---------- Forwarded message ----------
From: nova nova <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 27, 2007 3:35 PM
Subject: Fwd: Ironi Eksploitasi atas Perempuan
To: [EMAIL PROTECTED]



---------- Forwarded message ----------
From: nova nova <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 27, 2007 3:34 PM
Subject: Fwd: Ironi Eksploitasi atas Perempuan
To: [EMAIL PROTECTED]



---------- Forwarded message ----------
From: nova nova < [EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 27, 2007 3:33 PM
Subject: Fwd: Ironi Eksploitasi atas Perempuan
To: [EMAIL PROTECTED]



---------- Forwarded message ----------
From: Berpolitikcom <[EMAIL PROTECTED] >
Date: Sep 27, 2007 3:31 PM
Subject: Ironi Eksploitasi atas Perempuan
To: [EMAIL PROTECTED]

 http://www.berpolitik.com/viewnewspost.pl

Kamis, 27 September 2007 ARTIKEL *Ironi Eksploitasi atas Perempuan* Tags:
eksploitasi  Rate This!
Total penilai: 0
Nilai: Belum Ada Penilai
6 views   Ironi Eksploitasi atas Perempuan

Arie Sujito
(Sekretaris Jenderal Pergerakan Indonesia, Sosiolog UGM)

Distorsi pembedaan peran laki-laki dan perempuan dalam konstruksi
patriarkhis (kekuasaan feodal) yang langgeng, kini makin meluas dan
tertransformasi secara sistematik oleh hegemoni kapitalisme yang menjadi
penanda masyarakat modern. Marginalisasi dan eksploitasi pada perempuan
demikian terasa, oleh karena ketegangan pemilikan hak-hak dan akses
sumberdaya ekonomi yang kian mendiskriminasi kaum perempuan secara
bertingkat. Jika pada mulanya, kultur lama mengkerangkeng perempuan akibat
feodalisasi, dan karenanya perempuan terhambat dalam orientasi dan menyempit
kesempatannya untuk maju, tentu dengan dalih magic atau doktrin-doktrin
klasik berbasis budaya dan agama, atau keyakinan apapun. Kini suasana makin
berkembang, dimana soal tersebut diambil alih oleh tradisi modern yang
membawa misi liberalisasi. Terbukanya kesempatan bagi perempuan untuk
bekerja "di luar rumah" sebagai citra baru yang dibawa gelombang pasang yang
didalam tertanam nilai-nilai persamaan hak, tentu apa yang disebut bagian
dari proses demokratisasi, melahirkan akibat ganda. Di satu sisi misalnya,
penjinakan atas perempuan tidak memiliki justifikasi dan legitimasinya lagi,
saat tuntutan kesamaan hak dalam mengenyam kesempatan atau akses dalam
lokasi domestik dan privat makin menguat. Hanya saja disisi lain, semburan
mantra pembebasan yang dibawa kapitalisme itu, dalam beberapa hal, cenderung
membawa suasana eksploitasi baru dengan dalih ciri struktur masyarakat
modern.

Apa faktanya? Terpenuhinya kesempatan mengakses pekerjaan di publik oleh
perempuan, ternyata tidak dilandasi semangat melindungi perempuan tersebut
dari bermacam peluang penindasan. Lalu lintas dan perayaan keseimbangan
gender, sampai dengan spirit "emansipasi" sekalipun, terganggu sergapan
komodifikasi kapitalisme yang jutru membelukar. Saat perempuan tersedot oleh
struktur kerja internasional oleh sistem "tenaga kerja wanita" yang dikirim
ke luar negeri, dianggap sebagai hak dalam memperoleh akses ekonomi dan
sumber produksi publik. Institusi kerja internasional ini, konon dianggap
sebagai arena baru untuk perempuan demi memperoleh bagian alat-alat produksi
untuk kegiatan keluarga maupun masyarakat. Negarapun, selalu menuai
keuntungan dalam sistem ini. Akan tetapi, lagi-lagi sebagai sebuah pilihan,
devisa dan uang yang dituai kadang tidak sebanding dengan resiko yang
dialaminya. Bermacam praktek kekerasan dan penganiayaan atas perempuan yang
tergabung dalam insitusi kerja internasional menuai resiko yang tidak kecil,
sebut saja mulai dari perampasan uang, tekanan psikologis-traumatik,
luka-luka sampai dengan kematian. Ironisnya, negara yang menganggap sebagai
sumber keuangan strategis tersebut ternyata mengabaikan tanggungjawabnya
untuk melindungi warganya atas masalah-masalah itu. Kesempatan kerja di
publik sebagai hak perempuan sebagaimana diperjuangkan selama ini, justru
terdistorsi karena pekerjaan tersebut mengundang resiko yang begitu besar
akibat gagalnya perlindungan yang semestinya didapatkan. Inilah bentuk
manipulasi dan distorsi, akibat gagalnya peran kelembagaan negara dalam
sistem kerja.

Baik peran diplomasi maupun perlindungan hukum negara atas perempuan dalam
sistem tenaga kerja internasional cenderung tidak dilakukan, jika tidak
boleh disebut selalu gagal. Rentetan peristiwa yang menimpa para TKW
senantiasa diabaikan, dan terlupakan diterpa oleh isu-isu lainnya.
Dihadapkan masalah-masalah kekerasan terhadap perempuan akibat eksploitasi
dan perdagangan, nampaknya perempuan sering dalam posisi dilematik.
Betapapun segudang resiko selalu mengancam keselamatan dirinya ketika
bekerja di publik, sebagaimana menjadi TKW itu, namun hal tersebut tetap
saja ditempuh karena keterbatasan pilihan yang dimiliki perempuan. Soal
kemiskinan senantiasa menjadi masalah serius mengapa penindasan sistematik
ini terus berlangsung dan dibiarkan, dan belitan urusan "survive" memaksa
perempuan menjemput resiko itu. Sangkar besi penindasan adalah tempat
perempuan menjadi bagian industri kekerasan.

Pada sisi lain, sejak proses kapitalisasi makin berlanjut dengan berbagai
irama magic menyedot hasrat banyak orang, lagi-lagi perempuan tersedot
didalamnya untuk merayakan "pesta modernitas itu" dengan bermacam bentuk.
Tuntutan pembebasan peran agar perempuan bisa menikmati aroma dan admosfir
peran publik yang tersedia oleh modernitas, ternyata perangkap-perangkap
barupun senantiasa menanti dan menghadangnya. Komodifikasi tubuh dengan
cara-cara eksploitatif terpampang dimedia makin melembagakan bahwa perempuan
adalah "bahan-bahan dasar" yang renyah dan rentan diproduksi. Soal
"kecantikan dan keberanian" bagi perempuan modern selalu dianggap sebagai
"kekuatan" baru dalam memasuki arena modernisasi dan kapitalisasi. Karena
melalui bekal itu, dianggap menjadi mesin yang menghasilkan "alat-alat
produksi berharga". Padahal, proses semacam itu tidak lebih dari bentuk
"penyiksaan sistematik" kapitalisme atas perempuan dengan dalih pembebasan
hak. Inilah beban baru yang harus dipikul, dalam sistem saat ini.

Dalam interpretasi sederhana, keluarnya perempuan dari rezim patriarkhi masa
lalu ternyata harus memasuki babak hegemoni tubuh dalam masyarakat
kapitalistik saat ini, yang keduanya selama ini bekerja sistematik. Dari
dominasi sampai hegemoni, yang keduanya mengekspresikan pelembagaan
eksploitasi. Bagaimana perempuan keluar dari sangkar itu?

Perempuan memang telah bangkit, tetapi kali ini memang masih fragmented
dalam orientasi dan strateginya dalam membangun keadilan dan perlindungan
terhadap dirinya. Memulai mendorong agar negara bertindak memenuhi hak-hak
perempuan melalui basis gerakan sosial, barangkali menjadi salah satu
alternatif. Pilihan ideologis mungkin perlu dirumuskan secara jernih dan
mendalam yang pada akhirnya diturunkan dalam bentuk strategi. Karenanya,
ditengah banyak orang mengabaikan soal "ideologi", maka kembalilah menemukan
ideologi yang telah terbenam. Menggapai akses pada alat-alat produksi dan
ekonomi adalah hak-hak perempuan yang harus diperjuangkan, tentu dengan
ketepatan landasan ideologi, agar perjuangan senantiasa bermakna.


*www.berpolitik.com*
*Bukan situs berita, mari bicara*
Cyber Building. Lt.5
Jl. Kuningan Barat no. 8, Jakarta
Tlp: 021-5277830
Fax: 021-5269680


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke