Kompas, Minggu 6 Januari 2007
                        Mimpi Fariz Memeluk DuniaNinuk Mardiana Pambudy dan 
Susi Ivvaty



Setiap orang punya mimpi. Bedanya, ada yang terus berangan-angan,
bermimpi di atas awan, menebar citra keberhasilan walau menuai
ketidakpuasan dan keraguan, tetapi ada yang berani mewujudkan dengan
risiko apa pun.



Dynand Fariz (44) termasuk yang terakhir. Dari Jember, Jawa Timur,
dia berani bermimpi besar dan mengambil berbagai risko untuk untuk
membuat dunia menoleh ke Jember. Jember Fashion Carnaval yang dia
rintis pada tahun 2000 semakin dikenal di tingkat nasional dan tahun
lalu mulai diundang ke luar Indonesia.



Ide membuat Jember Fashion Carnaval memang tidak biasa. Kabupaten di
Jawa Timur itu termasuk daerah tapal kuda yang penduduknya mayoritas
beragama Islam dan relatif taat. Jember juga daerah agraris yang tidak
identik dengan kultur fashion sebagai gaya hidup. Tetapi, itu bukan
halangan Fariz mewujudkan impian.

Tahun 2000 dia memulai Jember Fashion Carnaval (JFC) dengan
mendirikan konsultan mode Dynand Fariz Center di Jember. “Saat itu
orang-orang di sana belum kenal apa itu fashion. Saya memperkenalkan
konsultasi mode, antara lain untuk mereka yang bentuk tubuhnya tidak
ideal. Saya juga memperkenalkan konsep model (peragawati) kepada
masyarakat Jember,” tutur Fariz dalam percakapan dua pekan lalu.

Dalam percakapan kami tahun 1998 seusai mengikuti lomba perancang
muda ASEAN di Singapura, Fariz sudah mengatakan angan-angannya membuat
kegiatan mode. Saat itu dia belum dapat menyebutkan wujud kegiatan
tersebut.



Menjadi perancang menjadi pilihan Fariz justru setelah dia menjadi
pengajar di IKIP Surabaya. Ketika membuat Dynand Fariz Center dia ingin
membuat pergelaran rancangannya rutin tiap tahun, seperti tuntutan
industri mode kepada perancang untuk memperkenalkan ide dan kreasi
terbaru secara ajek.

“Tetapi, aku kemudian berpikir itu kurang menantang dan akan sulit
mengimbangi Biyan Wanaatmadja atau Sebastian Gunawan,” cetus pengajar
di sekolah mode Esmod Jakarta itu.



Dia juga kesulitan membagi perhatiannya pada kegiatan di dua kota
itu, meskipun setiap akhir pekan dia selalu mudik ke Jember. Cita-cita
dan kreativitasnya lalu dia alihkan pada minatnya yang lain, yaitu
dunia hiburan, dan wujudnya karnaval mode.



Bertindak lokal

Tidak ada yang percaya awalnya Fariz akan berhasil membuat Jember
Fashion Carnaval. Untuk ukuran Indonesia, pusat mode adalah Jakarta,
tempat arah mode Indonesia dilahirkan, tempat para pengikut mode, dan
tentu saja kota di mana para perancang Indonesia membangun karier
mereka. Adapun Jember yang berada di daerah tapal kuda lebih sering
masuk berita setelah reformasi 1998 karena konflik horizontal.

Fariz mengubah citra itu dengan acara fashion di tingkat lokal, di
Jember tempat kelahirannya. Ketikkan frasa Jember Fashion Carnaval pada
mesin pencari Google, maka akan muncul 2.980 entri. Dia mematahkan
klaim mode hanya untuk mereka di kota besar. Dari Jember, Fariz
berhasil menarik perhatian dunia ketika kantor berita dan media
internasional menurunkan laporan mengenai JFC.



Anda jangan membayangkan JFC seperti pergelaran mode di Jakarta,
Hongkong, Tokyo, Paris, New York, Milan, atau London. JFC tidak
memaksudkan diri sebagai pembuat dan penentu arah mode. Paling tidak
saat ini belum. JFC adalah karnaval yang mengambil Rio de Janeiro
sebagai pembanding, tetapi ide-idenya dikaitkan dengan perubahan arah
mode.



Tahun 2002 Fariz membuat pergelaran JFC-nya yang pertama. Acara
dibuat selama seminggu dengan mengajak 30 teman-temannya di Jember.
Sebagai guru sekolah mode bertaraf internasional Fariz tidak kesulitan
mendapatkan informasi mengenai arah mode yang dia terapkan pada
karnaval itu.

“Saya ambil tujuh tema, antara lain punk, gipsi, koboi, androgini,
dan romantis. Kami menggunakan apa saja yang dipunyai teman-teman saat
itu yang kemudian kami desain ulang,” tutur Fariz.



Mereka berjalan keliling kampung-kampung di Jember dari pukul 09.00
sampai sekitar pukul 11.00, dipimpin Fariz. “Saat itu masih kerap ada
demo. Orang-orang yang kami lewati masih bingung. Ada sekolah dan
kantor yang menutup pintu pagarnya ketika kami lewat,” kenang Fariz.



“Hari-hari berikutnya orang- orang malah menunggu kami lewat dan
karnaval hari Minggu kami adakan di alun-alun. Saat itu musik masih
pakai tape dengan pengeras suara, kami naikkan becak.
Penyelenggaraannya awal Agustus.



“Jam lima pagi kami sudah siap di alun-alun kota dan jam setengah
enam sudah mulai jalan. Kami dandan dari jam satu sampai jam tigaan
pagi, peserta jadi 50 orang. Ternyata sambutannya meriah. Kami sampai
diminta berputar dua kali.”



Tidak menyerah

Setiap perubahan biasanya membawa reaksi. Begitu juga pengalaman
Fariz. Banyak yang menyambut gembira JFC, termasuk pemerintah
kabupaten, ada pula yang keberatan dengan alasan tak sesuai budaya
lokal.



“Ada yang memprotes, katanya saya membawa-bawa budaya global ke
Jember, tidak sesuai dengan agama dan budaya lokal” tutur Fariz.
“Padahal, sambutan masyarakat yang kami temui sepanjang jalan saat
karnaval adalah masyarakat yang butuh hiburan, haus pengetahuan, dan
selalu bertanya, ‘Tahun depan apa?’ ‘Selamat, ya’.”



“Katanya saya membawa budaya global yang mereka identikkan dengan
serba terbuka, erotis, seksi. Memang dalam salah satu tema pernah
diangkat tema India yang memang kelihatan sebagian perutnya.



“Saya pikir, perlu waktu untuk menjelaskan konsep JFC. Saya kemudian
tanyakan budaya lokal seperti apa yang dimaksud, saya tidak mendapatkan
jawaban yang jelas. Tetapi, ada juga budayawan yang dituakan di sana
yang setelah melihat sendiri JFC langsung mendukung.”



JFC bisa menjadi cermin perbenturan di masyarakat lokal akibat
globalisasi. Konsep fashion dan tren dibawa melalui globalisasi
informasi dan pasar, sesuatu yang sebelumnya tak dikenal di Jember,
yang hidup dalam kultur budidaya pertanian.



Ketika kontroversi menguat, DPRD pun sempat turun tangan. Seminggu
sebelum penyelenggaraan keempat JFC tahun 2005, sidang digelar di DPRD
Jember membahas acara itu. “Sebagian fraksi mendukung, sebagian yang
lain menolak dengan alasan Jember kota religius, JFC merusak generasi
muda, dan masyarakat keberatan. Saya pertanyakan kembali, masyarakat
mana yang keberatan sebab 100.000-an penonton setuju dan mendukung
JFC,” kata Fariz. “Saya lalu mengundang 50 anggota Dewan menyaksikan
langsung JFC sebab selama ini mereka baru mendengar ‘katanya-katanya’.
Dukungan media massa luar biasa dan kekhawatiran anggota Dewan tidak
terbukti.”



Bulan Agustus lalu JFC digelar untuk yang keenam kalinya di jalan
sepanjang 3,6 kilometer, diikuti 450 peserta, dan diperkirakan ditonton
150.000-an orang dari Jember dan kota-kota di sekitarnya. Setiap tahun
JFC selalu mendapat liputan media nasional dan internasional karena
temanya selalu berganti mengikuti perubahan mode dunia.



JFC juga diundang berpartisipasi oleh Sardono W Kusumo dalam Parade
Budaya menyambut 17 Agustus 2006 di Monas Jakarta, selain Bali Fashion
Week di Kuta dan Parade Kutai Kartanegara. Bulan Juli 2007 enam anggota
JFC termasuk Fariz diundang berpartisipasi di Jambore Ke-100 Pramuka
Internasional di London, Inggris, dan diundang KBRI di India untuk
tampil dalam peringatan hari kemerdekaan Indonesia di Mumbai.



Budaya tandingan

Meskipun telah memasuki tahun keenam, Fariz bukannya tak menghadapi
tantangan dari mereka yang masih mengecilkan JFC. Namun, Fariz jalan
terus dan terbukti JFC ikut mengubah wajah kota. Kini di Jember
bertebaran distro yang menawarkan barang mode sehingga ekonomi kota pun
semakin dinamis.

Dia masih memegang konsep 4 E: education, entertainment, exhibition,
dan economic benefit dalam JFC. Meskipun mode identik dengan dunia
konsumsi, Fariz justru mendorong penggunaan barang daur ulang pada
setiap peserta karnaval. Bulu-bulu burung yang mereka kenakan sebagai
hiasan kepala dan tubuh, misalnya, berasal dari bulu ayam pembersih
debu.



“Setiap kali membeli barang, peserta karnaval sudah diajak
memikirkan bisa dibuat apa isi dan kemasan barang itu. Saya marah kalau
tidak membuat kostum dari daur ulang baju, barang, dan limbah yang
ada,” jelas Fariz. Inilah perwujudan mimpi yang berjalan sesuai
semangat zaman yang ingin membatasi konsumsi untuk menghentikan
pemanasan suhu Bumi dan perubahan iklim global.



Di luar itu, Fariz juga tak ingin dikooptasi industri besar yang
ingin mensponsori, tetapi juga menggunakan JFC untuk ajang promosi.
“Saya menolak karena itu artinya JFC tidak lagi total untuk Jember dan
untuk Indonesia,” tandas Fariz. “Anak-anak juga nanti jadi tidak
spontan lagi mendukung, belum lagi perizinan jadi ribet.”



Paling tidak sampai saat ini Fariz berhasil memperkenalkan Jember
yang plural dan toleran kepada dunia seraya tetap mempertahankan
identitasnya.

 Etos

Kreatif, Kerja Keras, Jujur 
Dynand Fariz lahir di Desa Garakan, Kecamatan Silo, Kabupaten
Jember, Jawa Timur, sebagai anak kedelapan dari 11 bersaudara. Ayahnya
pegawai Dinas Peternakan Kabupaten Jember dan ibunya membantu
penghasilan keluarga dengan membuat kue.



Keluarga ini pindah ke kota Jember ketika Fariz berusia lima tahun.
Dia mengenang kehidupan keluarganya yang sederhana ketika itu. “Ayah
selalu mendorong kami agar berhasil menjadi orang, kreatif, kerja
keras, dan jujur,” tutur Fariz. Anak-anak, misalnya, diajar membantu
keluarga seusai jam belajar.

Fariz memilih membantu ayahnya yang punya usaha jahit pakaian
laki-laki di luar jam kerja. “Ketika itu belum terpikir bekerja di
dunia mode, saya lebih tertarik pada seni dan teater,” kata Fariz.

Itu sebabnya dia menyelesaikan kuliah di bidang seni rupa Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surabaya dan mulai tahun 1988 mengajar
tata busana di sana. Tetapi, dia merasa tak berkembang sehingga mulai
mempertimbangkan bidang lain.



Sempat terpikir menjadi kontraktor seperti yang dilakukan
kakak-kakaknya, tetapi dia urungkan karena sudah terlalu banyak yang
terjun di bidang itu. Akhirnya, dia memutuskan berkarier di bidang
mode, keputusan yang membawanya ke Jakarta. “Saya memilih mode karena
pertimbangan kesempatan kerja. Ketika itu belum banyak yang masuk di
dunia mode,” tutur Fariz.



Di Jakarta dia menonton berbagai pergelaran mode dan sempat menjadi
semifinalis Lomba Perancang Mode yang diadakan majalah Femina untuk
perancang muda.



Tahun 1995 Fariz mendapat beasiswa dari Texmaco untuk belajar tiga
tahun di sekolah mode Esmod Jakarta dan dia lalu melamar sebagai
pengajar pola. “Saya dikirim tiga bulan pelatihan menjadi pengajar ke
Esmod Paris,” tuturnya.



Setiap Sabtu dan Minggu dia ke Surabaya untuk mengajar, lalu ke
Jember mengurus Jember Fashion Carnaval (JFC) yang dia rintis tahun
2000 dengan mendirikan Dynand Fariz Center.



Apa cita-cita Anda?

Indonesia punya karnaval mode, Jember jadi kota karnaval dunia.

Setelah JFC berjalan enam tahun saya ingin mendirikan Indonesia
Carnaval Institute, lembaga pendidikan luar sekolah untuk lulusan SMA.
Lembaga ini mengajarkan koreografi, teater, berjalan di runway,
menyiapkan kostum, termasuk rias wajah dan tubuh. Intinya melahirkan
lulusan yang kreatif dan percaya diri.



Dana kegiatan?

JFC menekankan pada penggunaan bahan daur ulang, jadi praktis tidak
perlu biaya. Kalau ada pendapatan, misalnya dari Ashoka karena saya
fellow di sana untuk social entrepreneurship atau dari kegiatan JFC,
misalnya dari modeling dan salon, dananya dikembalikan untuk kegiatan
JFC. Pengajarnya anak-anak instruktur JFC yang sudah saya latih.



Anda tidak mendapat keuntungan material, apa yang mendorong Anda?

Hidup hanya satu kali. Saya ingin berkarya untuk dunia yang dapat
dikenang dan orang-orang di belakang saya bisa maju. Tidak penting ada
nama saya di belakang JFC, yang penting JFC dikenal dunia dan masuk di
dalam kalender acara dunia.



Cita-cita orang kota kecil yang ingin mendunia?

Ya, ya…. Tetapi, saya yakin siapa pun bisa asal bekerja
sungguh-sungguh. Saya tiap hari berdoa kepada Tuhan minta diberi
kesempatan agar berguna untuk orang lain dan JFC menjadi besar. Sekitar
3-4 tahun lalu saya membayangkan anak-anak JFC akan tampil di luar
negeri dan itu terlaksana tahun lalu. Jadi, saya yakin cita-cita ini
akan terwujud.

Baca juga ulasan sosoknya di:
http://appreciativeorganization.wordpress.com/2008/01/08/mengimajinasikan-semesta/






      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke