibu pengemis di Karet Bivak sangat sensitif
terhadap orang asing yang datang bertanya-tanya. Tanti (26), misalnya, ibu muda
asal Kabupaten Lebak, Banten, baru mau berbicara setelah ditunggui selama
se-jam-an, Ia pun meminta kepastian tidak akan ada razia setelah wawancara. hi
hi ... Bagi kedua ibu ini, anak-anak adalah aset amat berharga. Dari anak-anak
itulah pendapatan sebesar Rp.50.000 - Rp.100.000 per-hari diperoleh. Tabungan
uang tersebut digunakan Sabeni untuk merintis warung makan kecil-kecilan di
dekat Pasar Tanah Abang, Ia pun berencana akan menjaga warung jika Nisa dan dua
adiknya nanti sudah bisa di lepas "bekerja" sendiri.
Dari Sabeni dan Tanti, terungkap bahwa banyak anak kecil (dari bayi hingga
usia 6 tahun) terjebak menjadi pengemis tanpa pernah tahu bapak dan ibu kandung
mereka. Kasus Kiki yang di ambil dan di asuh Sabeni, diakui sebagai hal yang
lumrah. "Kami hanya menemukan, merawat, dan bersama-sama cari uang. Anak-anak
itu dapat makan, tempat untuk tidur, pokoknya terurus", kata Sabeni.
Keberadaan anak jalanan juga disebabkan mereka lari dari keluarga. Ada
yang karena tidak tahan dengan kekerasan yang dilakukan orangtua, dan juga
memang ikut-ikutan teman. Mamat (15), anak jalanan yang biasa
mengamen di perempatan Cawang, mengaku masih mempunyai orangtua, Ia kabur
karena ayahnya galak. Sehari-hari Mamat mengamen bermodalkan gitar kecil dan
bisa mendapatkan Rp.40.000, Mamat tinggal di kolong jembatan Cawang. Lain lagi
cerita Nengsih (18) yang tinggal di Prumpung Sawah, Jatinegara, Jakarta Timur.
Ia turun ke jalan sebagai pengamen karena ayahnya tidak bekerja, ibunya pun
sering mengemis di jalan.
Hasil mencuri
Koordinator Pendidikan Alternatif Gerbong Rakyat, Eny Setyaningsih
menyatakan, dari hasil penelitian beberapa Lembaga Swadaya masyarakat (LSM)
yang menangani kaum miskin kota, bocah-bocah pengemis itu didapat dari menyewa,
membeli, memungut, dan mencuri. Cara terakhir ini diyakini terjadi, tetapi
belum ada data hasil penelitian resmi, mengingat sulit sekali mengungkap modus
serta jaringan para pelakunya. "Yang paling sering terjadi, pasokan bayi-bayi
merah untuk mesin pencari uang para pengemis dewasa adalah dari sesama orang
jalanan perempuan yang beranjak remaja hamil diluar nikah", kata Eny
Setyaningsih. Mereka pun terbiasa melakukan hubungan seks bebas tanpa
perlindungan. "Akibatnya, banyak bayi-bayi hasil hubungan liar tersebut turut
diajak meng-gelandang di jalanan, diserahkan kepada pihak lain, atau di buang",
tambah Eny. Menurut dia, anak-anak hingga orang dewasa yang terpuruk menjadi
warga jalanan berstatus gelandangan karena berbagai alasan. Anak-anak banyak
kabur dari rumahnya karena kemiskinan yang membelit para orangtua, bapak
ibunya meninggal, atau merasa di telantarkan orangtua dan keluarga terdekat
mereka.
Dalam pelarian mereka, lanjut Eny, anak-anak tersebut mencari perlindungan
dengan mendekati orang-orang dewasa yang dapat menjadi "abang-abangan" atau
"ibu-ibuan". Si "abang" atau "ibu" biasanya adalah preman stasiun, terminal,
pemilik warung kecil di sekitar jalur rel kereta api atau pedagang kecil
lainnya. Abang dan ibu ini mempe-kerjakan anak-anak jalanan. Mereka menyuruh
bocah-bocah tersebut mengemis, jual asongan, menyemir sepatu, dan menyapu
gerbong. Segala kebutuhan si bocah untuk melakukan pekerjaannya,
dipenuhi si "abang" dan si "ibu".
Anak-anak jalanan harus menyerahkan separuh hingga 100 % penghasilan
kepada pelindung mereka. Jika tidak, hukuman siap menghadang, yang paling
sering adalah dihajar hingga babak belur. Namun, bersama abang atau ibu,
anak-anak ini memiliki status sebagai anggota kelompok tertentu. Kebersamaan
dalam kelompok ini melindungi mereka dari penindasan preman jalanan. Selain
itu, makan sehari-hari dan rokok pun terjamin bagi mereka. "Ini masalah
kemiskinan dan sosial yang sudah begitu akut. Satu peraturan daerah saja tidak
akan cukup untuk mengatasinya. Seharusnya pemerintah lebih sensitif tentang
masalah seperti ini". Kata Eny. (di kutip dari :
diskusi interaktif, sebuah pemancar Radio)
>> Ini hanya sekedar potret kehidupan di sekitar kita, tetapi suatu kenyataan
>> pahit yang terlihat ada di depan mata kita ..... astagfirullah
Wassalam : Om "Asel"
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]